Connect with us

Data Pangan

Kemenkeu Setujui Anggaran Bantuan Pangan Senilai Rp17,52 Triliun

Published

on

Majalahtani.com – Program bantuan pangan beras tahap kedua bagi 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) alokasi Juli, Agustus, dan September telah memperoleh restu dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Usulan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) sejumlah Rp17,52 triliun selanjutnya akan diproses menjadi Surat Penetapan Satuan Anggaran Bagian Anggaran (SP SABA).

“Persetujuannya dapat 3 bulan. Anggarannya Rp 17,52 triliun dapatnya. Awalnya mau 1 bulan dahulu, tapi Kemenkeu memberikan ruang untuk langsung 3 bulan. Jadi bisa one shoot sekaligus 3 bulan,” ungkap Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta pada Selasa (28/7/2026).

Sebelumnya, dalam rapat pengendalian inflasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta (27/7/2026), sempat disampaikan bantuan pangan beras akan dimulai untuk 1 bulan alokasi terlebih dahulu mulai Agustus. Dengan penjelasan terbaru ini, Bapanas memastikan rencana bergulirnya bantuan pangan akan dilaksanakan secara 3 bulan sekaligus.

“Sebagaimana rapat di Kemenko Perekonomian sebelumnya bahwa bantuan pangan akan mulai diserahkan di bulan Agustus. Tentu selanjutnya nanti ada penugasan dari Bapak Kepala Badan Pangan Nasional ke Perum Bulog,” ujar Ketut.

Oleh karena itu, Bapanas telah mematangkan persiapan bersama Perum Bulog. Untuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di seluruh gudang Bulog dipastikan sangat memadai di angka 5,25 juta ton. Bantuan pangan tahap kedua pun dapat segera digeber.

“Tolong Bulog sudah bersiap untuk digeber, sehingga langkah-langkah ini, mudah-mudahan bisa juga segera mengendalikan harga beras di bulan Agustus nantinya,” tutur Deputi Bapanas Ketut.

Lebih lanjut, program prorakyat bantuan pangan yang merupakan salah satu direktif Presiden Prabowo Subianto direncanakan mulai salur secara one shoot atau secara sekaligus pada Agustus mendatang. Total beras sebanyak 997,2 ribu ton akan digelontorkan kepada 33,24 juta KPM masing-masing 10 kilogram (kg) dengan alokasi 3 bulan.

Sebagai komparasi, alokasi program bantuan pangan beras di tahun 2026 akan lebih banyak dibandingkan tahun 2025. Program bantuan pangan pada tahun sebelumnya telah terlaksana untuk 4 bulan alokasi, Juni-Juli dan Oktober-November. Sementara untuk pelaksanaan program bantuan pangan di tahun 2026 ini setidaknya akan dijalankan sebanyak 5 bulan alokasi.

Bapanas optimis dengan bantuan pangan yang dimasifkan hampir 1 juta ton banyaknya akan memberikan faktor penekan harga beras di pasaran. Ketika harga beras di tingkat konsumen mulai stabil, maka tingkat inflasi pun juga akan dapat lebih terkendali.

“Bayangkan 33 juta KPM kali 3 bulan berarti hampir 1 juta ton beras. Ini langsung diterima di konsumen. Tentu kebutuhan orang membeli beras di pasar-pasar akan berkurang. Nah pasti akan sedikit mengerem inflasi,” tutup Deputi Bapanas Ketut.

Kondisi perberasan nasional terbaru dipaparkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sampai pekan keempat Juli, Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras memang masih mengalami kenaikan.

Akan tetapi, jumlah kabupaten/kota dengan penurunan IPH beras juga tercatat bertambah pada minggu keempat Juli. Saat ini BPS mencatat ada 43 kabupaten/kota yang mengalami penurunan IPH beras. Sementara seminggu sebelumnya hanya 40 dan 41 kabupaten/kota saja.

Dilihat dari tingkat inflasi beras sampai Juni juga masih cukup terkendali. Data BPS menunjukkan inflasi beras pada Juni 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 3,98 persen. Angka ini mulai melandai 0,57 persen lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,55 persen.

Untuk inflasi beras secara bulanan (month-to-month/mtm) sampai Juni 2026 tercatat di 0,45 persen. Indeks tersebut masih berada di bawah level 1 persen, sehingga mencerminkan pergerakan harga beras yang relatif terkendali.

Data Pangan

Beras Premium Tak Langka, Tapi Terjadi Fluktuatif Harga

Published

on

Majalahtani.com – Pemerintah memastikan stok beras premium masih cukup tersedia, terutama produk beras premium dari BUMN. Namun memang terdapat sedikit fluktuasi harga untuk beras premium.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pasokan beras premium akan terus disalurkan, termasuk ke lini pasar ritel modern. Adanya fluktuasi harga beras premium masih dalam koridor yang tidak jauh dari Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga segmentasi konsumen beras premium yang merupakan kalangan menengah ke atas, diharapkan dapat memahami.

“Sebenarnya tidak langka. Kalau dibilang langka, tidak. Kami juga turun bersama tim, (memang) ada beberapa ritel yang kosong tapi sebagian ritel masih ada. Beras Bulog masih ada. Beras premium masih ada dengan berbagai merek, termasuk beras dari ID Food. Rania dan lain sebagainya,” tutur Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta dikutip Sabtu (25/7/2026).

Dalam pantauan harga pangan yang dilakukan Bapanas, rerata harga beras premium secara nasional per 24 Juli berada di Rp 15.966 per kilogram (kg). Namun level harga tersebut merupakan rerata harga dari keseluruhan 3 zonasi HET beras premium.

Misalnya saja pada Zona I (Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi) rerata harga beras premium hanya sedikit melebihi HET. Per 24 Juli tercatat di Rp 15.224 per kg atau 2,17 persen tipis melebihi HET beras premium yang ditetapkan pada Rp 14.900 per kg.

“Kalau dilihat dari harga, relatif, tapi ada beberapa yang stabil. Kalau menengah ke atas, naik sedikit, oke lah. Tolong jangan juga teriak yang menengah ke atasnya. Justru yang menengah ke atas itu memberikan semacam subsidi silang,” kata Deputi Ketut.

“Mereka mengeluarkan lebih banyak sedikit tapi masyarakat yang (paling) memerlukan, yang menengah ke bawah atau yang di bawahnya lagi, tentu dukungan bantuan dari pemerintah tidak henti-hentinya. Jadi (harga) naik sedikit, tapi intervensi pemerintah terus-menerus. Ini seimbang sebenarnya,” tambah Ketut.

Program intervensi yang dimaksud antara lain program bantuan pangan dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras. Sejak Januari tahun 2026, total Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang telah disalurkan ke masyarakat telah mencapai 1,4 juta ton.

Capaian tersebut terdiri dari realisasi penjualan beras SPHP pada Januari-Februari 2026 sebanyak 221,05 ribu ton yang merupakan perpanjangan SPHP beras tahun 2025. Kemudian realisasi SPHP beras Maret sampai Juli ini 520,83 ribu ton ditambah realisasi program bantuan pangan tahap pertama 662,88 ribu ton.

Untuk itu, Bapanas mengajak publik untuk tidak hanya melihat kondisi perberasan di hilir saja. Melainkan perlu juga mengamati kondisi di hulu terkait kondisi petani padi dalam negeri saat ini seperti apa.

“Kita jangan melihat di hilir saja. Kita harus melihat di hulu. Arahan daripada Bapak Presiden Prabowo adalah swasembada. Kalau kita ingin swasembada, tentu petani kita sedang nyaman-nyamannya sekarang, sangat nyaman berproduksi,” ungkap Deputi Bapanas Ketut.

“Kalau kita swasembada, tentu masyarakat kita lebih tenang, lebih tenteram, lebih makmur. Jangan sampai kejadian seperti petelur ayam yang harganya sempat Rp 16.000 dari seharusnya yang Rp 24.000. Petani dan peternak kita harus dijaga harganya,” tutup Ketut.

Dalam berbagai kesempatan, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian (Mentan) bersikukuh tidak boleh sampai terjadi kelangkaan beras. Ketersediaan beras untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri dipastikan tidak ada kendala.

Ini karena beras melimpah yang merupakan implikasi positif pencapaian swasembada di tahun 2025. Untuk itu, Amran telah meminta Satuan Tugas Pangan Kepolisian Republik Indonesia (Satgas Pangan Polri) untuk sama-sama secara berkala dengan turun ke lapangan.

“Beras kita melimpah. Jangan mempermainkan di lapangan karena kami sudah minta Satgas turun ke lapangan. Tidak ada yang langka. Tolong tidak ada pangan, khususnya beras, makanan pokok kita (itu) langka,” tegas Amran.

“Kami bersama Satgas Pangan, pantau seluruh Indonesia. Semua gudang kita penuh dengan beras sekarang ini. Stok sekarang 5,2 juta ton. Kemampuan gudang kita 3 juta ton. Kita sudah sewa 2,3 juta ton dan ini tertinggi selama merdeka,” tambah Amran.

Kepala Bapanas Amran pun memberikan pesan kepada pelaku usaha perberasan agar tidak ada lagi anomali. Harga beras untuk masyarakat harus dapat terkendali dan tidak boleh ada yang mempermainkan harga.

“Jadi kepada teman-teman pengusaha, jangan mempermainkan harga di lapangan. Kalau dulu, stok di Bulog hanya 1 juta ton kemudian harga naik, kesimpulannya impor. Sekarang berbeda. Kita surplus. Kita sudah swasembada,” ungkap Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.

“Tolong sekali lagi, seluruh pedagang beras seluruh Indonesia, jangan mempermainkan harga. Kami sudah sepakat dengan Satgas Pangan, seluruh Dirkrimsus se-Indonesia. Kami putuskan kita pantau dan yang nakal kita tindak,” pungkas Amran.

Continue Reading

Data Pangan

Amran Klaim Stok Beras RI Kuat Hadapi Musim Kekeringan dan El Nino

Published

on

Majalahtani.com – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian (Mentan) menegaskan bahwa stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Indonesia dipastikan lebih kuat untuk menghadapi musim kekeringan dan fenomena El Nino pada tahun ini. Amran optimis Indonesia mampu mengatasi karena stok CBP yang telah meningkat pesat.

“Dulu pada saat terjadi El Nino, kita ada stok (cadangan) beras nasional sekitar 1,5 juta ton. Sekarang (CBP kita) ada sekitar 5,2 juta ton,” ungkap Kepala Bapanas Amran saat melakukan kunjungan kerja ke Sidoarjo, Jawa Timur dikutip pada Kamis (23/7/2026).

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak El Nino pada tahun 2023 terjadi pada Oktober sampai Desember. Adapun dalam catatan Bapanas, stok CBP sebelum memasuki puncak El Nino 2023 tersebut, tepatnya di awal September 2023, berada di angka 1,52 juta ton.

Berangkat dari itu, stok beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog per 22 Juli 2026 sudah mencapai 5,24 juta ton. Ini artinya stok CBP Indonesia saat ini telah melejit hingga 244,74 persen jika dibandingkan terhadap momen sebelum terjadinya puncak El Nino pada 2023 silam.

“Nah semua ini adalah pertahanan kita untuk mengantisipasi kekeringan. Kita sudah pengalaman El Nino tahun 2015, 2023, 2024. Dengan pengalaman ini, dulu saja kita bisa penyesuaian saat El Nino, alhamdulillah kita bisa lolos,” kata Amran.

Oleh karena itu, Kepala Bapanas Amran menganjurkan kepada masyarakat agar tidak perlu sampai khawatir mengenai ketersediaan pangan, terutama beras. Stok beras yang dimiliki pemerintah sangat mumpuni.

“Jadi kita tidak perlu khawatir, karena kapasitas yang diperlukan selama musim kemarau biasanya sekitar 3 juta ton, sedangkan kita ada stok sekarang masih 5,2 juta ton, masih ada lebih 2 juta ton,” sebut Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.

Adapun dengan stok CBP tersebut, pemerintah akan terus menyalurkan kepada masyarakat melalui berbagai program. Per 22 Juli 2026, dari total target program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras periode Maret-Desember yang 828 ribu ton, sebanyak 61,32 persen atau 507,75 ribu ton telah disalurkan.

Kemudian melalui program bantuan pangan beras tahap kedua alokasi Juli-September, pemerintah akan menggerojok beras sebanyak 997,2 ribu ton melalui Perum Bulog secara one shoot atau sekaligus mulai Agustus. Target penerima sebanyak 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di seluruh provinsi.

Sebagai implikasi positifnya, tingkat inflasi beras sampai Juni cukup terkendali. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi beras pada Juni 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 3,98 persen. Angka ini mulai melandai 0,57 persen lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,55 persen.

Sementara inflasi beras secara bulanan (month-to-month/mtm) sampai Juni 2026 tercatat di 0,45 persen. Indeks tersebut masih berada di bawah level 1 persen, sehingga mencerminkan pergerakan harga beras yang relatif terkendali.

Di sisi lain, BMKG telah memprediksi bahwa puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli hingga September 2026. Puncak kemarau pada Juli mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia. Lalu Agustus puncak kemarau terjadi di 369 ZOM (48,84 persen luas daratan) dan pada September pada 169 ZOM (25,41 persen luas daratan).

BMKG mengungkapkan musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen.

Continue Reading

Data Pangan

Pemerintah Pastikan Tren Harga Telur dan Daging Ayam Mulai Pulih

Published

on

Majalahtani.com – Pemerintah memastikan tren harga telur dan ayam hidup (broiler) telah mulai bangkit sedikit demi sedikit. Hal ini menjadi angin segar bagi kalangan peternak unggas yang sempat mengalami depresiasi harga cukup signifikan.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengajak kepada seluruh pihak yang terkait untuk dapat saling menjaga kewajaran harga telur ayam ras dan ayam broiler di tingkat peternak. Hal ini menjadi salah satu kunci agar produksi unggas dalam negeri terus berkesinambungan.

“Sekarang harga sudah mulai naik, ini memang harus pemerintah lakukan. Kenapa? kita kan negara produsen, tentu harganya harus wajar. Jangan sampai peternak kita, petani kita, harganya jatuh dalam sekali. Nanti mereka tidak mau berproduksi, masa kita harus impor,” ucap Ketut di Pasar Tebet Timur, Jakarta dikutip Rabu (22/7/2026).

Adapun Indonesia telah mencatatkan surplus untuk telur dan daging ayam. Dalam Proyeksi Neraca Pangan Bapanas, produksi telur ayam ras Januari-Juli tahun ini diestimasikan dapat mencapai 4,17 juta ton. Sementara kebutuhan telur ayam ras di periode yang sama berkisar 3,8 juta ton.

Untuk daging ayam ras, estimasi produksi Januari-Juli dapat mencapai 2,93 juta ton. Ini telah melampaui kebutuhan nasional Januari-Juli yang diperkirakan 2,34 juta ton. Untuk itu, pemerintah berupaya menjaga keberlangsungan peternak unggas dalam negeri. Salah satunya memastikan kewajaran harga peternak.

Kendati demikian, menukil data Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga yang diterima peternak unggas menurun sejak Maret 2026. Maret 2026 masih berada di indeks 138,19. Selanjutnya hingga Juni 2026 semakin menurun 10,96 poin indeks menjadi 127,23. Indeks Juni 2026 tersebut merupakan yang paling rendah kedua sepanjang tahun 2026 setelah Januari 2026 sempat berada di 127,19.

“Bapanas sekali lagi, sebagaimana arahan Bapak Kepala Bapanas beserta Kementerian Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, dan Kementerian Perdagangan, semua bergerak, agar bagaimana mengupayakan harga telur kembali mulai baik. Untuk harga ayam pun sama,” ujar Ketut.

“Kebetulan pada saat kemarin, itu ada dua masalahnya. Pertama, bulan Suro. Kedua, libur MBG (Makan Bergizi Gratis). Tentu demand nya menurun. Harganya memang sangat turun. Nah sekarang sudah mulai berangsur-angsur naik. Ini permintaan akan lebih banyak, harga akan lebih bagus,” tambah Deputi Bapanas Ketut.

Dalam pantauan harga oleh Bapanas, per 21 Juli rerata harga telur ayam ras dan ayam broiler di tingkat peternak secara nasional kompak mengalami kenaikan. Masing-masing mengalami eskalasi harga 3,15 persen dan 2,68 persen dalam seminggu terakhir.

Kendati demikian, rerata harga telur dan daging ayam ras di tingkat konsumen meski ada kenaikan, namun belum menyentuh plafon Harga Acuan Penjualan (HAP). Oleh karena itu, tren positif harga yang sedang bertumbuh saat ini patut dipahami sebagai bentuk proses menuju kewajaran harga seiring dengan produksi dalam negeri yang juga terus bertumbuh.

Untuk harga telur di tingkat peternak per 21 Juli tercatat berada di Rp23.676 per kilogram (kg) atau naik 3,15 persen setelah seminggu yang lalu masih berada di Rp22.952 per kg. Jawa Timur menjadi daerah dengan rerata harga telur peternak paling rendah di Rp22.456 per kg, sementara Sulawesi Utara tercatat paling tinggi di Rp28.240 per kg.

Terhadap rerata harga ayam broiler di tingkat peternak secara nasional telah mencapai Rp22.477 per kg berat hidup per 21 Juli atau bergerak naik 2,68 persen setelah pada sepekan sebelumnya berada di Rp21.891 per kg berat hidup. Daerah dengan rerata harga paling rendah ada di Banten dengan Rp20.375 per kg berat hidup dan paling tinggi di Sumatera Barat dengan Rp25.714 per kg.

“Kenaikan harga tentu dapat memberikan andil terhadap inflasi, tetapi ini perlu dilihat secara utuh. Sebelumnya masyarakat juga menikmati harga yang relatif murah. Tugas pemerintah adalah menjaga keseimbangan agar harga tidak melonjak terlalu tinggi, namun juga tidak jatuh terlalu rendah sehingga tetap melindungi kepentingan konsumen sekaligus memberikan kepastian usaha bagi peternak. Nah, sekarang ini memang mulai mengalami kenaikan, tetapi selama masih berada dalam koridor HAP, kondisinya relatif masih baik,” ujar Deputi Ketut.

Sebagaimana data BPS, komoditas telur ayam ras dan daging ayam ras mulai mengalami deflasi yang cukup dalam sejak April 2026. Deflasi telur pada April tercatat sebesar 4,29 persen dan semakin jatuh menjadi 5,14 persen pada Mei. Sementara deflasi daging ayam ras di April di 6,20 persen dan sedikit bangkit pada Mei menjadi deflasi 3,83 persen.

Sebagai upaya pengungkit harga peternak, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman telah memastikan penyerapan hasil peternak unggas lokal bersama Badan Gizi Nasional (BGN). Ini dilakukan melalui implementasi program MBG.

“Kami sudah mengambil beberapa kebijakan agar kita bisa lindungi peternak telur dan ayam agar jangan sampai merugi. Kami meminta kepada seluruh pengumpul dan pembeli sesuai HAP. Satgas Pangan di daerah akan juga mengawal” ujar Amran.

“Aku apresiasi. Aku bangga dengan peternak petelur seluruh Indonesia yang mampu memenuhi kebutuhan anak bangsa. (Mencatat) surplus bahkan ekspor ke negara lain,” seru Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.

Kepala Bapanas Amran juga menyebutkan terus berkoordinasi erat dengan BGN yang langsung menyanggupi untuk konsisten menyerap telur peternak. Dengan langkah penyerapan telur untuk MBG optimis dapat segera membantu pemulihan harga peternak unggas dalam negeri.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved