Ekonomi dan Bisnis
Mimpi Besar Membawa Bangflo Melantai ke Bursa
Majalahtani.com – Di tengah hiruk pikuk industri pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan, belasan tahun lalu, Handrianus Yovin Karwayu justru memupuk mimpi yang sama sekali berbeda.
Saat bekerja sebagai karyawan di perusahaan tambang sejak 2011, ia mulai menyadari bahwa dirinya tidak ingin selamanya bergantung pada dunia kerja profesional. Setiap malam selepas bekerja, ia menuliskan ide-ide bisnis, menyusun rencana, hingga memetakan peluang usaha yang suatu hari ingin ia bangun sendiri.
“Setiap malam saya bikin tulisan, kumpulkan ide. Dulu di kampus juga diajarkan soal business plan, jadi saya mulai berpikir suatu saat harus membangun bisnis daripada di Kalimantan terus,” kenangnya saat berbincang dengan Majalah Tani di ujung telepon.
Mimpi itu kemudian membawanya pulang ke Flores. Di sana, ia melihat sebuah potensi besar yang selama ini belum sepenuhnya diangkat menjadi sebuah merek kuat, yakni kopi Flores.
Dari sanalah lahir Bangflo Indonesia, sebuah perusahaan yang kini bergerak dalam perdagangan kopi dan telah menembus pasar internasional.
Namun, bagi Yovin, ekspor bukanlah garis akhir. Ia menyimpan cita-cita yang jauh lebih besar: membawa Bangflo menjadi perusahaan asal Flores pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Kita bisa jadi salah satu perusahaan dari Indonesia Timur atau dari Flores pertama yang bisa IPO (Initial Public Offering) . Kalo cita-cita gue di situ,” ungkap dia.
Nama Bangflo sendiri bukan sekadar identitas perusahaan. Di baliknya tersimpan semangat untuk membawa nama daerah asalnya ke panggung yang lebih luas. “Bangflo itu singkatan dari Banggaan Flores,” ujar Yovin.
Sekitar 2015 hingga 2016, ia mulai serius mempelajari potensi bisnis yang bisa dikembangkan dari Flores. Pilihannya akhirnya jatuh pada kopi. Keputusan tersebut semakin mantap ketika budaya minum kopi mulai berkembang pesat di berbagai kota besar Indonesia pada 2017.
Alih-alih langsung menjadi eksportir atau pedagang biji kopi, Yovin mengambil langkah yang mungkin dianggap tidak biasa. Ia memilih membangun coffee shop terlebih dahulu.
“Sebenarnya model bisnis saya dari hulu ke hilir. Tapi eksekusi pertama justru di hilir karena saya butuh branding. Coffee shop menjadi pintu masuk untuk membangun merek sekaligus test market,” katanya.
Coffee shop pertama dibangun secara sederhana di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tanggerang Selatan, Banten. Kesempatan kemudian datang ketika seorang relasi menawarkan lokasi usaha di Living World. Dari sana, Bangflo mulai dikenal sebagai brand kopi dengan identitas kuat dari Indonesia Timur.
Namun branding yang dibangun Yovin tidak berhenti pada secangkir kopi. Ia menghadirkan pameran yang memadukan kopi Flores, kain tenun, sabun berbahan kopi, hingga pertunjukan musik khas Nusa Tenggara Timur. Konsep tersebut menjadi pembeda di tengah maraknya tren produk lokal saat itu.

“Saya melihat waktu itu local brand sedang naik. Saya pikir kenapa tidak membawa identitas Flores dan Indonesia Timur sebagai konsep utama,” ujarnya.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Bangflo mulai dikenal komunitas kopi di Jakarta, mendapat perhatian berbagai media, hingga diundang dalam sejumlah kegiatan kementerian.
Tantangan Terbesar Datang dari Lingkaran Terdekat
Membangun usaha ternyata bukan hanya soal modal atau pasar. Bagi Yovin, tantangan pertama justru datang dari keluarga.
Saat memutuskan meninggalkan pekerjaan di industri batu bara yang telah memberikan penghasilan stabil, tidak semua orang memahami pilihannya. Di lingkungan tempat ia berasal, profesi pegawai negeri atau pekerja kantoran masih dianggap sebagai simbol keberhasilan.
“Tantangan terbesar justru datang dari lingkaran terkecil, yaitu diri sendiri dan keluarga,” ujarnya.
Ia memahami kegelisahan orang tuanya. Bagi sebagian besar masyarakat Flores, menjadi pengusaha masih belum menjadi pilihan utama. Apalagi usaha yang dibangun hanya berawal dari menjual kopi. Namun keraguan itu tidak menyurutkan langkahnya. Ia percaya, jika dikelola dengan benar, kopi Flores memiliki masa depan yang sangat besar.
Ia bercerita, Pandemi Covid-19 menjadi salah satu fase paling menentukan dalam perjalanan Bangflo. Saat itu, sebagian besar gerai kopi yang dimilikinya berada di pusat perbelanjaan dan kawasan kampus. Pembatasan aktivitas membuat operasional bisnis praktis terganggu.
Alih-alih bertahan di model bisnis lama, Yovin memilih mempercepat rencana yang sebenarnya telah ia susun sejak awal, yakni memperkuat bisnis dari sisi hulu. “Sebenarnya model bisnis saya memang dari hulu ke hilir. Saat pandemi saya mempercepat masuk ke hulunya, yaitu supply beans,” jelasnya.
Keputusan tersebut menjadi titik balik Bangflo. Perusahaan mulai fokus pada perdagangan green bean dan roasted bean untuk berbagai pasar, baik dalam maupun luar negeri.
Saat ini Bangflo memasok kebutuhan berbagai coffee shop dan roastery, terutama di Jakarta dan Jawa Timur. Di saat yang sama, pasar ekspor terus berkembang. Pengiriman perdana dilakukan ke Korea Selatan melalui jaringan pertemanan. Setelah itu, kopi Bangflo mulai masuk ke Jepang, Selandia Baru, hingga Amerika Serikat.

Kini perusahaan juga tengah menyiapkan pengiriman rutin ke pasar Eropa melalui mitra yang telah memiliki jaringan distribusi. Dengan perkembangan tersebut, omzet Bangflo kini telah berada di kisaran Rp1 miliar hingga Rp2 miliar setiap bulan.
Membangun Ekosistem Digital untuk Petani
Saat ini, Yovin tengah mengembangkan proyek yang menurutnya akan menjadi fondasi masa depan Bangflo. Ia sedang membangun sistem Enterprise Resource Planning (ERP) khusus industri kopi.
Berbekal latar belakang pendidikan teknik elektro, ia ikut terlibat dalam pengembangan sistem tersebut. Saat ini proses coding telah selesai dan ditargetkan mulai diuji bersamaan dengan musim panen berikutnya.
Menurutnya, kebutuhan pasar global kini bukan hanya kualitas produk, melainkan juga transparansi rantai pasok.”Buyer sekarang ingin tahu kopi itu ditanam siapa, lahannya di mana, sampai perjalanan komoditas itu,” ujarnya.
Melalui sistem ERP, setiap kebun kopi akan memiliki data lengkap, mulai dari luas lahan, jumlah pohon, koordinat lokasi hingga hasil produksi. Lebih jauh lagi, sistem tersebut akan mencatat seluruh transaksi penjualan petani sehingga mereka memiliki rekam jejak keuangan.
“Selama ini petani tidak punya financial record. Padahal kalau mereka punya sales record, itu bisa menjadi dasar saat mengajukan pembiayaan ke bank,” jelasnya.
Yovin menilai pencatatan tersebut akan membantu meningkatkan akses petani terhadap pembiayaan sekaligus memperkuat posisi mereka dalam rantai pasok kopi nasional.
Di sisi lain, buyer luar negeri juga dapat memantau stok secara real time melalui dashboard yang tersedia. Hal itu diyakini akan meningkatkan kepercayaan sekaligus memperkuat posisi Bangflo dalam melakukan negosiasi bisnis.
IPO Menjadi Mimpi Besar
Balik ke mimpi. Bagi banyak pelaku UMKM, mampu menembus pasar ekspor sudah menjadi pencapaian besar. Namun bagi Yovin, perjalanan Bangflo baru dimulai. Ia ingin menjadikan perusahaan yang lahir dari Flores itu tumbuh menjadi korporasi nasional dengan tata kelola modern, sistem digital yang kuat, dan mampu bersaing di pasar modal.
“Kalau cita-cita saya, Bangflo bisa menjadi salah satu perusahaan dari Flores yang IPO,” ujarnya.
Mimpi tersebut bukan sekadar tentang menghimpun modal dari publik. Lebih dari itu, IPO menjadi simbol bahwa perusahaan yang lahir dari daerah di timur Indonesia juga mampu tumbuh sejajar dengan perusahaan-perusahaan besar nasional.
Sebelum sampai ke sana, Yovin masih memiliki satu misi yang terus ia perjuangkan, yakni menjadikan Kopi Flores semakin dikenal dunia. “Saya ingin branding Kopi Flores semakin kuat sehingga market luar negeri semakin familiar dengan Kopi Flores.”
Perjalanan Bangflo mungkin masih panjang. Namun langkah yang dimulai dari secarik catatan di sebuah mess tambang kini telah berkembang menjadi perusahaan yang menembus berbagai negara.
Dari kebun-kebun kopi di Flores hingga pasar internasional, Yovin terus membuktikan bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari kota-kota besar. Kadang, ia tumbuh perlahan dari secangkir kopi, keyakinan yang tidak pernah padam, dan keberanian untuk meninggalkan zona nyaman demi membangun masa depan yang lebih besar.
Ekonomi dan Bisnis
Ekspor Olahan Tuna dan Cakalang RI ke Jepang Bebas Bea Masuk 0%
Majalahtani.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan produk olahan tuna dan cakalang Indonesia akan menikmati tarif preferensi 0% saat masuk ke pasar Jepang mulai 1 Agustus 2026. Kebijakan ini diyakini memperkuat daya saing ekspor nasional sekaligus memperluas peluang pasar bagi hasil tangkapan nelayan dan industri pengolahan ikan.
“Dalam waktu kurang dari satu minggu, tarif preferensi IJEPA 0% secara resmi dapat dimanfaatkan oleh UPI/eksportir Indonesia yang telah teregistrasi,” ujar Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Erwin Dwiyana, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta (27/7).
Kebijakan tarif preferensi 0% menurutnya akan meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global, sekaligus mendukung Program Kerja Prioritas Nasional Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) melalui peningkatan serapan hasil tangkapan nelayan, penguatan industri pengolahan ikan, dan perluasan akses pasar.
Erwin menjabarkan, sebelum pemberlakuan protokol Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), produk olahan tuna dan cakalang untuk empat kode harmonized system (HS), dikenakan tarif bea masuk umum (MFN) sebesar 9,6%. Keempat kode HS tersebut meliputi 1604.14.010 – cakalang dan bonito dalam kemasan kedap udara, 1604.14.092 – tuna dalam kemasan kedap udara, 1604.14.091 – cakalang dan bonito direbus dan dikeringkan (Katsuobushi/ikan kayu), dengan persyaratan ukuran bahan baku cakalang ≥ 30 cm, serta 1604.14.099 – tuna masak beku (Frozen Precooked Tuna).
“Ini merupakan peluang besar karena Jepang adalah pasar potensial bagi produk olahan tuna dan cakalang. Kami mendorong pelaku usaha segera memanfaatkan fasilitas ini dengan melakukan registrasi ke KKP,” kata Erwin.
KKP akan melakukan inspeksi berkala untuk memastikan kepatuhan terhadap persyaratan IJEPA, sekaligus menyiapkan registrasi tahap kedua agar semakin banyak Unit Pengolahan Ikan (UPI)/eksportir dapat menikmati fasilitas tarif preferensi tersebut.
Pada 2025, nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke Jepang mencapai USD613,65 juta, meningkat 2,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Komoditas utama yang diekspor meliputi udang (52,1%), tuna-cakalang (26,2%), dan mutiara (5,9%). Khusus terkait ekspor olahan tuna-cakalang ke Jepang yang akan memperoleh tarif preferensi 0% melalui skema IJEPA, pada 2025 meningkat 21,0% dibandingkan 2024, dengan nilai mencapai USD76,41 juta. Kondisi ini menunjukkan masih terbukanya peluang untuk terus meningkatkan ekspor produk perikanan Indonesia, khususnya komoditas tuna-cakalang.
Sejak Januari 2026, tim verifikasi dan inspeksi KKP telah melakukan penilaian administrasi dan teknis terhadap 30 UPI/eksportir calon penerima fasilitas IJEPA. Hasilnya, 11 UPI dinyatakan memenuhi persyaratan dan telah memperoleh Nomor Registrasi IJEPA, dengan lokasi usaha tersebar di Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, dan Sumatera Utara.
Pemberlakuan tarif preferensi 0% merupakan tindak lanjut ratifikasi Protokol Perubahan IJEPA melalui Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2026. KKP juga telah menyosialisasikan implementasi kebijakan tersebut kepada pelaku usaha pada 23 Juli 2026 guna memastikan fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi pelaku usaha, nelayan, serta masyarakat pesisir.
Ekonomi dan Bisnis
Kementerian UMKM dan BPOM Percepat Akses Perizinan UMK Pangan Olahan
Majalahtani.com – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat sinergi untuk mempercepat akses perizinan dan sertifikasi bagi usaha mikro dan kecil (UMK) di sektor pangan olahan melalui peluncuran program SAPA SEMESTA UMK Pangan Olahan.
Peluncuran program tersebut dilakukan oleh Menteri UMKM Maman Abdurrahman bersama Kepala BPOM Taruna Ikrar di Kantor BPOM, Jakarta, Senin (27/7/2026), sebagai langkah memperkuat daya saing dan memperluas akses pasar produk UMK yang aman, berkualitas, dan berstandar.
“Menindaklanjuti arahan Presiden untuk melayani dan mendorong tumbuh kembang UMKM Tanah Air secara optimal, kami berkolaborasi memberikan kemudahan fasilitas perizinan dan sertifikasi BPOM bagi UMK olahan pangan,” ujar Menteri UMKM, Maman Abdurrahman.
Berdasarkan Basis Data Tunggal Kementerian UMKM, terdapat lebih dari enam juta UMKM yang bergerak di sektor makanan dan minuman pada 2025. Potensi tersebut perlu didukung melalui kemudahan legalitas agar produk UMKM semakin dipercaya masyarakat dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, data BPOM menunjukkan terdapat sekitar 4,2 juta UMK di sektor pangan olahan. Namun, baru sekitar 1,6 juta pegiat usaha yang telah memiliki sertifikasi BPOM. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperluas akses legalitas bagi pelaku UMK.
Menurut Menteri Maman, percepatan perizinan merupakan bagian dari upaya pemerintah memberikan pelindungan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing UMKM.
“Kementerian UMKM menyambut baik kolaborasi bersama BPOM karena kami memiliki tanggung jawab untuk melindungi masyarakat dari risiko bahaya kesehatan pangan sekaligus memberikan kemudahan pelayanan kepada pelaku UMKM,” katanya.
Ia menegaskan, Kementerian UMKM berkomitmen menghadirkan kebijakan yang memberikan kepastian usaha, kemudahan berusaha, dan pelindungan bagi UMKM sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Melalui program SAPA SEMESTA, proses pendampingan hingga penerbitan Nomor Izin Edar (NIE) BPOM diharapkan menjadi lebih cepat, mudah, dan terintegrasi. Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi BPOM dengan Kementerian UMKM, perguruan tinggi, serta Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI).
“Kita dorong percepatan izin edar dari BPOM agar pelayanan kepada UMKM semakin maksimal. Pemberian izin edar harus dipercepat tanpa mengurangi kualitas maupun standar perizinan,” kata Menteri Maman.
Ia optimistis sinergi antara Kementerian UMKM dan BPOM akan menghadirkan keseimbangan antara aspek kesehatan masyarakat dan penguatan ekonomi, sehingga semakin banyak UMKM mampu berkembang dan menembus pasar yang lebih luas.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan program SAPA SEMESTA dirancang untuk mempermudah UMK memperoleh layanan perizinan, pendampingan pengembangan produk, serta edukasi yang dibutuhkan agar produknya memenuhi standar keamanan dan mutu.
“Melalui program SAPA SEMESTA yang dikolaborasikan dengan SAPA UMKM dari Kementerian UMKM, pelayanan kami dapat menjangkau lebih banyak UMKM melalui penerbitan izin edar, edukasi, dan berbagai bentuk asistensi lainnya,” ujar Taruna Ikrar.
Ia menegaskan, percepatan proses penerbitan izin edar tidak akan mengurangi standar pengawasan BPOM. Seluruh produk pangan olahan dan kosmetik tetap harus memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan manfaat sehingga mampu memberikan pelindungan bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk UMKM.
Dukungan terhadap kolaborasi tersebut juga disampaikan Rektor Universitas Padjadjaran Arief S. Kartasasmita dan Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman. Keduanya menilai sinergi lintas sektor akan memperkuat ekosistem UMKM, mempercepat legalisasi produk pangan olahan, serta membuka peluang yang lebih besar bagi UMKM untuk memasuki pasar domestik maupun ekspor.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Menteri UMKM dan Kepala BPOM menandatangani Nota Kesepahaman tentang Pemberdayaan UMKM di Bidang Obat Bahan Alam, Kosmetik, dan Pangan Olahan sebagai landasan penguatan kolaborasi kedua lembaga.
Sebagai bentuk nyata implementasi kerja sama, Menteri UMKM bersama Kepala BPOM juga menyerahkan secara simbolis Nomor Izin Edar (NIE) kepada pelaku UMK pangan olahan binaan 14 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPOM.
Dari total 441 UMK yang didampingi di berbagai daerah, sebanyak 182 UMK telah berhasil memperoleh Nomor Izin Edar BPOM sebagai bekal untuk meningkatkan daya saing dan memperluas akses pasar produknya.
Ekonomi dan Bisnis
Destry Damayanti Ditunjuk Jadi Pejabat Gubernur Sementara, Gantikan Perry Warjiyo
Majalahtani.com – Destry Damayanti resmi ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur Sementara menggantikan posisi Perry Warjiyo. Hal ini diputuskan dalam dalam rapat Dewan Gubernur pada Minggu, 26 Juli 2026.
“Menetapkan Deputi Gubernur Senior Saudari Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara sesuai pasal 50 ayat 2 undang-undang Bank Indonesia,” kata Destri dalam konferensi pers, Senin (27/7/2026).
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyatakan sesuai dengan Undang-Undang Bank Indonesia, jabatan Gubernur Bank Indonesia akan secara otomatis dijabat oleh Deputi Gubernur Senior yang selanjutnya akan menjalankan seluruh tugas sebagai pejabat gubernur sementara.
“Di dalam catatan yang dimaksud dengan Deputi Gubernur Senior adalah Ibu Destry Damayanti,” ucap dia.
Profil Destry Damayanti
Destry Damayanti lahir di Jakarta pada tahun 1963. Gelar Sarjana Ekonomi diraih dari Universitas Indonesia dan memperoleh gelar Master of Science dari Field of Regional Science Cornell University, New York, USA.
Destry Damayanti mengawali karier sebagai Senior Economic Adviser Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada tahun 2000-2003, peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 2005-2006, dan Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas pada tahun 2005-2011.
Kariernya berlanjut menjadi Kepala Ekonom Bank Mandiri pada tahun 2011-2015, Ketua Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN pada tahun 2014-2015 serta sebagai Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk periode 2015-2019.
Destry Damayanti resmi menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI No.74/P Tahun 2019 tanggal 29 Juli 2019 untuk periode 2019-2024, dan mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 7 Agustus 2019.
Pada Keputusan Presiden RI Nomor 74/P Tahun 2024 tanggal 10 Juli 2024 Destry Damayanti kembali ditetapkan menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia untuk periode 2024-2029, dan mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 7 Agustus 2024
-
Analisis Pasar4 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria6 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria6 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Lensa Agraria5 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Inspirasi Tani6 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Lensa Agraria5 bulan agoKejar Target Swasembada Beras, Mentan Amran Perkuat Sinergi Internal Kementan
-
Inspirasi Tani4 minggu agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Data Pangan3 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
