Inspirasi Tani
Ketika Teknologi Membuat Anak Muda Kembali Bertani
Majalahtani.com — Deru mesin traktor perlahan mengubah wajah pertanian di Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten. Pekerjaan mengolah lahan yang sebelumnya mengandalkan tenaga manusia kini dapat dilakukan lebih cepat dengan bantuan teknologi.
Bagi Maheki Yahdi, 39 tahun, perubahan itu terasa langsung di lahan jagung yang digarapnya. Kelompok Tani Warga Mulia, tempat Maheki bergabung, menjadi salah satu penerima bantuan traktor roda empat dari Kementerian Pertanian pada 2026.
Bantuan tersebut bukan sekadar menambah peralatan di tengah aktivitas pertanian desa. Bagi Maheki, kehadiran traktor membuat waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk mengolah lahan menjadi lebih ringan.
“Terima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian atas bantuan traktor ini. Bantuan ini sangat membantu kami dalam pengolahan lahan sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien,” kata Maheki, dilansir dari Kementerian Pertanian, Rabu (12/8/2026).
Namun, ada perubahan lain yang menurut Maheki tak kalah penting. Mekanisasi mulai mengubah cara pemuda desa memandang pertanian.
Selama ini, bertani kerap identik dengan pekerjaan berat, mengandalkan tenaga fisik, serta menggunakan cara-cara tradisional. Kehadiran alsintan memperlihatkan gambaran yang berbeda.
“Dengan adanya bantuan ini, teman-teman pemuda di desa juga menjadi tertarik untuk bertani. Mereka melihat pertanian sekarang sudah menggunakan alat dan teknologi, sehingga pekerjaan menjadi lebih mudah dan hasilnya bisa lebih baik,” ujarnya.
Dari sebuah traktor, muncul sebuah kemungkinan baru. Pertanian tidak lagi hanya membutuhkan orang yang mampu bekerja di lahan, tetapi juga membutuhkan operator mesin, pengelola jasa pengolahan tanah, teknisi, hingga pelaku usaha yang mampu mengembangkan kegiatan pertanian dari hulu sampai hilir.
Di tingkat desa, alsintan yang digunakan secara bersama juga berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi baru. Mesin membutuhkan operator dan perawatan. Penggunaannya dapat berkembang menjadi jasa pengolahan lahan yang memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat.
Efeknya pun tidak berhenti pada kelompok tani penerima bantuan. Semakin luas pemanfaatan alsintan, semakin besar pula peluang masyarakat di sekitar sentra produksi untuk ikut mengambil bagian dalam ekosistem tersebut. Mekanisasi dengan demikian bukan hanya soal mengganti tenaga manusia dengan mesin, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya jenis pekerjaan dan usaha baru.
Bagi generasi muda, perubahan ini menjadi penting. Anak-anak muda di desa tidak harus melihat pertanian semata sebagai pekerjaan di sawah atau ladang. Mereka dapat masuk sebagai operator alsintan, pengusaha jasa pertanian, petani modern, pengelola usaha tani, maupun pelaku bisnis yang mengembangkan rantai pasok pertanian.
Pandangan tersebut sejalan dengan dorongan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman agar generasi muda berani masuk ke sektor pertanian dan mengelola potensi lahan dengan pendekatan modern.
“Bangunkan lahan tidur, hidupkan pemuda, hidupkan desa. Jadilah teladan. Kalau pertanian dikelola secara modern dan profesional, saya yakin akan lahir semakin banyak pengusaha besar dari sektor pertanian Indonesia,” ujar Amran.
Pesan tersebut menempatkan pertanian bukan sekadar sebagai sektor penyedia pangan. Di balik lahan produktif terdapat peluang untuk membangun usaha, menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan perekonomian desa.
Amran juga mendorong pengusaha tani muda memanfaatkan potensi lahan produktif, membangun kawasan percontohan berbasis teknologi, serta menjadi penggerak pemberdayaan petani dan generasi muda di daerah masing-masing.
Dalam kerangka itu, mekanisasi memiliki posisi strategis. Alsintan menjadi salah satu jembatan antara kebutuhan meningkatkan produktivitas dengan tantangan regenerasi petani.
Teknologi membuat pekerjaan lebih cepat dan efisien. Pada saat yang sama, penggunaan teknologi membuat sektor pertanian lebih dekat dengan karakter generasi muda yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi.
Regenerasi menjadi penting karena keberlanjutan produksi pangan tidak hanya bergantung pada ketersediaan lahan, tetapi juga siapa yang akan mengelolanya pada masa depan.
Pertanian membutuhkan generasi baru yang tidak hanya mau turun ke lahan, tetapi juga mampu mengoperasikan teknologi, mengelola usaha, menghitung biaya dan keuntungan, serta melihat pertanian sebagai bisnis dengan prospek jangka panjang.
Pengalaman Maheki di Serang menunjukkan perubahan itu dapat dimulai dari tingkat paling sederhana: sebuah traktor yang hadir di tengah kelompok tani.
Mesin tersebut memang mempercepat pengolahan lahan jagung. Tetapi di saat yang sama, kehadirannya memberikan pesan kepada pemuda desa bahwa bertani tidak harus selalu identik dengan pekerjaan berat dan cara-cara lama.
“Sekarang bertani sudah lebih modern. Harapannya semakin banyak anak muda yang mau turun ke sawah dan ladang,” kata Maheki.
Dari satu kelompok tani, perubahan itu berpotensi meluas. Ketika alsintan dikelola dengan baik, manfaatnya dapat menjalar ke petani lain, membuka jasa pengolahan lahan, menciptakan kebutuhan tenaga operator dan teknisi, sekaligus mendorong tumbuhnya usaha pendukung.
Pada akhirnya, mekanisasi bukan sekadar cerita tentang mesin yang menggantikan cangkul atau mempercepat pekerjaan di lahan. Ia juga merupakan cerita tentang perubahan cara pandang.
Dari desa, teknologi membuka kemungkinan baru bahwa pertanian dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk bekerja, membangun usaha, dan menciptakan nilai ekonomi. Desa pun tidak hanya menjadi tempat produksi pangan, tetapi berpeluang berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi berbasis pertanian.
Jika mekanisasi berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas petani dan keterlibatan generasi muda, maka sebuah traktor tidak lagi sekadar menjadi alat pertanian.
Ia bisa menjadi awal dari tumbuhnya ekosistem baru—tempat petani, pemuda, operator, pelaku usaha, dan berbagai sektor pendukung bertemu dalam satu rantai ekonomi.
Dari lahan jagung di Kamasan, gambaran pertanian masa depan itu mulai terlihat: lebih cepat, lebih modern, dan membuka lebih banyak ruang bagi generasi muda untuk menjadikan pertanian sebagai pilihan usaha yang menjanjikan.
Inspirasi Tani
Mengembalikan “Napas” Tanah Kritis Lewat Pertanian Regeneratif
Majalah Tani – Selama puluhan tahun, revolusi hijau mengajarkan kita satu formula sederhana untuk menggenjot hasil panen: tebar pupuk kimia sintetis sebanyak-banyaknya, lalu amankan dengan pestisida. Hasilnya memang instan dan sempat menyelamatkan dunia dari ancaman krisis pangan. Namun, alam selalu punya cara untuk menagih “utang”.
Kini, banyak petani mulai mengeluhkan fenomena yang sama. Pupuk kimia yang ditebar rasanya tak lagi seampuh dulu. Tanah menjadi keras, bantat, dan pucat. Tanpa disadari, residu bahan kimia sintetis yang menumpuk selama puluhan tahun telah membunuh jutaan mikroorganisme penyubur tanah. Tanah kita tak sekadar lelah; tanah kita sedang kehilangan “napasnya”.
Di sinilah konsep pertanian regeneratif (regenerative agriculture) hadir bukan sekadar sebagai tren ekologis, melainkan sebagai jalan keluar yang esensial. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang berfokus pada “apa yang bisa diambil dari tanah”, pertanian regeneratif menitikberatkan pada “apa yang bisa dikembalikan ke tanah”.
Tujuan utamanya satu: mendetoksifikasi lahan dan membangun kembali ekosistem mikrobioma tanah yang hancur.
Mengapa Tanah “Mati”?
Pupuk kimia sintetis, khususnya nitrogen (Urea) dan fosfat, ibarat suplemen instan bagi tanaman. Tanaman memang bisa langsung menyerapnya untuk tumbuh subur, tetapi sisa residu asam dari pupuk ini akan tertinggal di dalam tanah.
Seiring waktu, penumpukan residu ini menurunkan tingkat pH (tanah menjadi sangat masam). Dalam kondisi masam yang ekstrem, cacing tanah menyingkir, bakteri pengurai mati, dan jamur baik tak bisa berkembang biak. Akibatnya, siklus hara alami terputus. Unsur hara makro dan mikro yang sebenarnya masih ada di dalam tanah menjadi “terkunci” dan tak bisa lagi diisap oleh akar tanaman.
Langkah Detoksifikasi
Bagi lahan yang sudah telanjur kritis, pemulihan tidak bisa dilakukan dalam semalam. Namun, beberapa teknik regeneratif berikut terbukti efektif untuk mengembalikan unsur hara tanah secara bertahap dan permanen:
1. Reintroduksi Mikrobioma dengan Pupuk Organik Cair (POC) dan Kompos Langkah pertama untuk memulihkan lahan kritis adalah mengembalikan para “pekerja” tanah, yaitu mikroorganisme. Aplikasi kompos yang matang atau penyemprotan Pupuk Organik Cair (POC) yang kaya akan Effective Microorganisms (EM) berfungsi sebagai probiotik bagi tanah. Bakteri dan mikrob inilah yang kelak akan bekerja siang-malam mengurai residu kimia dan mengubah sisa bahan organik menjadi nutrisi yang siap makan bagi tanaman.
2. Pemanfaatan Mikoriza sebagai “Akar Tambahan” Cendawan mikoriza adalah salah satu sekutu terbaik petani yang sering terlupakan. Jamur ini bersimbiosis dengan akar tanaman, membentuk jaringan hifa yang memanjang jauh menembus pori-pori tanah yang tak bisa dijangkau akar biasa. Mikoriza tak hanya membantu tanaman menyerap air dan fosfat yang terkunci, tetapi juga memproduksi glomalin—sejenis zat perekat alami yang memperbaiki struktur tanah yang rusak dan bantat menjadi lebih gembur.
3. Rotasi Tanaman dan Penggunaan Cover Crops (Tanaman Penutup) Membiarkan tanah terbuka dan terpanggang matahari setelah panen adalah bencana bagi mikrob tanah. Pertanian regeneratif sangat menyarankan penggunaan cover crops, seperti tanaman leguminosa (kacang-kacangan). Selain melindungi tanah dari erosi dan menjaga kelembapan, akar leguminosa memiliki bintil yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan menyimpannya di dalam tanah—sebuah pabrik pupuk urea alami yang bekerja secara gratis.
4. Olah Tanah Minimum (Minimum Tillage) Membajak tanah terlalu dalam dan sering justru merusak rumah alami bagi mikrob dan cacing tanah, serta melepaskan karbon ke udara. Dengan menerapkan olah tanah minimum, struktur agregat tanah akan tetap utuh, sirkulasi oksigen di dalam tanah terjaga, dan kelembapan alami lahan tidak mudah menguap.
Investasi Jangka Panjang untuk Masa Depan
Beralih ke pertanian regeneratif memang membutuhkan kesabaran. Pada musim pertama atau kedua, hasil panen mungkin belum menunjukkan lonjakan yang dramatis layaknya efek magis pupuk kimia. Namun, grafik kesehatannya akan terus naik.
Pemulihan hara lewat pendekatan regeneratif adalah sebuah investasi. Ketika struktur tanah sudah kembali sehat, gembur, dan kaya akan bahan organik, petani pada akhirnya akan menikmati efisiensi biaya produksi yang signifikan karena ketergantungan pada pupuk pabrikan akan turun drastis. Lebih dari itu, kita tidak hanya mewariskan hasil panen untuk hari ini, tetapi juga mewariskan lahan yang subur untuk generasi esok.
Silakan disunting jika ada penyesuaian angle atau ingin ditambahkan kutipan dari pakar agrikultur yang pernah kamu wawancarai sebelumnya, Han. Menurutku, visual yang cocok untuk mendampingi artikel ini di majalahtani.com adalah foto perbandingan side-by-side antara tanah yang keras/retak dengan tanah gembur yang dipenuhi cacing atau akar sehat.
Inspirasi Tani
HKTI Bidik Pasar Jakarta Perluas Penjualan Hasil Tani Daerah
Majalahtani.com, Jakarta — Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) ingin memanfaatkan besarnya kebutuhan pangan ibu kota untuk mempertemukan petani daerah dengan pasar Jakarta, dan mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming) untuk memperkuat ketahanan pangan. Ketua Harian II DPN HKTI Mulyono Machmur menilai, kebutuhan pangan Jakarta yang sebagian besar dipasok dari luar daerah dapat menjadi peluang bagi petani.
Untuk itu, ia meminta HKTI DKI Jakarta dapat mengambil peran dalam menghubungkan produksi pertanian daerah dengan kebutuhan pasar di ibu kota. Menurutnya, penguatan jaringan pemasaran antardaerah dapat memperpendek rantai pasok, sekaligus membuka pasar yang lebih luas bagi petani.
“Jakarta memiliki pasar yang besar. Ini bisa menjadi ruang bagi HKTI DKI untuk membantu mempertemukan hasil produksi petani dari daerah dengan kebutuhan pasar di Jakarta,” kata Mulyono dalam Musyawarah Daerah (Musda) DPD HKTI DKI Jakarta di Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Kamis (22/10/2026).
Beras, telur, ayam, sayuran, dan berbagai komoditas pangan lainnya menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat Jakarta yang dipasok dari luar wilayah. Mulyono bilang, HKTI DKI Jakarta dapat menjalin kerja sama dengan DPD HKTI di berbagai provinsi untuk memperluas pemasaran produk tersebut.
Mulyono memerinci, kerja sama itu dapat mencakup pemetaan komoditas unggulan daerah, kebutuhan pasar Jakarta, hingga peluang distribusi. Dengan begitu, produk pertanian daerah tidak hanya berhenti di sentra produksi, tetapi dapat masuk ke pasar dan tertata.
Ia mengungkapkan, salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan adalah pasar bunga di Jakarta. Selain memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan, komoditas tersebut dapat menjadi contoh bagaimana pasar ibu kota dapat menyerap produk pertanian dan hortikultura dari berbagai daerah.
Di sisi lain, penguatan ketahanan pangan Jakarta tidak cukup hanya mengandalkan pasokan dari luar wilayah. Mulyono menuturkan, lahan tidur dan ruang terbatas di kawasan permukiman juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pertanian perkotaan.
Upaya ini, lanjutnya, perlu mencakup pengelolaan pangan dari produksi hingga konsumsi, termasuk penanganan sampah makanan. Tingginya aktivitas konsumsi masyarakat perkotaan membuat pengurangan pangan terbuang menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam penguatan ketahanan pangan.
“Swasembada pangan di Jakarta tidak berhenti pada bagaimana menghasilkan pangan. Ada subsistem konsumsi dan subsistem sampah yang juga harus diperhatikan, termasuk persoalan sampah makanan,” terang Mulyono.
Pengembangan urban farming, karena itu, perlu disertai edukasi konsumsi pangan dan pengurangan food waste. Dengan demikian, upaya memperkuat ketahanan pangan tidak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, tetapi juga pada pemanfaatan pangan secara lebih efisien.
Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Syafrin Liputo menambahkan, terdapat sekitar 177 lokasi di wilayahnya yang dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan perkotaan. Potensi itu, menurutnya, masih dapat dioptimalkan melalui pengelolaan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di sisi lain, HKTI dapat mendukung pengembangan lokasi-lokasi tersebut melalui pendampingan kelompok tani perkotaan, mulai dari pengelolaan lahan, budidaya, pemilihan komoditas, hingga pemasaran hasil panen. Pendampingan juga dapat mempertemukan kelompok tani dengan pemerintah dan pelaku usaha untuk mengembangkan pertanian sesuai dengan kondisi Jakarta.
Nuchbatillah Prioritaskan Urban Farming dan Akses Pasar
Penguatan pertanian perkotaan dan pemasaran hasil tani daerah jadi bagian dari agenda kepengurusan baru HKTI DKI Jakarta Nuchbatillah. Anggota DPRD DKI Jakarta ini terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD HKTI DKI Jakarta periode 2026–2031 dalam Musda ini.
Nuchbatillah menegaskan, kepengurusan baru akan berfokus pada tiga agenda, yakni pengembangan urban farming, pemanfaatan lahan tidur, dan perluasan akses pasar bagi petani.
“HKTI DKI harus hadir dengan kerja yang konkret. Kita ingin lahan-lahan yang masih bisa dimanfaatkan dapat produktif, kelompok tani perkotaan mendapat pendampingan, dan hasil pertanian memiliki akses pasar,” ucap Nuchbatillah.
Ia mengatakan, pengembangan pertanian perkotaan tidak dapat dilakukan sendiri oleh organisasi. Karena itu, HKTI DKI akan membuka ruang sinergi dengan Pemprov DKI Jakarta, pemerintah kota, kelompok tani, pelaku usaha, hingga jaringan HKTI di daerah.
Menurut Nuchbatillah, posisi Jakarta sebagai pusat ekonomi sekaligus pasar dengan kebutuhan pangan yang tinggi harus dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan antara petani dan konsumen.
“Jakarta bukan hanya tempat konsumsi. Kita ingin Jakarta juga menjadi bagian dari ekosistem pertanian yang memberi nilai tambah bagi petani, baik melalui produksi perkotaan maupun melalui penyerapan produk dari daerah,” pungkasnya.
Inspirasi Tani
Dua Perempuan Indonesia Masuk Daftar 100 Women Heroes FAO, Ini Kiprahnya
Majalahtani.com, Roma — Dua perempuan Indonesia, Istiqamah dari Aceh dan Rulyantina dari Banten, masuk dalam daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development yang diluncurkan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO). Penghargaan ini merupakan bagian dari inisiatif FAO untuk memperingati Tahun Internasional Perempuan Petani 2026, sekaligus bertepatan dengan Hari Perempuan Perdesaan Internasional yang diperingati setiap 15 Oktober.
Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu mengemukakan, perempuan sangat berperan penting dalam berbagai bidang, mulai dari pertanian dan kewirausahaan hingga penelitian, pendidikan, dan kepemimpinan komunitas. Kontribusi tersebut turut menjaga keanekaragaman hayati, mendorong inovasi, serta memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi kelaparan, kemiskinan, dan perubahan iklim.
“Di berbagai desa dan kota, pegunungan dan pesisir, hutan dan ladang, Anda melakukan hal-hal luar biasa,” kata Qu saat seremoni penghargaan 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development, di kantor pusat FAO, Roma, Italia, dikutip Majalahtani.com, Jumat (16/10/2026).
Istiqamah dan Rulyantina mendapat pengakuan atas kontribusi dalam pengembangan pertanian, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi masyarakat pedesaan. Keduanya patut berbangga, sebab berhasil terpilih dari 609 nominasi yang diajukan 131 negara anggota FAO untuk masuk dalam daftar 100 perempuan yang dinilai berkontribusi bagi sistem agrifood dan pembangunan pedesaan.
Istiqamah aktif mendampingi petani kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh. Melalui koperasi yang beranggotakan 980 orang dan menaungi lebih dari 1.200 hektare kebun kopi, ia memperjuangkan kepentingan jutaan petani kopi skala kecil, yang sebagian besar di antaranya adalah perempuan.

Istiqomah aktif mendampingi petani kopi di Aceh/Foto: Dok. FAO
Istiqamah mengungkapkan, koperasi ini aktif mendorong produksi kopi berkelanjutan berbasis agroforestri, sekaligus mengedepankan konservasi serta partisipasi yang adil dan inklusif dalam rantai nilai kopi global, terutama bagi perempuan. Ia pun berkeyakinan pendekatan ini juga dapat diterapkan di wilayah lain, asalkan didukung oleh kebijakan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
“Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai pekerja pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan dalam rantai pasok kopi, sangat penting,” tuturnya.
Istiqomah berpesan, petani perempuan membutuhkan akses yang lebih luas dan setara terhadap tiga hal utama. Pertama, pelatihan dan teknologi yang sesuai. Kedua, akses terhadap pembiayaan, pasar yang inklusif, dan perlindungan sosial. Ketiga, pengakuan atas peran formal mereka dalam kelembagaan petani.
“Perempuan juga mendesak dukungan untuk menghadapi perubahan iklim melalui praktik pertanian ramah lingkungan, supaya produktivitas dan kesejahteraan kami tetap terjaga,” tegasnya.
Perempuan Indonesia lainnya yang masuk daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development adalah Rulyantina dari Banten. Ia mengembangkan usaha berbasis talas beneng dengan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah. Usaha tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang kerja dan sumber pendapatan bagi perempuan di komunitasnya, termasuk ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Rulyantina ingin perempuan di pedesaan memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, pengembangan komoditas lokal dapat menciptakan peluang usaha sekaligus mendorong kemandirian ekonomi perempuan dan mendukung keluarga mereka.
“Saya ingin membantu perempuan, terutama ibu rumah tangga di komunitas saya, memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah untuk bekerja,” ujar Rulyantina.

Rulyantina, petani dan pelaku usaha olahan talas beneng asal Banten/Foto: Dok. FAO
Rulyantina berharap, kiprahnya dapat mendorong pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi komoditas lokal dengan membuka akses bagi petani perempuan terhadap pelatihan, permodalan, teknologi, dan pasar. Ia menambahkan, pengalaman perempuan petani perlu menjadi pertimbangan dalam merancang program pertanian agar dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Akses dan peluang yang memadai, menurutnya, dapat membantu perempuan mengembangkan usaha secara lebih mandiri dan berkelanjutan.
Pengakuan terhadap Istiqamah dan Rulyantina juga menyoroti tantangan kesenjangan gender di sektor pertanian. FAO mencatat perempuan mencakup sekitar 41 persen tenaga kerja sistem agrifood dunia, tetapi masih menghadapi ketimpangan akses terhadap sumber daya dan peluang ekonomi. Perempuan juga memperoleh rata-rata 82 sen untuk setiap 1 dolar AS upah yang diterima laki-laki dalam pekerjaan bergaji di sektor pertanian.
FAO memperkirakan, penutupan kesenjangan gender dalam produktivitas lahan dan upah di sektor agrifood berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) global hingga 1 triliun dolar AS serta mengurangi jumlah penduduk yang mengalami kerawanan pangan sebanyak 45 juta orang.
-
Analisis Pasar7 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria9 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria9 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Data Pangan6 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
-
Inspirasi Tani4 bulan agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Teknologi Tani4 bulan agoMengenal PM-AAS: Strategi Mentan Amran Lipat Gandakan Populasi Tanaman dan Hasil Panen
-
Agripreneurship2 bulan agoAchmad Dahlan: Dari Pemuda Desa Lumajang, Menatap Dunia Lewat Rempah
-
Lensa Agraria8 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
