Connect with us

Inspirasi Tani

Dayana Cigar: Brand Lokal dengan Mimpi Global

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Nama Kuba telah lama menjadi simbol kemewahan dalam dunia cerutu. Negara di kawasan Karibia itu seolah menjadi tolok ukur kualitas yang sulit disaingi. Namun, di balik dominasi tersebut, Indonesia diam-diam menyimpan potensi besar sebagai penghasil tembakau berkualitas dunia.

Potensi itulah yang coba diperkenalkan oleh Yadie Dayana, pendiri Dayana Cigar, melalui sebuah mimpi yang sederhana namun ambisius: menjadikan cerutu Indonesia diperhitungkan di panggung internasional. Karena bagi Yadie, Dayana bukan sekadar merek. Ia adalah sebuah gerakan untuk mengubah cara dunia memandang cerutu Indonesia.

Namun, mimpi besar itu tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari sebuah pertemuan yang tak pernah direncanakan, lalu berkembang menjadi perjalanan panjang yang mengubah arah hidup Yadie.

Perjalanan itu  dimulai jauh sebelum Dayana dikenal sebagai Indonesian Cigar Specialist. Tepatnya ketika ia masih berusia awal 20-an dan bekerja di sebuah hotel di Singapura.

Saat itu, ia bukanlah seorang pengusaha, apalagi ahli cerutu. Latar belakang pendidikannya justru berasal dari dunia perhotelan. Namun, lingkungan kerjanya mempertemukan dirinya dengan para tamu dari berbagai negara yang menjadikan cerutu sebagai bagian dari gaya hidup.

“Di situlah saya mengenal cerutu,” ujar Yadie kepada Majalah Tani.

Rasa penasaran itu perlahan tumbuh menjadi ketertarikan yang lebih serius. Alih-alih hanya menjadi penikmat, Yadie memilih mempelajari industri cerutu dari hulunya. Kesempatan emas datang ketika dirinya dipercaya menjadi Country Manager Indonesia untuk sebuah perusahaan cerutu asal Swedia yang merupakan salah satu produsen cerutu terbesar di dunia.

Pekerjaan tersebut membuka pintu pembelajaran yang tak ternilai. Ia berkeliling ke berbagai negara, mulai dari Amerika Serikat, Australia hingga sejumlah pusat industri cerutu dunia. Pengalaman itulah yang kemudian menjadi bekal ketika memutuskan pulang dan membangun bisnis sendiri.

Awalnya, Dayana hanya hadir sebagai toko cerutu premium di Jakarta yang menjual berbagai produk impor. Kala itu, pasar cerutu nasional masih didominasi merek-merek luar negeri, terutama Kuba.

Namun pada 2014, sebuah keputusan besar diambil. Yadie memutuskan untuk berhenti bergantung pada produk impor dan mulai mempromosikan cerutu buatan Indonesia. Langkah itu tergolong berani karena saat itu belum banyak pelaku yang percaya bahwa cerutu Indonesia mampu bersaing dengan produk dunia.

“Jadi 2014 itu bikin pertama satu-satunya toko cerutu premium Indonesia. Hanya menjual cerutu Indonesia yang berizin, yang bercukai itulah Dayana. Jadi Dayana ini tagline Indonesian Cigar Specialist,” ungkap dia.

Dari Toko Menjadi Etalase Cerutu Nusantara

Yadie bukan sekadar melahirkan sebuah toko cerutu.  Dayana ingin menjadi rumah bagi seluruh merek cerutu premium Indonesia. Hingga kini, Dayana menjalankan dua lini bisnis sekaligus, yakni Dayana Cigar Store sebagai pusat penjualan berbagai merek cerutu Indonesia dan Dayana Cigar sebagai merek cerutu produksi mereka sendiri.

Langkah tersebut perlahan membuahkan hasil. Mayoritas pelanggan Dayana justru berasal dari kalangan ekspatriat dan wisatawan mancanegara. Salah satu pasar yang tumbuh cukup pesat adalah wisatawan asal China yang datang ke Indonesia khusus untuk mencari cerutu lokal. Fenomena itu menjadi sinyal bahwa cerutu Indonesia mulai mendapatkan tempat di pasar internasional.

“Karena emang kita harus berani untuk bilang kalau cerutu Indonesia itu menjadi salah satu yang terbaik di dunia,” tegas dia.

Namun bagi Yadie, membangun sebuah merek cerutu premium tidak cukup hanya mengandalkan kualitas tembakau. Pengalaman bertahun-tahun bekerja di perusahaan cerutu terbesar dunia mengajarkannya bahwa produk premium selalu dibangun melalui pemahaman terhadap konsumennya.

“Saya belajar siapa sebenarnya yang menghisap cerutu ini. Jadi saya belajar marketnya, personnya.
Dari situ kita tahu, ‘oh cerutu ini rasa ini untuk siapa, untuk kemana’,” katanya.

Menikmati Cerutu Bukan Sekadar Menghisap

Dari sanalah Dayana tidak sekadar menjual produk, tetapi juga mengedukasi pasar. Karena bagi sebagian orang, cerutu bukan sekadar produk tembakau, melainkan bagian dari gaya hidup yang sarat tradisi dan etika.

Bagi Yadie, cerutu memiliki aturan tersendiri yang berbeda dengan kebiasaan merokok pada umumnya. Mulai dari waktu menikmatinya hingga cara menghisapnya, semua memiliki makna yang mencerminkan penghargaan terhadap proses dan momen.

Salah satu etika utama dalam menikmati cerutu adalah mengonsumsinya setelah makan. Menurut Yadie, cerutu sebaiknya dinikmati ketika perut sudah terisi, baik setelah sarapan, makan siang, maupun makan malam. Namun, kebanyakan penikmat memilih menikmatinya seusai makan malam karena suasananya lebih tenang dan santai.

Selain itu, cara menghisap cerutu juga berbeda dengan rokok. Asap cerutu tidak dihirup hingga masuk ke paru-paru. Sebaliknya, asap cukup dinikmati di dalam mulut untuk merasakan aroma dan cita rasanya, kemudian dikeluarkan kembali.

Etika lainnya adalah memilih tempat yang tepat. Menikmati cerutu, kata Yadie, tidak dilakukan sembarangan, melainkan di lokasi yang mendukung kenyamanan dan tidak mengganggu orang lain. “Kalau kita mau menikmati cerutu, harus di tempatnya,” imbuh dia.

Hal yang tak kalah penting adalah mengenali waktu yang dimiliki. Cerutu yang sudah dinyalakan sebaiknya dihabiskan hingga selesai. Oleh karena itu, seseorang perlu menyesuaikan ukuran cerutu dengan waktu luang yang tersedia.

Gunakan 100 Persen Tembakau Indonesia

Selain memperhatikan cara menikmati, kualitas bahan baku juga menjadi bagian penting dalam pengalaman bercita rasa cerutu. Salah satunya dengan penggunaan tembakau lokal yang menjadi ciri khas produk cerutu Indonesia.

Dayana sendiri seluruh produknya menggunakan 100 persen tembakau Indonesia. Sebagian besar berasal dari Jember, Jawa Timur, yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi tembakau cerutu nasional.

Menurut Yadie, sekitar 90 persen tembakau cerutu Indonesia berasal dari daerah tersebut. Karakter tanah dan iklim di Jember menghasilkan daun tembakau dengan cita rasa yang berbeda dibandingkan daerah lain seperti Sumatera atau Lombok.

“Beda tempat, beda tanah, beda rasa. Tapi ya itulah tembakau Indonesia. Semuanya punya cita rasa masing-masing,” imbuh dia.

Khusus untuk Jember, telah ditetapkan sebagai Kota Cerutu Indonesia pada 2019. Setiap  Juli, daerah itu menjadi tuan rumah Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI), sebuah festival internasional yang mempertemukan pelaku industri dan penikmat cerutu dari berbagai negara, termasuk Malaysia, Taiwan hingga sejumlah negara Eropa.

Bagi Dayana, keberadaan festival tersebut bukan hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga menunjukkan bahwa Indonesia mulai membangun identitas sebagai negara penghasil cerutu premium.

“Dayana itu sebagai retail, sebagai cigar store, sebagai pintu untuk semua brand-brand Indonesia. Jadi kita promosikan di sana,” ungkap dia.

Dayana Bidik Cerutu Indonesia Masuk Jajaran Terbaik Global

Ambisi besar untuk membawa cerutu Indonesia ke tingkat dunia terus dikembangkan melalui berbagai langkah strategis. Salah satunya dilakukan oleh Dayana yang menargetkan produknya mampu bersaing dan masuk dalam jajaran tiga besar cerutu terbaik dunia.

Upaya tersebut dilakukan dengan memperkuat kualitas produk sekaligus memperluas pengenalan merek ke pasar internasional.Sebgai langkah awal yang dilakukan Yadie saat ini adalah membangun kesadaran merek atau brand awareness melalui kegiatan ekspor ke sejumlah negara.

“Target kita adalah yang sekarang ini kita ekspor ya. Itu yang pertama. Untuk brand awareness Dayana, sudah kita ekspor ke Malaysia besar, kemudian ke Taiwan, China, dan Afrika Selatan. Walaupun masih kecil-kecil, yang penting di dunia ini ada Dayana dan mulai terdengar,” ujar Yadie.

Ekspansi ke pasar global menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk memperkenalkan cerutu Indonesia kepada para penikmat dunia. Dayana optimistis mampu bersaing dengan produk cerutu dari berbagai negara yang telah lebih dahulu dikenal, termasuk cerutu asal Kuba yang memiliki reputasi kuat secara internasional.

Kepercayaan diri tersebut didukung oleh kualitas yang terus dijaga, mulai dari pemilihan tembakau hingga proses produksi. Dayana menilai karakter rasa, kualitas bahan baku, serta keterampilan proses rollin  menjadi faktor penting dalam menghasilkan cerutu premium.

“Dayana ini berani bersaing dengan cerutu-cerutu luar, dengan rasa yang enak, kualitas yang baik, proses rolling yang bagus, dan tembakau yang berkualitas. Orang mengakui memang Dayana enak,” katanya.

Perjalanan menuju cerutu premium membutuhkan proses panjang dan konsistensi. Bagi Dayana, pengembangan produk saat ini menjadi bagian dari masa inkubasi untuk menciptakan cerutu Indonesia yang memiliki standar tinggi dan mampu mendapatkan pengakuan di pasar internasional.

Dengan memperluas jaringan ekspor dan mempertahankan kualitas produk, Dayana berharap nama cerutu Indonesia semakin dikenal serta mampu menempatkan diri di antara merek-merek cerutu terbaik dunia.

Optimisme tersebut, juga didukung oleh perkembangan industri dalam negeri. Jika satu dekade lalu cerutu identik dengan kalangan tertentu, kini semakin banyak anak muda yang mulai melirik bisnis tersebut. Ini ditandai dengan toko-toko cerutu baru bermunculan di Bali, Batam, Bandung hingga berbagai kota lainnya. Komunitas penikmat cerutu pun tumbuh semakin besar.

Menurut Yadie, tren tersebut menunjukkan bahwa industri cerutu nasional mulai bergerak. Ia bahkan memperkirakan produksi cerutu Indonesia yang sebelumnya hanya sekitar satu juta batang per tahun kini telah meningkat berkali-kali lipat.

“Mungkin sekarang udah 10 juta. Artinya naiknya signifikan,” ungap dia.

Namun, ia meyakini pertumbuhan itu baru permulaan. Masih banyak ruang yang bisa dikembangkan apabila industri mendapat dukungan lebih besar, terutama dalam promosi internasional.

Yadie berharap cerutu Indonesia dapat dipromosikan sebagaimana kopi Indonesia yang rutin hadir dalam berbagai pameran dan forum perdagangan dunia.  “Nah ini yang patut disupport sama pemerintah ini. Mungkin kita punya 134 perwakilan di dunia ini. Nah melalui mereka itu lah untuk mempromosikan cerutu,” harapnya.

Baginya, cerutu bukan hanya komoditas perkebunan. Di balik setiap batang cerutu terdapat rantai ekonomi yang panjang, mulai dari petani tembakau, pengrajin kotak kayu, desainer kemasan, hingga para pekerja di pabrik. Semuanya adalah bagian dari ekosistem industri kreatif yang dapat memberikan nilai tambah bagi Indonesia.

Karena itu, mimpi Dayana tidak berhenti pada keberhasilan sebuah merek. Mimpi itu adalah melihat nama Indonesia berdiri sejajar dengan Kuba, Dominika, Honduras, dan Nicaragua sebagai negara penghasil cerutu terbaik dunia. Dan ketika hari itu tiba, Dayana ingin dikenang sebagai salah satu pionir yang berani membuka jalan.

“Saya sebagai praktisi yang sudah 30 tahun kurang lebih, saya yakin Indonesia akan sejajar sama Kuba. Dari sisi rasa, kualitas, harga kita jauh lebih bagus daripada Kuba,” pungkas dia.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Inspirasi Tani

Mengembalikan “Napas” Tanah Kritis Lewat Pertanian Regeneratif

Published

on

Majalah Tani – Selama puluhan tahun, revolusi hijau mengajarkan kita satu formula sederhana untuk menggenjot hasil panen: tebar pupuk kimia sintetis sebanyak-banyaknya, lalu amankan dengan pestisida. Hasilnya memang instan dan sempat menyelamatkan dunia dari ancaman krisis pangan. Namun, alam selalu punya cara untuk menagih “utang”.

Kini, banyak petani mulai mengeluhkan fenomena yang sama. Pupuk kimia yang ditebar rasanya tak lagi seampuh dulu. Tanah menjadi keras, bantat, dan pucat. Tanpa disadari, residu bahan kimia sintetis yang menumpuk selama puluhan tahun telah membunuh jutaan mikroorganisme penyubur tanah. Tanah kita tak sekadar lelah; tanah kita sedang kehilangan “napasnya”.

Di sinilah konsep pertanian regeneratif (regenerative agriculture) hadir bukan sekadar sebagai tren ekologis, melainkan sebagai jalan keluar yang esensial. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang berfokus pada “apa yang bisa diambil dari tanah”, pertanian regeneratif menitikberatkan pada “apa yang bisa dikembalikan ke tanah”.

Tujuan utamanya satu: mendetoksifikasi lahan dan membangun kembali ekosistem mikrobioma tanah yang hancur.

Mengapa Tanah “Mati”?

Pupuk kimia sintetis, khususnya nitrogen (Urea) dan fosfat, ibarat suplemen instan bagi tanaman. Tanaman memang bisa langsung menyerapnya untuk tumbuh subur, tetapi sisa residu asam dari pupuk ini akan tertinggal di dalam tanah.

Seiring waktu, penumpukan residu ini menurunkan tingkat pH (tanah menjadi sangat masam). Dalam kondisi masam yang ekstrem, cacing tanah menyingkir, bakteri pengurai mati, dan jamur baik tak bisa berkembang biak. Akibatnya, siklus hara alami terputus. Unsur hara makro dan mikro yang sebenarnya masih ada di dalam tanah menjadi “terkunci” dan tak bisa lagi diisap oleh akar tanaman.

Langkah Detoksifikasi

Bagi lahan yang sudah telanjur kritis, pemulihan tidak bisa dilakukan dalam semalam. Namun, beberapa teknik regeneratif berikut terbukti efektif untuk mengembalikan unsur hara tanah secara bertahap dan permanen:

1. Reintroduksi Mikrobioma dengan Pupuk Organik Cair (POC) dan Kompos Langkah pertama untuk memulihkan lahan kritis adalah mengembalikan para “pekerja” tanah, yaitu mikroorganisme. Aplikasi kompos yang matang atau penyemprotan Pupuk Organik Cair (POC) yang kaya akan Effective Microorganisms (EM) berfungsi sebagai probiotik bagi tanah. Bakteri dan mikrob inilah yang kelak akan bekerja siang-malam mengurai residu kimia dan mengubah sisa bahan organik menjadi nutrisi yang siap makan bagi tanaman.

2. Pemanfaatan Mikoriza sebagai “Akar Tambahan” Cendawan mikoriza adalah salah satu sekutu terbaik petani yang sering terlupakan. Jamur ini bersimbiosis dengan akar tanaman, membentuk jaringan hifa yang memanjang jauh menembus pori-pori tanah yang tak bisa dijangkau akar biasa. Mikoriza tak hanya membantu tanaman menyerap air dan fosfat yang terkunci, tetapi juga memproduksi glomalin—sejenis zat perekat alami yang memperbaiki struktur tanah yang rusak dan bantat menjadi lebih gembur.

3. Rotasi Tanaman dan Penggunaan Cover Crops (Tanaman Penutup) Membiarkan tanah terbuka dan terpanggang matahari setelah panen adalah bencana bagi mikrob tanah. Pertanian regeneratif sangat menyarankan penggunaan cover crops, seperti tanaman leguminosa (kacang-kacangan). Selain melindungi tanah dari erosi dan menjaga kelembapan, akar leguminosa memiliki bintil yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan menyimpannya di dalam tanah—sebuah pabrik pupuk urea alami yang bekerja secara gratis.

4. Olah Tanah Minimum (Minimum Tillage) Membajak tanah terlalu dalam dan sering justru merusak rumah alami bagi mikrob dan cacing tanah, serta melepaskan karbon ke udara. Dengan menerapkan olah tanah minimum, struktur agregat tanah akan tetap utuh, sirkulasi oksigen di dalam tanah terjaga, dan kelembapan alami lahan tidak mudah menguap.

Investasi Jangka Panjang untuk Masa Depan

Beralih ke pertanian regeneratif memang membutuhkan kesabaran. Pada musim pertama atau kedua, hasil panen mungkin belum menunjukkan lonjakan yang dramatis layaknya efek magis pupuk kimia. Namun, grafik kesehatannya akan terus naik.

Pemulihan hara lewat pendekatan regeneratif adalah sebuah investasi. Ketika struktur tanah sudah kembali sehat, gembur, dan kaya akan bahan organik, petani pada akhirnya akan menikmati efisiensi biaya produksi yang signifikan karena ketergantungan pada pupuk pabrikan akan turun drastis. Lebih dari itu, kita tidak hanya mewariskan hasil panen untuk hari ini, tetapi juga mewariskan lahan yang subur untuk generasi esok.

Silakan disunting jika ada penyesuaian angle atau ingin ditambahkan kutipan dari pakar agrikultur yang pernah kamu wawancarai sebelumnya, Han. Menurutku, visual yang cocok untuk mendampingi artikel ini di majalahtani.com adalah foto perbandingan side-by-side antara tanah yang keras/retak dengan tanah gembur yang dipenuhi cacing atau akar sehat.

Continue Reading

Inspirasi Tani

HKTI Bidik Pasar Jakarta Perluas Penjualan Hasil Tani Daerah

Ruruh Handayani

Published

on

Foto: Dok. HKTI

Majalahtani.com, Jakarta —  Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) ingin memanfaatkan besarnya kebutuhan pangan ibu kota untuk mempertemukan petani daerah dengan pasar Jakarta, dan mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming) untuk memperkuat ketahanan pangan. Ketua Harian II DPN HKTI Mulyono Machmur menilai, kebutuhan pangan Jakarta yang sebagian besar dipasok dari luar daerah dapat menjadi peluang bagi petani.

Untuk itu, ia meminta HKTI DKI Jakarta dapat mengambil peran dalam menghubungkan produksi pertanian daerah dengan kebutuhan pasar di ibu kota. Menurutnya, penguatan jaringan pemasaran antardaerah dapat memperpendek rantai pasok, sekaligus membuka pasar yang lebih luas bagi petani.

“Jakarta memiliki pasar yang besar. Ini bisa menjadi ruang bagi HKTI DKI untuk membantu mempertemukan hasil produksi petani dari daerah dengan kebutuhan pasar di Jakarta,” kata Mulyono dalam Musyawarah Daerah (Musda) DPD HKTI DKI Jakarta di Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Kamis (22/10/2026).

Beras, telur, ayam, sayuran, dan berbagai komoditas pangan lainnya menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat Jakarta yang dipasok dari luar wilayah. Mulyono bilang, HKTI DKI Jakarta dapat menjalin kerja sama dengan DPD HKTI di berbagai provinsi untuk memperluas pemasaran produk tersebut.

Mulyono memerinci, kerja sama itu dapat mencakup pemetaan komoditas unggulan daerah, kebutuhan pasar Jakarta, hingga peluang distribusi. Dengan begitu, produk pertanian daerah tidak hanya berhenti di sentra produksi, tetapi dapat masuk ke pasar dan tertata.

Ia mengungkapkan, salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan adalah pasar bunga di Jakarta. Selain memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan, komoditas tersebut dapat menjadi contoh bagaimana pasar ibu kota dapat menyerap produk pertanian dan hortikultura dari berbagai daerah.

Di sisi lain, penguatan ketahanan pangan Jakarta tidak cukup hanya mengandalkan pasokan dari luar wilayah. Mulyono menuturkan, lahan tidur dan ruang terbatas di kawasan permukiman juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pertanian perkotaan.

Upaya ini, lanjutnya, perlu mencakup pengelolaan pangan dari produksi hingga konsumsi, termasuk penanganan sampah makanan. Tingginya aktivitas konsumsi masyarakat perkotaan membuat pengurangan pangan terbuang menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam penguatan ketahanan pangan.

“Swasembada pangan di Jakarta tidak berhenti pada bagaimana menghasilkan pangan. Ada subsistem konsumsi dan subsistem sampah yang juga harus diperhatikan, termasuk persoalan sampah makanan,” terang Mulyono.

Pengembangan urban farming,  karena itu, perlu disertai edukasi konsumsi pangan dan pengurangan food waste. Dengan demikian, upaya memperkuat ketahanan pangan tidak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, tetapi juga pada pemanfaatan pangan secara lebih efisien.

Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Syafrin Liputo menambahkan, terdapat sekitar 177 lokasi di wilayahnya yang dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan perkotaan. Potensi itu, menurutnya, masih dapat dioptimalkan melalui pengelolaan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Di sisi lain, HKTI dapat mendukung pengembangan lokasi-lokasi tersebut melalui pendampingan kelompok tani perkotaan, mulai dari pengelolaan lahan, budidaya, pemilihan komoditas, hingga pemasaran hasil panen. Pendampingan juga dapat mempertemukan kelompok tani dengan pemerintah dan pelaku usaha untuk mengembangkan pertanian sesuai dengan kondisi Jakarta.

Nuchbatillah Prioritaskan Urban Farming dan Akses Pasar

Penguatan pertanian perkotaan dan pemasaran hasil tani daerah jadi bagian dari agenda kepengurusan baru HKTI DKI Jakarta Nuchbatillah. Anggota DPRD DKI Jakarta ini terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD HKTI DKI Jakarta periode 2026–2031 dalam Musda ini.

Nuchbatillah menegaskan, kepengurusan baru akan berfokus pada tiga agenda, yakni pengembangan urban farming, pemanfaatan lahan tidur, dan perluasan akses pasar bagi petani.

“HKTI DKI harus hadir dengan kerja yang konkret. Kita ingin lahan-lahan yang masih bisa dimanfaatkan dapat produktif, kelompok tani perkotaan mendapat pendampingan, dan hasil pertanian memiliki akses pasar,” ucap Nuchbatillah.

Ia mengatakan, pengembangan pertanian perkotaan tidak dapat dilakukan sendiri oleh organisasi. Karena itu, HKTI DKI akan membuka ruang sinergi dengan Pemprov DKI Jakarta, pemerintah kota, kelompok tani, pelaku usaha, hingga jaringan HKTI di daerah.

Menurut Nuchbatillah, posisi Jakarta sebagai pusat ekonomi sekaligus pasar dengan kebutuhan pangan yang tinggi harus dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan antara petani dan konsumen.

“Jakarta bukan hanya tempat konsumsi. Kita ingin Jakarta juga menjadi bagian dari ekosistem pertanian yang memberi nilai tambah bagi petani, baik melalui produksi perkotaan maupun melalui penyerapan produk dari daerah,” pungkasnya.

Continue Reading

Inspirasi Tani

Dua Perempuan Indonesia Masuk Daftar 100 Women Heroes FAO, Ini Kiprahnya

Ruruh Handayani

Published

on

100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development/Foto: Dok. FAO

Majalahtani.com, Roma — Dua perempuan Indonesia, Istiqamah dari Aceh dan Rulyantina dari Banten, masuk dalam daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development yang diluncurkan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO). Penghargaan ini merupakan bagian dari inisiatif FAO untuk memperingati Tahun Internasional Perempuan Petani 2026, sekaligus bertepatan dengan Hari Perempuan Perdesaan Internasional yang diperingati setiap 15 Oktober.

Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu mengemukakan, perempuan sangat berperan penting dalam berbagai bidang, mulai dari pertanian dan kewirausahaan hingga penelitian, pendidikan, dan kepemimpinan komunitas. Kontribusi tersebut turut menjaga keanekaragaman hayati, mendorong inovasi, serta memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi kelaparan, kemiskinan, dan perubahan iklim.

“Di berbagai desa dan kota, pegunungan dan pesisir, hutan dan ladang, Anda melakukan hal-hal luar biasa,” kata Qu saat seremoni penghargaan 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development,  di kantor pusat FAO, Roma, Italia, dikutip Majalahtani.com, Jumat (16/10/2026).

Istiqamah dan Rulyantina mendapat pengakuan atas kontribusi dalam pengembangan pertanian, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi masyarakat pedesaan. Keduanya patut berbangga, sebab berhasil terpilih dari 609 nominasi yang diajukan 131 negara anggota FAO untuk masuk dalam daftar 100 perempuan yang dinilai berkontribusi bagi sistem agrifood dan pembangunan pedesaan.

Istiqamah aktif mendampingi petani kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh. Melalui koperasi yang beranggotakan 980 orang dan menaungi lebih dari 1.200 hektare kebun kopi, ia memperjuangkan kepentingan jutaan petani kopi skala kecil, yang sebagian besar di antaranya adalah perempuan.

Istiqomah aktif mendampingi petani kopi di Aceh/Foto: Dok. FAO

Istiqamah mengungkapkan, koperasi ini aktif mendorong produksi kopi berkelanjutan berbasis agroforestri, sekaligus mengedepankan konservasi serta partisipasi yang adil dan inklusif dalam rantai nilai kopi global, terutama bagi perempuan. Ia pun berkeyakinan pendekatan ini juga dapat diterapkan di wilayah lain, asalkan didukung oleh kebijakan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.

“Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai pekerja pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan dalam rantai pasok kopi, sangat penting,” tuturnya.

Istiqomah berpesan, petani perempuan membutuhkan akses yang lebih luas dan setara terhadap tiga hal utama. Pertama, pelatihan dan teknologi yang sesuai. Kedua, akses terhadap pembiayaan, pasar yang inklusif, dan perlindungan sosial. Ketiga, pengakuan atas peran formal mereka dalam kelembagaan petani.

“Perempuan juga mendesak dukungan untuk menghadapi perubahan iklim melalui praktik pertanian ramah lingkungan, supaya produktivitas dan kesejahteraan kami tetap terjaga,” tegasnya.

Perempuan Indonesia lainnya yang masuk daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development adalah Rulyantina dari Banten. Ia mengembangkan usaha berbasis talas beneng dengan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah. Usaha tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang kerja dan sumber pendapatan bagi perempuan di komunitasnya, termasuk ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Rulyantina ingin perempuan di pedesaan memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, pengembangan komoditas lokal dapat menciptakan peluang usaha sekaligus mendorong kemandirian ekonomi perempuan dan mendukung keluarga mereka.

“Saya ingin membantu perempuan, terutama ibu rumah tangga di komunitas saya, memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah untuk bekerja,” ujar Rulyantina.

Rulyantina, petani dan pelaku usaha olahan talas beneng asal Banten/Foto: Dok. FAO

Rulyantina berharap, kiprahnya dapat mendorong pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi komoditas lokal dengan membuka akses bagi petani perempuan terhadap pelatihan, permodalan, teknologi, dan pasar. Ia menambahkan, pengalaman perempuan petani perlu menjadi pertimbangan dalam merancang program pertanian agar dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Akses dan peluang yang memadai, menurutnya, dapat membantu perempuan mengembangkan usaha secara lebih mandiri dan berkelanjutan.

Pengakuan terhadap Istiqamah dan Rulyantina juga menyoroti tantangan kesenjangan gender di sektor pertanian. FAO mencatat perempuan mencakup sekitar 41 persen tenaga kerja sistem agrifood dunia, tetapi masih menghadapi ketimpangan akses terhadap sumber daya dan peluang ekonomi. Perempuan juga memperoleh rata-rata 82 sen untuk setiap 1 dolar AS upah yang diterima laki-laki dalam pekerjaan bergaji di sektor pertanian.

FAO memperkirakan, penutupan kesenjangan gender dalam produktivitas lahan dan upah di sektor agrifood berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) global hingga 1 triliun dolar AS serta mengurangi jumlah penduduk yang mengalami kerawanan pangan sebanyak 45 juta orang.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved