Connect with us

Inspirasi Tani

Mengembalikan Ikan Lokal Pulang ke Rumahnya

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Teten Muharram, warga Kampung Cimunding, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, punya cara unik dalam merawat alam. Bukan sekadar membersihkan sungai, pria berusia 39 tahun itu justru memilih menghidupkan kembali ekosistem air dengan mengembalikan ikan-ikan lokal ke habitatnya melalui gerakan kecilnya.

Lewat gerakan ‘Mengembalikan Ikan Lokal Pulang ke Habitatnya’, Teten aktif melakukan penebaran ikan ke berbagai sungai di Jawa Barat. Gerakan itu tidak muncul secara tiba-tiba. Ada cerita panjang yang berakar dari pengalaman masa kecil, kenangan bersama sang ayah, hingga rasa terima kasihnya terhadap alam yang pernah menjadi sumber kehidupan keluarganya.

Bagi Teten, sungai bukan sekadar aliran air. Sungai adalah bagian dari kenangan masa kecil yang membentuk cara pandangnya terhadap alam. Sejak dulu, ayahnya memiliki hobi memancing. Hampir setiap hasil tangkapan sang ayah menjadi bagian dari kehidupan keluarga, termasuk ikan nilem yang kerap tersaji di meja makan saat Teten masih bersekolah.

Dari sana, Teten merasakan bagaimana sungai mampu menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Ikan-ikan yang hidup di alam bukan hanya sekadar penghuni ekosistem, tetapi juga menjadi bagian dari ketahanan pangan keluarga. Namun, kenangan itu perlahan berubah ketika ia melihat kondisi sungai saat ini. Banyak sungai yang mulai kehilangan ikan lokal akibat berbagai aktivitas manusia.

“Jadi saya merasakan ketahanan pangang gitu, dari sungai. Nah ketika almarhum bapak saya meninggal, di situ saya berinisiasi untuk waktunya mungkin saya menebar berbalas budi terhadap alam,” ujarnya saat dihubungi Majalah Tani, Selasa (14/7/2026).

Teten lebih dulu aktif dalam kegiatan sosial sebelum turun ke sungai. Latar belakang pendidikannya sebagai lulusan S1 Bahasa Perancis dan kemudian melanjutkan S1 Bahasa Sunda tidak membuatnya jauh dari kegiatan masyarakat.

Perjalanannya menuju konservasi ikan dimulai ketika ia bersama anak-anak melakukan kegiatan membaca alam dan membersihkan sungai. Saat itu ia melihat kondisi sungai yang memprihatinkan. “Waktu bersihin sungai dulu sama anak-anak, ternyata miris gitu ya lihat sungai isinya sampah, terus lihat ikannya kosong di setiap sungai,” kenang Teten.

Pemandangan tersebut menjadi titik awal bagi Teten untuk tidak hanya mengamati, tetapi juga mengambil tindakan. Ia mulai memikirkan cara sederhana untuk mengembalikan kehidupan di sungai, salah satunya dengan menghadirkan kembali ikan-ikan lokal yang mulai hilang dari habitatnya.

Berawal dari Modal Pribadi

Gerakan penebaran ikan itu awalnya dilakukan secara mandiri. Teten menyisihkan sebagian penghasilannya sebagai guru honorer untuk membeli ikan yang kemudian ditebar ke sungai.

Selama kurang lebih delapan bulan, ia menjalankan aksinya dengan biaya pribadi. Jumlah ikan yang dibawa pun masih terbatas, biasanya hanya satu hingga lima kilogram setiap kegiatan.

“Saya memang udah punya niat mau sedekah alam waktu itu. Jadi saya menyisihkan gaji saya sebagai guru honorer untuk sedakah alam,” ungkap Teten.

Namun konsistensi membuat gerakannya mulai dikenal luas. Melalui media sosial, aktivitas penebaran ikan yang ia lakukan menarik perhatian masyarakat dan para pegiat lingkungan.

Dukungan pun mulai berdatangan. Teten kemudian membuka ruang donasi bagi masyarakat yang ingin ikut berkontribusi. Donasi tersebut digunakan untuk membeli ikan dari petani lokal sekaligus membantu pemasaran hasil budidaya mereka.

“Sekarang dalam satu kali kegiatan bisa mencapai puluhan kilogram ikan. Minimal sekitar 60 kilogram sekali tebar,” katanya.

Berkembangnya gerakan tersebut membuat Teten membentuk tim kecil beranggotakan lima orang. Kehadiran tim tersebut membuat langkah Teten semakin kuat. Jika sebelumnya ia bergerak sendiri dengan keterbatasan jumlah ikan dan tenaga, kini gerakan penebaran ikan dapat dilakukan lebih luas dan menjangkau lebih banyak sungai.

Selama sekitar satu setengah tahun terakhir, Teten telah melakukan penebaran ikan di hampir seluruh wilayah Jawa Barat. Beberapa kabupaten/kota masih menjadi target penyelesaian sebelum melanjutkan perjalanan ke Jawa Tengah.

“Mungkin hanya empat kota atau kabupaten yang belum saya tebar yaitu Sukabumi, Purwakarta, Nidramayu, Cirebon,” imbuh dia.

Ikan yang ditebar pun bukan sembarang jenis. Ia memilih ikan lokal yang sesuai dengan karakter habitat sungai setempat. Beberapa jenis ikan yang biasa ditebar antara lain ikan tawes, ikan nilem, ikan tembakang, ikan gurame, ikan baragel, ikan masyar atau ikan dewa, ikan wader, hingga ikan sepat.

Sebelum melakukan pelepasliaran, Teten tidak langsung datang dan menebar ikan begitu saja. Ia melakukan survei terlebih dahulu. Menurutnya, keberhasilan konservasi bukan hanya bergantung pada jumlah ikan yang ditebar, tetapi juga bagaimana masyarakat menjaga habitatnya.

“Biasanya kalau sebelum penebaran saya survei terlebih dahulu untuk lokasi, gimana kondisi geografis di sungai itu. Terus saya cari info dari masyarakat juga,” imbuh dia.

Namun, perjalanan menjaga ekosistem sungai tidak selalu berjalan mulus. Di tengah upayanya menghidupkan kembali habitat ikan lokal, Teten juga harus menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Salah satunya pengalaman pahit yang membuatnya semakin selektif dalam menentukan lokasi penebaran.

Suatu hari, kata Teten, setelah melakukan penebaran ikan, ia mendapat kabar mengejutkan dari masyarakat. Ikan yang baru saja dilepas ternyata langsung habis ditangkap.

“Jadi ikan yang ditebar langsung disetrum habis semua, mereka mengirimkan fotonya ke saya. Ada beberapa tempat yang seperti itu saya blacklist,” cerita Teten.

Jika kondisi sungai masih diragukan, Teten memilih untuk tidak mengambil risiko besar. Ia hanya melakukan uji coba dengan jumlah ikan yang sedikit untuk melihat apakah habitat tersebut benar-benar aman bagi ikan yang ditebar.

Pengalaman di lapangan membuatnya semakin memahami bahwa konservasi bukan hanya tentang melepas ikan ke sungai, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan ekosistem dan melibatkan masyarakat sekitar.

Mimpi Mengembalikan Sungai Seperti Masa Kecil

Bagi Teten, tujuan terbesar dari gerakannya bukan sekadar menambah jumlah ikan di sungai. Ia ingin sungai kembali menjadi rumah bagi ikan lokal seperti dahulu.

“Mimpi saya, sungai kembali menjadi rumah bagi ikan-ikan lokal seperti waktu saya kecil”.

Ia berharap masyarakat mulai melakukan hal-hal sederhana untuk menjaga ekosistem sungai. Cara paling mudah adalah jangan buang sampah ke sungai dan jangan membuat limbah. “Rumah ikan harus dijaga dulu,” pesannya.

Menurutnya, ikan lokal bukan hanya kehilangan jumlah, tetapi juga kehilangan tempat hidup akibat kerusakan lingkungan dan keberadaan ikan invasif.

Bagi Teten, setiap ikan yang ia lepaskan adalah sebuah jejak. Ia menyadari suatu saat gerakan ini bisa saja berhenti, tetapi ia berharap dampaknya tetap berjalan. “Setidaknya saya sudah pernah meninggalkan jejak makhluk hidup yang saya tebar di berbagai tempat,” katanya.

Dokumentasi melalui media sosial juga menjadi bagian penting dari perjuangannya. Bukan hanya sebagai arsip pribadi, tetapi sebagai bukti bagi para donatur dan masyarakat bahwa gerakan tersebut benar-benar dilakukan.

Dalam waktu dekat, ia dijadwalkan melakukan penebaran ikan di Sungai Cikapundung, Bandung, bersama komunitas lingkungan, mahasiswa, dan pegiat alam. Kegiatan tersebut juga akan dirangkaikan dengan penanaman pohon endemik sungai.

Inspirasi Tani

Mengembalikan “Napas” Tanah Kritis Lewat Pertanian Regeneratif

Published

on

Majalah Tani – Selama puluhan tahun, revolusi hijau mengajarkan kita satu formula sederhana untuk menggenjot hasil panen: tebar pupuk kimia sintetis sebanyak-banyaknya, lalu amankan dengan pestisida. Hasilnya memang instan dan sempat menyelamatkan dunia dari ancaman krisis pangan. Namun, alam selalu punya cara untuk menagih “utang”.

Kini, banyak petani mulai mengeluhkan fenomena yang sama. Pupuk kimia yang ditebar rasanya tak lagi seampuh dulu. Tanah menjadi keras, bantat, dan pucat. Tanpa disadari, residu bahan kimia sintetis yang menumpuk selama puluhan tahun telah membunuh jutaan mikroorganisme penyubur tanah. Tanah kita tak sekadar lelah; tanah kita sedang kehilangan “napasnya”.

Di sinilah konsep pertanian regeneratif (regenerative agriculture) hadir bukan sekadar sebagai tren ekologis, melainkan sebagai jalan keluar yang esensial. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang berfokus pada “apa yang bisa diambil dari tanah”, pertanian regeneratif menitikberatkan pada “apa yang bisa dikembalikan ke tanah”.

Tujuan utamanya satu: mendetoksifikasi lahan dan membangun kembali ekosistem mikrobioma tanah yang hancur.

Mengapa Tanah “Mati”?

Pupuk kimia sintetis, khususnya nitrogen (Urea) dan fosfat, ibarat suplemen instan bagi tanaman. Tanaman memang bisa langsung menyerapnya untuk tumbuh subur, tetapi sisa residu asam dari pupuk ini akan tertinggal di dalam tanah.

Seiring waktu, penumpukan residu ini menurunkan tingkat pH (tanah menjadi sangat masam). Dalam kondisi masam yang ekstrem, cacing tanah menyingkir, bakteri pengurai mati, dan jamur baik tak bisa berkembang biak. Akibatnya, siklus hara alami terputus. Unsur hara makro dan mikro yang sebenarnya masih ada di dalam tanah menjadi “terkunci” dan tak bisa lagi diisap oleh akar tanaman.

Langkah Detoksifikasi

Bagi lahan yang sudah telanjur kritis, pemulihan tidak bisa dilakukan dalam semalam. Namun, beberapa teknik regeneratif berikut terbukti efektif untuk mengembalikan unsur hara tanah secara bertahap dan permanen:

1. Reintroduksi Mikrobioma dengan Pupuk Organik Cair (POC) dan Kompos Langkah pertama untuk memulihkan lahan kritis adalah mengembalikan para “pekerja” tanah, yaitu mikroorganisme. Aplikasi kompos yang matang atau penyemprotan Pupuk Organik Cair (POC) yang kaya akan Effective Microorganisms (EM) berfungsi sebagai probiotik bagi tanah. Bakteri dan mikrob inilah yang kelak akan bekerja siang-malam mengurai residu kimia dan mengubah sisa bahan organik menjadi nutrisi yang siap makan bagi tanaman.

2. Pemanfaatan Mikoriza sebagai “Akar Tambahan” Cendawan mikoriza adalah salah satu sekutu terbaik petani yang sering terlupakan. Jamur ini bersimbiosis dengan akar tanaman, membentuk jaringan hifa yang memanjang jauh menembus pori-pori tanah yang tak bisa dijangkau akar biasa. Mikoriza tak hanya membantu tanaman menyerap air dan fosfat yang terkunci, tetapi juga memproduksi glomalin—sejenis zat perekat alami yang memperbaiki struktur tanah yang rusak dan bantat menjadi lebih gembur.

3. Rotasi Tanaman dan Penggunaan Cover Crops (Tanaman Penutup) Membiarkan tanah terbuka dan terpanggang matahari setelah panen adalah bencana bagi mikrob tanah. Pertanian regeneratif sangat menyarankan penggunaan cover crops, seperti tanaman leguminosa (kacang-kacangan). Selain melindungi tanah dari erosi dan menjaga kelembapan, akar leguminosa memiliki bintil yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan menyimpannya di dalam tanah—sebuah pabrik pupuk urea alami yang bekerja secara gratis.

4. Olah Tanah Minimum (Minimum Tillage) Membajak tanah terlalu dalam dan sering justru merusak rumah alami bagi mikrob dan cacing tanah, serta melepaskan karbon ke udara. Dengan menerapkan olah tanah minimum, struktur agregat tanah akan tetap utuh, sirkulasi oksigen di dalam tanah terjaga, dan kelembapan alami lahan tidak mudah menguap.

Investasi Jangka Panjang untuk Masa Depan

Beralih ke pertanian regeneratif memang membutuhkan kesabaran. Pada musim pertama atau kedua, hasil panen mungkin belum menunjukkan lonjakan yang dramatis layaknya efek magis pupuk kimia. Namun, grafik kesehatannya akan terus naik.

Pemulihan hara lewat pendekatan regeneratif adalah sebuah investasi. Ketika struktur tanah sudah kembali sehat, gembur, dan kaya akan bahan organik, petani pada akhirnya akan menikmati efisiensi biaya produksi yang signifikan karena ketergantungan pada pupuk pabrikan akan turun drastis. Lebih dari itu, kita tidak hanya mewariskan hasil panen untuk hari ini, tetapi juga mewariskan lahan yang subur untuk generasi esok.

Silakan disunting jika ada penyesuaian angle atau ingin ditambahkan kutipan dari pakar agrikultur yang pernah kamu wawancarai sebelumnya, Han. Menurutku, visual yang cocok untuk mendampingi artikel ini di majalahtani.com adalah foto perbandingan side-by-side antara tanah yang keras/retak dengan tanah gembur yang dipenuhi cacing atau akar sehat.

Continue Reading

Inspirasi Tani

HKTI Bidik Pasar Jakarta Perluas Penjualan Hasil Tani Daerah

Ruruh Handayani

Published

on

Foto: Dok. HKTI

Majalahtani.com, Jakarta —  Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) ingin memanfaatkan besarnya kebutuhan pangan ibu kota untuk mempertemukan petani daerah dengan pasar Jakarta, dan mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming) untuk memperkuat ketahanan pangan. Ketua Harian II DPN HKTI Mulyono Machmur menilai, kebutuhan pangan Jakarta yang sebagian besar dipasok dari luar daerah dapat menjadi peluang bagi petani.

Untuk itu, ia meminta HKTI DKI Jakarta dapat mengambil peran dalam menghubungkan produksi pertanian daerah dengan kebutuhan pasar di ibu kota. Menurutnya, penguatan jaringan pemasaran antardaerah dapat memperpendek rantai pasok, sekaligus membuka pasar yang lebih luas bagi petani.

“Jakarta memiliki pasar yang besar. Ini bisa menjadi ruang bagi HKTI DKI untuk membantu mempertemukan hasil produksi petani dari daerah dengan kebutuhan pasar di Jakarta,” kata Mulyono dalam Musyawarah Daerah (Musda) DPD HKTI DKI Jakarta di Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Kamis (22/10/2026).

Beras, telur, ayam, sayuran, dan berbagai komoditas pangan lainnya menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat Jakarta yang dipasok dari luar wilayah. Mulyono bilang, HKTI DKI Jakarta dapat menjalin kerja sama dengan DPD HKTI di berbagai provinsi untuk memperluas pemasaran produk tersebut.

Mulyono memerinci, kerja sama itu dapat mencakup pemetaan komoditas unggulan daerah, kebutuhan pasar Jakarta, hingga peluang distribusi. Dengan begitu, produk pertanian daerah tidak hanya berhenti di sentra produksi, tetapi dapat masuk ke pasar dan tertata.

Ia mengungkapkan, salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan adalah pasar bunga di Jakarta. Selain memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan, komoditas tersebut dapat menjadi contoh bagaimana pasar ibu kota dapat menyerap produk pertanian dan hortikultura dari berbagai daerah.

Di sisi lain, penguatan ketahanan pangan Jakarta tidak cukup hanya mengandalkan pasokan dari luar wilayah. Mulyono menuturkan, lahan tidur dan ruang terbatas di kawasan permukiman juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pertanian perkotaan.

Upaya ini, lanjutnya, perlu mencakup pengelolaan pangan dari produksi hingga konsumsi, termasuk penanganan sampah makanan. Tingginya aktivitas konsumsi masyarakat perkotaan membuat pengurangan pangan terbuang menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam penguatan ketahanan pangan.

“Swasembada pangan di Jakarta tidak berhenti pada bagaimana menghasilkan pangan. Ada subsistem konsumsi dan subsistem sampah yang juga harus diperhatikan, termasuk persoalan sampah makanan,” terang Mulyono.

Pengembangan urban farming,  karena itu, perlu disertai edukasi konsumsi pangan dan pengurangan food waste. Dengan demikian, upaya memperkuat ketahanan pangan tidak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, tetapi juga pada pemanfaatan pangan secara lebih efisien.

Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Syafrin Liputo menambahkan, terdapat sekitar 177 lokasi di wilayahnya yang dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan perkotaan. Potensi itu, menurutnya, masih dapat dioptimalkan melalui pengelolaan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Di sisi lain, HKTI dapat mendukung pengembangan lokasi-lokasi tersebut melalui pendampingan kelompok tani perkotaan, mulai dari pengelolaan lahan, budidaya, pemilihan komoditas, hingga pemasaran hasil panen. Pendampingan juga dapat mempertemukan kelompok tani dengan pemerintah dan pelaku usaha untuk mengembangkan pertanian sesuai dengan kondisi Jakarta.

Nuchbatillah Prioritaskan Urban Farming dan Akses Pasar

Penguatan pertanian perkotaan dan pemasaran hasil tani daerah jadi bagian dari agenda kepengurusan baru HKTI DKI Jakarta Nuchbatillah. Anggota DPRD DKI Jakarta ini terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD HKTI DKI Jakarta periode 2026–2031 dalam Musda ini.

Nuchbatillah menegaskan, kepengurusan baru akan berfokus pada tiga agenda, yakni pengembangan urban farming, pemanfaatan lahan tidur, dan perluasan akses pasar bagi petani.

“HKTI DKI harus hadir dengan kerja yang konkret. Kita ingin lahan-lahan yang masih bisa dimanfaatkan dapat produktif, kelompok tani perkotaan mendapat pendampingan, dan hasil pertanian memiliki akses pasar,” ucap Nuchbatillah.

Ia mengatakan, pengembangan pertanian perkotaan tidak dapat dilakukan sendiri oleh organisasi. Karena itu, HKTI DKI akan membuka ruang sinergi dengan Pemprov DKI Jakarta, pemerintah kota, kelompok tani, pelaku usaha, hingga jaringan HKTI di daerah.

Menurut Nuchbatillah, posisi Jakarta sebagai pusat ekonomi sekaligus pasar dengan kebutuhan pangan yang tinggi harus dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan antara petani dan konsumen.

“Jakarta bukan hanya tempat konsumsi. Kita ingin Jakarta juga menjadi bagian dari ekosistem pertanian yang memberi nilai tambah bagi petani, baik melalui produksi perkotaan maupun melalui penyerapan produk dari daerah,” pungkasnya.

Continue Reading

Inspirasi Tani

Dua Perempuan Indonesia Masuk Daftar 100 Women Heroes FAO, Ini Kiprahnya

Ruruh Handayani

Published

on

100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development/Foto: Dok. FAO

Majalahtani.com, Roma — Dua perempuan Indonesia, Istiqamah dari Aceh dan Rulyantina dari Banten, masuk dalam daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development yang diluncurkan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO). Penghargaan ini merupakan bagian dari inisiatif FAO untuk memperingati Tahun Internasional Perempuan Petani 2026, sekaligus bertepatan dengan Hari Perempuan Perdesaan Internasional yang diperingati setiap 15 Oktober.

Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu mengemukakan, perempuan sangat berperan penting dalam berbagai bidang, mulai dari pertanian dan kewirausahaan hingga penelitian, pendidikan, dan kepemimpinan komunitas. Kontribusi tersebut turut menjaga keanekaragaman hayati, mendorong inovasi, serta memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi kelaparan, kemiskinan, dan perubahan iklim.

“Di berbagai desa dan kota, pegunungan dan pesisir, hutan dan ladang, Anda melakukan hal-hal luar biasa,” kata Qu saat seremoni penghargaan 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development,  di kantor pusat FAO, Roma, Italia, dikutip Majalahtani.com, Jumat (16/10/2026).

Istiqamah dan Rulyantina mendapat pengakuan atas kontribusi dalam pengembangan pertanian, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi masyarakat pedesaan. Keduanya patut berbangga, sebab berhasil terpilih dari 609 nominasi yang diajukan 131 negara anggota FAO untuk masuk dalam daftar 100 perempuan yang dinilai berkontribusi bagi sistem agrifood dan pembangunan pedesaan.

Istiqamah aktif mendampingi petani kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh. Melalui koperasi yang beranggotakan 980 orang dan menaungi lebih dari 1.200 hektare kebun kopi, ia memperjuangkan kepentingan jutaan petani kopi skala kecil, yang sebagian besar di antaranya adalah perempuan.

Istiqomah aktif mendampingi petani kopi di Aceh/Foto: Dok. FAO

Istiqamah mengungkapkan, koperasi ini aktif mendorong produksi kopi berkelanjutan berbasis agroforestri, sekaligus mengedepankan konservasi serta partisipasi yang adil dan inklusif dalam rantai nilai kopi global, terutama bagi perempuan. Ia pun berkeyakinan pendekatan ini juga dapat diterapkan di wilayah lain, asalkan didukung oleh kebijakan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.

“Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai pekerja pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan dalam rantai pasok kopi, sangat penting,” tuturnya.

Istiqomah berpesan, petani perempuan membutuhkan akses yang lebih luas dan setara terhadap tiga hal utama. Pertama, pelatihan dan teknologi yang sesuai. Kedua, akses terhadap pembiayaan, pasar yang inklusif, dan perlindungan sosial. Ketiga, pengakuan atas peran formal mereka dalam kelembagaan petani.

“Perempuan juga mendesak dukungan untuk menghadapi perubahan iklim melalui praktik pertanian ramah lingkungan, supaya produktivitas dan kesejahteraan kami tetap terjaga,” tegasnya.

Perempuan Indonesia lainnya yang masuk daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development adalah Rulyantina dari Banten. Ia mengembangkan usaha berbasis talas beneng dengan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah. Usaha tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang kerja dan sumber pendapatan bagi perempuan di komunitasnya, termasuk ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Rulyantina ingin perempuan di pedesaan memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, pengembangan komoditas lokal dapat menciptakan peluang usaha sekaligus mendorong kemandirian ekonomi perempuan dan mendukung keluarga mereka.

“Saya ingin membantu perempuan, terutama ibu rumah tangga di komunitas saya, memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah untuk bekerja,” ujar Rulyantina.

Rulyantina, petani dan pelaku usaha olahan talas beneng asal Banten/Foto: Dok. FAO

Rulyantina berharap, kiprahnya dapat mendorong pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi komoditas lokal dengan membuka akses bagi petani perempuan terhadap pelatihan, permodalan, teknologi, dan pasar. Ia menambahkan, pengalaman perempuan petani perlu menjadi pertimbangan dalam merancang program pertanian agar dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Akses dan peluang yang memadai, menurutnya, dapat membantu perempuan mengembangkan usaha secara lebih mandiri dan berkelanjutan.

Pengakuan terhadap Istiqamah dan Rulyantina juga menyoroti tantangan kesenjangan gender di sektor pertanian. FAO mencatat perempuan mencakup sekitar 41 persen tenaga kerja sistem agrifood dunia, tetapi masih menghadapi ketimpangan akses terhadap sumber daya dan peluang ekonomi. Perempuan juga memperoleh rata-rata 82 sen untuk setiap 1 dolar AS upah yang diterima laki-laki dalam pekerjaan bergaji di sektor pertanian.

FAO memperkirakan, penutupan kesenjangan gender dalam produktivitas lahan dan upah di sektor agrifood berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) global hingga 1 triliun dolar AS serta mengurangi jumlah penduduk yang mengalami kerawanan pangan sebanyak 45 juta orang.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved