Teknologi Tani
Inovasi Pakan IPB: Bobot Telur Naik 30% & Ayam Tumbuh Lebih Cepat
Majalahtani.com – IPB University mengembangkan pakan ayam berbasis probiotik dan antikoksi. Pakan ini dirancang tidak hanya agar lebih efisien, tetapi juga mampu meningkatkan kesehatan ayam, mempercepat pertumbuhan, hingga mendongkrak produksi telur.
Peneliti IPB University, Ivan Taufik Nugraha, menjelaskan bahwa inovasi pakan yang dikembangkannya tidak hanya efisien dari sisi konsumsi, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan dan produktivitas ayam.
“Pakannya enggak terlalu banyak, satu bisa meningkatkan kesehatan pencernaannya. Lalu yang kedua bisa meningkatkan bobot badan dengan cepat, dan bisa menambah massa dari telur ayam. Biasanya bobot telur bisa nambah 20 sampai 30 persen,” ujarnya dikutip Minggu (12/4/2026).
Menurutnya, salah satu tantangan utama dalam budidaya ayam adalah serangan penyakit koksidiosis yang kerap menyebabkan diare parah hingga kematian massal dalam satu kandang. Untuk itu, riset yang dikembangkan kini diarahkan pada formulasi pakan berbasis antikoksi.
“Kalau per hari ini kita mengarahnya ke antikoksi, jadi untuk mencegah ayam sakit. Koksidiosis itu menyebabkan diare parah dan bisa menyebabkan kematian cukup tinggi, serta menyebar dalam satu kandang. Dengan adanya antikoksi ini, kesehatan ayam bisa meningkat,” jelas Ivan.
Lebih jauh, inovasi ini juga menyasar peningkatan performa ayam kampung yang selama ini dikenal memiliki pertumbuhan lebih lambat dibanding ayam ras. Dengan pendekatan nutrisi yang tepat, Ivan optimistis ayam kampung dapat dipacu pertumbuhannya secara signifikan.
“Harapannya ayam kampung bisa meningkatkan bobot badannya lebih cepat. Jadi seperti yang Pak Menteri bilang, dalam 40 harian bisa mencapai satu kilogram,” tambahnya.
Ivan juga menyoroti pentingnya optimalisasi sistem pencernaan ayam sebagai kunci utama peningkatan produktivitas. Ia menjelaskan bahwa selama ini banyak nutrisi yang tidak terserap optimal, yang ditandai dengan bau menyengat pada kandang.
“Sebetulnya yang kita lihat, ketika kandang bau, artinya proteinnya tidak terserap dengan optimal. Nah, dengan adanya tambahan probiotik dalam produk kami, nutrisi bisa diserap lebih banyak,” ungkapnya.
Menurutnya, probiotik bekerja hingga ke tingkat vili usus, meningkatkan penyerapan nutrisi secara maksimal dan berdampak langsung pada efisiensi pakan serta kualitas lingkungan kandang.
“Masuk ke vili-vili usus, kemudian diserap. Saat keluar, aromanya berkurang karena proteinnya terserap secara maksimal,” jelasnya.
Sementara itu Mentan Amran menegaskan bahwa riset harus berorientasi pada solusi nyata dan berdampak ekonomi.
Dalam kunjungannya ke Science Techno Park IPB, Bogor, Mentan menyoroti potensi besar pengembangan ayam unggul berbasis riset IPB, termasuk percepatan pertumbuhan ayam kampung.
“Kalau ayam kampung bisa dipercepat, misalnya 30–40 hari sudah satu kilogram, itu luar biasa. Ini yang harus kita kejar,” ujarnya.
Mentan Amran bahkan menyatakan kesiapan pemerintah untuk mendukung hilirisasi inovasi, termasuk menyerap hasil riset dalam skala besar jika terbukti berhasil di lapangan.
“Kalau bisa capai target, saya siap bawa ke Presiden, kita beli. Jangan ragu. Ini peluang besar,” tegasnya.
Dorongan tersebut menjadi energi tambahan bagi para peneliti untuk memastikan bahwa setiap inovasi tidak berhenti di laboratorium, melainkan benar-benar hadir sebagai solusi bagi peternak dan mendorong kesejahteraan masyarakat.
Lensa Agraria
Pemerintah Siapkan Varietas Unggul dan Teknologi Hemat Air Hadapi Kemarau
Majalahtani.com – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) terus memperkuat penerapan teknologi pertanian adaptif untuk menghadapi musim kemarau 2026 sekaligus menjaga produktivitas pertanian nasional.
Melalui jaringan BRMP Provinsi, Kementan mendorong pemanfaatan varietas unggul adaptif, teknologi hemat air, serta pola budidaya spesifik lahan kering guna memastikan produksi pangan tetap berjalan optimal.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya antisipatif seiring masuknya musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia. Berbagai inovasi dan teknologi pertanian yang telah disiapkan diharapkan mampu mendukung petani menjaga produktivitas di lapangan.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, beberapa saat lalu menegaskan bahwa antisipasi perlu dilakukan sejak dini melalui percepatan tanam, penguatan pengelolaan air, dan pemanfaatan varietas adaptif di wilayah yang berpotensi mengalami keterbatasan air.
“Petani perlu memanfaatkan varietas genjah dan tahan kekeringan, seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, Cakrabuana, atau varietas sejenis lainnya agar produksi tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” ujar Mentan Amran.
Sejak awal 2026, BRMP di berbagai wilayah telah memperkuat penerapan teknologi adaptif melalui diseminasi varietas unggul tahan kering, pendampingan budidaya hemat air, hingga penguatan pola tanam spesifik lokasi.
Di Kepulauan Riau, BRMP mendiseminasikan varietas unggul tahan kekeringan seperti Cakrabuana Agritan dan Inpari 38 Tadah Hujan Agritan kepada petani melalui pendampingan lapangan, penyediaan benih unggul, serta sosialisasi teknologi budidaya adaptif.
Sementara itu, BRMP Bali turut mendukung pemanfaatan benih jagung varietas Jakarin yang adaptif pada kondisi lahan dengan ketersediaan air terbatas dan tetap produktif.
Selain pengembangan varietas adaptif, Kementan jugga terus mendorong penerapan teknologi hemat air melalui metode Alternate Wetting and Drying (AWD) atau pengairan berselang. Teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi tanpa mengurangi produktivitas tanaman.
BRMP juga memiliki teknologi budidaya spesifik lahan kering melalui Larikan Gogo Super (Largo Super) yang mengombinasikan penggunaan varietas unggul padi gogo, sistem tanam larikan, pemupukan berimbang, bahan organik, serta pengendalian hayati untuk meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Kepala BRMP Kementan Fadjry Djufry mengatakan penguatan inovasi teknologi spesifik lokasi menjadi langkah penting menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
“BRMP terus mendorong penerapan inovasi teknologi pertanian sesuai karakteristik wilayah, mulai dari varietas adaptif, pengelolaan air hemat, hingga pola budidaya spesifik lahan kering agar produktivitas pertanian tetap terjaga,” ujar Fadjry.
Ia menambahkan, BRMP Provinsi di seluruh Indonesia terus melakukan pendampingan bersama pemerintah daerah, penyuluh, dan petani agar inovasi dapat diterapkan lebih luas.
“Penguatan teknologi di lapangan menjadi langkah penting agar petani semakin siap menghadapi dinamika iklim sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional,” tambahnya.
Melalui penguatan diseminasi inovasi, penerapan teknologi hemat air, dan pemanfaatan varietas unggul adaptif, Kementerian Pertanian optimistis sektor pertanian Indonesia semakin tangguh dan produktif dalam menghadapi dinamika iklim.
Teknologi Tani
Prabowo Puji Inovasi Briket Tongkol Jagung: Luar Biasa!
Majalahtani.com – Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi berbagai inovasi di sektor pangan dan energi yang dinilai mampu memperkuat ketahanan nasional di tengah situasi krisis global.
Apresiasi tersebut disampaikan Presiden dalam sambutannya pada groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri serta launching operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri Tahun 2026 di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026.
“Saya gembira. Bukan saya pura-pura. Saya lega. Kenapa? Karena dunia krisis energi, negara-negara panik. Tapi sekarang saya dikasih tahu, ‘Pak tenang, kita bisa bikin briket arang dari tongkol jagung.’ Waduh, luar biasa. Tadinya tongkol itu dibuang, ya. Sekarang bisa jadi sumber energi. Luar biasa,” ucap Prabowo
Kepala Negara menyebut inovasi pemanfaatan tongkol jagung menjadi briket arang merupakan terobosan besar. Menurut Prabowo, lahirnya inovasi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.
“Di tengah krisis, Indonesia punya putra-putri yang inovatif, yang tidak menyerah, yang berani mencari ilmu. Karena kalian dekat sama rakyat, kalian dekat, kalian dekat sama kampus, kalian dekat sama insinyur, sarjana-sarjana itu, makanya kalian tahu. Ini luar biasa,” katanya.
“Pangan adalah strategis. Apapun yang kau buat untuk mengamankan dan meningkatkan produksi pangan kita, itu berarti anda mengamankan masa depan kita, kedaulatan kita,” lanjutnya.
Selain inovasi briket arang dari tongkol jagung, ia juga menyoroti pengembangan pupuk berbahan batu bara kalori rendah yang dinilai mampu memperkuat kemandirian sektor pertanian nasional. Prabowo menegaskan bahwa Indonesia harus mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk impor.
“Begitu kita lepas dari ketergantungan pupuk dari luar negeri, kita menjadi sangat kuat. Saya minta ini diimplementasi, konsep temuan bagus,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kepala Negara menyampaikan bahwa produk-produk inovasi ini nantinya dapat didistribusikan secara luas kepada masyarakat melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menghadirkan kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau.
“Kuncinya kita harus beri bahan yang penting untuk rakyat dengan harga semurah-murahnya. Semurah-murahnya supaya rakyat kita daya belinya meningkat, kehidupannya lebih baik, kualitas hidupnya lebih baik,” tandasnya.
Lensa Agraria
Wujudkan Kemandirian Pangan, BRIN Kaji Potensi Genetik Ayam Lokal untuk Industri Besar
Majalahtani.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji pengembangan Grand Parent Stock (GPS) ayam lokal berbasis keunggulan genetik tropis untuk mendukung kemandirian pembibitan unggas nasional. Kajian ini dilakukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan industri perunggasan Indonesia terhadap impor bibit ayam ras komersial.
Indonesia dinilai memiliki sumber daya genetik ayam lokal yang beragam dengan kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis. Selain lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu, ayam lokal juga memiliki karakteristik produk yang diminati masyarakat.
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan ORPP BRIN, Yudhistira Nugraha, mengatakan bahwa tantangan utama pengembangan industri perunggasan nasional saat ini adalah ketergantungan terhadap impor GPS ayam ras komersial. Produksi grandparent stock dunia masih didominasi negara-negara maju yang telah melakukan riset dan investasi besar selama ratusan tahun.
“Namun demikian, kita berharap tidak terus bergantung pada GPS impor. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya genetik ayam lokal yang sangat beragam dan memiliki keunggulan komparatif, terutama kemampuan adaptasi terhadap lingkungan tropis dan cita rasa khas yang dimiliki,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan grandparent stock ayam lokal menjadi langkah strategis untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional. Ketergantungan pada impor dinilai berisiko terhadap stabilitas produksi dalam negeri apabila terjadi gangguan geopolitik atau hambatan perdagangan internasional.
“Selain itu, pentingnya pengembangan GPS ayam lokal juga didorong tingginya kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Pola Pangan Harapan (PPH), pemenuhan protein hewani nasional sejauh ini banyak ditopang sektor perunggasan, baik daging maupun telur, serta sektor perikanan,” Yudhistira menjelaskan.
Ia menilai kebutuhan protein hewani akan terus meningkat, terutama dengan adanya program Makan Bergizi Gratis. Oleh karena itu, penguatan sistem produksi peternakan menjadi sangat penting, salah satunya melalui ketersediaan grandparent stock sebagai fondasi utama industri perunggasan nasional. Terlebih, peningkatan produksi daging, susu, dan telur telah ditetapkan pemerintah sebagai bagian dari program prioritas nasional hingga 2029.
Untuk mewujudkannya, Yudhistira menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun industri GPS ayam lokal nasional. Menurutnya, keberhasilan pengembangan industri tersebut tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan sinergi antara lembaga riset, industri, peternak, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN mendapat arahan untuk menyiapkan koleksi khusus hasil riset peternakan yang ditargetkan mulai tahun 2027. Produk unggulan seperti ayam pedaging maupun ayam petelur dengan produktivitas lebih tinggi diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata BRIN dalam mendukung kebutuhan nasional. Melalui riset dan inovasi, kita berharap dapat mempercepat pengembangan bibit unggul nasional yang lebih adaptif, produktif, dan efisien sesuai dengan agroekosistem Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menyampaikan bahwa sektor perunggasan memiliki kontribusi besar dalam pemenuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Selain daging ayam, telur dan berbagai produk unggas lainnya terus mengalami peningkatan permintaan seiring pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi berkualitas.
Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ayam lokal yang tersebar di berbagai daerah. Ayam lokal dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis, lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu, serta memiliki karakteristik produk yang disukai masyarakat.
Potensi ini merupakan aset nasional yang perlu dijaga dan dikembangkan secara optimal. Namun Santoso menekankan, pengembangan ayam lokal tidak cukup hanya mengandalkan potensi genetik yang ada. Dibutuhkan dukungan riset dan inovasi berkelanjutan agar ayam lokal Indonesia memiliki produktivitas yang lebih baik dan mampu bersaing secara ekonomi.
“Terdapat berbagai upaya untuk mewujudkan pengembangan ayam lokal yaitu melalui perbaikan pemuliaan, pendekatan rekayasa genetik, pengelolaan sistem pembibitan, penerapan teknologi reproduksi, hingga pengembangan budidaya modern yang lebih efisien. Terkait hal tersebut, pengembangan grandparent stock ayam lokal di Indonesia menjadi salah satu langkah strategis,” Santoso menjelaskan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN, Tike Sartika, menyampaikan bahwa pembentukan GPS ayam lokal Indonesia merupakan langkah strategis untuk memperkuat sistem pembibitan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bibit ayam ras komersial.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya genetik ayam lokal yang sangat beragam dan memiliki keunggulan adaptasi terhadap lingkungan tropis. Melalui riset dan inovasi, ayam lokal diharapkan dapat dikembangkan menjadi bibit unggul nasional yang produktif, efisien, dan mampu mendukung kemandirian pangan nasional, khususnya dalam penyediaan daging dan telur bagi masyarakat.
-
Lensa Agraria4 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria3 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Lensa Agraria4 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Inspirasi Tani4 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Lensa Agraria3 bulan agoKejar Target Swasembada Beras, Mentan Amran Perkuat Sinergi Internal Kementan
-
Lensa Agraria3 bulan agoSurvei BI: Keyakinan Konsumen Februari 2026 Masih Kuat, IKK Capai 125,2
-
Agripreneurship4 bulan agoAdaptasi Petani Lereng Merapi terhadap Perubahan Siklus Hujan
-
Uncategorized4 bulan agoPotensi Blue Economy: Menjadikan Indonesia Raja Rumput Laut Dunia
