Teknologi Tani
BRIN Kenalkan Petasol & Padi Biosalin: Solusi Nyata Ketahanan Pangan dan Energi
Majalahtani.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan dua inovasi unggulan hasil pengembangan Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PR SIMB), yaitu Petasol dan padi Biosalin.
Petasol hadir sebagai solusi energi alternatif berbasis lingkungan. Bahan bakar ini dihasilkan dari pengolahan sampah plastik bernilai rendah melalui proses pirolisis menggunakan mesin Faspol.
Inovasi ini telah diterapkan di lebih dari 50 lokasi di Indonesia dan terbukti mampu mengurangi emisi dibandingkan praktik pembakaran sampah terbuka.
Kepala BRIN, Arif Satria, turut melakukan demonstrasi penggunaan Petasol dengan menguji bahan bakar tersebut pada perahu nelayan.
Hasilnya, mesin dapat menyala dengan baik, menunjukkan bahwa Petasol siap dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif yang mendukung kemandirian nelayan sekaligus mengatasi persoalan limbah plastik.
Di sektor pangan, BRIN juga memperkenalkan padi Biosalin, varietas unggul yang dirancang khusus untuk lahan pesisir dengan tingkat salinitas tinggi akibat intrusi air laut.
Dengan produktivitas yang tetap optimal di lahan marginal, padi ini menjadi solusi strategis dalam meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
Pengembangan padi Biosalin dilakukan dengan pendekatan Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), yang menekankan praktik pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Program ini mengusung konsep Water-Energy-Food Nexus, yakni integrasi pengelolaan sumber daya air, energi, dan pangan secara berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Jepara pun didorong menjadi living laboratory hilirisasi teknologi nasional sekaligus model pengembangan kawasan pesisir berbasis inovasi.
“Jepara kita dorong bukan hanya sebagai lokasi implementasi, tetapi sebagai living laboratory hilirisasi teknologi nasional,” tambah Arif.
Ke depan, model ini akan dikembangkan menjadi Integrated Coastal Industrial Cluster yang memperkuat rantai pasok lokal dan dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
Teknologi Tani
Prabowo Puji Inovasi Briket Tongkol Jagung: Luar Biasa!
Majalahtani.com – Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi berbagai inovasi di sektor pangan dan energi yang dinilai mampu memperkuat ketahanan nasional di tengah situasi krisis global.
Apresiasi tersebut disampaikan Presiden dalam sambutannya pada groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri serta launching operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri Tahun 2026 di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026.
“Saya gembira. Bukan saya pura-pura. Saya lega. Kenapa? Karena dunia krisis energi, negara-negara panik. Tapi sekarang saya dikasih tahu, ‘Pak tenang, kita bisa bikin briket arang dari tongkol jagung.’ Waduh, luar biasa. Tadinya tongkol itu dibuang, ya. Sekarang bisa jadi sumber energi. Luar biasa,” ucap Prabowo
Kepala Negara menyebut inovasi pemanfaatan tongkol jagung menjadi briket arang merupakan terobosan besar. Menurut Prabowo, lahirnya inovasi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.
“Di tengah krisis, Indonesia punya putra-putri yang inovatif, yang tidak menyerah, yang berani mencari ilmu. Karena kalian dekat sama rakyat, kalian dekat, kalian dekat sama kampus, kalian dekat sama insinyur, sarjana-sarjana itu, makanya kalian tahu. Ini luar biasa,” katanya.
“Pangan adalah strategis. Apapun yang kau buat untuk mengamankan dan meningkatkan produksi pangan kita, itu berarti anda mengamankan masa depan kita, kedaulatan kita,” lanjutnya.
Selain inovasi briket arang dari tongkol jagung, ia juga menyoroti pengembangan pupuk berbahan batu bara kalori rendah yang dinilai mampu memperkuat kemandirian sektor pertanian nasional. Prabowo menegaskan bahwa Indonesia harus mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk impor.
“Begitu kita lepas dari ketergantungan pupuk dari luar negeri, kita menjadi sangat kuat. Saya minta ini diimplementasi, konsep temuan bagus,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kepala Negara menyampaikan bahwa produk-produk inovasi ini nantinya dapat didistribusikan secara luas kepada masyarakat melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menghadirkan kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau.
“Kuncinya kita harus beri bahan yang penting untuk rakyat dengan harga semurah-murahnya. Semurah-murahnya supaya rakyat kita daya belinya meningkat, kehidupannya lebih baik, kualitas hidupnya lebih baik,” tandasnya.
Lensa Agraria
Wujudkan Kemandirian Pangan, BRIN Kaji Potensi Genetik Ayam Lokal untuk Industri Besar
Majalahtani.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji pengembangan Grand Parent Stock (GPS) ayam lokal berbasis keunggulan genetik tropis untuk mendukung kemandirian pembibitan unggas nasional. Kajian ini dilakukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan industri perunggasan Indonesia terhadap impor bibit ayam ras komersial.
Indonesia dinilai memiliki sumber daya genetik ayam lokal yang beragam dengan kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis. Selain lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu, ayam lokal juga memiliki karakteristik produk yang diminati masyarakat.
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan ORPP BRIN, Yudhistira Nugraha, mengatakan bahwa tantangan utama pengembangan industri perunggasan nasional saat ini adalah ketergantungan terhadap impor GPS ayam ras komersial. Produksi grandparent stock dunia masih didominasi negara-negara maju yang telah melakukan riset dan investasi besar selama ratusan tahun.
“Namun demikian, kita berharap tidak terus bergantung pada GPS impor. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya genetik ayam lokal yang sangat beragam dan memiliki keunggulan komparatif, terutama kemampuan adaptasi terhadap lingkungan tropis dan cita rasa khas yang dimiliki,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan grandparent stock ayam lokal menjadi langkah strategis untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional. Ketergantungan pada impor dinilai berisiko terhadap stabilitas produksi dalam negeri apabila terjadi gangguan geopolitik atau hambatan perdagangan internasional.
“Selain itu, pentingnya pengembangan GPS ayam lokal juga didorong tingginya kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Pola Pangan Harapan (PPH), pemenuhan protein hewani nasional sejauh ini banyak ditopang sektor perunggasan, baik daging maupun telur, serta sektor perikanan,” Yudhistira menjelaskan.
Ia menilai kebutuhan protein hewani akan terus meningkat, terutama dengan adanya program Makan Bergizi Gratis. Oleh karena itu, penguatan sistem produksi peternakan menjadi sangat penting, salah satunya melalui ketersediaan grandparent stock sebagai fondasi utama industri perunggasan nasional. Terlebih, peningkatan produksi daging, susu, dan telur telah ditetapkan pemerintah sebagai bagian dari program prioritas nasional hingga 2029.
Untuk mewujudkannya, Yudhistira menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun industri GPS ayam lokal nasional. Menurutnya, keberhasilan pengembangan industri tersebut tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan sinergi antara lembaga riset, industri, peternak, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN mendapat arahan untuk menyiapkan koleksi khusus hasil riset peternakan yang ditargetkan mulai tahun 2027. Produk unggulan seperti ayam pedaging maupun ayam petelur dengan produktivitas lebih tinggi diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata BRIN dalam mendukung kebutuhan nasional. Melalui riset dan inovasi, kita berharap dapat mempercepat pengembangan bibit unggul nasional yang lebih adaptif, produktif, dan efisien sesuai dengan agroekosistem Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menyampaikan bahwa sektor perunggasan memiliki kontribusi besar dalam pemenuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Selain daging ayam, telur dan berbagai produk unggas lainnya terus mengalami peningkatan permintaan seiring pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi berkualitas.
Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ayam lokal yang tersebar di berbagai daerah. Ayam lokal dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis, lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu, serta memiliki karakteristik produk yang disukai masyarakat.
Potensi ini merupakan aset nasional yang perlu dijaga dan dikembangkan secara optimal. Namun Santoso menekankan, pengembangan ayam lokal tidak cukup hanya mengandalkan potensi genetik yang ada. Dibutuhkan dukungan riset dan inovasi berkelanjutan agar ayam lokal Indonesia memiliki produktivitas yang lebih baik dan mampu bersaing secara ekonomi.
“Terdapat berbagai upaya untuk mewujudkan pengembangan ayam lokal yaitu melalui perbaikan pemuliaan, pendekatan rekayasa genetik, pengelolaan sistem pembibitan, penerapan teknologi reproduksi, hingga pengembangan budidaya modern yang lebih efisien. Terkait hal tersebut, pengembangan grandparent stock ayam lokal di Indonesia menjadi salah satu langkah strategis,” Santoso menjelaskan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN, Tike Sartika, menyampaikan bahwa pembentukan GPS ayam lokal Indonesia merupakan langkah strategis untuk memperkuat sistem pembibitan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bibit ayam ras komersial.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya genetik ayam lokal yang sangat beragam dan memiliki keunggulan adaptasi terhadap lingkungan tropis. Melalui riset dan inovasi, ayam lokal diharapkan dapat dikembangkan menjadi bibit unggul nasional yang produktif, efisien, dan mampu mendukung kemandirian pangan nasional, khususnya dalam penyediaan daging dan telur bagi masyarakat.
Kabar Desa
Mengenal Farmscaping, Solusi Atasi Resistensi Hama di Lahan Pertani
Majalahtani.com – Sivitas akademika Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan inovasi pertanian ramah lingkungan melalui metode farmscaping. Pendekatan ini memanfaatkan tanaman berbunga dan musuh alami hama untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menekan penggunaan bahan kimia di lahan pertanian.
Pendekatan tersebut dilakukan oleh mahasiswa serta dosen UM melalui riset dan pendampingan langsung kepada petani di sejumlah wilayah Jawa Timur. Metode farmscaping dinilai menjadi solusi alternatif untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia yang selama ini dianggap sebagai jalan pintas dalam pengendalian hama.
Naufal Wima Al Fahri menjelaskan, penggunaan pestisida secara berlebihan justru menimbulkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan produktivitas pertanian. Menurutnya, residu bahan kimia dapat memicu resistensi hama, mencemari tanah dan air, serta menurunkan populasi serangga penyerbuk yang berperan penting dalam ekosistem.
“Penggunaan pestisida secara berlebihan dapat merusak keseimbangan ekosistem dan mengancam produktivitas jangka panjang,” ujarnya dalam kajian yang difasilitasi UM, dilansir dari laman Universitas UMY, Senin (11/5/2026).
Melalui metode farmscaping, petani memanfaatkan tanaman refugia seperti bunga matahari, kenikir, dan bunga kertas untuk menarik musuh alami hama, di antaranya kumbang koksi, laba-laba, dan tawon parasitoid. Kehadiran predator alami tersebut membantu mengendalikan populasi hama tanpa harus bergantung pada bahan kimia sintetis.
“Farmscaping adalah cara bekerja sama dengan alam, bukan melawannya,” kata Naufal.
Penerapan metode ini mulai menunjukkan hasil positif di sejumlah daerah. Di Kabupaten Malang, penggunaan tanaman refugia terbukti meningkatkan keberagaman arthropoda pengendali hama di lahan pertanian. Sementara itu, petani di Pamekasan mulai mengombinasikan tanaman hortikultura dengan tanaman berbunga guna menciptakan ekosistem pertanian yang lebih seimbang dan sehat.
RKT: Farmscapping dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas lingkungan pertanian dalam jangka panjang.
Praktik serupa juga diterapkan Kholifah, Ketua P4S Tani Makmur Pasuruan. Ia memanfaatkan musuh alami sebagai agens hayati untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia di lahan pertanian.
“Tidak semua serangga harus dimusnahkan. Ada yang justru membantu petani,” ujarnya.
Pendekatan ekologis tersebut dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas lingkungan pertanian dalam jangka panjang. Namun, penerapan farmscaping masih menghadapi tantangan karena sebagian petani menganggap pestisida kimia lebih praktis dan cepat digunakan dibandingkan metode alami yang memerlukan proses bertahap.
Meski demikian, UM terus mendorong pengembangan pertanian berkelanjutan melalui riset, edukasi, dan pendampingan kepada masyarakat. Dukungan pemerintah melalui program Genta Organik juga dinilai penting untuk mempercepat transisi menuju sistem pertanian yang produktif, sehat, dan ramah lingkungan.
Penerapan farmscaping sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 2 tentang Zero Hunger, poin 12 tentang Responsible Consumption and Production, serta poin 15 tentang Life on Land karena mendukung pertanian berkelanjutan dan menjaga keseimbangan ekosistem.
-
Lensa Agraria4 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria3 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Inspirasi Tani4 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Lensa Agraria4 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Lensa Agraria2 bulan agoKejar Target Swasembada Beras, Mentan Amran Perkuat Sinergi Internal Kementan
-
Lensa Agraria3 bulan agoSurvei BI: Keyakinan Konsumen Februari 2026 Masih Kuat, IKK Capai 125,2
-
Agripreneurship4 bulan agoAdaptasi Petani Lereng Merapi terhadap Perubahan Siklus Hujan
-
Uncategorized4 bulan agoPotensi Blue Economy: Menjadikan Indonesia Raja Rumput Laut Dunia
