Connect with us

Teknologi Tani

BRIN Bekali Petani Olah Mangga Reject Jadi Sumber Cuan Baru

Published

on

Majalahtani.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat hilirisasi komoditas pertanian melalui inovasi pengolahan mangga reject (apkir) menjadi produk bernilai tinggi.

Inovasi ini diperkenalkan dalam Workshop Teknologi Hilirisasi Komoditas Buah-buahan, Umbi-umbian, dan Perikanan yang diselenggarakan bersama Yayasan Inotek (Inovasi dan Teknologi Indonesia) di Kabupaten Majalengka.

Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, Wiwik Handayani, menjelaskan bahwa tingginya jumlah mangga reject, terutama saat panen raya menjadi tantangan serius bagi petani.

Buah reject yang tidak memenuhi standar pasar, baik karena terlalu matang, kurang matang, maupun terdampak cuaca, sering kali terbuang dan menekan harga jual.

Melalui inovasi ini, buah tersebut justru diolah menjadi produk unggulan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Pemanfaatan buah reject menjadi produk olahan bernilai tinggi dapat membantu menyelamatkan hasil panen sekaligus meningkatkan pendapatan petani,” ujar Wiwik di hadapan peserta workshop yang terdiri dari 10 kelompok pelaku usaha terpilih, dikutip dari laman BRIN, Selasa (21/4/2026).

Beragam produk inovatif dihasilkan dari pengolahan mangga ini, mulai dari dehydrated fruit (manisan mangga ala Thailand), fruit leather (nori mangga), hingga puree, powder, dan minyak mangga.

Produk-produk tersebut menurut Wiwik, dapat diolah melalui teknologi pengeringan yang mampu mempertahankan rasa dan kandungan nutrisi, sekaligus memperpanjang masa simpan tanpa bahan pengawet maupun pemanis buatan.

Tidak hanya itu, variasi produk juga mencakup puree, powder, hingga minyak mangga yang memiliki potensi pasar luas.

“Produk olahan ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga mendukung pola hidup sehat karena dibuat tanpa bahan pengawet dan pemanis buatan,” tambah Wiwik.

Lebih dari sekadar inovasi teknologi, ia juga menekankan pentingnya pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam pengembangan produk.

Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif, membuka peluang usaha baru, serta mendorong kemandirian masyarakat berbasis potensi lokal.

Melalui pelatihan ini, peserta didorong untuk tidak hanya memproduksi olahan konvensional seperti dodol, selai, atau sirup, tetapi juga mengembangkan produk bernilai tambah tinggi yang berpotensi menembus pasar ekspor.

Dengan demikian, inovasi BRIN tidak hanya menjawab persoalan limbah hasil panen, tetapi juga menjadi katalis penguatan daya saing industri pangan lokal di tingkat global.

Teknologi Tani

Prabowo Puji Inovasi Briket Tongkol Jagung: Luar Biasa!

Published

on

Majalahtani.com – Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi berbagai inovasi di sektor pangan dan energi yang dinilai mampu memperkuat ketahanan nasional di tengah situasi krisis global.

Apresiasi tersebut disampaikan Presiden dalam sambutannya pada groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri serta launching operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri Tahun 2026 di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026.

“Saya gembira. Bukan saya pura-pura. Saya lega. Kenapa? Karena dunia krisis energi, negara-negara panik. Tapi sekarang saya dikasih tahu, ‘Pak tenang, kita bisa bikin briket arang dari tongkol jagung.’ Waduh, luar biasa. Tadinya tongkol itu dibuang, ya. Sekarang bisa jadi sumber energi. Luar biasa,” ucap Prabowo

Kepala Negara menyebut inovasi pemanfaatan tongkol jagung menjadi briket arang merupakan terobosan besar. Menurut Prabowo, lahirnya inovasi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.

“Di tengah krisis, Indonesia punya putra-putri yang inovatif, yang tidak menyerah, yang berani mencari ilmu. Karena kalian dekat sama rakyat, kalian dekat, kalian dekat sama kampus, kalian dekat sama insinyur, sarjana-sarjana itu, makanya kalian tahu. Ini luar biasa,” katanya.

“Pangan adalah strategis. Apapun yang kau buat untuk mengamankan dan meningkatkan produksi pangan kita, itu berarti anda mengamankan masa depan kita, kedaulatan kita,” lanjutnya.

Selain inovasi briket arang dari tongkol jagung, ia juga menyoroti pengembangan pupuk berbahan batu bara kalori rendah yang dinilai mampu memperkuat kemandirian sektor pertanian nasional. Prabowo menegaskan bahwa Indonesia harus mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk impor.

“Begitu kita lepas dari ketergantungan pupuk dari luar negeri, kita menjadi sangat kuat. Saya minta ini diimplementasi, konsep temuan bagus,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kepala Negara menyampaikan bahwa produk-produk inovasi ini nantinya dapat didistribusikan secara luas kepada masyarakat melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menghadirkan kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau.

“Kuncinya kita harus beri bahan yang penting untuk rakyat dengan harga semurah-murahnya. Semurah-murahnya supaya rakyat kita daya belinya meningkat, kehidupannya lebih baik, kualitas hidupnya lebih baik,” tandasnya.

Continue Reading

Lensa Agraria

Wujudkan Kemandirian Pangan, BRIN Kaji Potensi Genetik Ayam Lokal untuk Industri Besar

Published

on

Majalahtani.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji pengembangan Grand Parent Stock (GPS) ayam lokal berbasis keunggulan genetik tropis untuk mendukung kemandirian pembibitan unggas nasional. Kajian ini dilakukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan industri perunggasan Indonesia terhadap impor bibit ayam ras komersial.

Indonesia dinilai memiliki sumber daya genetik ayam lokal yang beragam dengan kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis. Selain lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu, ayam lokal juga memiliki karakteristik produk yang diminati masyarakat.

Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan ORPP BRIN, Yudhistira Nugraha, mengatakan bahwa tantangan utama pengembangan industri perunggasan nasional saat ini adalah ketergantungan terhadap impor GPS ayam ras komersial. Produksi grandparent stock dunia masih didominasi negara-negara maju yang telah melakukan riset dan investasi besar selama ratusan tahun.

“Namun demikian, kita berharap tidak terus bergantung pada GPS impor. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya genetik ayam lokal yang sangat beragam dan memiliki keunggulan komparatif, terutama kemampuan adaptasi terhadap lingkungan tropis dan cita rasa khas yang dimiliki,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengembangan grandparent stock ayam lokal menjadi langkah strategis untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional. Ketergantungan pada impor dinilai berisiko terhadap stabilitas produksi dalam negeri apabila terjadi gangguan geopolitik atau hambatan perdagangan internasional.

“Selain itu, pentingnya pengembangan GPS ayam lokal juga didorong tingginya kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Pola Pangan Harapan (PPH), pemenuhan protein hewani nasional sejauh ini banyak ditopang sektor perunggasan, baik daging maupun telur, serta sektor perikanan,” Yudhistira menjelaskan.

Ia menilai kebutuhan protein hewani akan terus meningkat, terutama dengan adanya program Makan Bergizi Gratis. Oleh karena itu, penguatan sistem produksi peternakan menjadi sangat penting, salah satunya melalui ketersediaan grandparent stock sebagai fondasi utama industri perunggasan nasional. Terlebih, peningkatan produksi daging, susu, dan telur telah ditetapkan pemerintah sebagai bagian dari program prioritas nasional hingga 2029.

Untuk mewujudkannya, Yudhistira menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun industri GPS ayam lokal nasional. Menurutnya, keberhasilan pengembangan industri tersebut tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan sinergi antara lembaga riset, industri, peternak, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN mendapat arahan untuk menyiapkan koleksi khusus hasil riset peternakan yang ditargetkan mulai tahun 2027. Produk unggulan seperti ayam pedaging maupun ayam petelur dengan produktivitas lebih tinggi diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata BRIN dalam mendukung kebutuhan nasional. Melalui riset dan inovasi, kita berharap dapat mempercepat pengembangan bibit unggul nasional yang lebih adaptif, produktif, dan efisien sesuai dengan agroekosistem Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menyampaikan bahwa sektor perunggasan memiliki kontribusi besar dalam pemenuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Selain daging ayam, telur dan berbagai produk unggas lainnya terus mengalami peningkatan permintaan seiring pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi berkualitas.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ayam lokal yang tersebar di berbagai daerah. Ayam lokal dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis, lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu, serta memiliki karakteristik produk yang disukai masyarakat.

Potensi ini merupakan aset nasional yang perlu dijaga dan dikembangkan secara optimal. Namun Santoso menekankan, pengembangan ayam lokal tidak cukup hanya mengandalkan potensi genetik yang ada. Dibutuhkan dukungan riset dan inovasi berkelanjutan agar ayam lokal Indonesia memiliki produktivitas yang lebih baik dan mampu bersaing secara ekonomi.

“Terdapat berbagai upaya untuk mewujudkan pengembangan ayam lokal yaitu melalui perbaikan pemuliaan, pendekatan rekayasa genetik, pengelolaan sistem pembibitan, penerapan teknologi reproduksi, hingga pengembangan budidaya modern yang lebih efisien. Terkait hal tersebut, pengembangan grandparent stock ayam lokal di Indonesia menjadi salah satu langkah strategis,” Santoso menjelaskan.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN, Tike Sartika, menyampaikan bahwa pembentukan GPS ayam lokal Indonesia merupakan langkah strategis untuk memperkuat sistem pembibitan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bibit ayam ras komersial.

Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya genetik ayam lokal yang sangat beragam dan memiliki keunggulan adaptasi terhadap lingkungan tropis. Melalui riset dan inovasi, ayam lokal diharapkan dapat dikembangkan menjadi bibit unggul nasional yang produktif, efisien, dan mampu mendukung kemandirian pangan nasional, khususnya dalam penyediaan daging dan telur bagi masyarakat.

Continue Reading

Kabar Desa

Mengenal Farmscaping, Solusi Atasi Resistensi Hama di Lahan Pertani

Published

on

Majalahtani.com – Sivitas akademika Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan inovasi pertanian ramah lingkungan melalui metode farmscaping. Pendekatan ini memanfaatkan tanaman berbunga dan musuh alami hama untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menekan penggunaan bahan kimia di lahan pertanian.

Pendekatan tersebut dilakukan oleh mahasiswa serta dosen UM melalui riset dan pendampingan langsung kepada petani di sejumlah wilayah Jawa Timur. Metode farmscaping dinilai menjadi solusi alternatif untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia yang selama ini dianggap sebagai jalan pintas dalam pengendalian hama.

Naufal Wima Al Fahri menjelaskan, penggunaan pestisida secara berlebihan justru menimbulkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan produktivitas pertanian. Menurutnya, residu bahan kimia dapat memicu resistensi hama, mencemari tanah dan air, serta menurunkan populasi serangga penyerbuk yang berperan penting dalam ekosistem.

“Penggunaan pestisida secara berlebihan dapat merusak keseimbangan ekosistem dan mengancam produktivitas jangka panjang,” ujarnya dalam kajian yang difasilitasi UM, dilansir dari laman Universitas UMY, Senin (11/5/2026).

Melalui metode farmscaping, petani memanfaatkan tanaman refugia seperti bunga matahari, kenikir, dan bunga kertas untuk menarik musuh alami hama, di antaranya kumbang koksi, laba-laba, dan tawon parasitoid. Kehadiran predator alami tersebut membantu mengendalikan populasi hama tanpa harus bergantung pada bahan kimia sintetis.

“Farmscaping adalah cara bekerja sama dengan alam, bukan melawannya,” kata Naufal.

Penerapan metode ini mulai menunjukkan hasil positif di sejumlah daerah. Di Kabupaten Malang, penggunaan tanaman refugia terbukti meningkatkan keberagaman arthropoda pengendali hama di lahan pertanian. Sementara itu, petani di Pamekasan mulai mengombinasikan tanaman hortikultura dengan tanaman berbunga guna menciptakan ekosistem pertanian yang lebih seimbang dan sehat.

RKT: Farmscapping dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas lingkungan pertanian dalam jangka panjang.

Praktik serupa juga diterapkan Kholifah, Ketua P4S Tani Makmur Pasuruan. Ia memanfaatkan musuh alami sebagai agens hayati untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia di lahan pertanian.

“Tidak semua serangga harus dimusnahkan. Ada yang justru membantu petani,” ujarnya.

Pendekatan ekologis tersebut dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas lingkungan pertanian dalam jangka panjang. Namun, penerapan farmscaping masih menghadapi tantangan karena sebagian petani menganggap pestisida kimia lebih praktis dan cepat digunakan dibandingkan metode alami yang memerlukan proses bertahap.

Meski demikian, UM terus mendorong pengembangan pertanian berkelanjutan melalui riset, edukasi, dan pendampingan kepada masyarakat. Dukungan pemerintah melalui program Genta Organik juga dinilai penting untuk mempercepat transisi menuju sistem pertanian yang produktif, sehat, dan ramah lingkungan.

Penerapan farmscaping sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 2 tentang Zero Hunger, poin 12 tentang Responsible Consumption and Production, serta poin 15 tentang Life on Land karena mendukung pertanian berkelanjutan dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved