Inspirasi Tani
Niya dan Mimpi Besar dari Pesisir: Membangun Ekosistem yang Mengubah Nasib Nelayan & Perempuan
Majalahtani.com – Di sebuah dapur produksi sederhana di Magelang, aroma ikan yang baru diolah memenuhi ruangan. Di atas meja, potongan fillet ikan berubah menjadi berbagai produk pangan beku yang siap dikirim ke berbagai kota. Tak jauh dari sana, beberapa perempuan sibuk membentuk adonan, sementara telepon genggam di sudut ruangan terus berbunyi menerima pesanan.
Di balik aktivitas itu berdiri seorang perempuan muda bernama Aulia Rahmawati Tsaniya. Sekilas, usahanya tampak seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pangan pada umumnya. Menjual makanan berbahan ikan, melayani pelanggan, dan mengembangkan produk baru. Namun ketika berbincang di ujung telepon dengannya, terlihat jelas bahwa semua itu hanyalah bagian kecil dari mimpi yang jauh lebih besar.
Bagi perempuan akrab disapa Niya, menjual makanan bukanlah tujuan akhir. Ia sesungguhnya sedang membangun sebuah ekosistem yang menghubungkan laut, nelayan, perempuan pesisir, anak-anak, pendidikan, hingga meja makan keluarga Indonesia.
Hari ini ekosistem itu bertumpu pada tiga pilar utama: Inafish, Wavemakers, dan Foodlink. Tiga nama berbeda, tetapi memiliki satu benang merah yang sama yaitu memberdayakan manusia melalui pangan.
Gagasan besar itu tidak lahir dalam semalam. Di balik ketiga ekosistem tersebut tersimpan perjalanan panjang yang berawal dari rasa penasaran. Sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia gemar membaca berbagai inovasi pangan dan membayangkan bagaimana sebuah produk sederhana bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Ketertarikan itu terus tumbuh hingga akhirnya membawanya memilih pendidikan tinggi di bidang Ilmu dan teknologi pangan.
“Jadi SMP itu sudah mulai kayak selalu riset tentang pangan gitu. Aku ingin selalu menciptakan produk-produk pangan yang memang berkaitan sama inovasi gitu yang bermanfaat untuk konsumen,” ujarnya kepada Majalah Tani.
Di kampus, Niya juga aktif mengikuti berbagai kompetisi riset hingga lomba bisnis dalam bidang Inovasi Pangan. Dari sana muncul satu kesadaran penting. Indonesia tidak kekurangan ikan, tapi yang seringkali kurang adalah inovasi. Bagaimana ikan bisa lebih mudah diterima masyarakat. Bagaimana nelayan memperoleh nilai tambah. Dan bagaimana seluruh rantai pasok mampu memberikan kesejahteraan yang lebih baik.
Inafish: Membuat Orang yang Tidak Suka Ikan Menjadi Suka
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian melahirkan langkah pertama dengan memulai membangun brand Inafish pada periode 2020. Inafish lahir bukan sekadar produsen frozen food.
Tetapi Niya ingin mencoba mengubah cara masyarakat menikmati ikan. Target utamanya adalah keluarga muda, terutama ibu-ibu yang ingin memenuhi kebutuhan gizi anak tanpa harus menghadapi duri ikan atau aroma amis yang sering membuat anak menolak makan.
“Inafish itu aku cuma (ingin) satu sih sebenarnya. Aku ingin bisa menciptakan produk perikanan yang terjangkau sama masyarakat dan kayak orang-orang enggak suka makan ikan jadi makan ikan,” ujarnya wanita lulusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gajah Mada tersebut.
Produk-produk yang dibuat Inafish tanpa bahan pengawet dengan kandungan ikan yang tinggi. Fokusnya bukan hanya rasa, tetapi juga kandungan gizi.
Niya menyebut salah satu produk yang menjadi ciri khas adalah Fish Bubble Potato, olahan ikan dengan kentang dan isian keju yang lembut. Bentuknya menarik, teksturnya ramah untuk anak-anak, bahkan kini banyak digunakan sebagai makanan pendamping untuk balita. Selain itu, terdapat produk seperti kaki naga dan berbagai frozen food lain yang semakin dikenal pasar.
“Kalau untuk pelanggan kita itu lebih banyak di kota-kota besar kayak di Semarang, Yogyakarta,Jakarta, sama Surabaya itu beberapa customer ambil dari kita,” ujar dia.
Namun keberhasilan produk bukanlah pencapaian yang paling membanggakan bagi Niya. Paling berkesan justru cerita dari para pelanggan. Di mana ada anak yang sebelumnya tidak pernah mau makan ikan kini justru menjadikan produk Inafish sebagai makanan favorit.
Ada pula orang tua yang bercerita kondisi gizi anak mereka membaik setelah rutin mengkonsumsi produk berbahan ikan. Bagi Niya, cerita-cerita semacam itu jauh lebih bernilai daripada sekadar angka penjualan.
Memberi Nilai Tambah Sejak Dari Laut
Dampak yang ingin diciptakan tidak berhenti di tangan konsumen. Niya meyakini perubahan harus dimulai jauh sebelum produk hadir di rak-rak penjualan, yakni sejak bahan baku masih berada di laut dan menjadi sumber penghidupan para nelayan. Dari keyakinan itulah ia membangun rantai nilai yang memberi manfaat bagi semua pihak, dari hulu hingga hilir.
“Sebenarnya mimpiku itu sampai di hulu pun aku bisa memberdayakan nelayan dan juga perempuan-perempuan pesisir,” kata Niya.
Karena itulah Inafish membeli ikan langsung dari nelayan. Inafish dimulai dengan bekerja sama dengan nelayan dan perempuan-perempuan pesisir di Jepara. Di sana terdapat jenis ikan yang jumlahnya melimpah tetapi kurang memiliki nilai ekonomi tinggi dibandingkan jenis ikan populer lainnya.
Alih-alih mengikuti pasar yang menggunakan bahan baku tertentu, Niya memilih memanfaatkan ikan yang melimpah tersebut. Keputusan itu bukan sekadar soal efisiensi. Ia ingin membantu meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan.
Meski begitu, perjalanannya tentu tidak selalu mulus. Pada tahap awal ia sempat menghadapi kendala produksi karena jarak yang cukup jauh antara lokasi nelayan dan tempat produksi.
Akhirnya lahirlah sistem baru. Perempuan-perempuan di wilayah pesisir pada akhirnya ikut membantu memisahkan daging ikan dari tulang, kemudian mengirimkannya dalam bentuk siap olah ke Magelang.
Dengan cara itu, rantai nilai bertambah. Nelayan memperoleh pasar. Perempuan memperoleh tambahan penghasilan. Sementara Inafish mendapatkan bahan baku berkualitas. Inilah yang dimaksud Niya sebagai pemberdayaan dari hulu.
“Jadi emang fungsinya Inafish ini tuh aku emang pengennya tuh di hulu ada pemberdayaan dan ada proses juga pengolahan untuk memenuhi gizi, kayak gitu,” jelas dia.
Wavemakers: Ketika Bisnis Saja Tidak Cukup
Meski Inafish terus berkembang, Niya menyadari satu hal. Tidak semua persoalan nelayan bisa diselesaikan oleh bisnis. Ada masalah pendidikan, masalah lingkungan dan persoalan sosial. Semuanya saling berkaitan.
Kesadaran itu melahirkan Wavemakers. Sebuah gerakan sosial yang berfokus pada masyarakat pesisir sejak September 2024. Nama Wavemakers dipilih bukan tanpa alasan. Gelombang tidak pernah berhenti bergerak. Begitu pula pada perubahan.
“Selama terjun ke masyarakat pesisir, aku melihat masih banyak ruang untuk pemberdayaan nelayan dan keluarganya. Pengalaman itu yang kemudian menjadi alasan aku terus bergerak melalui Wavemakers,” ungkap Niya.

Niya berharap setiap program kecil mampu menciptakan gelombang perubahan yang lebih besar. Selama berkuliah di perikanan, ia berkali-kali turun langsung ke kampung nelayan. Ia melihat kehidupan masyarakat pesisir dari dekat.
Permasalahannya sama. Mulai dari anak-anak yang kesulitan mengakses pendidikan, keluarga nelayan yang belum memiliki kesempatan berkembang serta lingkungan pesisir yang semakin tertekan oleh sampah. Semua pengalaman itu membentuk keyakinannya bahwa perubahan harus dilakukan secara menyeluruh.
Karena itu Wavemakers dibangun dengan tiga fokus utama. Pertama adalah pendidikan. Kedua lingkungan. Ketiga pemberdayaan ekonomi.
Salah satu impian terbesar Niya adalah menghadirkan beasiswa bagi anak-anak nelayan. Bukan sekadar membantu mereka masuk sekolah. Tetapi mendampingi hingga memiliki karier yang lebih baik. Karena menurutnya, kemiskinan di wilayah pesisir sering kali diwariskan bukan karena kurang bekerja keras, melainkan karena akses terhadap pendidikan yang terbatas.
“Jadi kita pikirkan dari pendidikan itu untuk anak-anak nelayannya ya, karena kita sebenarnya ingin banget bisa memberikan beasiswa untuk anak-anak nelayan sampai dengan ke karir,” ungkap Niya.
Melalui Wavemakers, ia mulai membangun berbagai kegiatan pendidikan nonformal di kawasan pesisir seperti Cilincing dan beberapa wilayah lain. Anak-anak memperoleh ruang belajar, membaca, dan mengembangkan diri. Baginya, perubahan sosial selalu dimulai dari pengetahuan.
Menjaga Laut Berarti Menjaga Masa Depan
Bekerja bersama nelayan membuat Niya memahami satu kenyataan. Masalah lingkungan di pesisir tidak pernah berdiri sendiri. Sampah yang dibuang jauh dari laut pada akhirnya akan bermuara ke pantai. Nelayanlah yang pertama kali merasakan dampaknya.
Karena itu Wavemakers juga aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan, termasuk penanaman mangrove dan edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

Ia percaya laut bukan sekadar sumber penghasilan. Laut adalah rumah. Jika rumah itu rusak, maka seluruh kehidupan di dalamnya ikut terancam.
Keyakinan itulah yang kemudian membentuk cara Niya membangun seluruh ekosistem usahanya. Baginya, menjaga laut saja tidak cukup. Masyarakat yang hidup di sekitarnya juga harus tumbuh dan memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.
Karena itu, perhatian Niya tidak berhenti pada nelayan, tetapi juga menjangkau perempuan-perempuan pesisir yang selama ini menjadi penopang keluarga sekaligus roda ekonomi lokal.
“Kalau yang kami mungkin menjadi tertarik itu sebenarnya dari pemberdayaan perempuannya gitu, yang mana ibu-ibu nelayan ini ternyata itu segitu minimnya pengetahuan tentang pengelolaan ikan,” kata dia.
Karena itu pemberdayaan perempuan menjadi fokus penting dalam seluruh ekosistem yang dibangun Niya. Melalui berbagai pelatihan, perempuan diperkenalkan pada teknik pengolahan ikan, keamanan pangan, hingga peluang usaha.
Harapannya sederhana. Ikan tidak hanya dijual dalam bentuk mentah. Tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah. Dengan demikian pendapatan keluarga meningkat tanpa harus menambah hasil tangkapan.
“Kita pengen banget punya kayak semacam hub atau pemberdayaan dari wilayah pesisirnya sampai akhirnya berdampak ke bisnisnya kayak gitu,” terang dia.
Gagasan membangun ekosistem tersebut tidak berhenti pada pemberdayaan ekonomi. Niya menyadari bahwa perubahan yang berkelanjutan juga membutuhkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Foodlink Hadir Sebagai Ruang Edukasi
Pengetahuan, keterampilan, dan akses terhadap informasi menjadi bekal penting agar masyarakat pesisir mampu terus berkembang secara mandiri. Dari kebutuhan itulah Foodlink kemudian lahir.
Jika Inafish menjadi mesin bisnis dan Wavemakers menjadi gerakan sosial, maka Foodlink hadir sebagai ruang edukasi. Niya percaya bahwa pengetahuan tentang pangan tidak boleh berhenti di ruang kuliah atau laboratorium. Pengetahuan harus sampai kepada masyarakat.
“Jadi kita tuh pengen, kita tuh bisa menjadi platform untuk edukasi baik. Dari sisi edukasi untuk keseharian,” imbuh dia.

Melalui Foodlink, masyarakat dapat belajar berbagai hal. Mulai dari pengolahan hasil pangan, keamanan pangan, fermentasi, hingga bagaimana membangun bisnis berbasis pangan lokal.
Ia memanfaatkan jejaring akademisi, praktisi, hingga dosen yang dikenalnya untuk berbagi ilmu kepada masyarakat. Karena baginya, edukasi adalah investasi jangka panjang. Semakin banyak orang memahami pangan, semakin kuat pula sistem pangan Indonesia.
“Jadi itu aku manfaatkan untuk kita membangun si platform ini,” kata dia.
Dari seluruh ekosistem tersebut, mimpi Niya sederhana. Ia hanya ingin apa yang sedang dibangunnya benar-benar memberi dampak nyata. “Tapi yang jelas aku inginkan itu apapun yang aku lakukan ini mungkin dari hal Inafish, dari Foodlink, dari Wavemakers ini bisa berdampak nyata. Walaupun itu enggak besar, tapi berdampak nyata gitu,” pungkas dia.
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Karena dampak nyata tidak selalu diukur dari seberapa besar perusahaan.
Kadang ia hadir dalam bentuk seorang anak yang akhirnya mau makan ikan. Seorang ibu pesisir yang memperoleh penghasilan tambahan. Seorang nelayan yang bisa menjual hasil tangkapannya dengan harga lebih baik. Atau seorang anak nelayan yang suatu hari berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.
Agripreneurship
Achmad Dahlan: Dari Pemuda Desa Lumajang, Menatap Dunia Lewat Rempah
Majalahtani.com – Di tengah hamparan lahan yang belum banyak dimanfaatkan di Lumajang, Jawa Timur, Achmad Dahlan melihat sesuatu yang berbeda. Bagi sebagian orang, lahan tidur mungkin sekadar tanah yang belum produktif. Namun bagi pemuda asal desa itu, lahan-lahan tersebut menyimpan peluang untuk menggerakkan ekonomi sekaligus membuka jalan baru bagi petani.
Perjalanan Achmad tidak bermula dari pusat bisnis ataupun ruang-ruang pendidikan kewirausahaan. Keterbatasan literasi mengenai dunia usaha justru membuatnya harus keluar daerah, salah satunya menuju Surabaya, untuk mencari pengalaman dan pengetahuan. Dari sana, gagasan untuk membawa anak muda masuk ke sektor agribisnis mulai tumbuh.
“Waktu itu, saya memulai langkah dengan sederhana di Lumajang. Selama ini banyak lahan tidur tidak banyak arah yang jelas, mindset kami membawa transformasi bahwa pemudah membawaagribisnis,” ujarnya kepada Majalah Tani.
Langkah awalnya dimulai dari perdagangan. Sebelum pandemi Covid-19, Achmad telah memiliki pengalaman membawa tamu dari luar negeri melalui usaha tur. Jaringan tersebut kemudian menjadi pintu masuk untuk melihat potensi komoditas Indonesia di pasar global.
Ketika pandemi datang dan aktivitas pariwisata ikut terdampak, ia mengalihkan perhatian pada perdagangan rempah. Salah satu komoditas yang kemudian menjadi fokusnya adalah cabe jawa.
Achmad melihat persoalan mendasar bukan semata-mata berada pada pasar, melainkan pada ketersediaan komoditas di tingkat hulu. Permintaan ada, tetapi produksi belum mampu mengikuti kebutuhan.
Karena itu, ia mulai membangun pola kemitraan dengan petani. Salah satu pengembangan dilakukan melalui lahan seluas delapan hektare. Model tersebut tidak berhenti pada penyediaan bibit dan pupuk, tetapi juga berupaya memberikan pendampingan kepada petani hingga pemasaran hasil panen.
Cabe jawa menjadi komoditas utama yang dikembangkan, sementara perdagangan rempah lainnya menyesuaikan dengan kebutuhan pasar ekspor.
“Untuk cabai jawa, dalam kondisi produktif, satu hektare dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp30 juta per bulan,” ujar dia.
Bagi Achmad, pengembangan agribisnis juga harus dibangun dengan standar yang dapat diterima pasar. Ia menyebut telah memperoleh sertifikasi dan lisensi dari kementerian terkait serta melakukan pembaruan sertifikasi setiap tahun.

Perjalanannya kemudian tidak berhenti pada komoditas mentah. Produk yang dikembangkan mulai diarahkan menjadi produk akhir, seperti teh dan olahan rempah. Upaya tersebut turut membawa pengakuan, termasuk penghargaan dari Pemerintah Kota Surabaya.
Ketika Kemitraan Berhadapan dengan Persoalan Tata Kelola
Gagasan memperluas budidaya cabe jawa tidak selalu berjalan mulus. Dalam pengembangan lahan di Jawa Barat, Achmad mengaku menghadapi persoalan yang membuat program kemitraan tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan.
Ia pernah mengikuti lomba petani milenial bersama sejumlah peserta dan berhasil menjadi pemenang. Meski basis usahanya berada di Jawa Timur, lahan yang didaftarkan untuk program tersebut berada di Jawa Barat.
Namun, menurut Achmad, dana yang seharusnya mendukung pengembangan pertanian justru menghadapi persoalan dalam pelaksanaannya.
“Kalaul cair dana Rp3,2 miliar dana bantuan bibit, pupuk, enggak jalan dan dibikin jatah tapi hilang, dan sekarang mengendap di bank,” ujar dia.
Persoalan tersebut kemudian berimbas pada rencana pengembangan lahan. Dari rencana awal delapan hektare, Achmad menyebut dirinya sempat mendaftarkan lahan hingga 112 hektare. Kebutuhan biaya operasional pun membesar.
“Kenapa enggak bisa jalan di 8 hektare yang di Jawa Barat, daftar 112 hektare pupuk dari Lumajang, abis 2 miliar untuk operasional, karna langka komoditasnya sehingga harus tanam dan disisihkan dananya,” ujar dia.
Di sisi lain, ia tetap mempertahankan produksi dari lahan yang dikelola sendiri. Sebagian proses masih dilakukan dengan cara tradisional sembari menunggu dukungan investor untuk beralih ke sistem pertanian yang lebih modern.
Dari Hulu hingga Produk Jadi
Model bisnis yang dibangun Achmad perlahan bergerak dari hulu ke hilir. Ia tidak hanya ingin menjadi pedagang komoditas, tetapi juga membangun rantai pasok yang mencakup budidaya, pengolahan, hingga ekspor.
Ia menyebut pernah melakukan kerja sama atau penandatanganan nota kesepahaman dengan sejumlah pihak, termasuk Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, dan Bank Jatim untuk mempercepat akses ekspor.
Skema pembiayaan bagi petani juga mulai dibangun. Hasil panen menjadi salah satu dasar dalam proses pembuktian kepada lembaga pembiayaan. Untuk mengantisipasi risiko gagal panen, kerja sama dengan perusahaan asuransi juga pernah dilakukan. Namun, tantangan pembiayaan masih menjadi salah satu persoalan terbesar.
“Menurut saya, kendala sejak awal berdiri hingga sekarang adalah kami masih berada di sektor non-bankable. Mungkin karena model bisnis kami belum sepenuhnya cocok dengan sistem perbankan,” ucap dia.
Bagi usaha pertanian, persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena siklus tanam dan panen membutuhkan waktu. Berbeda dengan bisnis perdagangan yang dapat berputar lebih cepat, pertanian membutuhkan kesabaran dan modal awal yang relatif besar.
Achmad kini menawarkan pengembangan lahan seluas 18,5 hektare dengan kebutuhan investasi sekitar Rp38 miliar. Lahan tersebut diharapkan menjadi tahap awal untuk mengembangkan sistem modern farming, sebelum diperluas ke 100 hektare hingga target jangka panjang 1.200 hektare.
“Yang 18,5 hektare untuk ditawarkan ke investor 40% saham jadi modern farming, kenapa pemanfaaatan lahan, setelah 18 hektare, kemudian 100 hektare, dan 1.200 hektare,” ungkap dia.
Modern Farming dan Masa Depan Petani
Modern farming bagi Achmad bukan sekadar penggunaan mesin atau teknologi di lahan. Sistem tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus membuat pertanian lebih menarik bagi generasi muda.
Ia melihat masih adanya kesenjangan informasi antara program yang dirancang di tingkat pusat dengan implementasinya di daerah.
“Saat ini modern farming sebenarnya sudah mulai dikenal, tetapi penerapannya di daerah masih minim. Program dari pemerintah pusat sebenarnya bagus, tetapi informasi dan implementasinya belum sepenuhnya sampai ke daerah,” ungkap dia.
Menurutnya, investasi awal memang besar. Namun, tanaman cabe jawa memiliki karakteristik yang memungkinkan lahan menghasilkan dalam jangka panjang. “Beban biaya besar di depan, sekali tanam untuk 40 tahun, panennya bisa 2 minggu atau sebulan sekali,” ungkap dia.
Transformasi tersebut juga diyakini dapat memberi dampak langsung terhadap masyarakat desa. Rantai usaha yang dimulai dari budidaya, pemisahan hasil, pengolahan, hingga ekspor membuka lapangan kerja baru.
Achmad menyebut tenaga kerja desa dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp80 ribu hingga Rp150 ribu per hari, tergantung jenis pekerjaan dan aktivitasnya. “Pendapatan 800 ribu, dengan modern farming bisa mendekati gaji UMKM,” imbuh dia.
Dengan pendekatan tersebut, agribisnis tidak hanya dilihat sebagai aktivitas produksi pangan, tetapi juga sebagai ekosistem ekonomi yang menghubungkan petani, tenaga kerja, UMKM, pengolah, dan pasar internasional.
Cabe Jawa: Komoditas Lama, Pasar Baru
Cabe jawa menjadi salah satu komoditas yang diyakini Achmad memiliki potensi besar. Ironisnya, potensi pasar yang besar justru berhadapan dengan keterbatasan produksi di tingkat hulu.
“Pangsa pasar cabe Jawa, demand besar tapi hulu langka kenapa? Tidak banyak orang tau sosialisasi belum menyebar luas,” katanya.
Ia menyebut kebutuhan pasar mencapai sekitar 9.000 ton. Data tersebut, menurutnya, mengacu pada data Kementerian Pertanian pada 2022 dan permintaan kini terus berkembang.
Cabe jawa memiliki berbagai penggunaan, mulai dari bahan rempah hingga kebutuhan industri. Pasar Asia dan Eropa menjadi salah satu sasaran pengembangan, termasuk Jepang dan China yang memanfaatkannya sebagai bumbu makanan.
Namun, untuk masuk ke pasar tertentu, sertifikasi menjadi salah satu syarat penting. “Belum bisa tembus ke jepang karna belum ada sertifikat ekspor organik, mulai daftar dari 2022,” ujar dia.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Standar pasar global semakin ketat, sementara permintaan terhadap produk yang memiliki aspek keberlanjutan dan organik terus berkembang.
Achmad mengaku telah mengirim produk ke sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, India, Timur Tengah, dan Pakistan.
Salah satu pengalaman penting terjadi ketika produknya mendapat undangan ke Amerika Serikat. Ia menyebut nilai transaksi yang pernah dibukukan mencapai 3,2 juta dolar AS pada 2023 dan 2024, dengan fasilitasi perusahaan asal Amerika Serikat.
Kini, peluang tersebut masih terus dikembangkan. Salah satu calon mitra disebut memiliki sekitar 10 ribu gerai restoran dan kafe serta membutuhkan pasokan produk dari Indonesia secara berkelanjutan.
“Saya belum organik, tapi market saya organik jarak 5km tidak boleh semprot petistida,” ujar dia.
Menjaga Produksi di Tengah Ancaman El Nino
Perubahan iklim menjadi tantangan lain bagi sektor pertanian. Bagi Achmad, menghadapi El Nino tidak cukup hanya dengan mengandalkan teknologi, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan petani dalam merawat tanaman.
“Kita harus berkebun merawat dan memupuk dengan baik, dan alhamdulillah dari doa petani mitra bekerja sama dengan kita bisa sedikit lebih hidup enak,” ujar dia.
Ia juga mulai melihat pentingnya pendekatan berbasis data untuk mengantisipasi risiko gagal panen. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi satelit dalam skema perlindungan pertanian. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat petani tidak sepenuhnya menanggung risiko perubahan cuaca.
Di lapangan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemilik lahan. Rantai pasok rempah ikut menciptakan pekerjaan bagi masyarakat desa.
“Pendapatannya kita kasih 3 ribu rupiah untuk pemisahan produk, 80-100 ribu per hari dengan tenaga kerja di desa, impack sangat dapat diatas UMR,” katanya.
Inspirasi Tani
Pembangunan Irigasi P3A Mitra Cai Cibebek Tuntas, Distribusi Air ke Lahan Pertanian Mengalir Adil dan Efisien
Kabupaten Tangerang – Para petani di Desa Tegal Kunir Lor, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, kini merasakan dampak langsung dari tuntasnya pembangunan jaringan irigasi tersier yang dibangun Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Mitra Cai Cibebek. Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) ini berhasil mengoptimalkan distribusi air ke lahan pertanian warga secara adil dan efisien.
Pembangunan saluran irigasi pada tahun anggaran 2026 tersebut menjadi solusi atas permasalahan pasokan air yang sebelumnya kerap terkendala. Lewat pembenahan jaringan tersebut, efisiensi penyaluran air ke petak-petak sawah meningkat signifikan.
Ketua P3A Mitra Cai Cibebek, Saepullah, menegaskan bahwa keberadaan program pembangunan irigasi ini sangat krusial bagi keberlangsungan petanian.
“Program ini sangat membantu sekali bagi kami selaku petani. Sebab, dengan terbangunnya jaringan irigasi, air mengalir secara merata, dan pasokan air dari sumber utama sampai ke lahan-lahan pertanian warga mengalir secara adil dan efisien,” ujar Saepullah dalam keterangan tertulis.
Pembangunan irigasi ini diharapkan mampu mewujudkan ketahanan pangan lokal dengan peningkatan produktivitas hasil panen di Kecamatan Mauk yang ditargetkan melonjak dari kisaran 6,5 hingga 7 ton per hektare pada tahun 2025 menjadi 7,5 hingga 8 ton per hektare.
Selain memastikan pasokan air yang adil bagi petani, pola pengerjaan swakelola turut memberdayakan warga sekitar. Skema ini efektif menyerap tenaga kerja lokal yang pada akhirnya mampu mendorong roda perekonomian daerah.
Sebagai informasi, P3A Mitra Cai Cibebek adalah kelompok petani lokal tempat berkumpulnya para petani secara demokratis untuk mengelola, mengatur, dan memanfaatkan air irigasi di wilayah pedesaan atau daerah pelayanan tertentu di salah satu wilayah di Kabupaten Tangerang.
Sementara itu, P3-TGAI merupakan program Direktorat Sumber Daya Air Kementerian PU untuk merehabilitasi, meningkatkan, atau membangun jaringan irigasi dengan berbasis peran serta masyarakat petani yang dilaksanakan sendiri oleh P3A, GP3A atau IP3A secara swakelola atau tidak dikontraktualkan. Program tersebut diatur dalam payung hukum Peraturan Menteri PUPR Nomor 4 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan P3-TGAI.
Agripreneurship
Lesna Purnawan: Mengubah Bakso Menjadi Mesin Ekonomi Wonogiri
Majalahtani.com – Bagi Lesna Purnawan, bakso bukan sekadar makanan. Di balik semangkuk bakso terdapat daging, cabai, bawang, sawi, seledri, jeruk, mie, bumbu, hingga berbagai bahan pendukung lainnya. Semua dibutuhkan secara rutin oleh pedagang. Dan ketika jumlah pedagangnya mencapai ratusan bahkan ribuan, kebutuhan tersebut berubah menjadi sebuah pasar yang besar.
Dari situlah Lesna mulai melihat peluang yang lebih luas: bagaimana jika pasar yang tercipta dari bisnis bakso dan mie ayam itu juga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat Wonogiri?
Pertanyaan itu menjadi salah satu gagasan yang mendorong Lesna, bersama sejumlah tokoh lainnya, membangun Perkumpulan Pengusaha Bakso Wonogiri Mendunia — organisasi yang kini menaungi sekitar 500 pedagang bakso dan mie ayam asal Wonogiri yang teregister di berbagai daerah. Kiprah mereka telah diakui secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Wonogiri, yang pada 18 Desember 2025 mengukuhkan Wonogiri sebagai Kota Bakso.
Selama ini, para pedagang bakso asal Wonogiri telah lama dikenal sebagai bagian dari kekuatan ekonomi masyarakat perantauan. Mereka tersebar di berbagai kota, membangun warung, mengembangkan usaha, bahkan membuka cabang di banyak daerah — sering kali berjalan sendiri-sendiri tanpa saling terhubung.
Menurut Lesna, langkah pertama organisasi justru bukan soal ekonomi, melainkan soal membangun kembali rasa saling kenal di antara sesama perantau.
“Nggak mungkin kita akan berkolaborasi kalau kita belum kenal. Dengan saling mengenal, maka saling menjaga — jadi nggak mungkin saya buka warung di sini, terus ada yang buka lagi tepat di depannya,” ujar Lesna kepada Majalah Tani.
Organisasi ini kini sudah memiliki struktur pengurus inti dengan sejumlah bidang kerja: kaderisasi, pelatihan dan pengembangan SDM, digitalisasi, sertifikasi kompetensi, perizinan usaha, hingga verifikasi produk halal. Keseriusan itu turut menarik perhatian lembaga negara — pekan ini organisasi dijadwalkan beraudiensi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).
Warisan Sejak Era 1940-an
Jejak pedagang bakso Wonogiri di perantauan, kata Lesna, ternyata jauh lebih tua dari yang banyak orang kira.
“Ternyata sejak tahun 1940-an sudah ada perantau Wonogiri yang menjual bakso,” kata Lesna. Bersama timnya, ia kini tengah menyusun sebuah buku yang menelusuri sejarah panjang pedagang bakso Wonogiri — dari mana pertama kali mereka merantau, hingga bagaimana jaringan itu terus tumbuh sampai hari ini.
Program kedua organisasi adalah meningkatkan kapasitas dan kapabilitas para pedagang, dimulai dari sisi legalitas usaha: hak kekayaan intelektual (HAKI), sertifikasi halal, NIB, hingga BPPOM.
“HAKI, alhamdulillah sudah ada 10 orang lebih yang bisa. Masing-masing warung didaftarkan sendiri-sendiri, kita bantu prosesnya. Kalau lewat konsultan itu bisa 3,5 juta sampai 5 juta, ini hanya cukup bayar Rp1.800.000, ditambah untuk organisasi Rp500.000,” jelas Lesna.
Bagi pedagang kecil yang selama ini menjalankan usaha secara informal tanpa merek atau identitas hukum yang jelas, dukungan semacam ini membuka jalan agar warung mereka diakui negara — sekaligus lebih siap menghadapi persaingan yang makin luas.
Dari Pedagang Bakso ke Pasar Bagi Petani
Cara berpikir Lesna sederhana: sebelum menentukan apa yang harus diproduksi, harus lebih dulu diketahui apa yang dibutuhkan pasar.
Jika jumlah pedagang sudah terdata, kebutuhan mereka bisa dihitung — berapa kebutuhan daging, cabai, jeruk, sawi, seledri, bawang merah, bawang putih, hingga merica. Dari pemetaan itulah Lesna melihat peluang produksi yang bisa dikembangkan langsung oleh masyarakat Wonogiri.
“Kalau sudah ketahuan kebutuhan paling besar itu apa, daripada kita beli ke luar, mending yang bisa diproduksi sendiri, diproduksi sendiri. Ekonominya jadi muter di Wonogiri,” kata Lesna.
Salah satu gagasan yang tengah ia pikirkan adalah membagikan bibit jeruk kepada ibu-ibu di kampung yang suaminya merantau berjualan bakso, untuk ditanam di pekarangan rumah.
“Kalau kita punya bibitnya, kita bagi ke ibu-ibu di kampung. Suaminya merantau jualan bakso, istrinya kita kasih bibit jeruk untuk ditanam di pekarangan. Jeruk itu cepat, satu pohon bisa panen 10 sampai 20 kilo,” ujarnya.
Lesna menegaskan, gagasan ekonomi sirkular ini masih berada pada tahap wacana dan kajian awal, belum menjadi program yang terealisasi. Ia berharap dapat menggandeng periset untuk memetakan kebutuhan riil para pedagang secara lebih terukur, sebelum mengajukan dukungan program ke pemerintah pusat — tanpa harus membebani anggaran daerah.
Di luar urusan pasar dan produksi, organisasi juga mendorong perlindungan sosial bagi pedagang bakso yang sebagian besar bekerja di sektor informal. Perkumpulan ini kini menjadi mitra resmi BPJS Ketenagakerjaan sebagai agen Perisai (Penggerak Jaminan Sosial Indonesia).
“Kita edukasi dan dorong teman-teman pedagang bakso yang pekerja informal supaya punya perlindungan jaminan sosial. Hanya bayar Rp16.000 sampai Rp38.000, mereka dapat jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian. Belum daftar tiga bulan, sudah ada yang meninggal dan klaimnya cair,” kata Lesna.
Tantangan Jarang Dibicarakan: Gengsi dan Rasa ?Minder
Di balik cerita sukses, Lesna juga melihat satu persoalan yang jarang terungkap: sebagian pedagang yang sudah berhasil justru enggan bergaul dan bergabung dalam organisasi.
“Yang sudah berhasil itu kadang malah malu bergaul, biarpun ekonominya sudah naik, sudah punya mobil. Sebaliknya, yang belum berhasil juga isin, minder ketemu orang yang sudah berhasil,” jelasnya.
Lesna juga menemukan pola menarik soal siapa yang lebih dulu terjun total ke bisnis bakso.
“Orang yang terlalu banyak pengetahuan itu malah banyak berpikir, akhirnya nggak jadi-jadi jualan. Yang penting jualan, jualan aja — rata-rata yang berhasil justru pendidikannya SMA. Yang kuliah, biasanya baru balik ke bakso setelah jalan lain mentok,” ujarnya.
Karena itu, salah satu peran organisasi yang menurutnya paling penting justru bukan soal modal atau pasar, melainkan membangun kembali rasa percaya diri dan kebersamaan di antara para pedagang lintas kelas ekonomi.
Sebuah semangkuk bakso mungkin terlihat sederhana. Namun di dalamnya terdapat rantai ekonomi yang panjang: petani yang menanam cabai dan sayuran, peternak yang memelihara sapi, produsen mie, pelaku UMKM, hingga pedagang yang menjualnya kepada konsumen.
Bagi Lesna Purnawan, rantai itu menyimpan peluang yang lebih besar — bukan sekadar membuat orang Wonogiri semakin banyak berdagang bakso di perantauan, melainkan membangun ekosistem agar keberhasilan mereka di perantauan juga bisa menghidupkan ekonomi di kampung halaman.
Gagasannya memang masih membutuhkan kajian dan pembuktian. Tetapi dari sebuah semangkuk bakso, Lesna sudah mulai melihat pertanyaan yang jauh lebih besar: bisakah bakso menjadi salah satu jalan untuk membuat ekonomi Wonogiri berputar lebih kuat di kampung sendiri?
Penulis: Hanif Anshori
-
Analisis Pasar5 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria7 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria7 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Inspirasi Tani2 bulan agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Lensa Agraria6 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Data Pangan4 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
-
Inspirasi Tani7 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Inspirasi Tani2 bulan agoMuhammad Imam Rahmatullah: Menjembatani Teknologi, Desa dan Masa Depan Pangan
