Inspirasi Tani
Muhammad Imam Rahmatullah: Menjembatani Teknologi, Desa dan Masa Depan Pangan
Majalahtani.com – Bagi Muhammad Imam Rahmatullah, teknologi bukan sekadar tentang aplikasi yang canggih atau kecerdasan buatan. Teknologi harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Berangkat dari keyakinan itulah, ia membangun Pangan Desa, sebuah platform procurement yang menghubungkan petani dengan pasar institusional secara lebih efisien dan berkeadilan.
Imam sapaan akrabnya, tumbuh dengan ketertarikan besar terhadap dunia teknologi. Ketika banyak anak seusianya masih mencari minat, Imam sudah menemukan passion-nya di bidang komputer dan digital. Ketertarikan tersebut mengantarkannya menempuh pendidikan di Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indo Global Mandiri Palembang.
“Jadi memang suka teknologi dari dulu sampai sekarang,” kata Imam bercerita di ujung telepon kepada Majalah Tani, Selasa (21/7/2026).
Baginya, dunia teknologi bukan hanya pilihan karier, melainkan jalan hidup. Latar belakang sebagai seorang techpreneur membuat Imam terbiasa melihat setiap persoalan sebagai peluang untuk menghadirkan solusi berbasis teknologi. Semangat itu terus ia bawa hingga akhirnya melahirkan sebuah gagasan yang kini dikenal sebagai Pangan Desa.

Ide Pangan Desa lahir dari keresahan yang ia lihat dari dua sisi sekaligus, yakni hulu dan hilir rantai pasok pangan Indonesia. Dari sisi hulu, Imam melihat bagaimana para petani di berbagai daerah masih sangat bergantung kepada tengkulak. Keterbatasan akses pasar membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan selain menjual hasil panen dengan harga yang sering kali tidak sebanding dengan kerja keras yang telah mereka lakukan selama berbulan-bulan.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang makanan dan minuman, hotel, restoran, maupun pelaku usaha lainnya justru mengalami kesulitan memperoleh bahan baku pangan secara langsung dari sumbernya. Rantai distribusi pangan di Indonesia masih sangat panjang. Hasil panen berpindah dari petani ke tengkulak, kemudian ke distributor, subdistributor, pasar, hingga akhirnya sampai kepada pengguna akhir. Banyaknya lapisan tersebut membuat harga menjadi kurang efisien, sementara petani tetap memperoleh bagian yang paling kecil.
Menurut Imam, di era digital seperti sekarang kondisi tersebut seharusnya tidak lagi menjadi hambatan. Teknologi seharusnya mampu mempertemukan petani dengan pembeli secara lebih cepat dan transparan. Dari pemikiran itulah Pangan Desa dibangun sebagai platform procurement berbasis Business to Business (B2B) yang berfokus menghubungkan desa sebagai produsen pangan dengan perusahaan yang membutuhkan pasokan dalam jumlah besar.
“Itulah latar belakang kenapa kami membangun Pangan Desa ini. Jadi pangan desa itu adalah sebuah platform procurement untuk pangan yang memang berfokusnya itu di B2B,” jelas dia.
Tidak hanya melayani kebutuhan dalam negeri, Imam juga melihat besarnya potensi komoditas Indonesia untuk menembus pasar ekspor. Produk seperti kopi, rempah-rempah, buah-buahan, hingga berbagai hasil pertanian lainnya memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional. Tantangannya bukan pada kualitas, melainkan pada bagaimana membuka akses pasar yang lebih luas bagi para petani.
Tantangan Digitalisasi Desa dan Membangun Kepercayaan Petani
Namun, untuk mewujudkan akses pasar yang lebih terbuka tersebut, Pangan Desa harus melewati berbagai tantangan. Salah satu tantangan terbesar datang dari sisi hulu, yakni proses digitalisasi di tingkat desa. Imam menyadari bahwa tidak semua petani siap beradaptasi dengan teknologi. Karena itu, Pangan Desa tidak bekerja langsung kepada petani secara individu, melainkan menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sebagai mitra utama di setiap desa.
Melalui pendekatan tersebut, proses koordinasi menjadi lebih efektif sekaligus memperkuat kelembagaan desa. Namun, pekerjaan mereka tidak berhenti pada penyediaan akses pasar saja. Tim Pangan Desa juga memberikan pendampingan terkait literasi digital, literasi keuangan, hingga quality control agar produk yang dihasilkan memenuhi standar kebutuhan industri.
“Karenaproduk desa ini kan kadang mereka taunya cuma gimana caranya tanem, panen ya kan. Tapi (mereka) enggak tau nih sebenernya produk-produk yang memang dibutuhkan di pasar tuh seperti apa,” jelas pria berusia 32 tahun tersebut.

Menurut Imam, desa tidak hanya membutuhkan pembeli, tetapi juga membutuhkan pendamping agar mampu berkembang secara berkelanjutan. Oleh karena itu, Pangan Desa hadir bukan sekadar sebagai platform digital, melainkan sebagai mitra yang membantu desa naik kelas.
Di sisi hilir, tantangan yang dihadapi berbeda. Perusahaan tentu mengutamakan kualitas dan kontinuitas pasokan. Mereka membutuhkan kepastian bahwa produk yang diterima memiliki standar yang konsisten. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pangan Desa membangun sistem standar operasional dan quality control sehingga hasil pertanian dari desa mampu memenuhi kebutuhan pasar institusional.
Model bisnis yang diterapkan pun dirancang agar menguntungkan kedua belah pihak. Karena berfokus pada transaksi B2B, Pangan Desa menyediakan berbagai mekanisme pembayaran seperti pembayaran langsung, timbang bayar, maupun sistem termin pembayaran atau tempo yang umum digunakan oleh hotel dan restoran.
Meski demikian, Imam tetap mengutamakan kesejahteraan petani. Ketika pembeli menggunakan sistem pembayaran bertempo, petani tetap menerima pembayaran secara penuh saat produk diserahkan. Untuk mengatasi perbedaan waktu pembayaran tersebut, Pangan Desa memanfaatkan skema invoicing financing melalui pihak ketiga sehingga arus kas petani tetap terjaga.
“Tapi dari sisi petaninya itu tetep dibayar full dari awal. Jadi nanti kita akan ada yang namanya invoicing financing yang nantinya Pangan Desa akan mencari pihak ketiga untuk membayarkan dulu ke petaninya, sehingga petani tidak merasa terbebani,” imbuh Imam.
Fokus Membangun Eksistem
Menariknya, meskipun dibangun oleh seorang berlatar belakang teknologi, Imam justru memilih untuk tidak terburu-buru mengembangkan aplikasi secara penuh. Ia percaya bahwa teknologi sebaiknya mengikuti kebutuhan ekosistem, bukan sebaliknya.
“Jadi memang untuk sekarang itu kita masih fokus untuk membuat ekosistemnya dulu, ekosistem bisnisnya dulu dari hulu ke hilir kita bangun dulu,” jelas dia.
Saat ini fokus utama Pangan Desa adalah membangun jaringan petani, mitra desa, serta memperoleh kontrak pembelian jangka panjang dari berbagai institusi. Baginya, membangun ekosistem yang sehat jauh lebih penting daripada sekadar menghadirkan aplikasi dengan fitur lengkap.
Pendekatan tersebut terinspirasi dari perjalanan awal Gojek yang memulai operasionalnya tanpa aplikasi canggih. Setelah ekosistem terbentuk dan kebutuhan semakin besar, barulah teknologi dikembangkan secara bertahap.
“Nanti di tahun kedua barulah pelan-pelan kita akan mengaplikasikan di platform tersebut. Karena kan bedanya kami itu mungkin secara pada umumnya memang fokusnya di teknologi buat platform, menu yang bagus buat tampilan yang menarik buat fitur-fitur yang langsung lengkap seperti itu,” jelas dia.
Dari Platform Digital Menuju Pusat Data Pangan Nasional
Meski demikian, Imam memiliki visi yang jauh lebih besar. Ia ingin Pangan Desa menjadi pusat data pangan nasional berbasis desa. Berbeda dengan marketplace yang berbasis stok barang, platform ini akan menggunakan sistem berbasis panen. Informasi yang tersedia bukan hanya jenis komoditas, tetapi juga lokasi produksi, jumlah hasil panen, serta jadwal panen setiap desa di Indonesia.
“Karena sekarang ini kan belum ada tuh database ataupun pusat data yang secara real time terkait pangan. Misalkan di Jawa Barat pangan apa aja sih yang ada? Kapan sih mereka panen? Jadi di platform itu akan menjadi pusat data terkait pangan yang ada di Indonesia,” jelas dia.

Dengan adanya data tersebut, Indonesia akan memiliki gambaran kondisi pangan secara real time. Informasi ini tidak hanya bermanfaat bagi pelaku usaha, tetapi juga dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan pemerintah terkait distribusi maupun impor pangan.
Lebih jauh lagi, Imam membayangkan integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) ke dalam platform tersebut. AI nantinya tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis data, tetapi juga menjadi AI Agent yang secara otomatis mencari calon pembeli berdasarkan data produksi yang tersedia, menawarkan produk, mengirimkan proposal kerja sama, hingga melakukan negosiasi awal secara otomatis.
Konsep tersebut diharapkan mampu mempercepat proses bisnis sekaligus memperluas akses pasar bagi desa-desa di seluruh Indonesia.
Meski baru berjalan sekitar tiga bulan, Pangan Desa telah menjalin kemitraan dengan lebih dari 20 desa yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Dampak awal yang mulai dirasakan adalah terbukanya akses pasar bagi petani dan adanya kepastian pembeli melalui kontrak jangka panjang.
Dengan kontrak tersebut, petani tidak lagi khawatir hasil panennya tidak terserap pasar. Mereka juga memperoleh harga yang lebih baik dibandingkan menjual kepada tengkulak. Di sisi lain, perusahaan memperoleh kepastian pasokan dengan harga yang lebih stabil sehingga mampu menjaga efisiensi operasional.
Bagi Imam, mimpi terbesar Pangan Desa bukan sekadar menjadi startup sukses. Ia ingin membangun sistem distribusi pangan yang lebih adil, memperpendek rantai pasok, dan menjadikan desa sebagai subjek utama pembangunan ekonomi.
Ia berharap suatu hari nanti tidak ada lagi petani yang membuang hasil panennya karena tidak memiliki pembeli, tidak ada lagi komoditas berkualitas yang terabaikan, serta tidak ada lagi kebijakan pangan yang diambil tanpa mempertimbangkan kondisi nyata di desa.
Inspirasi Tani
Dayana Cigar: Brand Lokal dengan Mimpi Global
Majalahtani.com – Nama Kuba telah lama menjadi simbol kemewahan dalam dunia cerutu. Negara di kawasan Karibia itu seolah menjadi tolok ukur kualitas yang sulit disaingi. Namun, di balik dominasi tersebut, Indonesia diam-diam menyimpan potensi besar sebagai penghasil tembakau berkualitas dunia.
Potensi itulah yang coba diperkenalkan oleh Yadie Dayana, pendiri Dayana Cigar, melalui sebuah mimpi yang sederhana namun ambisius: menjadikan cerutu Indonesia diperhitungkan di panggung internasional. Karena bagi Yadie, Dayana bukan sekadar merek. Ia adalah sebuah gerakan untuk mengubah cara dunia memandang cerutu Indonesia.
Namun, mimpi besar itu tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari sebuah pertemuan yang tak pernah direncanakan, lalu berkembang menjadi perjalanan panjang yang mengubah arah hidup Yadie.
Perjalanan itu dimulai jauh sebelum Dayana dikenal sebagai Indonesian Cigar Specialist. Tepatnya ketika ia masih berusia awal 20-an dan bekerja di sebuah hotel di Singapura.
Saat itu, ia bukanlah seorang pengusaha, apalagi ahli cerutu. Latar belakang pendidikannya justru berasal dari dunia perhotelan. Namun, lingkungan kerjanya mempertemukan dirinya dengan para tamu dari berbagai negara yang menjadikan cerutu sebagai bagian dari gaya hidup.
“Di situlah saya mengenal cerutu,” ujar Yadie kepada Majalah Tani.
Rasa penasaran itu perlahan tumbuh menjadi ketertarikan yang lebih serius. Alih-alih hanya menjadi penikmat, Yadie memilih mempelajari industri cerutu dari hulunya. Kesempatan emas datang ketika dirinya dipercaya menjadi Country Manager Indonesia untuk sebuah perusahaan cerutu asal Swedia yang merupakan salah satu produsen cerutu terbesar di dunia.
Pekerjaan tersebut membuka pintu pembelajaran yang tak ternilai. Ia berkeliling ke berbagai negara, mulai dari Amerika Serikat, Australia hingga sejumlah pusat industri cerutu dunia. Pengalaman itulah yang kemudian menjadi bekal ketika memutuskan pulang dan membangun bisnis sendiri.
Awalnya, Dayana hanya hadir sebagai toko cerutu premium di Jakarta yang menjual berbagai produk impor. Kala itu, pasar cerutu nasional masih didominasi merek-merek luar negeri, terutama Kuba.
Namun pada 2014, sebuah keputusan besar diambil. Yadie memutuskan untuk berhenti bergantung pada produk impor dan mulai mempromosikan cerutu buatan Indonesia. Langkah itu tergolong berani karena saat itu belum banyak pelaku yang percaya bahwa cerutu Indonesia mampu bersaing dengan produk dunia.
“Jadi 2014 itu bikin pertama satu-satunya toko cerutu premium Indonesia. Hanya menjual cerutu Indonesia yang berizin, yang bercukai itulah Dayana. Jadi Dayana ini tagline Indonesian Cigar Specialist,” ungkap dia.

Dari Toko Menjadi Etalase Cerutu Nusantara
Yadie bukan sekadar melahirkan sebuah toko cerutu. Dayana ingin menjadi rumah bagi seluruh merek cerutu premium Indonesia. Hingga kini, Dayana menjalankan dua lini bisnis sekaligus, yakni Dayana Cigar Store sebagai pusat penjualan berbagai merek cerutu Indonesia dan Dayana Cigar sebagai merek cerutu produksi mereka sendiri.
Langkah tersebut perlahan membuahkan hasil. Mayoritas pelanggan Dayana justru berasal dari kalangan ekspatriat dan wisatawan mancanegara. Salah satu pasar yang tumbuh cukup pesat adalah wisatawan asal China yang datang ke Indonesia khusus untuk mencari cerutu lokal. Fenomena itu menjadi sinyal bahwa cerutu Indonesia mulai mendapatkan tempat di pasar internasional.
“Karena emang kita harus berani untuk bilang kalau cerutu Indonesia itu menjadi salah satu yang terbaik di dunia,” tegas dia.
Namun bagi Yadie, membangun sebuah merek cerutu premium tidak cukup hanya mengandalkan kualitas tembakau. Pengalaman bertahun-tahun bekerja di perusahaan cerutu terbesar dunia mengajarkannya bahwa produk premium selalu dibangun melalui pemahaman terhadap konsumennya.
“Saya belajar siapa sebenarnya yang menghisap cerutu ini. Jadi saya belajar marketnya, personnya.
Dari situ kita tahu, ‘oh cerutu ini rasa ini untuk siapa, untuk kemana’,” katanya.
Menikmati Cerutu Bukan Sekadar Menghisap
Dari sanalah Dayana tidak sekadar menjual produk, tetapi juga mengedukasi pasar. Karena bagi sebagian orang, cerutu bukan sekadar produk tembakau, melainkan bagian dari gaya hidup yang sarat tradisi dan etika.
Bagi Yadie, cerutu memiliki aturan tersendiri yang berbeda dengan kebiasaan merokok pada umumnya. Mulai dari waktu menikmatinya hingga cara menghisapnya, semua memiliki makna yang mencerminkan penghargaan terhadap proses dan momen.
Salah satu etika utama dalam menikmati cerutu adalah mengonsumsinya setelah makan. Menurut Yadie, cerutu sebaiknya dinikmati ketika perut sudah terisi, baik setelah sarapan, makan siang, maupun makan malam. Namun, kebanyakan penikmat memilih menikmatinya seusai makan malam karena suasananya lebih tenang dan santai.

Selain itu, cara menghisap cerutu juga berbeda dengan rokok. Asap cerutu tidak dihirup hingga masuk ke paru-paru. Sebaliknya, asap cukup dinikmati di dalam mulut untuk merasakan aroma dan cita rasanya, kemudian dikeluarkan kembali.
Etika lainnya adalah memilih tempat yang tepat. Menikmati cerutu, kata Yadie, tidak dilakukan sembarangan, melainkan di lokasi yang mendukung kenyamanan dan tidak mengganggu orang lain. “Kalau kita mau menikmati cerutu, harus di tempatnya,” imbuh dia.
Hal yang tak kalah penting adalah mengenali waktu yang dimiliki. Cerutu yang sudah dinyalakan sebaiknya dihabiskan hingga selesai. Oleh karena itu, seseorang perlu menyesuaikan ukuran cerutu dengan waktu luang yang tersedia.
Gunakan 100 Persen Tembakau Indonesia
Selain memperhatikan cara menikmati, kualitas bahan baku juga menjadi bagian penting dalam pengalaman bercita rasa cerutu. Salah satunya dengan penggunaan tembakau lokal yang menjadi ciri khas produk cerutu Indonesia.
Dayana sendiri seluruh produknya menggunakan 100 persen tembakau Indonesia. Sebagian besar berasal dari Jember, Jawa Timur, yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi tembakau cerutu nasional.
Menurut Yadie, sekitar 90 persen tembakau cerutu Indonesia berasal dari daerah tersebut. Karakter tanah dan iklim di Jember menghasilkan daun tembakau dengan cita rasa yang berbeda dibandingkan daerah lain seperti Sumatera atau Lombok.
“Beda tempat, beda tanah, beda rasa. Tapi ya itulah tembakau Indonesia. Semuanya punya cita rasa masing-masing,” imbuh dia.

Khusus untuk Jember, telah ditetapkan sebagai Kota Cerutu Indonesia pada 2019. Setiap Juli, daerah itu menjadi tuan rumah Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI), sebuah festival internasional yang mempertemukan pelaku industri dan penikmat cerutu dari berbagai negara, termasuk Malaysia, Taiwan hingga sejumlah negara Eropa.
Bagi Dayana, keberadaan festival tersebut bukan hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga menunjukkan bahwa Indonesia mulai membangun identitas sebagai negara penghasil cerutu premium.
“Dayana itu sebagai retail, sebagai cigar store, sebagai pintu untuk semua brand-brand Indonesia. Jadi kita promosikan di sana,” ungkap dia.
Dayana Bidik Cerutu Indonesia Masuk Jajaran Terbaik Global
Ambisi besar untuk membawa cerutu Indonesia ke tingkat dunia terus dikembangkan melalui berbagai langkah strategis. Salah satunya dilakukan oleh Dayana yang menargetkan produknya mampu bersaing dan masuk dalam jajaran tiga besar cerutu terbaik dunia.
Upaya tersebut dilakukan dengan memperkuat kualitas produk sekaligus memperluas pengenalan merek ke pasar internasional.Sebgai langkah awal yang dilakukan Yadie saat ini adalah membangun kesadaran merek atau brand awareness melalui kegiatan ekspor ke sejumlah negara.
“Target kita adalah yang sekarang ini kita ekspor ya. Itu yang pertama. Untuk brand awareness Dayana, sudah kita ekspor ke Malaysia besar, kemudian ke Taiwan, China, dan Afrika Selatan. Walaupun masih kecil-kecil, yang penting di dunia ini ada Dayana dan mulai terdengar,” ujar Yadie.
Ekspansi ke pasar global menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk memperkenalkan cerutu Indonesia kepada para penikmat dunia. Dayana optimistis mampu bersaing dengan produk cerutu dari berbagai negara yang telah lebih dahulu dikenal, termasuk cerutu asal Kuba yang memiliki reputasi kuat secara internasional.
Kepercayaan diri tersebut didukung oleh kualitas yang terus dijaga, mulai dari pemilihan tembakau hingga proses produksi. Dayana menilai karakter rasa, kualitas bahan baku, serta keterampilan proses rollin menjadi faktor penting dalam menghasilkan cerutu premium.
“Dayana ini berani bersaing dengan cerutu-cerutu luar, dengan rasa yang enak, kualitas yang baik, proses rolling yang bagus, dan tembakau yang berkualitas. Orang mengakui memang Dayana enak,” katanya.
Perjalanan menuju cerutu premium membutuhkan proses panjang dan konsistensi. Bagi Dayana, pengembangan produk saat ini menjadi bagian dari masa inkubasi untuk menciptakan cerutu Indonesia yang memiliki standar tinggi dan mampu mendapatkan pengakuan di pasar internasional.

Dengan memperluas jaringan ekspor dan mempertahankan kualitas produk, Dayana berharap nama cerutu Indonesia semakin dikenal serta mampu menempatkan diri di antara merek-merek cerutu terbaik dunia.
Optimisme tersebut, juga didukung oleh perkembangan industri dalam negeri. Jika satu dekade lalu cerutu identik dengan kalangan tertentu, kini semakin banyak anak muda yang mulai melirik bisnis tersebut. Ini ditandai dengan toko-toko cerutu baru bermunculan di Bali, Batam, Bandung hingga berbagai kota lainnya. Komunitas penikmat cerutu pun tumbuh semakin besar.
Menurut Yadie, tren tersebut menunjukkan bahwa industri cerutu nasional mulai bergerak. Ia bahkan memperkirakan produksi cerutu Indonesia yang sebelumnya hanya sekitar satu juta batang per tahun kini telah meningkat berkali-kali lipat.
“Mungkin sekarang udah 10 juta. Artinya naiknya signifikan,” ungap dia.
Namun, ia meyakini pertumbuhan itu baru permulaan. Masih banyak ruang yang bisa dikembangkan apabila industri mendapat dukungan lebih besar, terutama dalam promosi internasional.
Yadie berharap cerutu Indonesia dapat dipromosikan sebagaimana kopi Indonesia yang rutin hadir dalam berbagai pameran dan forum perdagangan dunia. “Nah ini yang patut disupport sama pemerintah ini. Mungkin kita punya 134 perwakilan di dunia ini. Nah melalui mereka itu lah untuk mempromosikan cerutu,” harapnya.
Baginya, cerutu bukan hanya komoditas perkebunan. Di balik setiap batang cerutu terdapat rantai ekonomi yang panjang, mulai dari petani tembakau, pengrajin kotak kayu, desainer kemasan, hingga para pekerja di pabrik. Semuanya adalah bagian dari ekosistem industri kreatif yang dapat memberikan nilai tambah bagi Indonesia.
Karena itu, mimpi Dayana tidak berhenti pada keberhasilan sebuah merek. Mimpi itu adalah melihat nama Indonesia berdiri sejajar dengan Kuba, Dominika, Honduras, dan Nicaragua sebagai negara penghasil cerutu terbaik dunia. Dan ketika hari itu tiba, Dayana ingin dikenang sebagai salah satu pionir yang berani membuka jalan.
“Saya sebagai praktisi yang sudah 30 tahun kurang lebih, saya yakin Indonesia akan sejajar sama Kuba. Dari sisi rasa, kualitas, harga kita jauh lebih bagus daripada Kuba,” pungkas dia.
Inspirasi Tani
Mengembalikan Ikan Lokal Pulang ke Rumahnya
Majalahtani.com – Teten Muharram, warga Kampung Cimunding, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, punya cara unik dalam merawat alam. Bukan sekadar membersihkan sungai, pria berusia 39 tahun itu justru memilih menghidupkan kembali ekosistem air dengan mengembalikan ikan-ikan lokal ke habitatnya melalui gerakan kecilnya.
Lewat gerakan ‘Mengembalikan Ikan Lokal Pulang ke Habitatnya’, Teten aktif melakukan penebaran ikan ke berbagai sungai di Jawa Barat. Gerakan itu tidak muncul secara tiba-tiba. Ada cerita panjang yang berakar dari pengalaman masa kecil, kenangan bersama sang ayah, hingga rasa terima kasihnya terhadap alam yang pernah menjadi sumber kehidupan keluarganya.
Bagi Teten, sungai bukan sekadar aliran air. Sungai adalah bagian dari kenangan masa kecil yang membentuk cara pandangnya terhadap alam. Sejak dulu, ayahnya memiliki hobi memancing. Hampir setiap hasil tangkapan sang ayah menjadi bagian dari kehidupan keluarga, termasuk ikan nilem yang kerap tersaji di meja makan saat Teten masih bersekolah.
Dari sana, Teten merasakan bagaimana sungai mampu menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Ikan-ikan yang hidup di alam bukan hanya sekadar penghuni ekosistem, tetapi juga menjadi bagian dari ketahanan pangan keluarga. Namun, kenangan itu perlahan berubah ketika ia melihat kondisi sungai saat ini. Banyak sungai yang mulai kehilangan ikan lokal akibat berbagai aktivitas manusia.
“Jadi saya merasakan ketahanan pangang gitu, dari sungai. Nah ketika almarhum bapak saya meninggal, di situ saya berinisiasi untuk waktunya mungkin saya menebar berbalas budi terhadap alam,” ujarnya saat dihubungi Majalah Tani, Selasa (14/7/2026).
Teten lebih dulu aktif dalam kegiatan sosial sebelum turun ke sungai. Latar belakang pendidikannya sebagai lulusan S1 Bahasa Perancis dan kemudian melanjutkan S1 Bahasa Sunda tidak membuatnya jauh dari kegiatan masyarakat.
Perjalanannya menuju konservasi ikan dimulai ketika ia bersama anak-anak melakukan kegiatan membaca alam dan membersihkan sungai. Saat itu ia melihat kondisi sungai yang memprihatinkan. “Waktu bersihin sungai dulu sama anak-anak, ternyata miris gitu ya lihat sungai isinya sampah, terus lihat ikannya kosong di setiap sungai,” kenang Teten.

Pemandangan tersebut menjadi titik awal bagi Teten untuk tidak hanya mengamati, tetapi juga mengambil tindakan. Ia mulai memikirkan cara sederhana untuk mengembalikan kehidupan di sungai, salah satunya dengan menghadirkan kembali ikan-ikan lokal yang mulai hilang dari habitatnya.
Berawal dari Modal Pribadi
Gerakan penebaran ikan itu awalnya dilakukan secara mandiri. Teten menyisihkan sebagian penghasilannya sebagai guru honorer untuk membeli ikan yang kemudian ditebar ke sungai.
Selama kurang lebih delapan bulan, ia menjalankan aksinya dengan biaya pribadi. Jumlah ikan yang dibawa pun masih terbatas, biasanya hanya satu hingga lima kilogram setiap kegiatan.
“Saya memang udah punya niat mau sedekah alam waktu itu. Jadi saya menyisihkan gaji saya sebagai guru honorer untuk sedakah alam,” ungkap Teten.
Namun konsistensi membuat gerakannya mulai dikenal luas. Melalui media sosial, aktivitas penebaran ikan yang ia lakukan menarik perhatian masyarakat dan para pegiat lingkungan.
Dukungan pun mulai berdatangan. Teten kemudian membuka ruang donasi bagi masyarakat yang ingin ikut berkontribusi. Donasi tersebut digunakan untuk membeli ikan dari petani lokal sekaligus membantu pemasaran hasil budidaya mereka.
“Sekarang dalam satu kali kegiatan bisa mencapai puluhan kilogram ikan. Minimal sekitar 60 kilogram sekali tebar,” katanya.
Berkembangnya gerakan tersebut membuat Teten membentuk tim kecil beranggotakan lima orang. Kehadiran tim tersebut membuat langkah Teten semakin kuat. Jika sebelumnya ia bergerak sendiri dengan keterbatasan jumlah ikan dan tenaga, kini gerakan penebaran ikan dapat dilakukan lebih luas dan menjangkau lebih banyak sungai.
Selama sekitar satu setengah tahun terakhir, Teten telah melakukan penebaran ikan di hampir seluruh wilayah Jawa Barat. Beberapa kabupaten/kota masih menjadi target penyelesaian sebelum melanjutkan perjalanan ke Jawa Tengah.
“Mungkin hanya empat kota atau kabupaten yang belum saya tebar yaitu Sukabumi, Purwakarta, Nidramayu, Cirebon,” imbuh dia.

Ikan yang ditebar pun bukan sembarang jenis. Ia memilih ikan lokal yang sesuai dengan karakter habitat sungai setempat. Beberapa jenis ikan yang biasa ditebar antara lain ikan tawes, ikan nilem, ikan tembakang, ikan gurame, ikan baragel, ikan masyar atau ikan dewa, ikan wader, hingga ikan sepat.
Sebelum melakukan pelepasliaran, Teten tidak langsung datang dan menebar ikan begitu saja. Ia melakukan survei terlebih dahulu. Menurutnya, keberhasilan konservasi bukan hanya bergantung pada jumlah ikan yang ditebar, tetapi juga bagaimana masyarakat menjaga habitatnya.
“Biasanya kalau sebelum penebaran saya survei terlebih dahulu untuk lokasi, gimana kondisi geografis di sungai itu. Terus saya cari info dari masyarakat juga,” imbuh dia.
Namun, perjalanan menjaga ekosistem sungai tidak selalu berjalan mulus. Di tengah upayanya menghidupkan kembali habitat ikan lokal, Teten juga harus menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Salah satunya pengalaman pahit yang membuatnya semakin selektif dalam menentukan lokasi penebaran.
Suatu hari, kata Teten, setelah melakukan penebaran ikan, ia mendapat kabar mengejutkan dari masyarakat. Ikan yang baru saja dilepas ternyata langsung habis ditangkap.
“Jadi ikan yang ditebar langsung disetrum habis semua, mereka mengirimkan fotonya ke saya. Ada beberapa tempat yang seperti itu saya blacklist,” cerita Teten.
Jika kondisi sungai masih diragukan, Teten memilih untuk tidak mengambil risiko besar. Ia hanya melakukan uji coba dengan jumlah ikan yang sedikit untuk melihat apakah habitat tersebut benar-benar aman bagi ikan yang ditebar.
Pengalaman di lapangan membuatnya semakin memahami bahwa konservasi bukan hanya tentang melepas ikan ke sungai, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan ekosistem dan melibatkan masyarakat sekitar.
Mimpi Mengembalikan Sungai Seperti Masa Kecil
Bagi Teten, tujuan terbesar dari gerakannya bukan sekadar menambah jumlah ikan di sungai. Ia ingin sungai kembali menjadi rumah bagi ikan lokal seperti dahulu.
“Mimpi saya, sungai kembali menjadi rumah bagi ikan-ikan lokal seperti waktu saya kecil”.
Ia berharap masyarakat mulai melakukan hal-hal sederhana untuk menjaga ekosistem sungai. Cara paling mudah adalah jangan buang sampah ke sungai dan jangan membuat limbah. “Rumah ikan harus dijaga dulu,” pesannya.

Menurutnya, ikan lokal bukan hanya kehilangan jumlah, tetapi juga kehilangan tempat hidup akibat kerusakan lingkungan dan keberadaan ikan invasif.
Bagi Teten, setiap ikan yang ia lepaskan adalah sebuah jejak. Ia menyadari suatu saat gerakan ini bisa saja berhenti, tetapi ia berharap dampaknya tetap berjalan. “Setidaknya saya sudah pernah meninggalkan jejak makhluk hidup yang saya tebar di berbagai tempat,” katanya.
Dokumentasi melalui media sosial juga menjadi bagian penting dari perjuangannya. Bukan hanya sebagai arsip pribadi, tetapi sebagai bukti bagi para donatur dan masyarakat bahwa gerakan tersebut benar-benar dilakukan.
Dalam waktu dekat, ia dijadwalkan melakukan penebaran ikan di Sungai Cikapundung, Bandung, bersama komunitas lingkungan, mahasiswa, dan pegiat alam. Kegiatan tersebut juga akan dirangkaikan dengan penanaman pohon endemik sungai.
Inspirasi Tani
Niya dan Mimpi Besar dari Pesisir: Membangun Ekosistem yang Mengubah Nasib Nelayan & Perempuan
Majalahtani.com – Di sebuah dapur produksi sederhana di Magelang, aroma ikan yang baru diolah memenuhi ruangan. Di atas meja, potongan fillet ikan berubah menjadi berbagai produk pangan beku yang siap dikirim ke berbagai kota. Tak jauh dari sana, beberapa perempuan sibuk membentuk adonan, sementara telepon genggam di sudut ruangan terus berbunyi menerima pesanan.
Di balik aktivitas itu berdiri seorang perempuan muda bernama Aulia Rahmawati Tsaniya. Sekilas, usahanya tampak seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pangan pada umumnya. Menjual makanan berbahan ikan, melayani pelanggan, dan mengembangkan produk baru. Namun ketika berbincang di ujung telepon dengannya, terlihat jelas bahwa semua itu hanyalah bagian kecil dari mimpi yang jauh lebih besar.
Bagi perempuan akrab disapa Niya, menjual makanan bukanlah tujuan akhir. Ia sesungguhnya sedang membangun sebuah ekosistem yang menghubungkan laut, nelayan, perempuan pesisir, anak-anak, pendidikan, hingga meja makan keluarga Indonesia.
Hari ini ekosistem itu bertumpu pada tiga pilar utama: Inafish, Wavemakers, dan Foodlink. Tiga nama berbeda, tetapi memiliki satu benang merah yang sama yaitu memberdayakan manusia melalui pangan.
Gagasan besar itu tidak lahir dalam semalam. Di balik ketiga ekosistem tersebut tersimpan perjalanan panjang yang berawal dari rasa penasaran. Sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia gemar membaca berbagai inovasi pangan dan membayangkan bagaimana sebuah produk sederhana bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Ketertarikan itu terus tumbuh hingga akhirnya membawanya memilih pendidikan tinggi di bidang Ilmu dan teknologi pangan.
“Jadi SMP itu sudah mulai kayak selalu riset tentang pangan gitu. Aku ingin selalu menciptakan produk-produk pangan yang memang berkaitan sama inovasi gitu yang bermanfaat untuk konsumen,” ujarnya kepada Majalah Tani.
Di kampus, Niya juga aktif mengikuti berbagai kompetisi riset hingga lomba bisnis dalam bidang Inovasi Pangan. Dari sana muncul satu kesadaran penting. Indonesia tidak kekurangan ikan, tapi yang seringkali kurang adalah inovasi. Bagaimana ikan bisa lebih mudah diterima masyarakat. Bagaimana nelayan memperoleh nilai tambah. Dan bagaimana seluruh rantai pasok mampu memberikan kesejahteraan yang lebih baik.
Inafish: Membuat Orang yang Tidak Suka Ikan Menjadi Suka
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian melahirkan langkah pertama dengan memulai membangun brand Inafish pada periode 2020. Inafish lahir bukan sekadar produsen frozen food.
Tetapi Niya ingin mencoba mengubah cara masyarakat menikmati ikan. Target utamanya adalah keluarga muda, terutama ibu-ibu yang ingin memenuhi kebutuhan gizi anak tanpa harus menghadapi duri ikan atau aroma amis yang sering membuat anak menolak makan.
“Inafish itu aku cuma (ingin) satu sih sebenarnya. Aku ingin bisa menciptakan produk perikanan yang terjangkau sama masyarakat dan kayak orang-orang enggak suka makan ikan jadi makan ikan,” ujarnya wanita lulusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gajah Mada tersebut.
Produk-produk yang dibuat Inafish tanpa bahan pengawet dengan kandungan ikan yang tinggi. Fokusnya bukan hanya rasa, tetapi juga kandungan gizi.
Niya menyebut salah satu produk yang menjadi ciri khas adalah Fish Bubble Potato, olahan ikan dengan kentang dan isian keju yang lembut. Bentuknya menarik, teksturnya ramah untuk anak-anak, bahkan kini banyak digunakan sebagai makanan pendamping untuk balita. Selain itu, terdapat produk seperti kaki naga dan berbagai frozen food lain yang semakin dikenal pasar.
“Kalau untuk pelanggan kita itu lebih banyak di kota-kota besar kayak di Semarang, Yogyakarta,Jakarta, sama Surabaya itu beberapa customer ambil dari kita,” ujar dia.
Namun keberhasilan produk bukanlah pencapaian yang paling membanggakan bagi Niya. Paling berkesan justru cerita dari para pelanggan. Di mana ada anak yang sebelumnya tidak pernah mau makan ikan kini justru menjadikan produk Inafish sebagai makanan favorit.
Ada pula orang tua yang bercerita kondisi gizi anak mereka membaik setelah rutin mengkonsumsi produk berbahan ikan. Bagi Niya, cerita-cerita semacam itu jauh lebih bernilai daripada sekadar angka penjualan.
Memberi Nilai Tambah Sejak Dari Laut
Dampak yang ingin diciptakan tidak berhenti di tangan konsumen. Niya meyakini perubahan harus dimulai jauh sebelum produk hadir di rak-rak penjualan, yakni sejak bahan baku masih berada di laut dan menjadi sumber penghidupan para nelayan. Dari keyakinan itulah ia membangun rantai nilai yang memberi manfaat bagi semua pihak, dari hulu hingga hilir.
“Sebenarnya mimpiku itu sampai di hulu pun aku bisa memberdayakan nelayan dan juga perempuan-perempuan pesisir,” kata Niya.
Karena itulah Inafish membeli ikan langsung dari nelayan. Inafish dimulai dengan bekerja sama dengan nelayan dan perempuan-perempuan pesisir di Jepara. Di sana terdapat jenis ikan yang jumlahnya melimpah tetapi kurang memiliki nilai ekonomi tinggi dibandingkan jenis ikan populer lainnya.
Alih-alih mengikuti pasar yang menggunakan bahan baku tertentu, Niya memilih memanfaatkan ikan yang melimpah tersebut. Keputusan itu bukan sekadar soal efisiensi. Ia ingin membantu meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan.
Meski begitu, perjalanannya tentu tidak selalu mulus. Pada tahap awal ia sempat menghadapi kendala produksi karena jarak yang cukup jauh antara lokasi nelayan dan tempat produksi.
Akhirnya lahirlah sistem baru. Perempuan-perempuan di wilayah pesisir pada akhirnya ikut membantu memisahkan daging ikan dari tulang, kemudian mengirimkannya dalam bentuk siap olah ke Magelang.
Dengan cara itu, rantai nilai bertambah. Nelayan memperoleh pasar. Perempuan memperoleh tambahan penghasilan. Sementara Inafish mendapatkan bahan baku berkualitas. Inilah yang dimaksud Niya sebagai pemberdayaan dari hulu.
“Jadi emang fungsinya Inafish ini tuh aku emang pengennya tuh di hulu ada pemberdayaan dan ada proses juga pengolahan untuk memenuhi gizi, kayak gitu,” jelas dia.
Wavemakers: Ketika Bisnis Saja Tidak Cukup
Meski Inafish terus berkembang, Niya menyadari satu hal. Tidak semua persoalan nelayan bisa diselesaikan oleh bisnis. Ada masalah pendidikan, masalah lingkungan dan persoalan sosial. Semuanya saling berkaitan.
Kesadaran itu melahirkan Wavemakers. Sebuah gerakan sosial yang berfokus pada masyarakat pesisir sejak September 2024. Nama Wavemakers dipilih bukan tanpa alasan. Gelombang tidak pernah berhenti bergerak. Begitu pula pada perubahan.
“Selama terjun ke masyarakat pesisir, aku melihat masih banyak ruang untuk pemberdayaan nelayan dan keluarganya. Pengalaman itu yang kemudian menjadi alasan aku terus bergerak melalui Wavemakers,” ungkap Niya.

Niya berharap setiap program kecil mampu menciptakan gelombang perubahan yang lebih besar. Selama berkuliah di perikanan, ia berkali-kali turun langsung ke kampung nelayan. Ia melihat kehidupan masyarakat pesisir dari dekat.
Permasalahannya sama. Mulai dari anak-anak yang kesulitan mengakses pendidikan, keluarga nelayan yang belum memiliki kesempatan berkembang serta lingkungan pesisir yang semakin tertekan oleh sampah. Semua pengalaman itu membentuk keyakinannya bahwa perubahan harus dilakukan secara menyeluruh.
Karena itu Wavemakers dibangun dengan tiga fokus utama. Pertama adalah pendidikan. Kedua lingkungan. Ketiga pemberdayaan ekonomi.
Salah satu impian terbesar Niya adalah menghadirkan beasiswa bagi anak-anak nelayan. Bukan sekadar membantu mereka masuk sekolah. Tetapi mendampingi hingga memiliki karier yang lebih baik. Karena menurutnya, kemiskinan di wilayah pesisir sering kali diwariskan bukan karena kurang bekerja keras, melainkan karena akses terhadap pendidikan yang terbatas.
“Jadi kita pikirkan dari pendidikan itu untuk anak-anak nelayannya ya, karena kita sebenarnya ingin banget bisa memberikan beasiswa untuk anak-anak nelayan sampai dengan ke karir,” ungkap Niya.
Melalui Wavemakers, ia mulai membangun berbagai kegiatan pendidikan nonformal di kawasan pesisir seperti Cilincing dan beberapa wilayah lain. Anak-anak memperoleh ruang belajar, membaca, dan mengembangkan diri. Baginya, perubahan sosial selalu dimulai dari pengetahuan.
Menjaga Laut Berarti Menjaga Masa Depan
Bekerja bersama nelayan membuat Niya memahami satu kenyataan. Masalah lingkungan di pesisir tidak pernah berdiri sendiri. Sampah yang dibuang jauh dari laut pada akhirnya akan bermuara ke pantai. Nelayanlah yang pertama kali merasakan dampaknya.
Karena itu Wavemakers juga aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan, termasuk penanaman mangrove dan edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

Ia percaya laut bukan sekadar sumber penghasilan. Laut adalah rumah. Jika rumah itu rusak, maka seluruh kehidupan di dalamnya ikut terancam.
Keyakinan itulah yang kemudian membentuk cara Niya membangun seluruh ekosistem usahanya. Baginya, menjaga laut saja tidak cukup. Masyarakat yang hidup di sekitarnya juga harus tumbuh dan memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.
Karena itu, perhatian Niya tidak berhenti pada nelayan, tetapi juga menjangkau perempuan-perempuan pesisir yang selama ini menjadi penopang keluarga sekaligus roda ekonomi lokal.
“Kalau yang kami mungkin menjadi tertarik itu sebenarnya dari pemberdayaan perempuannya gitu, yang mana ibu-ibu nelayan ini ternyata itu segitu minimnya pengetahuan tentang pengelolaan ikan,” kata dia.
Karena itu pemberdayaan perempuan menjadi fokus penting dalam seluruh ekosistem yang dibangun Niya. Melalui berbagai pelatihan, perempuan diperkenalkan pada teknik pengolahan ikan, keamanan pangan, hingga peluang usaha.
Harapannya sederhana. Ikan tidak hanya dijual dalam bentuk mentah. Tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah. Dengan demikian pendapatan keluarga meningkat tanpa harus menambah hasil tangkapan.
“Kita pengen banget punya kayak semacam hub atau pemberdayaan dari wilayah pesisirnya sampai akhirnya berdampak ke bisnisnya kayak gitu,” terang dia.
Gagasan membangun ekosistem tersebut tidak berhenti pada pemberdayaan ekonomi. Niya menyadari bahwa perubahan yang berkelanjutan juga membutuhkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Foodlink Hadir Sebagai Ruang Edukasi
Pengetahuan, keterampilan, dan akses terhadap informasi menjadi bekal penting agar masyarakat pesisir mampu terus berkembang secara mandiri. Dari kebutuhan itulah Foodlink kemudian lahir.
Jika Inafish menjadi mesin bisnis dan Wavemakers menjadi gerakan sosial, maka Foodlink hadir sebagai ruang edukasi. Niya percaya bahwa pengetahuan tentang pangan tidak boleh berhenti di ruang kuliah atau laboratorium. Pengetahuan harus sampai kepada masyarakat.
“Jadi kita tuh pengen, kita tuh bisa menjadi platform untuk edukasi baik. Dari sisi edukasi untuk keseharian,” imbuh dia.

Melalui Foodlink, masyarakat dapat belajar berbagai hal. Mulai dari pengolahan hasil pangan, keamanan pangan, fermentasi, hingga bagaimana membangun bisnis berbasis pangan lokal.
Ia memanfaatkan jejaring akademisi, praktisi, hingga dosen yang dikenalnya untuk berbagi ilmu kepada masyarakat. Karena baginya, edukasi adalah investasi jangka panjang. Semakin banyak orang memahami pangan, semakin kuat pula sistem pangan Indonesia.
“Jadi itu aku manfaatkan untuk kita membangun si platform ini,” kata dia.
Dari seluruh ekosistem tersebut, mimpi Niya sederhana. Ia hanya ingin apa yang sedang dibangunnya benar-benar memberi dampak nyata. “Tapi yang jelas aku inginkan itu apapun yang aku lakukan ini mungkin dari hal Inafish, dari Foodlink, dari Wavemakers ini bisa berdampak nyata. Walaupun itu enggak besar, tapi berdampak nyata gitu,” pungkas dia.
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Karena dampak nyata tidak selalu diukur dari seberapa besar perusahaan.
Kadang ia hadir dalam bentuk seorang anak yang akhirnya mau makan ikan. Seorang ibu pesisir yang memperoleh penghasilan tambahan. Seorang nelayan yang bisa menjual hasil tangkapannya dengan harga lebih baik. Atau seorang anak nelayan yang suatu hari berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.
-
Analisis Pasar4 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria6 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria6 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Lensa Agraria5 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Inspirasi Tani6 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Lensa Agraria5 bulan agoKejar Target Swasembada Beras, Mentan Amran Perkuat Sinergi Internal Kementan
-
Inspirasi Tani4 minggu agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Data Pangan3 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
