Connect with us

Data Pangan

Harga Unggas Mulai Pulih, Peternak Sebut Permintaan Berangsur Meningkat

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Pelaku usaha peternakan unggas mulai melihat adanya perbaikan harga di tingkat peternak setelah sebelumnya mengalami penurunan akibat melemahnya permintaan masyarakat.

Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya, Parjuni, mengatakan penurunan harga produk unggas dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi oleh sejumlah faktor musiman, di antaranya momen bulan Suro di Jawa serta penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah.

Menurutnya, kedua faktor tersebut berdampak pada penurunan permintaan, sehingga harga produk unggas di tingkat peternak ikut tertekan.

“Memang mungkin karena kemarin momen di bulan Juni yaitu Suro, kalau di Jawa kan sedikit turun, ditambah mungkin program MBG off kemarin. Jadi itu juga menjadikan demand (permintaan) dari masyarakat itu turun,” ujar Parjuni dalam dialog di salah satu televisi swasta, dikutip di Jakarta, Jumat (17/7/2026).

Parjuni mengatakan mulai ada pertumbuhan harga, meskipun masih belum mencapai Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat peternak. Ia pun berharap pemerintah dapat terus mendukung peternak unggas, misalnya dengan pengguliran program bantuan pangan berupa telur dan daging ayam karkas.

“Kemarin itu harganya (telur) Rp 17.000 sampai Rp 18.000. Sampai dengan hari ini di kisaran Rp 20.000 sampai Rp 21.000. Jadi memang ada growth naik. (Dahulu) itu kan ada program stunting. Barangkali nanti bisa dibikin pola yang sama. Jadi konsepnya (dibahas) sekarang, September aplikasi. Itu saya kira nanti akan mengatasi,” kata Parjuni.

Untuk diketahui, pada tahun 2023 dan 2024 Badan Pangan Nasional (Bapanas) sempat menugaskan ID FOOD melalui Kementerian BUMN untuk menyalurkan bantuan pangan pengentasan stunting kepada 1,4 juta keluarga masing-masing diberi 1 kilogram (kg) daging ayam dan 10 butir telur ayam per bulan. Alokasi bantuan diberikan untuk 3 bulan.

Dalam pelaksanaan bantuan pangan tersebut, pemerintah telah berkolaborasi dengan banyak peternak rakyat mandiri kecil, mikro, dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Sampai tahun 2024 tercatat telah terlaksana kemitraaan dengan total sampai 8.778 peternak yang terdiri dari 6.895 peternak ayam petelur dan 1.883 peternak ayam broiler.

Terpisah, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menerangkan rencana pengguliran kembali program bantuan pangan serupa di tahun ini masih menunggu. Rapat koordinasi terbatas (Rakortas) bidang pangan belum memutuskannya.

“(Bantuan pangan telur dan daging ayam) belum ada keputusan Rakortas. Tentu nanti kita masih perlu menunggu. Jika dimungkinkan diputuskan, (tentu) kita lakukan,” jawab Deputi Bapanas Ketut saat ditanya awak media di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta (14/7/2026).

Walakin, Ketut memastikan kondisi harga telur dan ayam broiler di tingkat peternak saat ini telah memperlihatkan tren yang bergerak positif. Tentu ini juga merupakan implikasi program MBG yang sudah mulai berjalan kembali dan terbukti memberikan stimulus pengerek harga di hulu rantai pasok pangan.

“Jadi MBG itu ada pengaruhnya, dengan (sudah) melewati bulan Suro sekaligus juga mulai masuk anak sekolah, (lalu) MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik. Nah kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita. Tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan,” jelas dia.

Berdasarkan pantauan harga Bapanas, per 16 Juli rerata harga ayam broiler secara nasional di tingkat peternak telah meningkat 5,53 persen dalam seminggu terakhir. Adapun seminggu yang lalu masih berada di Rp 20.878 per kg berat hidup. Kemudian bergerak naik pada 16 Juli menjadi Rp 22.032 per kg berat hidup.

Terpantau di Sumatera Selatan menjadi daerah dengan rerata harga ayam broiler paling rendah dengan Rp 19.500 per kg berat hidup. Sementara daerah dengan rerata harga paling tinggi adalah Riau di Rp 26.000 per kg berat hidup.

Untuk rerata harga daging ayam ras di tingkat konsumen juga mengalami kenaikan, namun terhitung masih di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan di Rp 40.000 per kg. Sementara rerata harga telur di tingkat konsumen secara nasional per 16 Juli berada di Rp37.040 atau minus 7,4 persen dari HAP.

Lebih lanjut, untuk rerata harga telur ayam di tingkat peternak secara nasional per 16 Juli telah mengalami pergerakan cukup siginifikan hingga 2,2 persen jika dibandingkan terhadap sepekan lalu. Dari Rp 22.495 per kg bergerak menjadi Rp 22.989 per kg.

Akan tetapi, rerata harga telur peternak di Sulawesi Utara telah mencapai Rp 27.067 atau melebihi HAP yang ditetapkan di Rp 26.500 per kg. Sementara di Banten masih di bawah HAP dengan rerata harga telur tingkat peternaknya di Rp 21.250 per kg.

Untuk rerata harga telur ayam ras secara nasional di tingkat konsumen juga naik tipis di Rp 27.798 per kg atau minus 7,34 persen dari HAP. Level harga tersebut patut dipahami masih di bawah HAP tingkat konsumen yang dipatok pada harga Rp 30.000 per kg.

Adapun pertumbuhan positif harga di peternak unggas tersebut diamini pula oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda. Dalam suatu dialog yang ditayangkan televisi swasta, Dirjen Agung menuturkan berkat program MBG yang telah kembali berjalan, memberi harapan kebangkitan bagi kalangan peternak.

“Untuk ayam di tingkat peternak harganya alhamdulillah per hari ini sudah Rp 22.000 dan sesuai dengan target kita. Kemudian kalau telur tadi masih sekitar Rp 22.000 juga. Memang karena dengan kembalinya beroperasi dapur-dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), ini salah satu yang tentu akan memicu peningkatan serapan,” kata Agung.

“Kalau kami justru para petani, para peternak sangat terbantu dengan adanya program MBG ini, karena ada harapan MBG ini. Dan ingat 1 dapur itu membutuhkan 1,86 ton per bulan untuk telur. Ini tentu mendorong ekonomi rakyat,” ungkap Dirjen Kementan Agung Suganda.

Data Pangan

Harga Kedelai Impor Tembus Rp13.762/Kg, Produsen Tahu Tempe Makin Terjepit

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama produksi tahu dan tempe masih berada di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP). Kondisi ini dinilai semakin menekan produsen tahu dan tempe yang mayoritas merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Direktur Akademika Center, Edy Priyono, mengatakan dari hasil pemantauan, harga kedelai impor secara nasional per 8 September 2026 tercatat rata-rata Rp13.762 per kilogram.

“Harga tersebut berada di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp12.000/kg. Tingginya harga sudah berlangsung lama, setidaknya dalam setahun terakhir,” ujar Edy, di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut membuat produsen tahu dan tempe berada dalam posisi sulit. Kenaikan biaya produksi tidak selalu dapat diikuti dengan kenaikan harga jual karena berpotensi menurunkan permintaan.

Alhasil, produsen cenderung mempertahankan harga jual dengan mengurangi ukuran produk. Kondisi tersebut pada akhirnya turut membebani konsumen.

Edy menilai pemerintah perlu mengambil langkah untuk membantu produsen tahu dan tempe sekaligus melindungi konsumen. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membuka dialog dengan para importir kedelai untuk mengetahui penyebab tingginya harga di tingkat pasar domestik.

“Importir besar jumlahnya tidak banyak, karena memerlukan modal yang kuat dan jaringan internasional, sehingga tidak sulit untuk mengajak mereka bicara,” katanya.

Menurut Edy, dialog dengan importir juga penting karena kedelai bukan komoditas yang masuk kategori larangan dan pembatasan (lartas). Dengan demikian, pengendalian pasokan dan distribusi kedelai berada di tangan pelaku usaha swasta.

Selain itu, pemerintah dapat menjajaki keterlibatan BUMN, khususnya Perum Bulog, untuk membeli kedelai dari importir besar dengan harga yang wajar.

Edy memperkirakan harga kedelai Amerika Serikat di pasar internasional saat ini sekitar US$0,47 per kilogram atau setara Rp8.442 per kilogram. Dengan asumsi margin importir sebesar 30%, Bulog dinilai berpotensi membeli kedelai dengan harga tidak lebih dari Rp11.000 per kilogram.

Kedelai tersebut selanjutnya dapat dijual kepada perajin tahu dan tempe dengan harga sesuai HAP, yakni Rp12.000 per kilogram.

Namun, Edy menyarankan distribusi kedelai melalui Bulog dilakukan secara terarah. Pasokan tersebut sebaiknya diprioritaskan ke daerah yang mencatat harga kedelai tinggi sekaligus menjadi sentra produksi tahu dan tempe.

“Daerah yang dimaksud adalah Jakarta, Jawa Barat dan Banten,” ujarnya.

Sementara itu, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur juga merupakan sentra produksi tahu dan tempe. Namun, rata-rata harga kedelai di tiga provinsi tersebut masih berada di bawah HAP sehingga penyaluran kedelai Bulog dapat dilakukan secara selektif.

Adapun wilayah lain yang mencatat harga kedelai di atas HAP dinilai tidak menjadi prioritas apabila bukan merupakan sentra produksi tahu dan tempe.

Edy juga menilai kebijakan subsidi kedelai seperti yang sebelumnya pernah disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sebaiknya tidak menjadi prioritas.

“Selain membebani keuangan negara, masih ada mekanisme lain yang lebih ‘market friendly’ sebagai pilihan kebijakan guna membantu produsen tahu/tempe dan konsumen,” jelasnya.

Dalam jangka panjang, pemerintah tetap perlu memperkuat produksi kedelai domestik. Edy mengatakan Kementerian Pertanian bersama instansi terkait harus bekerja lebih keras untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri secara signifikan.

Pasalnya, kebutuhan kedelai nasional saat ini masih sangat bergantung pada impor. Sekitar 90% kebutuhan kedelai Indonesia dipenuhi dari impor, dengan volume impor mencapai sekitar 2,5 juta ton per tahun. Mayoritas pasokan tersebut berasal dari Amerika Serikat.

Continue Reading

Data Pangan

Wamendag Pastikan Pasokan Bapok Aman dan Harga Minyakita Sesuai HET

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Kementerian Perdagangan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah serta Kementerian/Lembaga terkait untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga barang kebutuhan pokok (bapok) di daerah.

Salah satunya melalui peninjauan pasar oleh Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri bersama Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto di Pasar Nusukan, Surakarta, Jawa Tengah.

Roro menyampaikan, peninjauan ini dilakukan untuk memantau langsung rantai pasok dan dinamika harga berbagai komoditas pangan pokok, khususnya komoditas yang menjadi fokus pengawasan utama Kementerian Perdagangan, seperti Minyakita

“Pagi hari ini Kemendag bersama Wali Kota Surakarta, jajaran Pemkot, Bapanas, Satgas Pangan, Perum BULOG dan ID FOOD memantau pasokan dan stabilitas harga bahan pokok. Setelah kami cek, harga Minyakita berada di angka Rp15.700 per liter, sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Harapannya pasokan bisa selalu aman dan harga tetap terkendali melalui koordinasi intensif dengan pemerintah daerah,” ujar Roro, dikutip Kamis (10/9/2026).

Selain Minyakita, pemantauan juga dilakukan pada komoditas di bawah pengawasan Bapanas yaitu cabai rawit merah, cabai merah keriting, beras, telur, bawang merah, dan bawang putih. Harga pangan yang kita pantau relatif terkendali, meski terdapat kenaikan pada komoditas cabai rawit merah.

“Secara umum harga relatif terkendali. Tadi Wali Kota Surakarta juga menceritakan bahwa memang ada peningkatan daya beli masyarakat di Surakarta dan ini menjadi indikator yang sangat baik bagi perekonomian daerah. Tugas kita bersama adalah memastikan pasokan di pasar terus menyesuaikan kebutuhan dan daya beli masyarakat sembari menjaga angka inflasi dapat terus terkendali,” tambah Roro.

Menanggapi hal tersebut, Respati Achmad menegaskan komitmen dan kesiapan Pemerintah Kota Surakarta dalam mengawal keterjangkauan harga dan mencegah spekulasi pasar melalui koordinasi mingguan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama aparat penegak hukum.

“Untuk menjaga stabilitas harga, kami menggelar rapat koordinasi inflasi daerah setiap minggu bersama TPID, Dinas Perdagangan, instansi terkait, dan rekan-rekan Polri. Kami memastikan intervensi langsung dilakukan jika ada kerawanan pasokan atau adanya harga komoditas pokok yang di atas rata-rata pasar. Kami juga terus mengawasi agar di Surakarta tidak ada tindakan penimbunan yang menyebabkan lonjakan harga melampaui batas wajar,” tandas Respati.

Kemendag mencatat beberapa komoditas pangan nasional seperti beras, gula pasir, dan daging sapi masih memerlukan atensi khusus karena tercatat berada di atas Harga Eceran Tertinggi/Harga Acuan Pemerintah.

Untuk menekan gejolak tersebut, Perum BULOG dan BUMN Pangan lainnya, seperti PT Berdikari dan PT PPI terus mengoptimalkan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta pendistribusian daging lembu langsung ke pedagang pasar rakyat.
Tinjauan pasar ini menjadi wadah dialog antara pemerintah dan para pedagang pasar.

Salah seorang pedagang beras di Pasar Nusukan menyampaikan aspirasinya terkait ketersediaan beras premium kemasan kecil di pasar tradisional.

“Harapan saya, beras premium kemasan lima kilogram dari distributor dapat rutin dipasok kembali ke pasar tradisional dengan harga jual yang sesuai HET,” ungkap Bagus Nova. Bagus juga menyatakan apresiasinya karena Wamendag Roro berkenan turun langsung ke lapangan dan mendengarkan aspirasi kami.

Adapun harga minyak goreng curah tercatat Rp18.400/liter, Minyakita Rp15.700/liter atau sesuai HET, minyak goreng kemasan premium Rp24.000/liter, dan gula pasir Rp18.000/kg atau di atas HA Rp17.500. Kemudian, harga daging sapi tercatat Rp145.000/kg (HA: Rp140.000/kg), daging ayam ras Rp40.000/kg sesuai harga acuan, telur ayam ras Rp24.000 (HA: Rp30.000/kg).

Selain itu, bawang merah Rp28.000/kg (HA: Rp36.500–Rp41.500/kg), bawang putih Rp36.000/kg (HA: Rp38.000/kg), cabai merah besar Rp38.000/kg, cabai merah keriting Rp35.000/kg (HA: Rp37.000—Rp55.000/kg), dan cabai rawit merah Rp55.000/kg (HA: Rp40.000—Rp57.000/kg).

“Pemantauan harga secara real-time juga terus dijalankan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) menghadirkan informasi yang komprehensif dalam melihat dinamika harga bapok di berbagai daerah di Indonesia. Jika ada kendala atau lonjakan harga tidak wajar, kami akan responsif menggandeng pemerintah daerah untuk mengambil langkah penyelesaian yang tepat,” tutup Wamendag Roro.

Continue Reading

Data Pangan

Produksi Beras Januari–April 2026 Tembus 14,03 Juta Ton

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Produksi beras nasional pada Januari-April 2026 tercatat mencapai 14,03 juta ton. Berdasarkan angka tetap Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah tersebut meningkat 16.810 ton atau 0,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 14,01 juta ton.

Pertumbuhan produksi beras tersebut sejalan dengan peningkatan produksi padi. Pada periode yang sama, produksi padi mencapai 24,36 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 28.765 ton atau 0,12 persen dibandingkan Januari-April 2025 sebesar 24,33 juta ton GKG.

Peningkatan juga terjadi pada luas panen padi. BPS mencatat luas panen Januari-April 2026 mencapai 4,51 juta hektare, bertambah 19.182 hektare atau 0,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,49 juta hektare.

Angka tetap BPS tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi beras pada awal 2026 ditopang oleh penguatan produksi di tingkat hulu. Bertambahnya luas panen turut mendorong kenaikan produksi padi yang kemudian memperkuat ketersediaan bahan baku beras nasional.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan pemerintah akan terus menjaga momentum produksi tersebut dengan memastikan petani memperoleh dukungan yang diperlukan, terutama dalam menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino.

“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” tegas Amran dikutip Selasa (8/9/2026).

Berdasarkan catatan BPS, produksi beras pada Januari 2026 mencapai 1,73 juta ton, kemudian meningkat menjadi 2,88 juta ton pada Februari. Produksi mencapai 5,02 juta ton pada Maret dan 4,40 juta ton pada April. Secara kumulatif, produksi beras selama empat bulan pertama 2026 mencapai 14,03 juta ton dan tetap lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pergerakan tersebut sejalan dengan produksi padi sebagai bahan baku beras. Produksi padi tercatat sebesar 3,01 juta ton GKG pada Januari, 5,01 juta ton GKG pada Februari, 8,71 juta ton GKG pada Maret, dan 7,63 juta ton GKG pada April. Dengan demikian, produksi padi Januari-April 2026 mencapai 24,36 juta ton GKG atau meningkat 28.765 ton dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Capaian ini menjadi modal penting untuk mempertahankan produksi pada periode berikutnya, terutama ketika sektor pertanian memasuki musim kemarau dan menghadapi potensi El Nino. Kementerian Pertanian (Kementan) telah memperkuat berbagai langkah mitigasi agar keterbatasan air tidak menghambat musim tanam maupun menekan produktivitas petani.

Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah pompanisasi. Pada periode sebelumnya, pemanfaatan sekitar 100 ribu unit pompa mampu mendorong tambahan produksi sekitar 2,8 juta ton gabah di Pulau Jawa. Pada 2026, Kementan kembali menyiapkan 56 ribu unit pompa air sebagai bagian dari mitigasi kekeringan.

Upaya tersebut disertai dengan penguatan jaringan irigasi, optimalisasi embung dan perpipaan, percepatan tanam, serta pemanfaatan varietas padi yang adaptif dan tahan terhadap kekeringan. Optimalisasi sumber air juga diarahkan untuk meningkatkan indeks pertanaman, sehingga lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami dua kali dalam setahun dapat ditingkatkan menjadi tiga kali tanam.

Mentan Amran mengatakan, pengalaman menghadapi El Nino pada 2015 dan 2023 menjadi modal penting bagi Kementan untuk menyiapkan langkah antisipasi lebih dini. Intervensi dilakukan secara menyeluruh melalui pompanisasi, perbaikan irigasi, peningkatan produktivitas, dan penggunaan benih yang lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan.

“Sekarang El Nino dampaknya insyaallah kita mitigasi karena kita sudah persiapan jauh sebelumnya. Satu, pompanisasi. Dua, irigasi. Tiga, kita tingkatkan produksi. Kemudian ada benih yang tahan kekeringan,”ujar Amran.

Melalui penguatan produksi dan mitigasi dampak perubahan iklim, Kementan berupaya mempertahankan momentum positif yang tercermin dalam angka tetap BPS Januari-April 2026. Pertumbuhan produksi beras, produksi padi, dan luas panen menjadi fondasi penting untuk menjaga ketersediaan pangan nasional sekaligus memastikan kegiatan produksi dan pendapatan petani tetap terpelihara.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved