Data Pangan
Harga Pangan 13 April: Cabai hingga Minyak Goreng Naik
Majalahtani.com – Pergerakan harga pangan nasional pada 13 April 2026 menunjukkan tren kenaikan pada sejumlah komoditas utama. Lonjakan harga terutama terjadi pada kelompok cabai, minyak goreng, serta beberapa bahan kebutuhan pokok lainnya di pasar tradisional.
Berdasarkan data panel harga Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pukul 09:20 WIB, komoditas mengalami kenaikan terjadi pada cabai merah besar yang berada di level Rp46.000 per kilogram, meningkat 0,99 persen.
Sementara itu, cabai merah keriting ikut mengalami kenaikan menjadi Rp45.600 per kilogram, naik 0,33 persen. Di tengah tren tersebut, hanya cabai rawit hijau yang mengalami penurunan harga sebesar 1,04 persen ke posisi Rp52.950 per kilogram.
Kenaikan harga juga terlihat pada komoditas minyak goreng. Minyak goreng curah naik 1,01 persen menjadi Rp20.100 per kilogram, sedangkan minyak goreng kemasan sederhana meningkat 0,66 persen menjadi Rp23.250 per kilogram. Minyak goreng kemasan premium turut naik 0,9 persen ke level Rp22.350 per kilogram.
Di kelompok bahan pokok lain, gula pasir lokal naik tipis 0,26 persen menjadi Rp19.100 per kilogram. Daging ayam ras segar juga mengalami kenaikan harga sekitar 1,19 persen menjadi Rp41.500 per kilogram.
Meski demikian, beberapa komoditas tercatat mengalami penurunan harga, seperti bawang putih ukuran sedang yang turun 0,74 persen menjadi Rp40.200 per kilogram dan telur ayam ras segar yang turun cukup dalam 1,21 persen ke level Rp32.550 per kilogram.

Tangkapan layar – Tabel harga pangan di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia dikutip di Jakarta.
Data Pangan
Harga Pangan 16 April: Cabai Rawit Merah Tembus Rp101.750 per Kg
Majalahtani.com – Rata-rata harga pangan nasional pada Kamis, 16 April 2026 menunjukkan tren kenaikan pada sejumlah komoditas utama, terutama kelompok hortikultura dan protein hewani.
Berdasarkan data panel harga Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pukul 09:30 WIB, di pasar tradisional seluruh provinsi harga bawang merah ukuran sedang tercatat naik menjadi Rp56.800 per kilogram atau meningkat 20,21 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Kenaikan juga terjadi pada bawang putih ukuran sedang yang mencapai Rp45.950 per kilogram, naik 14,3 persen.
Pada kelompok beras, harga relatif stabil dengan kenaikan moderat. Beras kualitas bawah I berada di level Rp14.900 per kilogram naik 2,41 persen, sementara beras kualitas bawah II mencapai Rp15.050 per kilogram atau naik 3,44 persen.
Untuk kualitas premium, beras kualitas super I tercatat Rp17.600 per kilogram dan super II Rp17.050 per kilogram, masing-masing meningkat sekitar 1–1,7 persen.
Kenaikan paling signifikan terjadi pada komoditas cabai. Cabai rawit merah melonjak tajam menjadi Rp101.750 per kilogram atau naik 20,2 persen.
Sementara itu, cabai merah keriting naik 20 persen menjadi Rp55.200 per kilogram dan cabai merah besar meningkat menjadi Rp47.250 per kilogram. Berbeda dengan tren tersebut, cabai rawit hijau justru turun 2,96 persen menjadi Rp52.100 per kilogram.
Di sektor protein hewani, harga telur ayam ras segar mengalami kenaikan cukup tinggi sebesar 9,49 persen menjadi Rp35.750 per kilogram.
Sebaliknya, harga daging ayam ras segar turun tipis menjadi Rp40.600 per kilogram. Harga daging sapi kualitas I dan kualitas II juga mengalami penurunan masing-masing menjadi Rp141.200 dan Rp133.600 per kilogram.
Untuk komoditas kebutuhan pokok lainnya, gula pasir premium tercatat stabil di Rp20.150 per kilogram, sedangkan gula pasir lokal turun tipis menjadi Rp19.050 per kilogram.
Sementara itu, harga minyak goreng menunjukkan tren beragam. Minyak goreng curah naik menjadi Rp20.650 per kilogram, dan minyak goreng kemasan bermerek I meningkat ke Rp23.800 per kilogram.
Adapun minyak goreng kemasan bermerek II justru turun menjadi Rp21.700 per kilogram.

Data Pangan
Mentan Amran: Cadangan Pangan Kita Cukup 11 Bulan ke Depan
Majalahtani.com – Ketegangan geopolitik global yang dipicu konflik di Timur Tengah terus mempertebal kekhawatiran dunia terhadap stabilitas pangan. Eskalasi konflik, gangguan jalur logistik, serta ketidakpastian perdagangan internasional dinilai berpotensi menekan pasokan dan mendorong lonjakan harga pangan di tingkat global.
Bahkan Rusia telah menyerukan pembentukan cadangan pangan bersama negara-negara BRICS sebagai langkah antisipatif atas meningkatnya risiko krisis.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia justru mencatatkan perkembangan yang signifikan di sektor ketahanan pangan nasional. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah mencapai 4,7 juta ton, merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak Bulog berdiri, dan terus bergerak menuju angka 5 juta ton.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menyampaikan capaian tersebut merupakan satu lapisan dari gambaran utuh ketahanan pangan Indonesia. Di pasar domestik dan sektor HoReCa (Hotel, Restoran, dan Katering), ketersediaan beras tercatat mencapai 12 juta ton.
Selain itu, potensi standing crop diproyeksikan terus memberikan kontribusi produksi hingga akhir tahun. Ketiga lapisan ketersediaan tersebut menjadi fondasi utama yang memastikan kebutuhan pangan Indonesia tercukupi hingga 11 bulan ke depan.
“Cadangan kita saat ini 4,7 juta ton dan terus menuju 5 juta ton. Dengan posisi ini, kebutuhan pangan kita cukup hingga 11 bulan ke depan. Ini adalah bentuk kesiapan Indonesia dalam menghadapi potensi krisis pangan global,” ujarnya di Jakarta, dikutip Kamis (16/4/2026).
Amran menilai dinamika geopolitik global saat ini semakin menegaskan pentingnya setiap negara memiliki cadangan pangan yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan.
Ketergantungan terhadap rantai pasok global yang rentan terganggu dinilai sebagai kelemahan struktural yang harus diatasi secara serius dan sistematis.
“Dunia saat ini dihadapkan pada ketidakpastian. Bisa karena konflik, bisa karena kebijakan negara lain yang membatasi ekspor. Karena itu, kita harus memastikan produksi dalam negeri kuat dan cadangan kita cukup,” kata Amran.
Terkait seruan Rusia untuk membangun cadangan pangan bersama negara-negara BRICS, Kementan memandang inisiatif tersebut sebagai langkah strategis yang sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan global. Kerja sama antarnegara dinilai menjadi instrumen penting dalam meredam dampak krisis pangan yang semakin kompleks.
Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang dalam kelompok tersebut, berada pada posisi strategis untuk tidak hanya menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga berkontribusi aktif pada stabilitas pangan kawasan dan global.
Komitmen tersebut berlandaskan pada prinsip yang telah ditegaskan Presiden Prabowo Subianto saat mengumumkan pencapaian swasembada pangan nasional dalam Panen Raya Karawang, 7 Januari 2026.
“Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau makan, pangan, tergantung bangsa lain,” pungkas dia.
Data Pangan
Antisipasi Lonjakan Permintaan, Bulog Ajukan Tambahan Kuota Minyakita
Majalahtani.com – Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan ketersediaan minyak goreng ‘Minyakita’ tetap aman dan tersedia di pasar-pasar tradisional. Hal itu disampaikannya usai monitoring langsung di Pasar Minggu dan Pasar Grogol, Jakarta, pada Selasa (14/4/2026).
Dia menyampaikan, bahwa stok Minyakita dalam kondisi cukup dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya di pasar tradisional.
“Kami memastikan bahwa Minyakita tersedia dan dijual dengan harga yang tetap terjangkau bagi masyarakat. Saat ini harga terpantau sesuai HET di harga Rp15.700 per liter,” ujarnya dikutip Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa permintaan terhadap Minyakita mengalami peningkatan seiring pergeseran konsumsi masyarakat dari minyak curah ke minyak kemasan sederhana. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Bulog telah mengajukan penambahan kuota pasokan agar distribusi tetap terjaga.
“Kami melihat adanya peningkatan demand, sehingga langkah antisipatif sudah kami lakukan dengan mengusulkan tambahan pasokan. Tujuannya agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkan Minyakita,” jelasnya.
Di sisi lain, ia menambahkan bahwa untuk komoditi beras nasional yang saat ini stoknya mencapai sekitar 4,7 juta ton dan serapan gabah yang terus berlangsung, Bulog optimistis ketersediaan pangan nasional tetap aman.
Kegiatan monitoring ini akan terus dilakukan secara berkala di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pangan dan daya beli masyarakat.
“Bulog bersama pemerintah akan terus hadir di tengah masyarakat untuk memastikan kebutuhan pangan, termasuk beras dan Minyakita, tersedia dengan baik,” tegas Ahmad Rizal.
Dengan langkah proaktif ini, Bulog optimistis ketersediaan beras dan Minyakita di pasar akan tetap terjaga, sehingga dapat mendukung stabilitas harga serta menjaga daya beli masyarakat.
-
Lensa Agraria2 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Inspirasi Tani2 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Lensa Agraria1 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Lensa Agraria1 bulan agoKejar Target Swasembada Beras, Mentan Amran Perkuat Sinergi Internal Kementan
-
Lensa Agraria1 bulan agoSurvei BI: Keyakinan Konsumen Februari 2026 Masih Kuat, IKK Capai 125,2
-
Lensa Agraria2 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Agripreneurship2 bulan agoAdaptasi Petani Lereng Merapi terhadap Perubahan Siklus Hujan
-
Uncategorized2 bulan agoPotensi Blue Economy: Menjadikan Indonesia Raja Rumput Laut Dunia
