Connect with us

Data Pangan

Tak Ada Kenaikan, Harga Kedelai Tetap Stabil di Bawah Rp12.000 per Kg

Published

on

Kedelai. (Foto:Istimewa)

Majalahtani.com – Kementerian Pertanian (Kementan) memfasilitasi kesepakatan antara importir dan pengrajin tahu tempe untuk menjaga stabilitas harga kedelai melalui penerapan Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp11.500 per kilogram di tingkat importir.

Kesepakatan ini memastikan harga kedelai di tingkat pengrajin tetap berada di bawah Rp12.000 per kilogram sampai dengan adanya perubahan kebijakan berikutnya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro, menegaskan bahwa isu yang berkembang di masyarakat mengenai kenaikan harga kedelai telah terverifikasi dan tidak benar. Stabilitas harga pangan berbasis kedelai saat ini tetap terjaga di tengah tekanan geopolitik global yang berdampak pada rantai pasok dunia.

“Kami sudah verifikasi langsung ke pelaku usaha, dan informasi yang menyebut harga kedelai tembus Rp20 ribu itu tidak benar. Harga tetap di bawah HAP, bahkan di level importir masih sekitar Rp11.500,” tegas Yudi dalam keterangannya, Jumat (20/4/2026).

Ia memastikan kondisi pasokan dan harga saat ini masih terkendali. Di mana harga juga masih terkendali sesuai dengan acuan pemerintah. “Jadi tidak perlu dikhawatirkan,” ujarnya.

Yudi menjelaskan bahwa dinamika global memang memberikan tekanan, terutama pada biaya logistik, transportasi, hingga komponen penunjang lainnya.

“Memang ada dampak dari perubahan geopolitik yang menyebabkan ongkos produksi dan distribusi meningkat. Tapi untuk kondisi saat ini pasokan masih cukup dan harga masih terkendali. Ini yang perlu kami sampaikan agar tidak terjadi kekhawatiran di masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menegaskan pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan.

“Kita sudah berkomitmen bersama untuk menjaga implementasi HAP di lapangan tetap berjalan. Ini penting agar stabilitas pangan tetap terjaga,” katanya.

Berdasarkan data Gakoptindo yang diolah Badan Pangan Nasional per 8 April 2026, harga kedelai di berbagai wilayah masih berada dalam rentang yang wajar dan sesuai dengan HAP.

Di Jakarta, rerata harga kedelai berada di kisaran Rp10.500–Rp11.000 per kg, Jawa Rp10.555 per kg, Bali dan NTB Rp10.550 per kg, Sumatra Rp11.450 per kg, Sulawesi Rp11.113 per kg, dan Kalimantan Rp10.908 per kg.

Angka ini masih berada di bawah HAP kedelai impor di tingkat konsumen (pengrajin tahu tempe) yang ditetapkan maksimal Rp12.000 per kg.

Dari sisi importir, Direktur PT FKS Multi Agro Tbk, Tjung Hen Sen, menyampaikan bahwa harga dan pasokan kedelai masih dalam kondisi terkendali meskipun menghadapi tekanan global.

“Saya rasa di tingkat importir saat ini sudah wajar, mungkin di sekitar Rp10.100 sampai Rp10.300 per kilogram tergantung wilayah. Di tingkat pengrajin mungkin sekarang ini sekitar Rp10.500 sampai dengan Rp11.000 per kilogram,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pelaku usaha terus berupaya menjaga stabilitas di tengah tantangan eksternal.

“Saat ini kami mencoba dengan sangat keras untuk menjaga kestabilan dari harga komoditas kedelai. Tapi perlu dicatat ada beberapa faktor seperti geopolitik yang berdampak pada ongkos logistik, asuransi kapal, hingga bahan penunjang,” ungkapnya.

Harga Tahu Tempe di Tingkat Pengrajin Stabil

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gakoptindo, Wibowo Nurcahyo, menegaskan bahwa harga produk tahu dan tempe di tingkat pengrajin masih stabil.

“Kami jamin tahu tempe tidak naik harganya, tapi mungkin ada penyesuaian dari sisi volume. Dari sisi rasa dan kualitas tetap kami jaga. Hasil pantauan kami harga tahu tempe tetap stabil di kisaran Rp12.000 sampai Rp13.000, tidak ada kenaikan yang cukup signifikan,” kata Wibowo

Ia juga memastikan bahwa harga kedelai sebagai bahan baku utama masih berada dalam batas aman.

“Untuk kedelainya kami beli dari importir itu di harga Rp10.200 dan itu masih sangat jauh di bawah HAP (harga acuan penjualan), jadi kalau dari harga kami masih stabil. Justru sebenarnya yang menjadi sedikit masalah bukan dari kedelainya tapi dari penunjangnya yaitu plastik,” jelasnya.

Wibowo menambahkan, pihaknya bersama para importir telah berkomitmen menjaga stabilitas harga dan pasokan.

“Ya ada komitmen kami sepakat dari HAP Rp11.500 di tingkat para importir dan Rp12.000 di tingkat kami (pengrajin tahu tempe) dan menurut kami itu angka yang masih wajar. Kami harap masyarakat tidak terpancing dengan isu-isu berita yang tidak sesuai,” ucapnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Data Pangan

Harga Pangan 16 April: Cabai Rawit Merah Tembus Rp101.750 per Kg

Published

on

Majalahtani.com – Rata-rata harga pangan nasional pada Kamis, 16 April 2026 menunjukkan tren kenaikan pada sejumlah komoditas utama, terutama kelompok hortikultura dan protein hewani.

Berdasarkan data panel harga Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pukul 09:30 WIB, di pasar tradisional seluruh provinsi harga bawang merah ukuran sedang tercatat naik menjadi Rp56.800 per kilogram atau meningkat 20,21 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Kenaikan juga terjadi pada bawang putih ukuran sedang yang mencapai Rp45.950 per kilogram, naik 14,3 persen.

Pada kelompok beras, harga relatif stabil dengan kenaikan moderat. Beras kualitas bawah I berada di level Rp14.900 per kilogram naik 2,41 persen, sementara beras kualitas bawah II mencapai Rp15.050 per kilogram atau naik 3,44 persen.

Untuk kualitas premium, beras kualitas super I tercatat Rp17.600 per kilogram dan super II Rp17.050 per kilogram, masing-masing meningkat sekitar 1–1,7 persen.

Kenaikan paling signifikan terjadi pada komoditas cabai. Cabai rawit merah melonjak tajam menjadi Rp101.750 per kilogram atau naik 20,2 persen.

Sementara itu, cabai merah keriting naik 20 persen menjadi Rp55.200 per kilogram dan cabai merah besar meningkat menjadi Rp47.250 per kilogram. Berbeda dengan tren tersebut, cabai rawit hijau justru turun 2,96 persen menjadi Rp52.100 per kilogram.

Di sektor protein hewani, harga telur ayam ras segar mengalami kenaikan cukup tinggi sebesar 9,49 persen menjadi Rp35.750 per kilogram.

Sebaliknya, harga daging ayam ras segar turun tipis menjadi Rp40.600 per kilogram. Harga daging sapi kualitas I dan kualitas II juga mengalami penurunan masing-masing menjadi Rp141.200 dan Rp133.600 per kilogram.

Untuk komoditas kebutuhan pokok lainnya, gula pasir premium tercatat stabil di Rp20.150 per kilogram, sedangkan gula pasir lokal turun tipis menjadi Rp19.050 per kilogram.

Sementara itu, harga minyak goreng menunjukkan tren beragam. Minyak goreng curah naik menjadi Rp20.650 per kilogram, dan minyak goreng kemasan bermerek I meningkat ke Rp23.800 per kilogram.

Adapun minyak goreng kemasan bermerek II justru turun menjadi Rp21.700 per kilogram.

Continue Reading

Data Pangan

Mentan Amran: Cadangan Pangan Kita Cukup 11 Bulan ke Depan

Published

on

Majalahtani.com – Ketegangan geopolitik global yang dipicu konflik di Timur Tengah terus mempertebal kekhawatiran dunia terhadap stabilitas pangan. Eskalasi konflik, gangguan jalur logistik, serta ketidakpastian perdagangan internasional dinilai berpotensi menekan pasokan dan mendorong lonjakan harga pangan di tingkat global.

Bahkan Rusia telah menyerukan pembentukan cadangan pangan bersama negara-negara BRICS sebagai langkah antisipatif atas meningkatnya risiko krisis.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia justru mencatatkan perkembangan yang signifikan di sektor ketahanan pangan nasional. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah mencapai 4,7 juta ton, merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak Bulog berdiri, dan terus bergerak menuju angka 5 juta ton.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menyampaikan capaian tersebut merupakan satu lapisan dari gambaran utuh ketahanan pangan Indonesia. Di pasar domestik dan sektor HoReCa (Hotel, Restoran, dan Katering), ketersediaan beras tercatat mencapai 12 juta ton.

Selain itu, potensi standing crop diproyeksikan terus memberikan kontribusi produksi hingga akhir tahun. Ketiga lapisan ketersediaan tersebut menjadi fondasi utama yang memastikan kebutuhan pangan Indonesia tercukupi hingga 11 bulan ke depan.

“Cadangan kita saat ini 4,7 juta ton dan terus menuju 5 juta ton. Dengan posisi ini, kebutuhan pangan kita cukup hingga 11 bulan ke depan. Ini adalah bentuk kesiapan Indonesia dalam menghadapi potensi krisis pangan global,” ujarnya di Jakarta, dikutip Kamis (16/4/2026).

Amran menilai dinamika geopolitik global saat ini semakin menegaskan pentingnya setiap negara memiliki cadangan pangan yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan.

Ketergantungan terhadap rantai pasok global yang rentan terganggu dinilai sebagai kelemahan struktural yang harus diatasi secara serius dan sistematis.

“Dunia saat ini dihadapkan pada ketidakpastian. Bisa karena konflik, bisa karena kebijakan negara lain yang membatasi ekspor. Karena itu, kita harus memastikan produksi dalam negeri kuat dan cadangan kita cukup,” kata Amran.

Terkait seruan Rusia untuk membangun cadangan pangan bersama negara-negara BRICS, Kementan memandang inisiatif tersebut sebagai langkah strategis yang sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan global. Kerja sama antarnegara dinilai menjadi instrumen penting dalam meredam dampak krisis pangan yang semakin kompleks.

Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang dalam kelompok tersebut, berada pada posisi strategis untuk tidak hanya menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga berkontribusi aktif pada stabilitas pangan kawasan dan global.

Komitmen tersebut berlandaskan pada prinsip yang telah ditegaskan Presiden Prabowo Subianto saat mengumumkan pencapaian swasembada pangan nasional dalam Panen Raya Karawang, 7 Januari 2026.

“Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau makan, pangan, tergantung bangsa lain,” pungkas dia.

Continue Reading

Data Pangan

Antisipasi Lonjakan Permintaan, Bulog Ajukan Tambahan Kuota Minyakita

Published

on

Dirut Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, saat monitoring langsung di Pasar Minggu dan Pasar Grogol, Jakarta, pada Selasa (14/4/2026).

Majalahtani.com – Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan ketersediaan minyak goreng ‘Minyakita’ tetap aman dan tersedia di pasar-pasar tradisional. Hal itu disampaikannya usai monitoring langsung di Pasar Minggu dan Pasar Grogol, Jakarta, pada Selasa (14/4/2026).

Dia menyampaikan, bahwa stok Minyakita dalam kondisi cukup dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya di pasar tradisional.

“Kami memastikan bahwa Minyakita tersedia dan dijual dengan harga yang tetap terjangkau bagi masyarakat. Saat ini harga terpantau sesuai HET di harga Rp15.700 per liter,” ujarnya dikutip Rabu (15/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa permintaan terhadap Minyakita mengalami peningkatan seiring pergeseran konsumsi masyarakat dari minyak curah ke minyak kemasan sederhana. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Bulog telah mengajukan penambahan kuota pasokan agar distribusi tetap terjaga.

“Kami melihat adanya peningkatan demand, sehingga langkah antisipatif sudah kami lakukan dengan mengusulkan tambahan pasokan. Tujuannya agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkan Minyakita,” jelasnya.

Di sisi lain, ia menambahkan bahwa untuk komoditi beras nasional yang saat ini stoknya mencapai sekitar 4,7 juta ton dan serapan gabah yang terus berlangsung, Bulog optimistis ketersediaan pangan nasional tetap aman.

Kegiatan monitoring ini akan terus dilakukan secara berkala di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pangan dan daya beli masyarakat.

“Bulog bersama pemerintah akan terus hadir di tengah masyarakat untuk memastikan kebutuhan pangan, termasuk beras dan Minyakita, tersedia dengan baik,” tegas Ahmad Rizal.

Dengan langkah proaktif ini, Bulog optimistis ketersediaan beras dan Minyakita di pasar akan tetap terjaga, sehingga dapat mendukung stabilitas harga serta menjaga daya beli masyarakat.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved