Connect with us

Teknologi Tani

Mengenal PM-AAS: Strategi Mentan Amran Lipat Gandakan Populasi Tanaman dan Hasil Panen

Published

on

Majalahtani.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan swasembada pangan berkelanjutan semakin kokoh dengan penerapan model Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS).

Model yang dikembangkan ini diyakini mampu meningkatkan produktivitas padi hingga hampir tiga kali lipat, dari rata-rata sekitar 5–6 ton menjadi minimal 10 ton bahkan mencapai 12,4 ton per hektare.

PM-AAS merupakan hasil riset dan pengujian lapangan selama hampir dua tahun. Model ini memadukan pengalaman penerapan sistem jajar legowo di Indonesia dengan praktik budidaya modern yang dipelajari di Arkansas, Amerika Serikat, serta pemanfaatan teknologi pertanian presisi yang berkembang di China.

“Setelah dua tahun kami melakukan penelitian dan pengujian di lapangan, saya semakin yakin metode ini mampu meningkatkan produksi secara signifikan. Targetnya minimal 10 ton per hektare, bahkan hasil uji lapangan sudah mencapai 12,4 ton per hektare,” ungkap Mentan Amran saat memimpin Rapat Koordinasi Perluasan Pelaksanaan PM-AAS secara hybrid, Jumat (26/6/2026).

Ia menambahkan, PM-AAS dibangun di atas tiga prinsip utama, yakni optimalisasi fotosintesis tanaman melalui pengaturan jarak tanam yaitu menggunakan sistem tanam 4:1 dan sistem tanam 6:1, peningkatan populasi tanaman secara berkesinambungan (continuous planting), serta penerapan pertanian yang presisi (precision agriculture) agar penggunaan input produksi menjadi lebih efisien.

“Kalau ini diterapkan dengan benar, biaya pupuk dan air bisa jauh lebih efisien. Input turun, tetapi hasil panen meningkat. Di situlah keuntungan petani akan naik,” ujar Amran.

Menurutnya, peningkatan produktivitas menjadi kunci menjaga swasembada beras secara berkelanjutan sekaligus mewujudkan arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.

“Kalau jajar legowo memperbaiki fotosintesis, maka sistem kontinyu meningkatkan populasi tanaman. Populasi yang biasanya sekitar 300 ribu hingga 360 ribu rumpun per hektare bisa meningkat menjadi 800 ribu sampai satu juta rumpun. Dengan populasi hampir tiga kali lipat, produksinya juga sangat masuk akal meningkat hingga mendekati tiga kali lipat,” jelasnya.

Menurut Amran, peningkatan produksi harus dibarengi dengan efisiensi biaya usaha tani sehingga keuntungan petani ikut meningkat. Dengan produktivitas mencapai sekitar 10 ton per hektare dan biaya produksi yang lebih efisien, petani berpotensi memperoleh pendapatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan pola budidaya konvensional.

“Kalau petani sudah merasakan keuntungan yang besar, mereka akan menanam dengan sendirinya. Tidak perlu lagi didorong terus-menerus karena usaha taninya sudah terbukti menguntungkan,” ujarnya.

Amran menegaskan, keberhasilan PM-AAS akan menjadi salah satu indikator penting dalam pengawalan program peningkatan produksi nasional. Pemerintah juga menyiapkan dukungan benih dan pendampingan teknis agar petani lebih mudah mengadopsi metode tersebut.

Seluruh penyuluh pertanian lapangan (PPL) diminta menjadi ujung tombak pendampingan agar metode tersebut dapat diterapkan secara luas dan menghasilkan peningkatan produksi yang nyata.

“Seluruh PPL harus bergerak. Fokus kita di daerah irigasi terlebih dahulu. PM-AAS akan kita kawal bersama hingga 2029 agar benar-benar mampu meningkatkan produksi nasional,” tegasnya.

Amran optimistis, peningkatan produktivitas melalui PM-AAS tidak hanya memperkuat swasembada pangan, tetapi juga menciptakan surplus produksi yang dapat mendukung ekspor di masa depan.

“Sekarang target kita bukan hanya swasembada. Swasembada harus dijaga secara berkelanjutan. Setelah itu kita berpikir bagaimana meningkatkan ekspor dan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia sesuai arahan Bapak Presiden,” pungkasnya.

Seebelumnya, dalam Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, Presiden Prabowo Subianto menyatakan kekagumannya terhadap teknologi PM-AAS serta area Gelar Teknologi.

Menurutnya, kemajuan teknologi yang berkembang di sektor pertanian menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk mewujudkan cita-cita sebagai lumbung pangan dunia.

“Banyak sekali inovasi, teknologi baru, teknik-teknik baru yang dikembangkan oleh masyarakat pertanian dipimpin Menteri Pertanian. Hasilnya menurut saya sangat revolusioner,” ucap Prabowo.

Lensa Agraria

Bapanas Dorong Transfer Teknologi dan Contract Farming Sayuran Berstandar di Batam

Published

on

Majalahtani.com – Kedekatan geografis Batam dengan negara tetangga seperti Singapura membuka peluang strategis bagi pengembangan pasar pangan segar Indonesia. Namun, peluang tersebut perlu didukung dengan penerapan standar keamanan pangan yang kuat dan konsisten sejak proses budidaya hingga produk sampai ke tangan konsumen.

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andriko Noto Susanto, mendorong penguatan standar keamanan pangan sebagai pondasi dalam meningkatkan daya saing pangan segar Indonesia, termasuk produk hortikultura yang memiliki peluang untuk menjangkau pasar internasional.

“Peluang pasar global harus kita jawab dengan standar keamanan pangan yang kuat. Kalau pangan kita aman dan diproduksi dengan baik, produk Indonesia sangat mampu bersaing di pasar internasional,” ujar Andriko saat mengunjungi unit produksi sayuran Batamindo Green Farm di Kota Batam, Kepulauan Riau.

Dalam kunjungan tersebut, Andriko meninjau secara langsung proses produksi berbagai komoditas sayuran, mulai dari penerapan praktik budidaya hingga penanganan produk di fasilitas rumah pengemasan (packing house). Berdasarkan hasil peninjauan, proses produksi sayuran di PT Batamindo Green Farm telah menerapkan prinsip Good Agricultural Practices (GAP), sementara proses penanganan di packing house telah menerapkan standar keamanan pangan yang baik.

“Hari ini kami menyaksikan bagaimana sayur-sayuran yang diproduksi di Batam Indo ini memenuhi kaidah-kaidah keamanan pangan yang baik. Di tingkat budidaya dilakukan dengan Good Agricultural Practices. Kemudian di packing house-nya sudah menerapkan SPPB-PSAT,” ujar Andriko.

Menurut Andriko, penerapan keamanan pangan yang baik menunjukkan bahwa standar keamanan dan pengembangan pasar dapat berjalan beriringan. Produk yang diproduksi secara baik memiliki peluang untuk menjangkau konsumen dengan tuntutan mutu yang semakin tinggi, termasuk segmen pasar premium.

“Ini melayani konsumen-konsumen kelas premium. Kami berterima kasih karena sudah menerapkan Good Agricultural Practices, good handling, good retailing, manufacturing, dan lain-lain,” kata Andriko.

“Nanti kami juga mengharapkan dilengkapi dengan sertifikat Prima. Sertifikasi ini perlu kita kuatkan, sekaligus ke depan kami mendorong contract farming dengan petani sekitar agar praktik baik yang sudah diterapkan dapat ditransfer dan semakin banyak petani menghasilkan pangan segar yang aman dan bermutu,” tambah Andriko.

Ia berharap penerapan praktik keamanan pangan yang baik dapat menjadi contoh bagi pelaku usaha pangan segar asal tumbuhan lainnya. Menurutnya, semakin banyak pelaku usaha yang menerapkan standar keamanan pangan sejak budidaya hingga penanganan pascapanen, semakin kuat pula pondasi pangan segar Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“Mudah-mudahan nanti seluruh pelaku usaha pangan segar asal tumbuhan menerapkan seperti apa yang dilakukan oleh Batamindo Green Farm,” tegas Andriko.

Bagi Bapanas, penerapan keamanan pangan sejak hulu merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem pangan segar yang aman, bermutu, dan berdaya saing. Melalui pembinaan, pengawasan, serta penguatan standar dan sertifikasi, produk pangan segar Indonesia diharapkan semakin mampu memenuhi tuntutan konsumen dan memperluas akses ke pasar domestik maupun global.

Continue Reading

Teknologi Tani

Limbah Ampas Kopi Gayo Kini Bisa Jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan

Published

on

Majalahtani.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi kemasan pangan ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah ampas kopi Gayo sebagai bahan baku. Riset ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan pada plastik konvensional yang masih mendominasi industri pangan.

Postdoctoral Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Haya Fathana, menjelaskan hingga saat ini plastik berbasis bahan bakar fosil masih menjadi pilihan utama sebagai material kemasan pangan. Namun, penggunaan plastik konvensional menimbulkan persoalan lingkungan karena berasal dari sumber daya yang tidak terbarukan dan membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam.

“Oleh sebab itu, diperlukan material alternatif yang ramah lingkungan dan berkinerja baik,” kata dia dikutip Selasa (21/7/2026)

Menurutnya, kitosan sebagai biopolimer berpotensi digunakan karena bersifat biodegradable, biokompatibel dan mampu membentuk film, meski masih memiliki keterbatasan pada sifat mekanik dan ketahanan air yang relatif rendah sehingga perlu dimodifikasi untuk meningkatkan karakteristiknya.

Dalam penelitiannya, Haya memanfaatkan ampas kopi Gayo yang kaya kaya kandungan selulosa, hemiselulosa, lignin, dan polifenol, untuk meningkatkan kekuatan mekanik, stabilitas termal, sifat hidrofobik, dan aktivitas antioksidan material komposit. Penelitian ini juga menambahkan nanopartikel ZnO guna meningkatkan sifat antimikroba, perlindungan UV, serta kinerja mekanik film.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa film komposit yang dikembangkan berhasil terbentuk secara utuh dan fleksibel. Penambahan ampas kopi Gayo menghasilkan perubahan warna kecokelatan sebagai indikasi keberadaan partikel lignoselulosa. Sedangkan penambahan ZnO tetap menghasilkan film yang homogen tanpa retakan, sehingga layak untuk karakterisasi lebih lanjut.

Dirinya menerangkan, karakterisasi material memperlihatkan adanya interaksi antarmolekul antara kitosan, komponen lignoselulosa dari ampas kopi, dan nanopartikel ZnO. Kombinasi tersebut mampu meningkatkan kekuatan mekanik, memperbaiki sifat hidrofobik, mengurangi permeabilitas uap air. Di samping itu juga meningkatkan kemampuan film dalam menghalangi radiasi ultraviolet dibandingkan dengan film kitosan murni.

“Selain memiliki sifat fisik yang lebih baik, film komposit tersebut juga menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Kombinasi limbah ampas kopi Gayo dan ZnO menghasilkan efektivitas penghambatan mikroba yang paling tinggi, sehingga berpotensi mendukung pengembangan kemasan pangan aktif (active packaging),” paparnya.

Haya menyatakan, pemanfaatan ampas kopi Gayo memberi nilai tambah limbah sekaligus mendukung ekonomi sirkular melalui kemasan pangan berkelanjutan.

“Penelitian ini juga membuka peluang pemanfaatan biomaterial lokal dengan sifat mekanik, penghalang, perlindungan UV, dan antibakteri yang lebih baik. Hal ini untuk mendukung inovasi kemasan pangan masa depan,” pungkas Haya.

Continue Reading

Maritim

BRIN Terapkan Teknologi IoT untuk Budidaya Udang Vaname

Published

on

Majalahtani.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Pancasakti Tegal mengembangkan solusi terpadu yang menggabungkan rehabilitasi ekosistem mangrove dengan teknologi digital berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung budidaya perikanan yang lebih berkelanjutan.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN, Alin Fithor, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut diterapkan pada kawasan pesisir Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang mengalami kerusakan akibat abrasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rehabilitasi mangrove yang dipadukan dengan sistem pemantauan kualitas air berbasis IoT mampu meningkatkan ketahanan tambak sekaligus menjaga produktivitas budidaya.

“Keberadaan mangrove dapat memperbaiki kualitas habitat sehingga produktivitas perikanan berlangsung lebih berkelanjutan. Namun, menjaga mangrove saja belum cukup karena tambak di wilayah pesisir masih menghadapi perubahan kualitas air akibat pasang surut, intrusi air laut, dan perubahan cuaca yang sulit diprediksi,” ujar Alin dikutip Kamis (16/7/2026).

Untuk mengatasi tantangan tersebut, kata Alin, tim peneliti mengembangkan sistem pemantauan kualitas air yang memanfaatkan sensor berbasis IoT, teknologi LoRa, dan Arduino Weather Station.

Sensor tersebut mengukur parameter penting seperti suhu dan tingkat keasaman (pH) air, kemudian mengirimkan data secara real time kepada pengguna sehingga petambak dapat segera mengambil langkah penanganan apabila terjadi perubahan kualitas air.

Berdasarkan hasil pengujian, sistem mampu memantau kualitas air secara akurat dengan kisaran pH 7,96-8,31 dan suhu 29,25-29,87°C, yang masih berada dalam kondisi ideal untuk pertumbuhan udang vaname.

Menurut Alin, pemanfaatan teknologi IoT tidak hanya meningkatkan efisiensi budidaya, tetapi juga berfungsi sebagai sistem peringatan dini terhadap perubahan lingkungan di kawasan pesisir yang rentan abrasi.

Pemantauan yang dilakukan secara berkelanjutan membantu mengurangi risiko kematian udang akibat perubahan kualitas air sekaligus meningkatkan produktivitas tambak.

Ia menambahkan bahwa penanganan abrasi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik. Pemulihan ekosistem mangrove perlu berjalan beriringan dengan penerapan teknologi yang mendukung kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

“Pendekatan ini menunjukkan bagaimana riset mampu menghadirkan solusi yang saling melengkapi. Rehabilitasi mangrove menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, sementara teknologi IoT memastikan aktivitas budidaya tetap produktif melalui pengelolaan kualitas air yang lebih presisi,” jelasnya.

Temuan tersebut membuka peluang penerapan model serupa di berbagai wilayah pesisir Indonesia yang menghadapi tantangan abrasi dan dampak perubahan iklim.

Melalui sinergi inovasi ekologis dan teknologi digital, BRIN bersama mitra menunjukkan bahwa kawasan pesisir yang terdampak abrasi dapat dipulihkan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved