Connect with us

Inspirasi Tani

Mengintip Kesuksesan Ekspor Edamame dan Ekosistem Pertanian Pintar SMKN 1 Bawen

Published

on

Majalahtani.com – SMK Negeri 1 Bawen terus mengukuhkan posisinya sebagai institusi pendidikan kejuruan pertanian terkemuka di Indonesia. Melalui model pembelajaran Teaching Factory (TeFa), sekolah ini berhasil memproduksi Edamame Premium yang tidak hanya merambah pasar domestik, tetapi juga sukses menembus pasar ekspor ke Jepang.

Salah satu tonggak keberhasilan paling signifikan adalah kemampuan sekolah dalam menembus pasar ekspor Jepang melalui komoditas edamame premium.

Keberhasilan ini dicapai melalui penerapan model Teaching Factory (TeFa) yang disiplin dan berbasis standar industri internasional dengan dukungan kemitraan strategis bersama PT Kelola Agro Makmur.

Produk edamame yang dihasilkan harus memenuhi kriteria ekspor yang sangat ketat, mencakup parameter ukuran polong, warna, hingga kepastian bebas residu pestisida.

Melalui sistem produksi yang terintegrasi di lahan seluas ± 5.000 m², para murid terlibat langsung dalam memastikan setiap polong memiliki rasa manis alami dan tekstur renyah yang konsisten, sehingga mampu memenuhi kuota tonase ekspor yang telah ditetapkan. Keberhasilan mengekspor edamame ke Negeri Sakura bukanlah perkara mudah.

Jepang dikenal memiliki standar control kualitas (QC) yang sangat tinggi. Kepala SMKN 1 Bawen, Farida Fahmalatif mengungkapkan bahwa murid dibimbing untuk mengikuti SOP industri yang ketat, mulai dari persiapan lahan hingga pasca panen.

Kriteria spesifik yang harus dipenuhi meliputi:

– Ukuran Polong: Minimal 7,5cm atau masuk dalam kategori Grade A.

– Kualitas Visual: Polong berwarna hijau segar, tidak cacat, tidak busuk, dan tidak terserang hama.

– Kandungan: Terisi penuh 2-3 butir perpolong, rasa manis alami,tekstur renyah, dan bebas residu pestisida.

Untuk menjaga konsistensi standar ini, sekolah menerapkan prinsip Good Agricultural Practices (GAP) dan standar keamanan pangan HACCP yang bekerjasama dengan PT. Kelola Agro Makmur.

Integrasi Teknologi dan Kearifan Lokal

Budidaya edamame ini dilakukan di atas lahan khusus seluas ± 5.000m² dengan produktivitas mencapai 600–700 kg per 1.000m². Menariknya, SMKN 1 Bawen memanfaatkan sumberdaya lokal berupa limbah kompos.

Selain edamame, sekolah yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) ini juga mengelola ekosistem pertanian modern lainnya, SMKN 1 Bawen telah mengadopsi teknologi Internet of Things (IoT) dalam ekosistem produksinya.

Di dalam Green House, komoditas seperti melon premium dan sayuran hidroponik (selada, sawi, pakchoy) dikelola menggunakan sistem irigasi tetes yang memantau nutrisi, pH air, suhu, dan kelembaban secara presisi melalui perangkat digital.

– Melon Premium: Dibudidayakan di dalam Green House dengan sistem irigasi tetes berbasis Internet of Things (IoT).

– Sayuran Hidroponik: Seperti selada dan pakchoy yang nutrisinya dikontrol presisi melalui perangkat digital.

– Peternakan Ayam Pedaging: Mengelola populasi 4.500 ekor di kendang Close House dengan efisiensi pakan (FCR) yang sangat baik diangka 1,4 – 1,6.

Mencetak “Petani Profesional” dengan Pendekatan Humanis

Kepala SMKN 1 Bawen, Farida, menekankan bahwa tantangan terbesar adalah menjaga kualitas di tangan 540 siswa yang terlibat. Strategi yang diterapkan adalah pendekatan humanis, di mana guru berperan sebagai mentor yang memberikan pendampingan bertahap tanpa menyalahkan siswa jika terjadi kesalahan, melainkan mencari solusi bersama.

“Kami juga menyentuh aspek kerohanian dan kesemaptaan. Siswa dibiasakan bekerja dengan niat ibadah dan jujur, serta dilatih kedisiplinan fisik agar siap menghadapi jam kerja industri yang dinamis,” jelas Farida

Hasil penjualan dikelola kembali untuk modal produksi, serta memberikan keuntungan bagi kas kelas sebagai motivasi berwirausaha bagi para murid. SMKN 1 Bawen juga aktif berbagi inovasi teknologi tepat guna kepada petani sekitar dan membuka pintu bagi masyarakat melalui kegiatan edu wisata (edu trip) pertanian dan peternakan.

“Optimalisasi sekolah pertanian terletak pada kemampuan memaksimalkan SDM dan sumber daya alam lokal secara profesional,” ungkap Farida.

Dengan konsistensi yang ada, SMKN 1 Bawen optimistis dapat terus memperluas dampak ekonominya dan menginspirasi institusi vokasi lainnya di Indonesia.

SMKN 1 Bawen membuktikan bahwa pendidikan berbasis pertanian mampu memberikan kontribusi ekonomi yang nyata bagi pembangunan desa dan ketahanan pangan nasional.

Inilah bukti nyata dari visi Smart, Professional, dan Mendunia, sebuah gerakan dari lahan sekolah menuju panggung dunia.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Inspirasi Tani

Kementan Siapkan Generasi Muda Jadi Ujung Tombak Pertanian Berbasis Teknologi

Published

on

Majalahtani.com – Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan), Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), terus menyiapkan generasi muda sebagai motor penggerak pertanian modern Indonesia melalui penguatan kapasitas, kepemimpinan, dan pemanfaatan teknologi guna mempercepat regenerasi petani serta mendukung ketahanan pangan nasional.

Salah satu langkah konkret tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pemilihan Young Ambassador Agriculture (YAA), Duta Polbangtan/PEPI, dan Brigade Pangan Inspiratif Tahun 2026 yang berlangsung di Ciawi pada 19–21 Mei 2026.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, mengatakan regenerasi petani harus dibarengi dengan penguatan kapasitas yang berkelanjutan agar generasi muda mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian di daerah.

“Kami ingin menciptakan generasi muda pertanian yang adaptif, profesional, dan mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian di daerah masing-masing,” ujar Arsanti.

Kegiatan YAA dan Brigade Pangan Inspiratif menjadi bagian dari strategi Kementan dalam mencetak sumber daya manusia pertanian yang profesional, berdaya saing, serta memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan.

Dalam berbagai kesempatan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan generasi muda akan menjadi ujung tombak pembangunan pertanian nasional di tengah tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim. Karena itu, Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat regenerasi petani melalui penguatan kapasitas anak muda di sektor pertanian.

Mentan Amran mengatakan pertanian modern saat ini membutuhkan sumber daya manusia unggul yang adaptif terhadap teknologi dan inovasi. Menurutnya, sektor pertanian bukan lagi identik dengan pekerjaan tradisional, tetapi telah berkembang menjadi sektor strategis yang menjanjikan secara ekonomi.

“Pertanian saat ini bukan lagi sektor tradisional. Pertanian adalah bisnis besar yang menjanjikan dan membutuhkan anak-anak muda yang kreatif, inovatif, serta menguasai teknologi. Kalau pangan kuat, bangsa juga akan kuat,” ujar Mentan Amran.

Ia menambahkan, petani muda memiliki peran penting dalam mewujudkan swasembada pangan nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Oleh sebab itu, Kementan terus membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam pengembangan pertanian modern berbasis teknologi dan kewirausahaan.

“Petani muda adalah masa depan pertanian Indonesia. Mereka harus menjadi motor penggerak pertanian modern yang produktif, efisien, dan berbasis teknologi,” katanya.

Para peserta mendapatkan berbagai pembekalan mulai dari kepemimpinan, public speaking, personal branding, hingga strategi promosi pertanian di era digital. Selain itu, peserta juga didorong menjadi duta pertanian yang mampu menyebarluaskan program strategis Kementan kepada masyarakat luas.

Melalui langkah tersebut, Kementan berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik terjun ke sektor pertanian dan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Continue Reading

Inspirasi Tani

Kisah Petani Mojorembun yang Sukses Panen Tiga Kali Setahun

Published

on

Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Pemprov Jateng. (Dok: Humas Pemprov Jateng)

Majalahtani.com – Petani Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, optimistis masih bisa menanam padi di tengah prediksi kemarau panjang, akibat El Nino Godzilla yang akan melanda Indonesia. Harapan itu diteguhkan dengan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah, yang memudahkan irigasi serta percepatan tanam.

Di areal persawahan Mojorembun, para petani tampak sibuk memanen padi menggunakan combine harvester. Di sisi lain, petani mengoperasikan transplanter dan mulai menanam benih padi. Ada pula aktivitas pengeringan gabah menggunakan bed dryer, sebelum diolah menjadi beras.

Anggota Kelompok Tani Budi Luhur, Karyono, mengatakan kini petani di Mojorembun bisa menanam padi tiga kali dalam setahun. Sebelumnya, lahan pertanian di wilayah itu hanya mampu ditanami padi satu kali.

Kelompok tani tersebut beranggotakan 80 petani, dengan luas lahan sekitar 35 hektare, yang mampu memproduksi 7–7,5 ton per hektare.

“Mampu dua kali tanam saja itu kalau curah hujan tinggi. Alhamdulillah, sejak mendapat bantuan irpom (irigasi perpompaan) dari pemerintah pusat, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali,” ungkapnya.

Karyono mengatakan, kelompoknya telah beberapa kali menerima bantuan alsintan dari pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten. Di antaranya bed dryer atau pengering gabah dari Pemprov Jateng, irigasi perpompaan dan combine harvester dari Kementerian Pertanian, serta transplanter dari Pemkab Rembang.

Selain itu, petani di wilayah tersebut juga memanfaatkan pasokan air dari Bendung Randugunting. Nantinya, akan dilakukan perpipaan untuk menyambungkan saluran air ke sawah yang jauh dari sungai.

“Alhamdulillah, belum begitu terpengaruh kemarau panjang, karena hampir satu minggu sekali masih ada hujan. Kami dari pengurus akan memanfaatkan bantuan irpom dari sungai ke lahan-lahan yang siap diolah tanahnya,” tuturnya.

Meski demikian, ia berharap ada bantuan lanjutan untuk menanggulangi intrusi air laut. Sebab, selama ini mereka telah berusaha membuat tanggul nonpermanen di sungai, namun gagal karena ambrol.

“Harapannya dibantu tanggul di sungai agar air laut tidak masuk sampai ke sini dan memengaruhi pasokan air baku petani dan warga,” imbuh Karyono.

Petani Desa Mojorembun, Rujito mengaku telah bersiap menanam padi lagi setelah sawahnya panen. Dia optimistis bantuan yang diterima mampu memperlancar usaha taninya.

“Kita tahunya akan ada kemarau panjang dari televisi. Namun, kami di sini melihat cuaca sampai saat ini masih memungkinkan, sehingga memberanikan diri memulai musim tanam ketiga (MT 3),” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, tidak menampik potensi dampak cuaca kering atau El Nino terhadap target produksi padi 10,5 juta ton pada akhir 2026. Karena itu, pihaknya menyusun sejumlah langkah strategis.

Pertama, percepatan masa tanam. Meski memasuki musim kemarau, pada beberapa daerah hujan masih turun. Hal ini membuat sejumlah petani percaya diri untuk kembali menanam padi, terlebih didukung bantuan irigasi.

“Langkah pertama percepatan masa tanam, penggunaan ‘sistem sepur’, begitu panen langsung disambung tanam setelah tanah diolah. Koordinasi dengan BBWS dan PSDA juga dilakukan untuk mengecek lokasi yang kering terlebih dahulu, penanaman varietas tahan cuaca kering, serta pengawalan terhadap hama dan perubahan iklim,” sebutnya.

Frans mengungkapkan, sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi, sejumlah bantuan diberikan kepada petani untuk menggenjot produksi dan menghadapi kemarau panjang. Di antaranya, bantuan dari APBD provinsi berupa rehabilitasi jaringan sebanyak 334 unit, dan irigasi alternatif sebanyak 75 unit. Ada pula bantuan irigasi perpompaan dari Kementerian Pertanian sebanyak 1.823 unit, serta irigasi perpipaan sebanyak 366 unit.

Di samping itu, pihaknya juga memaksimalkan pemberian benih inbrida. Dengan benih tersebut, petani dimungkinkan melakukan pembenihan mandiri. Pada 2026, jumlah benih inbrida yang dibagikan untuk luasan 47.200 hektare, meningkat dibanding 2025 yang hanya 5.300 hektare.

“Jadi bantuan dari APBN dan APBD ini, untuk mendukung kesiapan aliran air memasuki musim tanam,” pungkas Frans.

Continue Reading

Inspirasi Tani

Inovasi Mahasiswa IPB, Olah Susu Segar Fakultas Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Published

on

Majalahtani.com – Sekelompok mahasiswa peternakan IPB University mengambil peran dengan menghadirkan solusi kreatif lewat produk susu. Mereka berupaya mengubah persepsi bahwa minuman sehat tidak selalu membosankan melalui sebuah branding Susu Moonyonyo.

Chief Executive Officer (CEO) Susu Moonyonyo, Faiq Ayyasy Nafis, menjelaskan bahwa produk yang tengah dikembangkan merupakan olahan susu sapi segar yang bergizi dan harganya ramah di kantong mahasiswa.

Susu Moonyonyo menawarkan kombinasi nutrisi susu murni dengan tren rasa yang diminati pasar mahasiswa.

“Susu Moonyonyo ini merupakan inovasi suatu produk hasil olahan ternak. Kami membuat susu yang memiliki gizi dan pastinya yang dibutuhkan mahasiswa itu harganya terjangkau,” kata Faiq yang juga mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Ternak IPB University.

Meskipun harganya murah, kualitas tetap menjadi prioritas. Susu Moonyonyo menggunakan bahan baku susu segar yang diambil langsung dari kandang Fakultas Peternakan IPB University. Proses pengolahan dilakukan secara mandiri oleh tim mahasiswa menggunakan metode pasteurisasi.

“Dari susu segar itu kami pasteurisasi sendiri, diolah sendiri, dan baru diberikan inovasi berupa rasa. Saat ini, pelanggan dapat menikmati varian plain, cokelat, dan choco and cookies dalam bentuk cup dengan ukuran sekitar 200 ml. Harga varian original dibanderol Rp8.000, sedangkan yang ada rasa Rp9.000,” kata Nur Afni Damayanti, Chief Marketing Officer (CMO) Susu Moonyonyo.

Susu Moonyonyo lahir dari program kerja Divisi Ekonomi Kreatif Himpunan Mahasiswa Produksi Ternak (Himaproter) IPB University yang telah berjalan selama dua tahun. Usaha ini juga tengah diikutsertakan dalam Program Mahasiswa Wirausaha (PMW).

“Kami mengikuti PMW karena melihat benefit yang bakal didapatkan, seperti pendanaan dan pelatihan agar branding produk kami meningkat. Harapannya bukan hanya dikenal di tingkat Fakultas Peternakan saja, tapi juga di tingkat IPB University,” tutur Nur Afni.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved