Inspirasi Tani
Niya dan Mimpi Besar dari Pesisir: Membangun Ekosistem yang Mengubah Nasib Nelayan & Perempuan
Majalahtani.com – Di sebuah dapur produksi sederhana di Magelang, aroma ikan yang baru diolah memenuhi ruangan. Di atas meja, potongan fillet ikan berubah menjadi berbagai produk pangan beku yang siap dikirim ke berbagai kota. Tak jauh dari sana, beberapa perempuan sibuk membentuk adonan, sementara telepon genggam di sudut ruangan terus berbunyi menerima pesanan.
Di balik aktivitas itu berdiri seorang perempuan muda bernama Aulia Rahmawati Tsaniya. Sekilas, usahanya tampak seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pangan pada umumnya. Menjual makanan berbahan ikan, melayani pelanggan, dan mengembangkan produk baru. Namun ketika berbincang di ujung telepon dengannya, terlihat jelas bahwa semua itu hanyalah bagian kecil dari mimpi yang jauh lebih besar.
Bagi perempuan akrab disapa Niya, menjual makanan bukanlah tujuan akhir. Ia sesungguhnya sedang membangun sebuah ekosistem yang menghubungkan laut, nelayan, perempuan pesisir, anak-anak, pendidikan, hingga meja makan keluarga Indonesia.
Hari ini ekosistem itu bertumpu pada tiga pilar utama: Inafish, Wavemakers, dan Foodlink. Tiga nama berbeda, tetapi memiliki satu benang merah yang sama yaitu memberdayakan manusia melalui pangan.
Gagasan besar itu tidak lahir dalam semalam. Di balik ketiga ekosistem tersebut tersimpan perjalanan panjang yang berawal dari rasa penasaran. Sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia gemar membaca berbagai inovasi pangan dan membayangkan bagaimana sebuah produk sederhana bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Ketertarikan itu terus tumbuh hingga akhirnya membawanya memilih pendidikan tinggi di bidang Ilmu dan teknologi pangan.
“Jadi SMP itu sudah mulai kayak selalu riset tentang pangan gitu. Aku ingin selalu menciptakan produk-produk pangan yang memang berkaitan sama inovasi gitu yang bermanfaat untuk konsumen,” ujarnya kepada Majalah Tani.
Di kampus, Niya juga aktif mengikuti berbagai kompetisi riset hingga lomba bisnis dalam bidang Inovasi Pangan. Dari sana muncul satu kesadaran penting. Indonesia tidak kekurangan ikan, tapi yang seringkali kurang adalah inovasi. Bagaimana ikan bisa lebih mudah diterima masyarakat. Bagaimana nelayan memperoleh nilai tambah. Dan bagaimana seluruh rantai pasok mampu memberikan kesejahteraan yang lebih baik.
Inafish: Membuat Orang yang Tidak Suka Ikan Menjadi Suka
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian melahirkan langkah pertama dengan memulai membangun brand Inafish pada periode 2020. Inafish lahir bukan sekadar produsen frozen food.
Tetapi Niya ingin mencoba mengubah cara masyarakat menikmati ikan. Target utamanya adalah keluarga muda, terutama ibu-ibu yang ingin memenuhi kebutuhan gizi anak tanpa harus menghadapi duri ikan atau aroma amis yang sering membuat anak menolak makan.
“Inafish itu aku cuma (ingin) satu sih sebenarnya. Aku ingin bisa menciptakan produk perikanan yang terjangkau sama masyarakat dan kayak orang-orang enggak suka makan ikan jadi makan ikan,” ujarnya wanita lulusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gajah Mada tersebut.
Produk-produk yang dibuat Inafish tanpa bahan pengawet dengan kandungan ikan yang tinggi. Fokusnya bukan hanya rasa, tetapi juga kandungan gizi.
Niya menyebut salah satu produk yang menjadi ciri khas adalah Fish Bubble Potato, olahan ikan dengan kentang dan isian keju yang lembut. Bentuknya menarik, teksturnya ramah untuk anak-anak, bahkan kini banyak digunakan sebagai makanan pendamping untuk balita. Selain itu, terdapat produk seperti kaki naga dan berbagai frozen food lain yang semakin dikenal pasar.
“Kalau untuk pelanggan kita itu lebih banyak di kota-kota besar kayak di Semarang, Yogyakarta,Jakarta, sama Surabaya itu beberapa customer ambil dari kita,” ujar dia.
Namun keberhasilan produk bukanlah pencapaian yang paling membanggakan bagi Niya. Paling berkesan justru cerita dari para pelanggan. Di mana ada anak yang sebelumnya tidak pernah mau makan ikan kini justru menjadikan produk Inafish sebagai makanan favorit.
Ada pula orang tua yang bercerita kondisi gizi anak mereka membaik setelah rutin mengkonsumsi produk berbahan ikan. Bagi Niya, cerita-cerita semacam itu jauh lebih bernilai daripada sekadar angka penjualan.
Memberi Nilai Tambah Sejak Dari Laut
Dampak yang ingin diciptakan tidak berhenti di tangan konsumen. Niya meyakini perubahan harus dimulai jauh sebelum produk hadir di rak-rak penjualan, yakni sejak bahan baku masih berada di laut dan menjadi sumber penghidupan para nelayan. Dari keyakinan itulah ia membangun rantai nilai yang memberi manfaat bagi semua pihak, dari hulu hingga hilir.
“Sebenarnya mimpiku itu sampai di hulu pun aku bisa memberdayakan nelayan dan juga perempuan-perempuan pesisir,” kata Niya.
Karena itulah Inafish membeli ikan langsung dari nelayan. Inafish dimulai dengan bekerja sama dengan nelayan dan perempuan-perempuan pesisir di Jepara. Di sana terdapat jenis ikan yang jumlahnya melimpah tetapi kurang memiliki nilai ekonomi tinggi dibandingkan jenis ikan populer lainnya.
Alih-alih mengikuti pasar yang menggunakan bahan baku tertentu, Niya memilih memanfaatkan ikan yang melimpah tersebut. Keputusan itu bukan sekadar soal efisiensi. Ia ingin membantu meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan.
Meski begitu, perjalanannya tentu tidak selalu mulus. Pada tahap awal ia sempat menghadapi kendala produksi karena jarak yang cukup jauh antara lokasi nelayan dan tempat produksi.
Akhirnya lahirlah sistem baru. Perempuan-perempuan di wilayah pesisir pada akhirnya ikut membantu memisahkan daging ikan dari tulang, kemudian mengirimkannya dalam bentuk siap olah ke Magelang.
Dengan cara itu, rantai nilai bertambah. Nelayan memperoleh pasar. Perempuan memperoleh tambahan penghasilan. Sementara Inafish mendapatkan bahan baku berkualitas. Inilah yang dimaksud Niya sebagai pemberdayaan dari hulu.
“Jadi emang fungsinya Inafish ini tuh aku emang pengennya tuh di hulu ada pemberdayaan dan ada proses juga pengolahan untuk memenuhi gizi, kayak gitu,” jelas dia.
Wavemakers: Ketika Bisnis Saja Tidak Cukup
Meski Inafish terus berkembang, Niya menyadari satu hal. Tidak semua persoalan nelayan bisa diselesaikan oleh bisnis. Ada masalah pendidikan, masalah lingkungan dan persoalan sosial. Semuanya saling berkaitan.
Kesadaran itu melahirkan Wavemakers. Sebuah gerakan sosial yang berfokus pada masyarakat pesisir sejak September 2024. Nama Wavemakers dipilih bukan tanpa alasan. Gelombang tidak pernah berhenti bergerak. Begitu pula pada perubahan.
“Selama terjun ke masyarakat pesisir, aku melihat masih banyak ruang untuk pemberdayaan nelayan dan keluarganya. Pengalaman itu yang kemudian menjadi alasan aku terus bergerak melalui Wavemakers,” ungkap Niya.

Niya berharap setiap program kecil mampu menciptakan gelombang perubahan yang lebih besar. Selama berkuliah di perikanan, ia berkali-kali turun langsung ke kampung nelayan. Ia melihat kehidupan masyarakat pesisir dari dekat.
Permasalahannya sama. Mulai dari anak-anak yang kesulitan mengakses pendidikan, keluarga nelayan yang belum memiliki kesempatan berkembang serta lingkungan pesisir yang semakin tertekan oleh sampah. Semua pengalaman itu membentuk keyakinannya bahwa perubahan harus dilakukan secara menyeluruh.
Karena itu Wavemakers dibangun dengan tiga fokus utama. Pertama adalah pendidikan. Kedua lingkungan. Ketiga pemberdayaan ekonomi.
Salah satu impian terbesar Niya adalah menghadirkan beasiswa bagi anak-anak nelayan. Bukan sekadar membantu mereka masuk sekolah. Tetapi mendampingi hingga memiliki karier yang lebih baik. Karena menurutnya, kemiskinan di wilayah pesisir sering kali diwariskan bukan karena kurang bekerja keras, melainkan karena akses terhadap pendidikan yang terbatas.
“Jadi kita pikirkan dari pendidikan itu untuk anak-anak nelayannya ya, karena kita sebenarnya ingin banget bisa memberikan beasiswa untuk anak-anak nelayan sampai dengan ke karir,” ungkap Niya.
Melalui Wavemakers, ia mulai membangun berbagai kegiatan pendidikan nonformal di kawasan pesisir seperti Cilincing dan beberapa wilayah lain. Anak-anak memperoleh ruang belajar, membaca, dan mengembangkan diri. Baginya, perubahan sosial selalu dimulai dari pengetahuan.
Menjaga Laut Berarti Menjaga Masa Depan
Bekerja bersama nelayan membuat Niya memahami satu kenyataan. Masalah lingkungan di pesisir tidak pernah berdiri sendiri. Sampah yang dibuang jauh dari laut pada akhirnya akan bermuara ke pantai. Nelayanlah yang pertama kali merasakan dampaknya.
Karena itu Wavemakers juga aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan, termasuk penanaman mangrove dan edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

Ia percaya laut bukan sekadar sumber penghasilan. Laut adalah rumah. Jika rumah itu rusak, maka seluruh kehidupan di dalamnya ikut terancam.
Keyakinan itulah yang kemudian membentuk cara Niya membangun seluruh ekosistem usahanya. Baginya, menjaga laut saja tidak cukup. Masyarakat yang hidup di sekitarnya juga harus tumbuh dan memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.
Karena itu, perhatian Niya tidak berhenti pada nelayan, tetapi juga menjangkau perempuan-perempuan pesisir yang selama ini menjadi penopang keluarga sekaligus roda ekonomi lokal.
“Kalau yang kami mungkin menjadi tertarik itu sebenarnya dari pemberdayaan perempuannya gitu, yang mana ibu-ibu nelayan ini ternyata itu segitu minimnya pengetahuan tentang pengelolaan ikan,” kata dia.
Karena itu pemberdayaan perempuan menjadi fokus penting dalam seluruh ekosistem yang dibangun Niya. Melalui berbagai pelatihan, perempuan diperkenalkan pada teknik pengolahan ikan, keamanan pangan, hingga peluang usaha.
Harapannya sederhana. Ikan tidak hanya dijual dalam bentuk mentah. Tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah. Dengan demikian pendapatan keluarga meningkat tanpa harus menambah hasil tangkapan.
“Kita pengen banget punya kayak semacam hub atau pemberdayaan dari wilayah pesisirnya sampai akhirnya berdampak ke bisnisnya kayak gitu,” terang dia.
Gagasan membangun ekosistem tersebut tidak berhenti pada pemberdayaan ekonomi. Niya menyadari bahwa perubahan yang berkelanjutan juga membutuhkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Foodlink Hadir Sebagai Ruang Edukasi
Pengetahuan, keterampilan, dan akses terhadap informasi menjadi bekal penting agar masyarakat pesisir mampu terus berkembang secara mandiri. Dari kebutuhan itulah Foodlink kemudian lahir.
Jika Inafish menjadi mesin bisnis dan Wavemakers menjadi gerakan sosial, maka Foodlink hadir sebagai ruang edukasi. Niya percaya bahwa pengetahuan tentang pangan tidak boleh berhenti di ruang kuliah atau laboratorium. Pengetahuan harus sampai kepada masyarakat.
“Jadi kita tuh pengen, kita tuh bisa menjadi platform untuk edukasi baik. Dari sisi edukasi untuk keseharian,” imbuh dia.

Melalui Foodlink, masyarakat dapat belajar berbagai hal. Mulai dari pengolahan hasil pangan, keamanan pangan, fermentasi, hingga bagaimana membangun bisnis berbasis pangan lokal.
Ia memanfaatkan jejaring akademisi, praktisi, hingga dosen yang dikenalnya untuk berbagi ilmu kepada masyarakat. Karena baginya, edukasi adalah investasi jangka panjang. Semakin banyak orang memahami pangan, semakin kuat pula sistem pangan Indonesia.
“Jadi itu aku manfaatkan untuk kita membangun si platform ini,” kata dia.
Dari seluruh ekosistem tersebut, mimpi Niya sederhana. Ia hanya ingin apa yang sedang dibangunnya benar-benar memberi dampak nyata. “Tapi yang jelas aku inginkan itu apapun yang aku lakukan ini mungkin dari hal Inafish, dari Foodlink, dari Wavemakers ini bisa berdampak nyata. Walaupun itu enggak besar, tapi berdampak nyata gitu,” pungkas dia.
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Karena dampak nyata tidak selalu diukur dari seberapa besar perusahaan.
Kadang ia hadir dalam bentuk seorang anak yang akhirnya mau makan ikan. Seorang ibu pesisir yang memperoleh penghasilan tambahan. Seorang nelayan yang bisa menjual hasil tangkapannya dengan harga lebih baik. Atau seorang anak nelayan yang suatu hari berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.
Inspirasi Tani
Mengembalikan “Napas” Tanah Kritis Lewat Pertanian Regeneratif
Majalah Tani – Selama puluhan tahun, revolusi hijau mengajarkan kita satu formula sederhana untuk menggenjot hasil panen: tebar pupuk kimia sintetis sebanyak-banyaknya, lalu amankan dengan pestisida. Hasilnya memang instan dan sempat menyelamatkan dunia dari ancaman krisis pangan. Namun, alam selalu punya cara untuk menagih “utang”.
Kini, banyak petani mulai mengeluhkan fenomena yang sama. Pupuk kimia yang ditebar rasanya tak lagi seampuh dulu. Tanah menjadi keras, bantat, dan pucat. Tanpa disadari, residu bahan kimia sintetis yang menumpuk selama puluhan tahun telah membunuh jutaan mikroorganisme penyubur tanah. Tanah kita tak sekadar lelah; tanah kita sedang kehilangan “napasnya”.
Di sinilah konsep pertanian regeneratif (regenerative agriculture) hadir bukan sekadar sebagai tren ekologis, melainkan sebagai jalan keluar yang esensial. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang berfokus pada “apa yang bisa diambil dari tanah”, pertanian regeneratif menitikberatkan pada “apa yang bisa dikembalikan ke tanah”.
Tujuan utamanya satu: mendetoksifikasi lahan dan membangun kembali ekosistem mikrobioma tanah yang hancur.
Mengapa Tanah “Mati”?
Pupuk kimia sintetis, khususnya nitrogen (Urea) dan fosfat, ibarat suplemen instan bagi tanaman. Tanaman memang bisa langsung menyerapnya untuk tumbuh subur, tetapi sisa residu asam dari pupuk ini akan tertinggal di dalam tanah.
Seiring waktu, penumpukan residu ini menurunkan tingkat pH (tanah menjadi sangat masam). Dalam kondisi masam yang ekstrem, cacing tanah menyingkir, bakteri pengurai mati, dan jamur baik tak bisa berkembang biak. Akibatnya, siklus hara alami terputus. Unsur hara makro dan mikro yang sebenarnya masih ada di dalam tanah menjadi “terkunci” dan tak bisa lagi diisap oleh akar tanaman.
Langkah Detoksifikasi
Bagi lahan yang sudah telanjur kritis, pemulihan tidak bisa dilakukan dalam semalam. Namun, beberapa teknik regeneratif berikut terbukti efektif untuk mengembalikan unsur hara tanah secara bertahap dan permanen:
1. Reintroduksi Mikrobioma dengan Pupuk Organik Cair (POC) dan Kompos Langkah pertama untuk memulihkan lahan kritis adalah mengembalikan para “pekerja” tanah, yaitu mikroorganisme. Aplikasi kompos yang matang atau penyemprotan Pupuk Organik Cair (POC) yang kaya akan Effective Microorganisms (EM) berfungsi sebagai probiotik bagi tanah. Bakteri dan mikrob inilah yang kelak akan bekerja siang-malam mengurai residu kimia dan mengubah sisa bahan organik menjadi nutrisi yang siap makan bagi tanaman.
2. Pemanfaatan Mikoriza sebagai “Akar Tambahan” Cendawan mikoriza adalah salah satu sekutu terbaik petani yang sering terlupakan. Jamur ini bersimbiosis dengan akar tanaman, membentuk jaringan hifa yang memanjang jauh menembus pori-pori tanah yang tak bisa dijangkau akar biasa. Mikoriza tak hanya membantu tanaman menyerap air dan fosfat yang terkunci, tetapi juga memproduksi glomalin—sejenis zat perekat alami yang memperbaiki struktur tanah yang rusak dan bantat menjadi lebih gembur.
3. Rotasi Tanaman dan Penggunaan Cover Crops (Tanaman Penutup) Membiarkan tanah terbuka dan terpanggang matahari setelah panen adalah bencana bagi mikrob tanah. Pertanian regeneratif sangat menyarankan penggunaan cover crops, seperti tanaman leguminosa (kacang-kacangan). Selain melindungi tanah dari erosi dan menjaga kelembapan, akar leguminosa memiliki bintil yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan menyimpannya di dalam tanah—sebuah pabrik pupuk urea alami yang bekerja secara gratis.
4. Olah Tanah Minimum (Minimum Tillage) Membajak tanah terlalu dalam dan sering justru merusak rumah alami bagi mikrob dan cacing tanah, serta melepaskan karbon ke udara. Dengan menerapkan olah tanah minimum, struktur agregat tanah akan tetap utuh, sirkulasi oksigen di dalam tanah terjaga, dan kelembapan alami lahan tidak mudah menguap.
Investasi Jangka Panjang untuk Masa Depan
Beralih ke pertanian regeneratif memang membutuhkan kesabaran. Pada musim pertama atau kedua, hasil panen mungkin belum menunjukkan lonjakan yang dramatis layaknya efek magis pupuk kimia. Namun, grafik kesehatannya akan terus naik.
Pemulihan hara lewat pendekatan regeneratif adalah sebuah investasi. Ketika struktur tanah sudah kembali sehat, gembur, dan kaya akan bahan organik, petani pada akhirnya akan menikmati efisiensi biaya produksi yang signifikan karena ketergantungan pada pupuk pabrikan akan turun drastis. Lebih dari itu, kita tidak hanya mewariskan hasil panen untuk hari ini, tetapi juga mewariskan lahan yang subur untuk generasi esok.
Silakan disunting jika ada penyesuaian angle atau ingin ditambahkan kutipan dari pakar agrikultur yang pernah kamu wawancarai sebelumnya, Han. Menurutku, visual yang cocok untuk mendampingi artikel ini di majalahtani.com adalah foto perbandingan side-by-side antara tanah yang keras/retak dengan tanah gembur yang dipenuhi cacing atau akar sehat.
Inspirasi Tani
HKTI Bidik Pasar Jakarta Perluas Penjualan Hasil Tani Daerah
Majalahtani.com, Jakarta — Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) ingin memanfaatkan besarnya kebutuhan pangan ibu kota untuk mempertemukan petani daerah dengan pasar Jakarta, dan mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming) untuk memperkuat ketahanan pangan. Ketua Harian II DPN HKTI Mulyono Machmur menilai, kebutuhan pangan Jakarta yang sebagian besar dipasok dari luar daerah dapat menjadi peluang bagi petani.
Untuk itu, ia meminta HKTI DKI Jakarta dapat mengambil peran dalam menghubungkan produksi pertanian daerah dengan kebutuhan pasar di ibu kota. Menurutnya, penguatan jaringan pemasaran antardaerah dapat memperpendek rantai pasok, sekaligus membuka pasar yang lebih luas bagi petani.
“Jakarta memiliki pasar yang besar. Ini bisa menjadi ruang bagi HKTI DKI untuk membantu mempertemukan hasil produksi petani dari daerah dengan kebutuhan pasar di Jakarta,” kata Mulyono dalam Musyawarah Daerah (Musda) DPD HKTI DKI Jakarta di Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Kamis (22/10/2026).
Beras, telur, ayam, sayuran, dan berbagai komoditas pangan lainnya menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat Jakarta yang dipasok dari luar wilayah. Mulyono bilang, HKTI DKI Jakarta dapat menjalin kerja sama dengan DPD HKTI di berbagai provinsi untuk memperluas pemasaran produk tersebut.
Mulyono memerinci, kerja sama itu dapat mencakup pemetaan komoditas unggulan daerah, kebutuhan pasar Jakarta, hingga peluang distribusi. Dengan begitu, produk pertanian daerah tidak hanya berhenti di sentra produksi, tetapi dapat masuk ke pasar dan tertata.
Ia mengungkapkan, salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan adalah pasar bunga di Jakarta. Selain memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan, komoditas tersebut dapat menjadi contoh bagaimana pasar ibu kota dapat menyerap produk pertanian dan hortikultura dari berbagai daerah.
Di sisi lain, penguatan ketahanan pangan Jakarta tidak cukup hanya mengandalkan pasokan dari luar wilayah. Mulyono menuturkan, lahan tidur dan ruang terbatas di kawasan permukiman juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pertanian perkotaan.
Upaya ini, lanjutnya, perlu mencakup pengelolaan pangan dari produksi hingga konsumsi, termasuk penanganan sampah makanan. Tingginya aktivitas konsumsi masyarakat perkotaan membuat pengurangan pangan terbuang menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam penguatan ketahanan pangan.
“Swasembada pangan di Jakarta tidak berhenti pada bagaimana menghasilkan pangan. Ada subsistem konsumsi dan subsistem sampah yang juga harus diperhatikan, termasuk persoalan sampah makanan,” terang Mulyono.
Pengembangan urban farming, karena itu, perlu disertai edukasi konsumsi pangan dan pengurangan food waste. Dengan demikian, upaya memperkuat ketahanan pangan tidak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, tetapi juga pada pemanfaatan pangan secara lebih efisien.
Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Syafrin Liputo menambahkan, terdapat sekitar 177 lokasi di wilayahnya yang dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan perkotaan. Potensi itu, menurutnya, masih dapat dioptimalkan melalui pengelolaan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di sisi lain, HKTI dapat mendukung pengembangan lokasi-lokasi tersebut melalui pendampingan kelompok tani perkotaan, mulai dari pengelolaan lahan, budidaya, pemilihan komoditas, hingga pemasaran hasil panen. Pendampingan juga dapat mempertemukan kelompok tani dengan pemerintah dan pelaku usaha untuk mengembangkan pertanian sesuai dengan kondisi Jakarta.
Nuchbatillah Prioritaskan Urban Farming dan Akses Pasar
Penguatan pertanian perkotaan dan pemasaran hasil tani daerah jadi bagian dari agenda kepengurusan baru HKTI DKI Jakarta Nuchbatillah. Anggota DPRD DKI Jakarta ini terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD HKTI DKI Jakarta periode 2026–2031 dalam Musda ini.
Nuchbatillah menegaskan, kepengurusan baru akan berfokus pada tiga agenda, yakni pengembangan urban farming, pemanfaatan lahan tidur, dan perluasan akses pasar bagi petani.
“HKTI DKI harus hadir dengan kerja yang konkret. Kita ingin lahan-lahan yang masih bisa dimanfaatkan dapat produktif, kelompok tani perkotaan mendapat pendampingan, dan hasil pertanian memiliki akses pasar,” ucap Nuchbatillah.
Ia mengatakan, pengembangan pertanian perkotaan tidak dapat dilakukan sendiri oleh organisasi. Karena itu, HKTI DKI akan membuka ruang sinergi dengan Pemprov DKI Jakarta, pemerintah kota, kelompok tani, pelaku usaha, hingga jaringan HKTI di daerah.
Menurut Nuchbatillah, posisi Jakarta sebagai pusat ekonomi sekaligus pasar dengan kebutuhan pangan yang tinggi harus dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan antara petani dan konsumen.
“Jakarta bukan hanya tempat konsumsi. Kita ingin Jakarta juga menjadi bagian dari ekosistem pertanian yang memberi nilai tambah bagi petani, baik melalui produksi perkotaan maupun melalui penyerapan produk dari daerah,” pungkasnya.
Inspirasi Tani
Dua Perempuan Indonesia Masuk Daftar 100 Women Heroes FAO, Ini Kiprahnya
Majalahtani.com, Roma — Dua perempuan Indonesia, Istiqamah dari Aceh dan Rulyantina dari Banten, masuk dalam daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development yang diluncurkan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO). Penghargaan ini merupakan bagian dari inisiatif FAO untuk memperingati Tahun Internasional Perempuan Petani 2026, sekaligus bertepatan dengan Hari Perempuan Perdesaan Internasional yang diperingati setiap 15 Oktober.
Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu mengemukakan, perempuan sangat berperan penting dalam berbagai bidang, mulai dari pertanian dan kewirausahaan hingga penelitian, pendidikan, dan kepemimpinan komunitas. Kontribusi tersebut turut menjaga keanekaragaman hayati, mendorong inovasi, serta memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi kelaparan, kemiskinan, dan perubahan iklim.
“Di berbagai desa dan kota, pegunungan dan pesisir, hutan dan ladang, Anda melakukan hal-hal luar biasa,” kata Qu saat seremoni penghargaan 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development, di kantor pusat FAO, Roma, Italia, dikutip Majalahtani.com, Jumat (16/10/2026).
Istiqamah dan Rulyantina mendapat pengakuan atas kontribusi dalam pengembangan pertanian, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi masyarakat pedesaan. Keduanya patut berbangga, sebab berhasil terpilih dari 609 nominasi yang diajukan 131 negara anggota FAO untuk masuk dalam daftar 100 perempuan yang dinilai berkontribusi bagi sistem agrifood dan pembangunan pedesaan.
Istiqamah aktif mendampingi petani kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh. Melalui koperasi yang beranggotakan 980 orang dan menaungi lebih dari 1.200 hektare kebun kopi, ia memperjuangkan kepentingan jutaan petani kopi skala kecil, yang sebagian besar di antaranya adalah perempuan.

Istiqomah aktif mendampingi petani kopi di Aceh/Foto: Dok. FAO
Istiqamah mengungkapkan, koperasi ini aktif mendorong produksi kopi berkelanjutan berbasis agroforestri, sekaligus mengedepankan konservasi serta partisipasi yang adil dan inklusif dalam rantai nilai kopi global, terutama bagi perempuan. Ia pun berkeyakinan pendekatan ini juga dapat diterapkan di wilayah lain, asalkan didukung oleh kebijakan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
“Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai pekerja pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan dalam rantai pasok kopi, sangat penting,” tuturnya.
Istiqomah berpesan, petani perempuan membutuhkan akses yang lebih luas dan setara terhadap tiga hal utama. Pertama, pelatihan dan teknologi yang sesuai. Kedua, akses terhadap pembiayaan, pasar yang inklusif, dan perlindungan sosial. Ketiga, pengakuan atas peran formal mereka dalam kelembagaan petani.
“Perempuan juga mendesak dukungan untuk menghadapi perubahan iklim melalui praktik pertanian ramah lingkungan, supaya produktivitas dan kesejahteraan kami tetap terjaga,” tegasnya.
Perempuan Indonesia lainnya yang masuk daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development adalah Rulyantina dari Banten. Ia mengembangkan usaha berbasis talas beneng dengan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah. Usaha tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang kerja dan sumber pendapatan bagi perempuan di komunitasnya, termasuk ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Rulyantina ingin perempuan di pedesaan memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, pengembangan komoditas lokal dapat menciptakan peluang usaha sekaligus mendorong kemandirian ekonomi perempuan dan mendukung keluarga mereka.
“Saya ingin membantu perempuan, terutama ibu rumah tangga di komunitas saya, memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah untuk bekerja,” ujar Rulyantina.

Rulyantina, petani dan pelaku usaha olahan talas beneng asal Banten/Foto: Dok. FAO
Rulyantina berharap, kiprahnya dapat mendorong pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi komoditas lokal dengan membuka akses bagi petani perempuan terhadap pelatihan, permodalan, teknologi, dan pasar. Ia menambahkan, pengalaman perempuan petani perlu menjadi pertimbangan dalam merancang program pertanian agar dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Akses dan peluang yang memadai, menurutnya, dapat membantu perempuan mengembangkan usaha secara lebih mandiri dan berkelanjutan.
Pengakuan terhadap Istiqamah dan Rulyantina juga menyoroti tantangan kesenjangan gender di sektor pertanian. FAO mencatat perempuan mencakup sekitar 41 persen tenaga kerja sistem agrifood dunia, tetapi masih menghadapi ketimpangan akses terhadap sumber daya dan peluang ekonomi. Perempuan juga memperoleh rata-rata 82 sen untuk setiap 1 dolar AS upah yang diterima laki-laki dalam pekerjaan bergaji di sektor pertanian.
FAO memperkirakan, penutupan kesenjangan gender dalam produktivitas lahan dan upah di sektor agrifood berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) global hingga 1 triliun dolar AS serta mengurangi jumlah penduduk yang mengalami kerawanan pangan sebanyak 45 juta orang.
-
Analisis Pasar7 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria9 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria9 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Data Pangan6 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
-
Inspirasi Tani4 bulan agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Teknologi Tani4 bulan agoMengenal PM-AAS: Strategi Mentan Amran Lipat Gandakan Populasi Tanaman dan Hasil Panen
-
Agripreneurship2 bulan agoAchmad Dahlan: Dari Pemuda Desa Lumajang, Menatap Dunia Lewat Rempah
-
Lensa Agraria8 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
