Agripreneurship
Inovasi Mahasiswa UNS, Ubah Tempe dan Kentang Kleci Jadi Kuliner Bernilai Tinggi
Majalahtani.com – Mahasiswi Agribisnis Universitas Sebelas Maret (UNS), Dinda Feta Falestri, membuat inovasi produk kuliner yang tidak hanya menawarkan rasa, tetapi juga membawa misi mengangkat derajat bahan pangan lokal. Salah satunya melalui Burger TemCi yang merupakan akronim dari Tempe dan Kentang Kleci.
Di balik namanya yang unik, produk ini lahir dari kegelisahan Dinda terhadap rendahnya nilai ekonomi hasil pertanian di daerah, khususnya kentang kleci di Boyolali.
Selama ini, kentang kleci komoditas khas Boyolali umumnya hanya dipasarkan dalam bentuk rebusan sederhana dengan harga jual terbatas. Padahal, kentang ini memiliki karakteristik yang sangat potensial untuk dikembangkan.
“Saya melihat langsung bagaimana biasanya petani menjual kentang di pasar dalam bentuk rebus saja sehingga nilai jualnya masih terbatas. Padahal kalau diolah, nilainya bisa lebih tinggi. Dari situ kami ingin mencoba memanfaatkan sekaligus mendukung petani di sana,” ujar Dinda dalam pernyataannya, Selasa (5/4/2026).
Melalui riset mandiri, Dinda menemukan bahwa kentang kleci memiliki tekstur yang unik, tidak lembek, kadar air lebih rendah, serta memiliki rasa yang cenderung manis. Kentang kleci juga kaya antioksidan serta berpotensi membantu mencegah anemia dan hipertensi.
Dalam membangun bisnis ini, Dinda tidak sendirian. Ia menggandeng rekan sesama mahasiswa, Anggita, serta anggota tim lainnya. Kolaborasi ini berhasil memadukan tempe sebagai sumber protein utama dengan kentang kleci sebagai elemen karbohidrat yang bergizi seimbang.
Dalam kurun waktu sekitar enam bulan, Burger TemCi telah terjual lebih dari 700 porsi. Pemasarannya dilakukan secara bertahap, mulai dari dititipkan di lingkungan kampus hingga sistem pesanan dimuka (pre-order).
Di balik capaian tersebut, ada proses yang tidak selalu berjalan mulus. Waktu, menjadi tantangan terbesar bagi Dinda dan tim. Di tengah padatnya jadwal perkuliahan, mereka harus memastikan proses produksi tetap berjalan tanpa menurunkan kualitas. Di sela-sela kesibukan itu, usaha ini tumbuh perlahan, mengikuti ritme yang ada.
Upaya gigih tim Burger TemCi mendapat apresiasi positif. Usaha ini memperoleh pendanaan dan pembinaan melalui Program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) di UNS. Selain itu, mereka juga mengikuti proses seleksi Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) sebagai upaya menjajaki peluang ekspansi yang lebih luas.
Pengalaman tersebut kemudian membawa mereka pada Program Campuspreneur yang diinisiasi oleh Kementerian Perdagangan, sebuah ruang yang menghadirkan beragam kesempatan untuk mengembangkan diri melalui peningkatan kapasitas wirausaha muda yang mencakup pengembangan produk, strategi pemasaran, hingga perluasan jejaring usaha.
Campuspreneur menjadi ruang bertemunya ide, kreativitas, dan kolaborasi, yang mendorong lahirnya pelaku usaha muda yang adaptif dan berdaya saing.
Bagi Burger TemCi, keikutsertaan dalam Campuspreneur Expo ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk sekaligus melihat respons langsung dari para pengunjung.
Program ini memberi ruang bagi wirausaha muda untuk memperkaya sudut pandang, mempertajam strategi pemasaran, memperluas jejaring bisnis, serta menjadi bagian dari pembelajaran dalam mengembangkan usaha.
“Harapannya, Burger TemCi bisa terus berjalan dan dikenal lebih luas. Melalui kegiatan Campuspreneur, kami juga bisa menambah jejaring dan bertemu dengan banyak wirausaha muda dari kampus lain yang usahanya keren-keren banget,” ungkap Anggita.
Burger TemCi menjadi bukti nyata bahwa bahan pangan yang selama ini dianggap sederhana dapat bertransformasi menjadi produk inovatif yang kompetitif di tangan anak muda yang kreatif. Lebih dari sekadar bisnis, upaya ini juga membuka cara pandang baru terhadap potensi lokal yang selama ini sering terabaikan.
Agripreneurship
Adaptasi Petani Lereng Merapi terhadap Perubahan Siklus Hujan
Majalahtani.com – Di kaki Gunung Merapi, para petani tembakau dan sayur mayur mulai merasakan dampak nyata dari pergeseran musim. Hujan yang turun di tengah musim kemarau seringkali merusak kualitas daun tembakau yang seharusnya siap jemur. Kondisi ini memaksa mereka untuk lebih jeli membaca tanda-tanda alam dan memanfaatkan prakiraan cuaca digital.
Kelompok tani setempat mulai mengaktifkan kembali kearifan lokal “Pranata Mangsa” yang dipadukan dengan data dari BMKG. Sinergi antara ilmu titen (pengamatan tradisional) dan sains modern ini membantu mereka menentukan kapan waktu terbaik untuk memulai persemaian. Adaptasi adalah kunci agar dapur tetap mengepul di tengah anomali iklim global.
Selain masalah cuaca, akses distribusi di wilayah perbukitan masih menjadi kendala klasik saat musim hujan tiba. Jalan desa yang rusak seringkali menghambat pengiriman sayuran segar ke pasar induk, yang berujung pada penurunan harga karena kualitas barang menurun. Perbaikan infrastruktur jalan desa menjadi aspirasi utama warga lereng Merapi kepada pemerintah daerah.
Di sisi lain, semangat gotong royong warga desa masih sangat kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi. Mereka membangun lumbung desa mandiri untuk menyimpan cadangan pangan saat harga pasar sedang jatuh. Solidaritas sosial ini menjadi jaring pengaman paling efektif bagi warga desa dibandingkan bantuan sosial dari luar.
Kabar dari lereng Merapi ini adalah cerminan dari ribuan desa lain di Indonesia yang terus berjuang di garis depan pangan. Meski diterpa tantangan alam dan infrastruktur, semangat untuk menjaga tanah tetap produktif tidak pernah padam. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang memastikan piring-piring kita tetap terisi setiap harinya.
Agripreneurship
Skema KUR Pertanian: Jembatan Modal bagi Petani Milenial
majalahtani.com – Akses modal seringkali menjadi tembok besar bagi pemuda yang ingin terjun ke dunia pertanian. Di tahun 2026, Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus sektor pertanian dirancang dengan skema grace period, di mana petani baru mulai mencicil setelah masa panen tiba. Hal ini sangat membantu menjaga arus kas (cash flow) usaha tani yang bersifat musiman.
Data perbankan nasional menunjukkan peningkatan serapan kredit di sektor agribisnis sebesar 12% dibandingkan tahun lalu. Namun, literasi keuangan di tingkat petani tetap menjadi tantangan utama. Banyak petani yang masih kesulitan dalam menyusun rencana bisnis (business plan) sederhana yang menjadi syarat administrasi perbankan.
Peluang agribisnis saat ini juga bergeser ke arah integrasi hulu ke hilir. Petani tidak lagi hanya menjual gabah atau buah mentah, tapi mulai merambah ke pengemasan dan merek mandiri. Dengan branding yang kuat, nilai jual produk bisa meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan menjualnya ke tengkulak dalam bentuk curah.
Digitalisasi pembayaran dan sistem pencatatan keuangan berbasis aplikasi mulai diadopsi oleh kelompok tani (Gapoktan). Hal ini membuat profil risiko petani menjadi lebih terukur di mata bank (bankable). Semakin rapi catatan keuangan sebuah usaha tani, semakin besar peluang mereka mendapatkan ekspansi modal untuk skala industri.
Ke depan, agribisnis bukan lagi soal cangkul dan lumpur semata, melainkan soal manajemen data dan ketepatan membaca peluang pasar. Investasi pada teknologi pasca-panen, seperti mesin pengering (dryer) atau gudang pendingin (cold storage), akan menjadi pembeda bagi pelaku usaha yang ingin naik kelas ke kancah nasional.
-
Lensa Agraria4 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria3 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Inspirasi Tani4 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Lensa Agraria4 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Lensa Agraria2 bulan agoKejar Target Swasembada Beras, Mentan Amran Perkuat Sinergi Internal Kementan
-
Lensa Agraria3 bulan agoSurvei BI: Keyakinan Konsumen Februari 2026 Masih Kuat, IKK Capai 125,2
-
Agripreneurship4 bulan agoAdaptasi Petani Lereng Merapi terhadap Perubahan Siklus Hujan
-
Uncategorized4 bulan agoPotensi Blue Economy: Menjadikan Indonesia Raja Rumput Laut Dunia
