Connect with us

Teknologi Tani

BRIN Kenalkan Pupuk NPK SRF, Solusi Pertanian Berkelanjutan

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penerapan inovasi teknologi hasil riset, yakni pupuk NPK SRF (Slow Release Fertilizer) untuk pertanian berkelanjutan, di Desa Sidowayah, Kabupaten Klaten.

Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Sutardi, mengungkapkan, teknologi tersebut tidak hanya menawarkan manfaat ekonomi bagi petani, tetapi juga menjadi solusi terhadap persoalan lingkungan yang selama ini muncul akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.

“Petani tidak hanya memperoleh hasil panen yang lebih tinggi, tetapi juga dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia, memperbaiki kualitas tanah, sekaligus menjaga keberlanjutan sistem pertanian,” katanya dikutip Jumat (10/7/2026).

Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia masih menjadi tantangan dalam pembangunan sektor pertanian. Selain meningkatkan biaya produksi, penggunaan pupuk yang belum efisien menyebabkan sebagian besar unsur hara hilang lebih dari 70 persen melalui pencucian, penguapan, maupun reaksi kimia di dalam tanah sebelum sempat diserap tanaman.

Akibatnya, produktivitas lahan menurun, kualitas tanah terus mengalami degradasi, dan pencemaran lingkungan semakin meningkat.

Sutardi menjelaskan, selama ini tanaman hanya mampu memanfaatkan sebagian kecil (35-40 persen) unsur hara dari pupuk yang diberikan. Sementara, sebagian besar lainnya hilang akibat pencucian oleh air, penguapan, maupun reaksi kimia di dalam tanah.

”Selama ini efisiensi pemupukan masih relatif rendah. Sebagian besar unsur hara justru hilang ke lingkungan sebelum sempat dimanfaatkan tanaman. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan biaya produksi petani, tetapi juga mempercepat degradasi kualitas tanah dan lingkungan,” ujar Sutardi.

Menurutnya, hasil inovasi teknologi pupuk NPK SRF dirancang agar pelepasan unsur hara berlangsung secara bertahap (terkontrol) mengikuti kebutuhan tanaman. Bahan pelapis alami bekerja melalui mekanisme adsorpsi, difusi, dan pertukaran ion. Sehingga, unsur hara tidak langsung terlepas ke lingkungan, melainkan tersedia secara perlahan selama masa pertumbuhan tanaman (sinkronisasi) sesuai kebutuhan.

“Hasil penelitian menunjukkan teknologi tersebut mampu mengubah pola pelepasan pupuk dari Fast Release Fertilizer (FRF) menjadi SRF sehingga unsur nitrogen, fosfor, dan kalium tersedia lebih lama di dalam tanah. Dampaknya, kehilangan hara melalui pencucian maupun penguapan dapat ditekan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk konvensional,” paparnya.

Menurutnya, dampak jangka panjang adalah residu bahan coating/pelapis alami ramah lingkungan, kandungan unsur makro dan mikro lengkap, dan logam berat sangat rendah.

Teknologi tersebut memanfaatkan berbagai bahan alami sebagai pelapis pupuk, seperti zeolit, kapur tohor, kapur kalsit, guano fosfat, biochar sekam padi, biochar tempurung kelapa, serta pupuk organik kambing. Kombinasi bahan-bahan tersebut bekerja melalui mekanisme adsorpsi, difusi, dan pertukaran ion sehingga unsur hara tidak langsung terlepas ke lingkungan, melainkan tersedia secara bertahap sesuai fase pertumbuhan tanaman.

Selain meningkatkan efisiensi pemupukan, penggunaan pupuk SRF juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan tanaman. Penelitian memperlihatkan peningkatan perkembangan akar, jumlah anakan produktif, laju fotosintesis, hingga hasil panen padi. Pada beberapa formula terbaik, penggunaan pupuk kimia/konvensional bahkan dapat dikurangi hingga 25–50 persen tanpa menurunkan produktivitas, bahkan tetap menghasilkan gabah dengan kualitas yang lebih baik.

Perwakilan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten, Lilik Nugraharja, menilai implementasi inovasi pupuk NPK SRF menjadi langkah strategis untuk menjawab berbagai tantangan sektor pertanian, mulai dari rendahnya kandungan bahan organik tanah, penggunaan pupuk kimia yang belum efisien, hingga tuntutan peningkatan produktivitas pangan.

“Karena itu, kolaborasi antara BRIN, pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok tani, dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci agar hasil-hasil penelitian tidak berhenti sebagai inovasi di laboratorium, melainkan dapat diterapkan secara nyata untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan di Kabupaten Klaten,” ucapnya.

Lurah Desa Sidowayah, Mujahid Jaryanto, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif BRIN yang menghadirkan riset langsung kepada masyarakat dan membuka peluang pengembangan usaha berbasis inovasi di tingkat desa, khususnya Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta usaha lainnya.

“Saya sangat antusias dengan adanya workshop yang diadakan oleh BRIN dan sangat mendukung kegiatan ini karena bertujuan untuk kemajuan masyarakat Sidowayah. Kami siap mendukung, baik dari penyediaan sarana, prasarana, pendanaan, maupun berbagai kebutuhan lainnya agar program ini dapat berjalan baik,” ujarnya.

Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok tani, pelaku usaha, akademisi, dan mitra industri untuk mempercepat hilirisasi inovasi menuju pemanfaatan di tingkat masyarakat.

Teknologi Tani

Mengenal Biological Dome, Teknologi Penangkal Hama Padi yang Dikembangkan IPB

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Fakultas Pertanian IPB University punya biological dome yang mampu menangkal serbuan hama tanaman. Biological dome atau kubah biologi merupakan teknologi pengendalian hama terpadu (PHT) biointensif padi yang dikembangkan oleh Prof Suryo Wiyono, Guru Besar Ilmu Proteksi Tanaman bersama tim.

“Teknologi PHT biointensif padi bekerja seperti kubah biologis atau biological dome, yaitu membuat tanaman, dan ekosistemnya tahan terhadap ledakan hama atau penyakit,” ujar Prof Suryo yang juga Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Rabu (9/9/2026).

Biological dome tersebut terbukti efektif menangkis serbuan hama penggerek batang di lahan sawah seluas 10 hektare di Kecamatan Ciasem, Subang—di tengah terjadinya migrasi besar hama tersebut pada akhir Agustus 2026 di ratusan hektare pertanaman di sekitar wilayah yang dipanen.

Dalam penerapannya, teknologi ini mengintegrasikan sejumlah komponen, mulai dari imunisasi benih menggunakan strain unggul plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dan cendawan endofit, penambahan bahan organik, pengurangan penggunaan pestisida (70%), sampai pengurangan penggunaan pupuk (15–30%).

“Berkat imunisasi PGPR dan endofit, tanaman jadi bisa tahan. Ekosistemnya pun tahan karena komunitas predator dan musuh alaminya juga melimpah,” ungkap Prof Suryo.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pertanian Ciasem, Mad Anwar, menilai teknologi perlu disebarluaskan karena menunjukkan hasil yang sangat baik.

H Syamsul, salah seorang petani Ciasem yang sudah tiga musim menerapkan teknologi ini menyebut, “Hasilnya konsisten lebih tahan hama dan produksi lebih tinggi. Harusnya teknologi IPB ini diterapkan dalam skala luas.”

Menurut Prof Suryo, penerapan biointensif padi di Ciasem menjadi salah satu bentuk pengembangan PHT yang menempatkan kesehatan tanaman dan keseimbangan ekosistem sebagai bagian penting dalam pengelolaan pertanian.

“Semoga teknologi dapat dikembangkan lebih luas sebagai alternatif pengendalian penggerek batang sekaligus meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi padi,” tandasnya

Continue Reading

Teknologi Tani

IPB University Kembangkan Sorgum Bionusa, Varietas Unggul untuk Pangan dan Pakan

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – IPB University mengembangkan sorgum Bionusa sebagai varietas unggul yang berpotensi mendukung diversifikasi pangan sekaligus penyediaan pakan. Varietas ini memiliki potensi hasil biji hingga 5,79 ton per hektare serta biomassa hijauan mencapai 45,5 ton per hektare.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Desta Wirnas, menjelaskan bahwa sorgum Bionusa dikembangkan dengan menggabungkan karakter unggul dua varietas nasional: Numbu dan Samurai 2.

Varietas Numbu dikenal banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, baik dalam bentuk biji maupun tepung, sedangkan Samurai 2 memiliki karakter yang sesuai untuk kebutuhan pakan.

“Dengan menyilangkan Numbu dan Samurai 2, karakter yang sesuai untuk pangan dan pakan diharapkan dapat digabungkan dalam satu varietas,” ujar Prof Desta.

Selain memiliki fungsi ganda, sorgum Bionusa juga dikembangkan untuk memperoleh potensi hasil yang tinggi. Berdasarkan hasil pengembangannya, varietas ini memiliki potensi hasil biji mencapai 5,79 ton per hektare, biomassa hijauan 45,5 ton per hektare pada tanaman utama, serta kadar nira sebesar 14,17 persen.

Adaptif di Berbagai Lahan

Keunggulan tersebut membuat sorgum Bionusa berpotensi dikembangkan pada berbagai kondisi lahan. Menurut Prof Desta, sorgum merupakan tanaman yang memiliki daya adaptasi luas sehingga dapat dibudidayakan pada lahan kering atau tegalan, baik pada lahan subur maupun lahan marjinal.

Karakter adaptif tersebut menjadi salah satu peluang penting bagi pengembangan sorgum di Indonesia. Terlebih, pemanfaatan lahan kering dapat menjadi alternatif dalam memperluas basis produksi pangan dan pakan tanpa terlalu bergantung pada lahan sawah.

Prof Desta menilai Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu produsen sorgum utama di kawasan Asia. “Seharusnya Indonesia bisa menjadi produsen dan eksportir sorgum karena teknologi budi daya sudah tersedia, varietas sudah banyak dengan berbagai keunggulan, serta ketersediaan lahan yang cukup, terutama lahan kering,” jelasnya.

Dengan dukungan teknologi budi daya, varietas unggul, dan pemanfaatan lahan kering, sorgum Bionusa menjadi salah satu inovasi yang dapat memperkuat pengembangan sorgum sebagai komoditas pangan dan pakan strategis di Indonesia.

Continue Reading

Teknologi Tani

Atasi Hama Thrips Cabai, Syngenta Indonesia Kenalkan Teknologi Inovatif SIMODIS

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Syngenta Indonesia resmi meluncurkan SIMODIS, insektisida berbasis teknologi PLINAZOLIN, untuk membantu petani mengendalikan serangan thrips pada tanaman cabai. Peluncuran SIMODIS untuk tanaman cabai ini menjadi yang pertama di Indonesia dan dihadiri oleh 285 petani dari Jember dan Banyuwangi.

Peluncuran tersebut menjadi bagian dari komitmen Syngenta Indonesia dalam menghadirkan inovasi perlindungan tanaman untuk membantu petani menghadapi berbagai tantangan budidaya. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura penting dengan permintaan pasar yang tinggi dan nilai ekonomi yang signifikan. Namun, produktivitas dan kualitas panen cabai menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi cuaca hingga serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), termasuk thrips.

Tantangan tersebut semakin relevan ketika kondisi lingkungan mendukung perkembangan populasi hama. Fenomena El Niño, misalnya, dapat menyebabkan musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang sehingga berpotensi meningkatkan tekanan hama pada tanaman.

Jember dipilih sebagai lokasi peluncuran karena merupakan salah satu sentra produksi cabai di Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi cabai di Kabupaten Jember mencapai 176.234 kuintal sepanjang 2024.

Dukungan teknologi perlindungan tanaman yang tepat, termasuk pengendalian thrips, menjadi salah satu faktor penting untuk membantu menjaga produktivitas sekaligus kualitas hasil panen.

Keunggulan SIMODIS untuk Budidaya Cabai

Pengendalian thrips yang efektif dapat membantu tanaman cabai tumbuh lebih sehat, terutama pada bagian pucuk, daun, bunga, hingga buah. Dengan tekanan serangan thrips yang lebih terkendali, tanaman berpotensi memiliki pucuk yang lebih sehat, daun yang lebih minim keriput atau menggulung, serta bunga yang lebih cerah dan tidak mudah rontok.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membantu mengurangi risiko buah cabai bengkok dan menjaga kualitas hasil panen.

National Sales Head Syngenta Indonesia, Fauzi Tubat, mengatakan petani hortikultura menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi produktivitas.

“Petani hortikultura, termasuk cabai, menghadapi tiga tantangan utama, yaitu kekeringan, harga komoditas yang tidak menentu, serta hama dan penyakit yang memengaruhi produksi. Dua hal pertama berada di luar kendali kita, namun untuk hama dan penyakit, kita dapat mengupayakannya melalui penggunaan produk perlindungan tanaman yang tepat,” ujar Fauzi dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).

Menurut dia, SIMODIS hadir untuk membantu menjawab tantangan tersebut melalui tiga keunggulan utama, yakni Jago (jago lawan thrips), Unggul (pucuk merekah, daun sehat), serta Sempurna (bunga dan buah mulus).

Inovasi yang Digunakan Secara Bertanggung Jawab

Untuk memperoleh hasil yang optimal sekaligus menjaga keberlanjutan efektivitas pengendalian hama, Syngenta Indonesia mengingatkan pentingnya penggunaan SIMODIS® sesuai rekomendasi teknis dan petunjuk pada label.

Product Manager Syngenta Indonesia Tracy Tey Hui Xiang mengatakan, penggunaan produk perlindungan tanaman secara tepat dan bertanggung jawab penting untuk menjaga efektivitas pengendalian hama dalam jangka panjang.

“SIMODIS merupakan teknologi terobosan yang harus digunakan secara bertanggung jawab. Petani perlu mengikuti petunjuk penggunaan pada label dan menerapkan rotasi mode of action atau cara kerja bahan aktif untuk membantu memperlambat terbentuknya resistensi dan menjaga efektivitas pengendalian thrips dalam jangka panjang,” ujar Tracy.

Untuk tanaman cabai, SIMODIS direkomendasikan diaplikasikan pada 28, 35, dan 42 hari setelah tanam (HST), dengan dosis 600 ml/ha atau konsentrasi 1,2 ml/L.

“Untuk membantu memastikan cakupan semprotan yang merata, volume semprot yang disarankan adalah 500 L/ha, setara dengan sekitar 30 tangki berkapasitas 16 liter per hektare,” tambah Tracy.

Hadirkan Aktivasi Kreatif

Untuk menambah semarak peluncuran, Syngenta Indonesia juga menghadirkan kompetisi Si ‘Modis’ Fashion Show. Peserta diajak merancang busana dengan inspirasi dari bunga dan tanaman cabai yang sehat.

Aktivasi kreatif tersebut menjadi simbol vitalitas tanaman cabai sekaligus menyampaikan pesan bahwa perlindungan tanaman yang tepat berperan penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman, pembungaan, hingga pembentukan buah secara optimal.

Salah satu petani cabai yang hadir, Arif Saifur Rohman, turut membagikan pengalamannya menggunakan SIMODIS untuk membantu mengendalikan serangan thrips pada tanaman cabainya.

“Saya mengandalkan SIMODIS untuk mengendalikan serangan thrips. Hasilnya, tanaman cabai saya terjaga mulai dari pucuk, daun, hingga bunga. Panen meningkat dan kualitas buah lebih baik. Buah yang bengkok juga lebih sedikit, sehingga nilai jualnya menjadi lebih tinggi,” ungkap Arif.

Pengalaman tersebut turut diperkuat oleh Jayan, petani cabai asal Cianjur, yang berbagi pengalaman melalui sesi live connection dalam rangkaian acara peluncuran.

Grand Launching SIMODIS di Jember menjadi pembuka rangkaian peluncuran yang akan digelar di lima lokasi di Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut ditujukan untuk memperluas edukasi mengenai pengendalian thrips sekaligus memberikan kesempatan kepada lebih banyak petani untuk mengenal dan mencoba teknologi perlindungan tanaman secara langsung.

Sejalan dengan visi Petani MAJU, Syngenta Indonesia terus mendorong percepatan adopsi inovasi dan teknologi pertanian untuk membantu petani meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Melalui inovasi seperti SIMODIS, Syngenta Indonesia berkomitmen untuk terus menjadi mitra bagi petani dalam menghadapi berbagai tantangan budidaya serta mendorong pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, dan memberikan nilai lebih bagi petani.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved