Connect with us

Agripreneurship

Sandiaga Uno Ungkap Cara Tarik Anak Muda ke Pertanian Lewat AI dan Hilirisasi

Ruruh Handayani

Published

on

Foto: Dok. Majalahtani.com

Majalahtani.com, Jakarta — Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pesawat nirawak alias drone, dan hilirisasi diyakini dapat membuka peluang ekonomi baru di sektor pertanian sekaligus menarik minat generasi muda. Founder Yayasan Inotek Sandiaga Uno menekankan, regenerasi petani membutuhkan peningkatan kesejahteraan dan nilai tambah hasil pertanian, bukan sekadar mengandalkan penjualan komoditas mentah.

Sandi menilai, sektor pertanian harus menawarkan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan agar profesi petani tetap diminati generasi muda. Menurutnya, penggunaan teknologi modern perlu berjalan beriringan dengan penguatan peran petani lokal dan pemanfaatan kearifan setempat.

“Kalau ditanya petani, itu yang terpikir petani yang sejahtera, petani yang punya perekonomian yang lebih kuat. Dan, itu bisa menjadi inspirasi agar generasi muda masih tetap mau untuk terjun ke sektor pertanian,” kata Sandiaga saat menghadiri AGRINEX Expo 2026 di JCC Senayan, Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Senin (26/10/2026).

Sandi memaparkan, inovasi menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah cara sektor pertanian menghasilkan nilai ekonomi. Petani, imbuhnya, perlu didorong memanfaatkan teknologi yang membuat kegiatan produksi lebih efisien dan presisi, termasuk AI dan drone.

“Pertama, inovasinya. Jadi inovasi apa? Karena Pak Prabowo ingin membawa nutrisi dan sektor pangan menjadi andalan. Jadi inovasi kita apa? Jangan kita masih tetap itu lagi, itu lagi. Harus ada inovasi menggunakan teknologi AI mungkin, drone mungkin,” ujarnya.

Namun, pengembangan teknologi tidak cukup jika manfaat ekonominya hanya dinikmati pelaku usaha di hilir. Sandi menekankan pentingnya melibatkan petani lokal dalam pengembangan produk pertanian, agar peningkatan nilai tambah turut mendongkrak pendapatannya.

Ia mencontohkan pengembangan pertanian di Kampung Agrinex, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Penerapan teknologi pertanian modern di desa itu telah dipadukan dengan kearifan lokal dan disesuaikan dengan karakteristik wilayah.

“Kita harus melibatkan para petani lokal dan penggunaan teknologi terkini, penggunaan aspek-aspek pertanian modern. Mungkin kita bisa menginjeksi AI atau juga bisa menggunakan sistem drone, dan penggabungan dengan kearifan lokal atau local wisdom,” jelas mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini.

Foto: Dok. Majalahtani.com

Hilirisasi dan Akses Pasar

Selain inovasi di lahan produksi, Sandi juga menyoroti pentingnya hilirisasi untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian. Pengolahan hasil panen, lanjutnya, menjadi produk bernilai tambah dinilai dapat membuka peluang usaha dan lapangan kerja, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi petani.

Peluang lainnya datang dari konsep farm to table, yakni menghubungkan hasil pertanian secara langsung dengan konsumen, termasuk restoran. Model ini memungkinkan pelaku usaha kuliner memperoleh bahan baku dari pertanian lokal, sementara petani berpeluang mendapatkan akses pasar yang lebih luas.

“Kami senang bisa berkolaborasi. Ini juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja yang luas. Program Desa Emas, misalnya, mengangkat produk-produk lokal from farm to table yang sekarang menjadi daya tarik utamanya. Di Indonesia ini punya keunggulan, restoran-restorannya bisa mengakses bahan-bahan tanahnya langsung dari farm, sampai di mejanya dengan kreasi yang terbaik,” tutur Sandiaga.

Ia menambahkan, pengembangan usaha pertanian dan produk lokal juga memerlukan dukungan pembiayaan, pelatihan, serta pemasaran agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk ekspor. Dus, kepastian pasar dan kemitraan dengan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem agribisnis yang menguntungkan petani.

Di sisi lain, Sandi mengingatkan bahwa transformasi pertanian perlu mempertimbangkan tantangan perubahan iklim dan keberlanjutan lingkungan. Rehabilitasi lahan terdegradasi serta pengembangan ekonomi hijau menjadi bagian dari upaya adaptasi agar sektor pertanian dapat terus produktif.

Sandi pun merangkum pengembangan pertanian ke depan dalam tiga aspek, yakni inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. Ia menegaskan bahwa ketiganya perlu berjalan beriringan melalui kerja sama pemerintah, dunia usaha, petani, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Pertanian yang berkelanjutan, pertanian yang penuh dengan kolaborasi, termasuk dengan pemerintah dan dunia usaha, ini bisa memberikan kontribusi peningkatan kesejahteraan sektor pertanian Indonesia,” pungkasnya.

Agripreneurship

Musim Mas Latih 2.239 Petani Sawit di Aceh demi Produktivitas dan Tekan Deforestasi

Ruruh Handayani

Published

on

Foto: Dok. Musim Mas

Majalahtani.com, Jakarta — Musim Mas Group menuntaskan program pertanian berkelanjutan selama lima tahun di Subulussalam, Aceh, yang berhasil menjangkau 2.239 petani sawit swadaya di 48 desa. Bekerja sama dengan AAK, perusahaan global asal Swedia yang bergerak di bidang minyak dan lemak nabati, program ini melampaui target awal 1.000 petani dan berfokus pada peningkatan kapasitas petani serta upaya menekan risiko deforestasi.

Direktur Komunikasi dan Keberlanjutan Musim Mas Olivier Tichit mengatakan, kolaborasi di sepanjang rantai pasok diperlukan untuk menjawab tantangan keberlanjutan yang dihadapi petani di lapangan. Menurutnya, pendampingan ini menghubungkan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani dengan penerapan praktik perkebunan yang bertanggung jawab.

“Program Petani Swadaya kami membuktikan bahwa pendekatan kolaboratif mampu menjawab kebutuhan di lapangan dengan menyatukan berbagai pihak di sepanjang rantai pasok untuk menciptakan manfaat yang lebih besar. Kami bangga dapat menjalin kemitraan ini, karena manfaatnya dirasakan langsung oleh petani swadaya dan pemerintah daerah,” jelas Olivier dalam pernyataan tertulis, dikutip Majalahtani.com, Selasa (27/10/2026).

Oliver mengemukakan, program di Subulussalam menyasar petani yang mengelola kebun di luar area konsesi perusahaan. Adapun pelatihan mencakup praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP), pengelolaan kebun, literasi keuangan, serta prinsip tanpa deforestasi, tanpa gambut, dan tanpa eksploitasi (no deforestation, no peat, and no exploitation/NDPE).

Untuk memperluas jangkauan pendampingan, Musim Mas menggunakan pendekatan train-the-trainer dengan melatih Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pemerintah. Selama lima tahun, sebanyak 117 penyuluh mengikuti pelatihan dan kemudian menjangkau petani di 48 desa dengan dukungan asisten lapangan perusahaan.

Oliver menyebut, materi tambahan bagi penyuluh meliputi keterampilan mengajar orang dewasa, komunikasi di depan umum, kesehatan tanah, pembuatan kompos rumah tangga, serta persiapan menghadapi standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Petani juga mendapat pembekalan mengenai pencatatan keuangan dan penggunaan sarana produksi secara bertanggung jawab.

“Berdasarkan survei dengan metode pengambilan sampel Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebanyak 82 persen petani swadaya yang disurvei telah menerapkan GAP di kebun mereka. Program ini juga menjangkau lebih dari 200 perempuan melalui pelatihan kesehatan, gizi, dan literasi keuangan,” ucap Oliver.

Emisi Turun 11 Persen

Di luar program pendampingan petani, Musim Mas melaporkan penurunan emisi gas rumah kaca dalam kegiatan usahanya. Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, total emisi perusahaan turun sekitar 11 persen, dari 40,40 juta ton setara karbon dioksida (CO₂e) pada 2024 menjadi 35,94 juta ton CO₂e pada 2025.

Sustainable Multi-Oils Manager AAK Sengbee Ng mengungkapkan, Musim Mas juga telah memperoleh validasi Science Based Targets initiative (SBTi) atas target emisi nol bersih pada 2050. Ia mengklaim, kebijakan NDPE telah diterapkan sejak 2015 sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab.

Dalam program pemberdayaan petani secara lebih luas, Sengbee mencatat lebih dari 48.500 petani swadaya di enam provinsi telah mengikuti pelatihan pertanian berkelanjutan. Sepanjang 2025, sebanyak 4.644 petani swadaya yang didampingi perusahaan memperoleh sertifikasi RSPO, sedangkan 3.294 petani memperoleh sertifikasi ISPO.

Menurutnya, dukungan terhadap mata pencaharian petani merupakan bagian dari upaya membangun rantai pasok yang lebih tangguh.

“Inisiatif ini mencerminkan komitmen kami untuk bekerja sama di seluruh rantai pasok, guna mendukung petani dan mendorong praktik pengadaan yang bertanggung jawab. Dengan berinvestasi pada mata pencaharian petani swadaya, kami ikut membangun rantai pasok yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” tutup Sengbee.

Continue Reading

Agripreneurship

AGRINEX Expo 2026 Perkuat Panggung Agribisnis Lewat Kolaborasi Sektor Pangan

Ruruh Handayani

Published

on

Foto: Dok. Dare Indonesia

Majalahtani.com, Jakarta — AGRINEX Expo 2026 yang telah sukses dilaksanakan pada 23–25 Oktober lalu ini menjadi ajang penguatan agribisnis, melalui rencana kolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada penyelenggaraan tahun depan. Menurut Ketua Penyelenggara AGRINEX Expo 2026 Rifda Ammarina, rencana kerja bareng ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat membuka pameran di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.

“Untuk tahun depan, AGRINEX akan berkolaborasi antara kami, Kadin Indonesia, dan Kemenko Pangan,” kata Rifda kepada awak media di sela-sela AGRINEX Expo 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Senin (26/10/2026).

Rifda ingin, kolaborasi ini dapat memperkuat penyelenggaraan AGRINEX Expo pada tahun depan, sekaligus memperluas ruang pembahasan dan pengembangan agribisnis di Indonesia. Sebagaimana diketahui, AGRINEX Expo 2026 yang mengusung tema Indonesia Feed the World ini telah menyajikan berbagai diskusi dan kegiatan menarik untuk mengangkat isu agribisnis dan potensi sektor pangan Indonesia. Ia mengklaim, tema besar tersebut tetap tersampaikan, meskipun jumlah peserta tahun ini turun sekitar 40 persen dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.

“Kalau secara keseluruhan, tema besar ini tersampaikan,” ucapnya.

Menurut Rifda, penurunan jumlah peserta antara lain dipengaruhi padatnya agenda pameran dan eksibisi sepanjang Oktober 2026. Sejumlah kegiatan yang berlangsung pada periode tersebut mendapat dukungan pembiayaan dari institusi pemerintah maupun lembaga terkait.

Ia menyebutkan, beberapa institusi yang menggelar atau mendukung pameran pada Oktober ini antara lain Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Danantara, dan Bank Indonesia.

Berbeda dengan kegiatan yang memperoleh dukungan pendanaan institusional, AGRINEX Expo 2026 diselenggarakan secara mandiri. Peserta harus membayar biaya keikutsertaan, sehingga penyelenggara menghadapi tantangan untuk bersaing di tengah padatnya agenda eksibisi.

“Industri MICE (meetings, incentives, conventions, and exhibitions) yang skala menengah seperti kami mengalami kesulitan yang luar biasa,” keluh Rifda.

Sebelumnya, Rifda mengemukakan AGRINEX Expo 2026 telah menghadirkan pelatihan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui kolaborasi dengan Kadin Indonesia pada 24 Oktober 2026. Pelatihan ini ditujukan bagi peserta pameran dan pengunjung, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pangan dan pertanian, untuk mengenal pemanfaatan AI dalam pengembangan bisnis.

Program itu merupakan tindak lanjut dari pelatihan serupa yang sebelumnya digelar di Kadin Indonesia. Menurut Rifda, tingginya minat peserta membuat penyelenggara ingin memperluas kesempatan belajar bagi pelaku usaha melalui AGRINEX Expo.

“Yang sangat menarik, karena bulan lalu kita bikin di Kadin itu overcapacity jadinya. Banyak banget orang ingin ikut, tapi kita batasi karena tempat yang terbatas,” pungkasnya.

Continue Reading

Agripreneurship

Achmad Dahlan: Dari Pemuda Desa Lumajang, Menatap Dunia Lewat Rempah

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Di tengah hamparan lahan yang belum banyak dimanfaatkan di Lumajang, Jawa Timur, Achmad Dahlan melihat sesuatu yang berbeda. Bagi sebagian orang, lahan tidur mungkin sekadar tanah yang belum produktif. Namun bagi pemuda asal desa itu, lahan-lahan tersebut menyimpan peluang untuk menggerakkan ekonomi sekaligus membuka jalan baru bagi petani.

Perjalanan Achmad tidak bermula dari pusat bisnis ataupun ruang-ruang pendidikan kewirausahaan. Keterbatasan literasi mengenai dunia usaha justru membuatnya harus keluar daerah, salah satunya menuju Surabaya, untuk mencari pengalaman dan pengetahuan. Dari sana, gagasan untuk membawa anak muda masuk ke sektor agribisnis mulai tumbuh.

“Waktu itu, saya memulai langkah dengan sederhana di Lumajang. Selama ini banyak lahan tidur tidak banyak arah yang jelas, mindset kami membawa transformasi bahwa pemudah membawaagribisnis,” ujarnya kepada Majalah Tani.

Langkah awalnya dimulai dari perdagangan. Sebelum pandemi Covid-19, Achmad telah memiliki pengalaman membawa tamu dari luar negeri melalui usaha tur. Jaringan tersebut kemudian menjadi pintu masuk untuk melihat potensi komoditas Indonesia di pasar global.

Ketika pandemi datang dan aktivitas pariwisata ikut terdampak, ia mengalihkan perhatian pada perdagangan rempah. Salah satu komoditas yang kemudian menjadi fokusnya adalah cabe jawa.

Achmad melihat persoalan mendasar bukan semata-mata berada pada pasar, melainkan pada ketersediaan komoditas di tingkat hulu. Permintaan ada, tetapi produksi belum mampu mengikuti kebutuhan.

Karena itu, ia mulai membangun pola kemitraan dengan petani. Salah satu pengembangan dilakukan melalui lahan seluas delapan hektare. Model tersebut tidak berhenti pada penyediaan bibit dan pupuk, tetapi juga berupaya memberikan pendampingan kepada petani hingga pemasaran hasil panen.

Cabe jawa menjadi komoditas utama yang dikembangkan, sementara perdagangan rempah lainnya menyesuaikan dengan kebutuhan pasar ekspor.

“Untuk cabai jawa, dalam kondisi produktif, satu hektare dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp30 juta per bulan,” ujar dia.

Bagi Achmad, pengembangan agribisnis juga harus dibangun dengan standar yang dapat diterima pasar. Ia menyebut telah memperoleh sertifikasi dan lisensi dari kementerian terkait serta melakukan pembaruan sertifikasi setiap tahun.

Perjalanannya kemudian tidak berhenti pada komoditas mentah. Produk yang dikembangkan mulai diarahkan menjadi produk akhir, seperti teh dan olahan rempah. Upaya tersebut turut membawa pengakuan, termasuk penghargaan dari Pemerintah Kota Surabaya.

Ketika Kemitraan Berhadapan dengan Persoalan Tata Kelola

Gagasan memperluas budidaya cabe jawa tidak selalu berjalan mulus. Dalam pengembangan lahan di Jawa Barat, Achmad mengaku menghadapi persoalan yang membuat program kemitraan tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan.

Ia pernah mengikuti lomba petani milenial bersama sejumlah peserta dan berhasil menjadi pemenang. Meski basis usahanya berada di Jawa Timur, lahan yang didaftarkan untuk program tersebut berada di Jawa Barat.

Namun, menurut Achmad, dana yang seharusnya mendukung pengembangan pertanian justru menghadapi persoalan dalam pelaksanaannya.

“Kalaul cair dana Rp3,2 miliar dana bantuan bibit, pupuk, enggak jalan dan dibikin jatah tapi hilang, dan sekarang mengendap di bank,” ujar dia.

Persoalan tersebut kemudian berimbas pada rencana pengembangan lahan. Dari rencana awal delapan hektare, Achmad menyebut dirinya sempat mendaftarkan lahan hingga 112 hektare. Kebutuhan biaya operasional pun membesar.

“Kenapa enggak bisa jalan di 8 hektare yang di Jawa Barat, daftar 112 hektare pupuk dari Lumajang, abis 2 miliar untuk operasional, karna langka komoditasnya sehingga harus tanam dan disisihkan dananya,” ujar dia.

Di sisi lain, ia tetap mempertahankan produksi dari lahan yang dikelola sendiri. Sebagian proses masih dilakukan dengan cara tradisional sembari menunggu dukungan investor untuk beralih ke sistem pertanian yang lebih modern.

Dari Hulu hingga Produk Jadi

Model bisnis yang dibangun Achmad perlahan bergerak dari hulu ke hilir. Ia tidak hanya ingin menjadi pedagang komoditas, tetapi juga membangun rantai pasok yang mencakup budidaya, pengolahan, hingga ekspor.

Ia menyebut pernah melakukan kerja sama atau penandatanganan nota kesepahaman dengan sejumlah pihak, termasuk Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, dan Bank Jatim untuk mempercepat akses ekspor.

Skema pembiayaan bagi petani juga mulai dibangun. Hasil panen menjadi salah satu dasar dalam proses pembuktian kepada lembaga pembiayaan. Untuk mengantisipasi risiko gagal panen, kerja sama dengan perusahaan asuransi juga pernah dilakukan. Namun, tantangan pembiayaan masih menjadi salah satu persoalan terbesar.

“Menurut saya, kendala sejak awal berdiri hingga sekarang adalah kami masih berada di sektor non-bankable. Mungkin karena model bisnis kami belum sepenuhnya cocok dengan sistem perbankan,” ucap dia.

Bagi usaha pertanian, persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena siklus tanam dan panen membutuhkan waktu. Berbeda dengan bisnis perdagangan yang dapat berputar lebih cepat, pertanian membutuhkan kesabaran dan modal awal yang relatif besar.

Achmad kini menawarkan pengembangan lahan seluas 18,5 hektare dengan kebutuhan investasi sekitar Rp38 miliar. Lahan tersebut diharapkan menjadi tahap awal untuk mengembangkan sistem modern farming, sebelum diperluas ke 100 hektare hingga target jangka panjang 1.200 hektare.

“Yang 18,5 hektare untuk ditawarkan ke investor 40% saham jadi modern farming, kenapa pemanfaaatan lahan, setelah 18 hektare, kemudian 100 hektare, dan 1.200 hektare,” ungkap dia.

Modern Farming dan Masa Depan Petani

Modern farming bagi Achmad bukan sekadar penggunaan mesin atau teknologi di lahan. Sistem tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus membuat pertanian lebih menarik bagi generasi muda.

Ia melihat masih adanya kesenjangan informasi antara program yang dirancang di tingkat pusat dengan implementasinya di daerah.

“Saat ini modern farming sebenarnya sudah mulai dikenal, tetapi penerapannya di daerah masih minim. Program dari pemerintah pusat sebenarnya bagus, tetapi informasi dan implementasinya belum sepenuhnya sampai ke daerah,” ungkap dia.

Menurutnya, investasi awal memang besar. Namun, tanaman cabe jawa memiliki karakteristik yang memungkinkan lahan menghasilkan dalam jangka panjang. “Beban biaya besar di depan, sekali tanam untuk 40 tahun, panennya bisa 2 minggu atau sebulan sekali,” ungkap dia.

Transformasi tersebut juga diyakini dapat memberi dampak langsung terhadap masyarakat desa. Rantai usaha yang dimulai dari budidaya, pemisahan hasil, pengolahan, hingga ekspor membuka lapangan kerja baru.

Achmad menyebut tenaga kerja desa dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp80 ribu hingga Rp150 ribu per hari, tergantung jenis pekerjaan dan aktivitasnya. “Pendapatan 800 ribu, dengan modern farming bisa mendekati gaji UMKM,” imbuh dia.

Dengan pendekatan tersebut, agribisnis tidak hanya dilihat sebagai aktivitas produksi pangan, tetapi juga sebagai ekosistem ekonomi yang menghubungkan petani, tenaga kerja, UMKM, pengolah, dan pasar internasional.

Cabe Jawa: Komoditas Lama, Pasar Baru

Cabe jawa menjadi salah satu komoditas yang diyakini Achmad memiliki potensi besar. Ironisnya, potensi pasar yang besar justru berhadapan dengan keterbatasan produksi di tingkat hulu.

“Pangsa pasar cabe Jawa, demand besar tapi hulu langka kenapa? Tidak banyak orang tau sosialisasi belum menyebar luas,” katanya.

Ia menyebut kebutuhan pasar mencapai sekitar 9.000 ton. Data tersebut, menurutnya, mengacu pada data Kementerian Pertanian pada 2022 dan permintaan kini terus berkembang.

Cabe jawa memiliki berbagai penggunaan, mulai dari bahan rempah hingga kebutuhan industri. Pasar Asia dan Eropa menjadi salah satu sasaran pengembangan, termasuk Jepang dan China yang memanfaatkannya sebagai bumbu makanan.

Namun, untuk masuk ke pasar tertentu, sertifikasi menjadi salah satu syarat penting. “Belum bisa tembus ke jepang karna belum ada sertifikat ekspor organik, mulai daftar dari 2022,” ujar dia.

Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Standar pasar global semakin ketat, sementara permintaan terhadap produk yang memiliki aspek keberlanjutan dan organik terus berkembang.

Achmad mengaku telah mengirim produk ke sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, India, Timur Tengah, dan Pakistan.

Salah satu pengalaman penting terjadi ketika produknya mendapat undangan ke Amerika Serikat. Ia menyebut nilai transaksi yang pernah dibukukan mencapai 3,2 juta dolar AS pada 2023 dan 2024, dengan fasilitasi perusahaan asal Amerika Serikat.

Kini, peluang tersebut masih terus dikembangkan. Salah satu calon mitra disebut memiliki sekitar 10 ribu gerai restoran dan kafe serta membutuhkan pasokan produk dari Indonesia secara berkelanjutan.

“Saya belum organik, tapi market saya organik jarak 5km tidak boleh semprot petistida,” ujar dia.

Menjaga Produksi di Tengah Ancaman El Nino

Perubahan iklim menjadi tantangan lain bagi sektor pertanian. Bagi Achmad, menghadapi El Nino tidak cukup hanya dengan mengandalkan teknologi, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan petani dalam merawat tanaman.

“Kita harus berkebun merawat dan memupuk dengan baik, dan alhamdulillah dari doa petani mitra bekerja sama dengan kita bisa sedikit lebih hidup enak,” ujar dia.

Ia juga mulai melihat pentingnya pendekatan berbasis data untuk mengantisipasi risiko gagal panen. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi satelit dalam skema perlindungan pertanian. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat petani tidak sepenuhnya menanggung risiko perubahan cuaca.

Di lapangan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemilik lahan. Rantai pasok rempah ikut menciptakan pekerjaan bagi masyarakat desa.

“Pendapatannya kita kasih 3 ribu rupiah untuk pemisahan produk, 80-100 ribu per hari dengan tenaga kerja di desa, impack sangat dapat diatas UMR,” katanya.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved