Agripreneurship
Adaptasi Petani Lereng Merapi terhadap Perubahan Siklus Hujan
Majalahtani.com – Di kaki Gunung Merapi, para petani tembakau dan sayur mayur mulai merasakan dampak nyata dari pergeseran musim. Hujan yang turun di tengah musim kemarau seringkali merusak kualitas daun tembakau yang seharusnya siap jemur. Kondisi ini memaksa mereka untuk lebih jeli membaca tanda-tanda alam dan memanfaatkan prakiraan cuaca digital.
Kelompok tani setempat mulai mengaktifkan kembali kearifan lokal “Pranata Mangsa” yang dipadukan dengan data dari BMKG. Sinergi antara ilmu titen (pengamatan tradisional) dan sains modern ini membantu mereka menentukan kapan waktu terbaik untuk memulai persemaian. Adaptasi adalah kunci agar dapur tetap mengepul di tengah anomali iklim global.
Selain masalah cuaca, akses distribusi di wilayah perbukitan masih menjadi kendala klasik saat musim hujan tiba. Jalan desa yang rusak seringkali menghambat pengiriman sayuran segar ke pasar induk, yang berujung pada penurunan harga karena kualitas barang menurun. Perbaikan infrastruktur jalan desa menjadi aspirasi utama warga lereng Merapi kepada pemerintah daerah.
Di sisi lain, semangat gotong royong warga desa masih sangat kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi. Mereka membangun lumbung desa mandiri untuk menyimpan cadangan pangan saat harga pasar sedang jatuh. Solidaritas sosial ini menjadi jaring pengaman paling efektif bagi warga desa dibandingkan bantuan sosial dari luar.
Kabar dari lereng Merapi ini adalah cerminan dari ribuan desa lain di Indonesia yang terus berjuang di garis depan pangan. Meski diterpa tantangan alam dan infrastruktur, semangat untuk menjaga tanah tetap produktif tidak pernah padam. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang memastikan piring-piring kita tetap terisi setiap harinya.
Agripreneurship
Musim Mas Latih 2.239 Petani Sawit di Aceh demi Produktivitas dan Tekan Deforestasi
Majalahtani.com, Jakarta — Musim Mas Group menuntaskan program pertanian berkelanjutan selama lima tahun di Subulussalam, Aceh, yang berhasil menjangkau 2.239 petani sawit swadaya di 48 desa. Bekerja sama dengan AAK, perusahaan global asal Swedia yang bergerak di bidang minyak dan lemak nabati, program ini melampaui target awal 1.000 petani dan berfokus pada peningkatan kapasitas petani serta upaya menekan risiko deforestasi.
Direktur Komunikasi dan Keberlanjutan Musim Mas Olivier Tichit mengatakan, kolaborasi di sepanjang rantai pasok diperlukan untuk menjawab tantangan keberlanjutan yang dihadapi petani di lapangan. Menurutnya, pendampingan ini menghubungkan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani dengan penerapan praktik perkebunan yang bertanggung jawab.
“Program Petani Swadaya kami membuktikan bahwa pendekatan kolaboratif mampu menjawab kebutuhan di lapangan dengan menyatukan berbagai pihak di sepanjang rantai pasok untuk menciptakan manfaat yang lebih besar. Kami bangga dapat menjalin kemitraan ini, karena manfaatnya dirasakan langsung oleh petani swadaya dan pemerintah daerah,” jelas Olivier dalam pernyataan tertulis, dikutip Majalahtani.com, Selasa (27/10/2026).
Oliver mengemukakan, program di Subulussalam menyasar petani yang mengelola kebun di luar area konsesi perusahaan. Adapun pelatihan mencakup praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP), pengelolaan kebun, literasi keuangan, serta prinsip tanpa deforestasi, tanpa gambut, dan tanpa eksploitasi (no deforestation, no peat, and no exploitation/NDPE).
Untuk memperluas jangkauan pendampingan, Musim Mas menggunakan pendekatan train-the-trainer dengan melatih Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pemerintah. Selama lima tahun, sebanyak 117 penyuluh mengikuti pelatihan dan kemudian menjangkau petani di 48 desa dengan dukungan asisten lapangan perusahaan.
Oliver menyebut, materi tambahan bagi penyuluh meliputi keterampilan mengajar orang dewasa, komunikasi di depan umum, kesehatan tanah, pembuatan kompos rumah tangga, serta persiapan menghadapi standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Petani juga mendapat pembekalan mengenai pencatatan keuangan dan penggunaan sarana produksi secara bertanggung jawab.
“Berdasarkan survei dengan metode pengambilan sampel Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebanyak 82 persen petani swadaya yang disurvei telah menerapkan GAP di kebun mereka. Program ini juga menjangkau lebih dari 200 perempuan melalui pelatihan kesehatan, gizi, dan literasi keuangan,” ucap Oliver.
Emisi Turun 11 Persen
Di luar program pendampingan petani, Musim Mas melaporkan penurunan emisi gas rumah kaca dalam kegiatan usahanya. Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, total emisi perusahaan turun sekitar 11 persen, dari 40,40 juta ton setara karbon dioksida (CO₂e) pada 2024 menjadi 35,94 juta ton CO₂e pada 2025.
Sustainable Multi-Oils Manager AAK Sengbee Ng mengungkapkan, Musim Mas juga telah memperoleh validasi Science Based Targets initiative (SBTi) atas target emisi nol bersih pada 2050. Ia mengklaim, kebijakan NDPE telah diterapkan sejak 2015 sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab.
Dalam program pemberdayaan petani secara lebih luas, Sengbee mencatat lebih dari 48.500 petani swadaya di enam provinsi telah mengikuti pelatihan pertanian berkelanjutan. Sepanjang 2025, sebanyak 4.644 petani swadaya yang didampingi perusahaan memperoleh sertifikasi RSPO, sedangkan 3.294 petani memperoleh sertifikasi ISPO.
Menurutnya, dukungan terhadap mata pencaharian petani merupakan bagian dari upaya membangun rantai pasok yang lebih tangguh.
“Inisiatif ini mencerminkan komitmen kami untuk bekerja sama di seluruh rantai pasok, guna mendukung petani dan mendorong praktik pengadaan yang bertanggung jawab. Dengan berinvestasi pada mata pencaharian petani swadaya, kami ikut membangun rantai pasok yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” tutup Sengbee.
Agripreneurship
AGRINEX Expo 2026 Perkuat Panggung Agribisnis Lewat Kolaborasi Sektor Pangan
Majalahtani.com, Jakarta — AGRINEX Expo 2026 yang telah sukses dilaksanakan pada 23–25 Oktober lalu ini menjadi ajang penguatan agribisnis, melalui rencana kolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada penyelenggaraan tahun depan. Menurut Ketua Penyelenggara AGRINEX Expo 2026 Rifda Ammarina, rencana kerja bareng ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat membuka pameran di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.
“Untuk tahun depan, AGRINEX akan berkolaborasi antara kami, Kadin Indonesia, dan Kemenko Pangan,” kata Rifda kepada awak media di sela-sela AGRINEX Expo 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Senin (26/10/2026).
Rifda ingin, kolaborasi ini dapat memperkuat penyelenggaraan AGRINEX Expo pada tahun depan, sekaligus memperluas ruang pembahasan dan pengembangan agribisnis di Indonesia. Sebagaimana diketahui, AGRINEX Expo 2026 yang mengusung tema Indonesia Feed the World ini telah menyajikan berbagai diskusi dan kegiatan menarik untuk mengangkat isu agribisnis dan potensi sektor pangan Indonesia. Ia mengklaim, tema besar tersebut tetap tersampaikan, meskipun jumlah peserta tahun ini turun sekitar 40 persen dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
“Kalau secara keseluruhan, tema besar ini tersampaikan,” ucapnya.
Menurut Rifda, penurunan jumlah peserta antara lain dipengaruhi padatnya agenda pameran dan eksibisi sepanjang Oktober 2026. Sejumlah kegiatan yang berlangsung pada periode tersebut mendapat dukungan pembiayaan dari institusi pemerintah maupun lembaga terkait.
Ia menyebutkan, beberapa institusi yang menggelar atau mendukung pameran pada Oktober ini antara lain Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Danantara, dan Bank Indonesia.
Berbeda dengan kegiatan yang memperoleh dukungan pendanaan institusional, AGRINEX Expo 2026 diselenggarakan secara mandiri. Peserta harus membayar biaya keikutsertaan, sehingga penyelenggara menghadapi tantangan untuk bersaing di tengah padatnya agenda eksibisi.
“Industri MICE (meetings, incentives, conventions, and exhibitions) yang skala menengah seperti kami mengalami kesulitan yang luar biasa,” keluh Rifda.
Sebelumnya, Rifda mengemukakan AGRINEX Expo 2026 telah menghadirkan pelatihan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui kolaborasi dengan Kadin Indonesia pada 24 Oktober 2026. Pelatihan ini ditujukan bagi peserta pameran dan pengunjung, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pangan dan pertanian, untuk mengenal pemanfaatan AI dalam pengembangan bisnis.
Program itu merupakan tindak lanjut dari pelatihan serupa yang sebelumnya digelar di Kadin Indonesia. Menurut Rifda, tingginya minat peserta membuat penyelenggara ingin memperluas kesempatan belajar bagi pelaku usaha melalui AGRINEX Expo.
“Yang sangat menarik, karena bulan lalu kita bikin di Kadin itu overcapacity jadinya. Banyak banget orang ingin ikut, tapi kita batasi karena tempat yang terbatas,” pungkasnya.
Agripreneurship
Sandiaga Uno Ungkap Cara Tarik Anak Muda ke Pertanian Lewat AI dan Hilirisasi
Majalahtani.com, Jakarta — Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pesawat nirawak alias drone, dan hilirisasi diyakini dapat membuka peluang ekonomi baru di sektor pertanian sekaligus menarik minat generasi muda. Founder Yayasan Inotek Sandiaga Uno menekankan, regenerasi petani membutuhkan peningkatan kesejahteraan dan nilai tambah hasil pertanian, bukan sekadar mengandalkan penjualan komoditas mentah.
Sandi menilai, sektor pertanian harus menawarkan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan agar profesi petani tetap diminati generasi muda. Menurutnya, penggunaan teknologi modern perlu berjalan beriringan dengan penguatan peran petani lokal dan pemanfaatan kearifan setempat.
“Kalau ditanya petani, itu yang terpikir petani yang sejahtera, petani yang punya perekonomian yang lebih kuat. Dan, itu bisa menjadi inspirasi agar generasi muda masih tetap mau untuk terjun ke sektor pertanian,” kata Sandiaga saat menghadiri AGRINEX Expo 2026 di JCC Senayan, Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Senin (26/10/2026).
Sandi memaparkan, inovasi menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah cara sektor pertanian menghasilkan nilai ekonomi. Petani, imbuhnya, perlu didorong memanfaatkan teknologi yang membuat kegiatan produksi lebih efisien dan presisi, termasuk AI dan drone.
“Pertama, inovasinya. Jadi inovasi apa? Karena Pak Prabowo ingin membawa nutrisi dan sektor pangan menjadi andalan. Jadi inovasi kita apa? Jangan kita masih tetap itu lagi, itu lagi. Harus ada inovasi menggunakan teknologi AI mungkin, drone mungkin,” ujarnya.
Namun, pengembangan teknologi tidak cukup jika manfaat ekonominya hanya dinikmati pelaku usaha di hilir. Sandi menekankan pentingnya melibatkan petani lokal dalam pengembangan produk pertanian, agar peningkatan nilai tambah turut mendongkrak pendapatannya.
Ia mencontohkan pengembangan pertanian di Kampung Agrinex, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Penerapan teknologi pertanian modern di desa itu telah dipadukan dengan kearifan lokal dan disesuaikan dengan karakteristik wilayah.
“Kita harus melibatkan para petani lokal dan penggunaan teknologi terkini, penggunaan aspek-aspek pertanian modern. Mungkin kita bisa menginjeksi AI atau juga bisa menggunakan sistem drone, dan penggabungan dengan kearifan lokal atau local wisdom,” jelas mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini.

Foto: Dok. Majalahtani.com
Hilirisasi dan Akses Pasar
Selain inovasi di lahan produksi, Sandi juga menyoroti pentingnya hilirisasi untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian. Pengolahan hasil panen, lanjutnya, menjadi produk bernilai tambah dinilai dapat membuka peluang usaha dan lapangan kerja, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi petani.
Peluang lainnya datang dari konsep farm to table, yakni menghubungkan hasil pertanian secara langsung dengan konsumen, termasuk restoran. Model ini memungkinkan pelaku usaha kuliner memperoleh bahan baku dari pertanian lokal, sementara petani berpeluang mendapatkan akses pasar yang lebih luas.
“Kami senang bisa berkolaborasi. Ini juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja yang luas. Program Desa Emas, misalnya, mengangkat produk-produk lokal from farm to table yang sekarang menjadi daya tarik utamanya. Di Indonesia ini punya keunggulan, restoran-restorannya bisa mengakses bahan-bahan tanahnya langsung dari farm, sampai di mejanya dengan kreasi yang terbaik,” tutur Sandiaga.
Ia menambahkan, pengembangan usaha pertanian dan produk lokal juga memerlukan dukungan pembiayaan, pelatihan, serta pemasaran agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk ekspor. Dus, kepastian pasar dan kemitraan dengan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem agribisnis yang menguntungkan petani.
Di sisi lain, Sandi mengingatkan bahwa transformasi pertanian perlu mempertimbangkan tantangan perubahan iklim dan keberlanjutan lingkungan. Rehabilitasi lahan terdegradasi serta pengembangan ekonomi hijau menjadi bagian dari upaya adaptasi agar sektor pertanian dapat terus produktif.
Sandi pun merangkum pengembangan pertanian ke depan dalam tiga aspek, yakni inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. Ia menegaskan bahwa ketiganya perlu berjalan beriringan melalui kerja sama pemerintah, dunia usaha, petani, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Pertanian yang berkelanjutan, pertanian yang penuh dengan kolaborasi, termasuk dengan pemerintah dan dunia usaha, ini bisa memberikan kontribusi peningkatan kesejahteraan sektor pertanian Indonesia,” pungkasnya.
-
Analisis Pasar7 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria9 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria9 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Data Pangan6 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
-
Inspirasi Tani4 bulan agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Teknologi Tani4 bulan agoMengenal PM-AAS: Strategi Mentan Amran Lipat Gandakan Populasi Tanaman dan Hasil Panen
-
Agripreneurship2 bulan agoAchmad Dahlan: Dari Pemuda Desa Lumajang, Menatap Dunia Lewat Rempah
-
Lensa Agraria8 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
