Kabar Desa
Petani Belitung Panen 2,2 Ton Beras Lewat Pertanian Cerdas Iklim
Majalahtani.com — Petani padi sawah di Desa Cerucuk, Belitung, berhasil menghasilkan sekitar 2,2 ton beras melalui penerapan Climate Smart Agriculture (CSA) atau Pertanian Cerdas Iklim.
Produksi tersebut menjadi salah satu hasil penerapan metode pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, khususnya di tengah kondisi musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.
Sekitar 20 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Agro Kenupu mendapatkan pendampingan dari PT Forestalestari Dwikarya, bagian dari Sinar Mas Agribusiness and Food, bersama Sekolah Tani Indonesia. Pendampingan dilakukan secara bertahap untuk mendorong peralihan dari praktik budidaya konvensional menuju pertanian yang lebih berketahanan iklim.
Pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi padi, tetapi juga mencakup pengelolaan lahan, air, bahan organik, serta pemanfaatan sumber daya lokal. Petani juga diperkenalkan dengan pemanfaatan kembali limbah pertanian dan pengembangan hasil panen menjadi produk bernilai tambah.
Hasil penerapan metode tersebut terlihat dalam kegiatan Farm Field Day (FFD) sekaligus Panen Perdana Padi Sawah Berketahanan Iklim di lokasi demplot Pertanian Cerdas Iklim di Desa Cerucuk.
Dari lahan percontohan tersebut, petani berhasil memanen sekitar 3,9 ton Gabah Kering Panen (GKP). Setelah dikeringkan, hasilnya menjadi sekitar 3,2 ton Gabah Kering Giling (GKG) dan menghasilkan sekitar 2,2 ton beras setelah melalui proses penggilingan.
Ketua Kelompok Tani Agro Kenupu Pawit Usman mengatakan, pendampingan membantu petani memahami pengelolaan sawah berdasarkan kondisi lahan dan ketersediaan air. Petani juga didorong memanfaatkan bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Dulu kami lebih banyak bertani berdasarkan kebiasaan yang sudah dilakukan selama ini. Dengan menerapkan konsep Pertanian Cerdas Iklim, kami lebih paham bagaimana mengelola sawah dengan cara yang lebih adaptif meskipun harus menghadapi musim kemarau yang cukup panjang sehingga tetap dapat panen,” ujar Pawit.
Program tersebut juga tidak berhenti pada proses produksi. Beras yang dihasilkan dari lahan percontohan dikembangkan dan dikemas dengan merek Beras Lembah Kenupu. Langkah ini ditujukan untuk memberikan identitas sekaligus nilai tambah terhadap hasil pertanian petani.
Anggota Kelompok Tani Agro Kenupu Mahfud mengatakan, kehadiran produk tersebut membuat beras hasil sawah mereka lebih mudah dikenali masyarakat.
“Dengan adanya Beras Lembah Kenupu, beras dari hasil sawah kami menjadi lebih mudah dikenali dan memiliki nilai tambah. Pendampingan yang diberikan sangat membantu kami, tidak hanya dalam budidaya, tetapi juga dalam mengenalkan dan mengembangkan hasil pertanian agar lebih dikenal oleh masyarakat,” kata Mahfud.
Selain mengembangkan produk, petani juga didorong menerapkan sistem pertanian yang lebih sirkular. Jerami padi dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos, sedangkan sekam padi diolah menjadi arang sekam.
Pemanfaatan kembali residu pertanian tersebut memungkinkan material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian berikutnya.
Kepala Desa Cerucuk Kusmadi menilai proses berbagi pengetahuan menjadi penting agar manfaat program tidak hanya berhenti di lahan percontohan. Menurutnya, praktik yang dapat dilihat secara langsung dapat menjadi referensi bagi petani lain di wilayah tersebut.
“Adanya kegiatan dan pendampingan seperti ini memberikan contoh nyata yang bisa dilihat dan dipelajari langsung oleh petani, sehingga mereka lebih percaya diri untuk kembali bersawah meskipun menghadapi berbagai tantangan,” kata Kusmadi.
Estate Manager PT Forestalestari Dwikarya Yusuf Rizal mengatakan, pendampingan dirancang agar petani tidak hanya mendapatkan hasil panen dalam satu musim, tetapi juga memiliki pengetahuan yang dapat terus digunakan setelah program berakhir.
“Kami ingin pendampingan ini membangun kemampuan yang tetap dimiliki petani setelah program berjalan, bukan hanya menghasilkan panen pada satu musim. Karena itu, pendekatannya mencakup seluruh siklus, mulai dari praktik budidaya yang lebih adaptif, pemanfaatan kembali residu pertanian, hingga pengembangan nilai tambah hasil panen,” ujar Yusuf.
Program tersebut merupakan bagian dari Bright Future Initiative, jaringan akselerasi UMKM Sinar Mas Agribusiness and Food. Program itu disebut telah membantu 163 UMKM dalam merealisasikan dan mengembangkan 280 proyek di berbagai wilayah operasional perusahaan di Indonesia.
Kabar Desa
Pastikan Mutu Sesuai HET, Satgas Pangan Awasi Rantai Pasok Beras di Jawa Tengah
Majalahtani.com – Sebanyak 1.453 laporan hasil pemantauan harga dan mutu beras telah dihimpun Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Harga dan Mutu Beras di Jawa Tengah hingga 29 September 2026. Pemantauan dilakukan di seluruh kabupaten/kota, mulai dari pedagang atau pengecer hingga produsen, untuk memastikan beras yang beredar sesuai dengan kelas mutu dan harga yang ditetapkan pemerintah.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andriko Noto Susanto mengatakan pengawasan tersebut dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara harga dan mutu beras yang beredar di masyarakat. Menurutnya, beras yang dijual sebagai premium maupun medium harus memenuhi standar mutu sesuai dengan harga yang ditetapkan.
“Jadi, pemerintah ingin memastikan bahwa yang dijual premium itu adalah Rp 14.900, benar mutunya premium. Yang dijual medium, harganya Rp 13.500, itu benar mutunya medium. Nah, ini yang kita awasi,” ujar Andriko dalam Rakor Pengawasan Harga Beras, di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (29/9/2026).
Andriko menegaskan, pengawasan tersebut juga diperlukan untuk mencegah praktik usaha yang merugikan konsumen dan mengganggu stabilitas pangan.
“Karena itu, kita ingin beras ini betul-betul dapat kita kendalikan dengan baik karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Pelaku usaha tidak boleh memanfaatkan beras ini sebagai komoditas liberal misalnya untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya sehingga akan merugikan konsumen kita dan mengganggu stabilitas nasional kita. Ini harus menjadi spirit kita bersama,” tegasnya.
Pengawasan Satgas Pengawasan Harga dan Mutu Beras di Jawa Tengah yang berlangsung sejak 7 September hingga 29 September 2026 telah menghasilkan 1.453 laporan dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.135 laporan berasal dari pedagang/pengecer, 140 laporan dari ritel modern, 115 laporan dari grosir/toko besar, 44 laporan dari distributor, dan 19 laporan dari produsen.
Pemantauan dilakukan secara berlapis, mulai dari pedagang dan ritel yang berhadapan langsung dengan konsumen hingga distributor dan produsen di tingkat hulu.
Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah AKBP Anita Indah Setyaningrum mengatakan pengawasan di lapangan membutuhkan kerja bersama antarinstansi, terutama melalui komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi.
“Ini menjadi perangkat kita bersama. Karena itu, komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi menjadi petunjuk kita di lapangan, sehingga apa yang menjadi atensi pimpinan, termasuk Bapak Presiden, dapat kita laksanakan bersama,” ujar Anita.
Penguatan pengawasan juga disiapkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui penerbitan Surat Keputusan Gubernur untuk memperkuat posisi Satgas dalam melakukan pengawasan harga dan mutu beras.
“Kami mendukung penuh adanya pemantauan harga dan mutu beras di Jawa Tengah oleh Satgas Pangan. Saat ini kami sedang menyiapkan Surat Keputusan dari Gubernur untuk menguatkan posisi Satgas dalam melakukan pengawasan harga dan mutu beras di Jawa Tengah,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah Widi Hartanto.
Pada 2026, pemerintah melalui Bapanas mengalokasikan anggaran sebesar Rp 4,56 triliun untuk mendukung pelaksanaan program SPHP beras dengan alokasi 828 ribu ton. Penyaluran SPHP untuk periode Maret–September 2026 tersebut telah dituntaskan oleh Perum BULOG per 24 September 2026.
Untuk melanjutkan intervensi stabilisasi harga, Bapanas kini mempercepat proses tambahan penugasan SPHP beras dengan asumsi alokasi hingga 74,18 ribu ton. Tambahan penugasan tersebut akan menggunakan sisa anggaran yang masih tersedia di Bapanas, dengan penerbitan penugasan kepada Perum BULOG ditargetkan dapat dilakukan pada awal Oktober 2026.
Wakil Pemimpin Wilayah Perum BULOG Jawa Tengah Gandi Prarista memastikan kesiapan BULOG untuk kembali menyalurkan SPHP apabila penugasan tambahan telah diterbitkan pemerintah. Untuk wilayah kerja Jawa Tengah yang mencakup 25 kabupaten/kota, BULOG memiliki stok sekitar 350 ribu ton. Sementara itu, realisasi penyaluran SPHP pada periode Maret–September telah mencapai hampir 88,9 ribu ton, atau 115 persen dari target awal 77,1 ribu ton
“Jadi intinya kami siap kalau misalkan penugasan sudah ada, teman-teman kami di seluruh wilayah 25 kabupaten kota di, mungkin malah untuk seluruh Indonesia, kalau misalkan penugasan sudah ada, aplikasi sudah dibuka, kami siap mengelontorkan SPHP seperti biasa-biasanya,” ujar Gandi.
Kabar Desa
Hadapi Kemarau, Kementan Percepat Pembangunan Infrastruktur Air Pertanian TA 2026
Majalahtani.com – Kementerian Pertanian mempercepat pembangunan dan pelaksanaan infrastruktur air pertanian melalui irigasi perpompaan (IRPOM), irigasi perpipaan (IRPIP), dan bangunan konservasi Tahun Anggaran 2026. Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian selama musim kemarau sekaligus mendorong peningkatan indeks pertanaman (IP).
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa ketersediaan air merupakan faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian. Karena itu, penguatan infrastruktur air perlu dipercepat agar lahan pertanian tetap dapat ditanami dan produktivitas terus meningkat.
“Air adalah faktor penentu produksi. Karena itu, pompanisasi menjadi solusi cepat untuk memastikan sawah tetap mendapat pasokan air sehingga petani bisa terus tanam dan meningkatkan indeks pertanaman,” ujar Mentan Amran.
Sejalan dengan arahan tersebut, Kementerian Pertanian mempercepat pelaksanaan kegiatan IRPOM, IRPIP, dan bangunan konservasi TA 2026. Direktur Konservasi dan Pengembangan Sumber Air Pertanian (KPSAP) Kementerian Pertanian, Asmarhansyah, mengatakan percepatan diperlukan agar infrastruktur yang dibangun dapat segera dimanfaatkan petani, terutama untuk menjaga keberlanjutan pertanaman dan mengantisipasi dampak kekeringan.
“Kementerian Pertanian terus mempercepat pelaksanaan kegiatan mitigasi kekeringan melalui pembangunan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, dan bangunan konservasi. Percepatan ini diperlukan untuk menghadapi dampak perubahan iklim dan fenomena El Nino, sekaligus memastikan kebutuhan air bagi pertanaman tetap terpenuhi,” ujar Asmarhansyah dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Kegiatan IRPIP, IRPOM, dan Bangunan Konservasi TA 2026 di Denpasar, Bali, Rabu (24/9).
Menurut Asmarhansyah, pembangunan infrastruktur air pertanian harus memberikan manfaat nyata bagi petani. Karena itu, penyelesaian pekerjaan perlu dikejar agar intervensi dapat dimanfaatkan pada saat kebutuhan air pertanian meningkat.
“Pak Menteri menginginkan intervensi infrastruktur air ini selesai di musim kemarau, karena manfaatnya harus dapat dirasakan langsung oleh petani. Dengan demikian, kita dapat menyelamatkan pertanaman sekaligus meningkatkan indeks pertanaman (IP),” ujarnya.
Percepatan tersebut juga dibarengi dengan penguatan verifikasi dan validasi di lapangan untuk memastikan setiap intervensi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan wilayah. Koordinator Kelompok Substansi Pengembangan Sumber Air Pertanian, Emir Kartajasa, mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari selesainya pekerjaan fisik, tetapi dari manfaat yang dihasilkan setelah infrastruktur dimanfaatkan.
“Poin penting dari kegiatan apa pun itu adalah menghasilkan output dan outcome. Dalam rapat ini, kami juga ingin bahwa apa yang menjadi verifikasi dan validasi kita di lapangan itu betul-betul bermanfaat. Sumber airnya ada, luas lahannya juga ada,” kata Emir dalam rangkaian rapat koordinasi di Palembang, Sumatera Selatan.
Emir menegaskan, ketersediaan sumber air, luas lahan, serta kesiapan penerima manfaat harus dipastikan sebelum pelaksanaan kegiatan. Verifikasi dan validasi tersebut menjadi bagian penting agar pembangunan infrastruktur air pertanian tepat sasaran dan mampu memberikan manfaat sesuai tujuan program.
“Pembangunan infrastruktur air pertanian tidak berhenti pada penyelesaian pekerjaan fisik. Yang paling penting adalah bagaimana infrastruktur tersebut dapat memberikan manfaat dan mendukung peningkatan indeks pertanaman, produksi, dan produktivitas pertanian,” kata Emir.
Selain kesiapan teknis di lapangan, percepatan pelaksanaan juga dilakukan melalui penyelesaian berbagai persyaratan administrasi dan pemberkasan program. Koordinasi dilakukan untuk memastikan kesiapan dokumen, lokasi kegiatan, penerima manfaat, hingga pelaksanaan pekerjaan fisik.
Kementerian Pertanian mendorong pengawalan bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dinas pertanian, penyuluh, BPLIP, serta pihak terkait lainnya. Pengawalan dilakukan sejak verifikasi sumber air dan luas lahan, kesiapan penerima manfaat, pemberkasan, hingga pelaksanaan fisik kegiatan.
Melalui percepatan dan pengawalan tersebut, Kementerian Pertanian memastikan pembangunan infrastruktur air pertanian TA 2026 tidak berhenti pada penyelesaian pekerjaan, tetapi berorientasi pada manfaat bagi petani. Ketersediaan air diharapkan mampu menjaga pertanaman tetap berjalan selama musim kemarau sekaligus membuka peluang peningkatan indeks pertanaman, produksi, dan produktivitas pertanian.
Kabar Desa
Tembus 11 Ton Per Hektare, Bumdes Karanganyar Buktikan Potensi Ekonomi Padi
Majalahtani.com – Bupati Karanganyar Rober Christanto terus mendorong kolaborasi antara pemerintah, Bumdes, petani, dan masyarakat, dalam memperkuat sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Hal itu ditekankan saat Panen Raya Padi dan Rembug Tani di persawahan Desa Matesih, Kecamatan Matesih, Sabtu (26/9/2026). Dalam kesempatan itu, Bupati Rober bersama Wakil Bupati Adhe Eliana, melakukan panen secara simbolis, pada lahan pertanian yang dikelola Bumdes Maju Sejahtera Desa Matesih. Lahan pertanian yang dikelola Bumdes tersebut memiliki luas sekitar 5 hektare.
Berdasarkan hasil ubinan, produktivitas lahan mencapai 11 ton gabah kering panen (GKP) per hektare atau setara sekitar 9,7 ton gabah kering giling (GKG) per hektare. Dengan harga gabah sekitar Rp8.000 per kilogram, capaian tersebut menunjukkan potensi ekonomi yang cukup besar sekaligus membuka peluang pengembangan usaha Bumdes berbasis sektor pertanian.
“Panen raya ini menunjukkan bahwa desa memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor pertanian sebagai kekuatan ekonomi. Bumdes tidak hanya bergerak di bidang usaha, tetapi juga dapat mengambil peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan,” ujar bupati.
Rober berharap, keberhasilan Bumdes Maju Sejahtera Desa Matesih dapat menjadi inspirasi bagi Bumdes lainnya di Kabupaten Karanganyar, untuk mengembangkan usaha yang produktif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Harapannya, ini bisa menjadi contoh bagi Bumdes lainnya untuk mengembangkan usaha di sektor pertanian, mendukung ketahanan pangan, sekaligus memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan asli desa,” katanya.
Penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, Bumdes, dan masyarakat, imbuh bupati, diharapkan mampu mendorong sektor pertanian semakin produktif dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian pangan dari tingkat desa.
-
Analisis Pasar6 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria8 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria8 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Inspirasi Tani3 bulan agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Data Pangan5 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
-
Lensa Agraria7 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Inspirasi Tani8 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Teknologi Tani3 bulan agoMengenal PM-AAS: Strategi Mentan Amran Lipat Gandakan Populasi Tanaman dan Hasil Panen
