Lensa Agraria
Nilai Ekonomi Karbon Jadi Pintu Masuk Investasi Pertanian Berkelanjutan
Majalahtani.com – Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya dalam memperkuat implementasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK) sebagai bagian dari transformasi menuju pertanian rendah emisi dan berkelanjutan.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, menyampaikan sektor pertanian kini memiliki peran strategis dalam implementasi NEK karena tidak hanya menjadi sumber emisi gas rumah kaca (GRK), tetapi juga berfungsi sebagai penyerap karbon melalui praktik budidaya berkelanjutan.
Dengan cakupan lahan yang luas dan keterlibatan jutaan petani, sektor ini dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.
“Pertanian memiliki posisi unik, tidak hanya sebagai penghasil emisi, tetapi juga sebagai penyerap karbon. Dengan penerapan teknologi rendah emisi dan pengelolaan lahan yang ramah lingkungan, sektor ini dapat menjadi kunci dalam pengendalian perubahan iklim sekaligus membuka peluang ekonomi baru,” ujarnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI, Jakarta, dikutip Rabu (15/4/2026).
Sudaryono menambahkan bahwa kesiapan sektor pertanian dalam implementasi NEK juga menjadi faktor penting dalam menarik investasi asing, seiring terbukanya perdagangan karbon internasional.
Melalui mekanisme ini, investor global dapat membeli kredit karbon dari Indonesia, sehingga membuka peluang pembiayaan bagi proyek-proyek rendah karbon di sektor pertanian.
“Implementasi NEK bukan hanya mendukung target penurunan emisi nasional, tetapi juga menjadi pintu masuk strategis bagi arus investasi hijau yang berkelanjutan,” tambahnya.
Sudaryono menyatakan upaya ini sejalan dengan visi Indonesia dalam Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050 serta komitmen penurunan emisi melalui Nationally Determined Contribution (NDC).
Pemerintah menargetkan penurunan emisi sektor pertanian sebesar 10 juta ton CO2 ekuivalen pada 2030, sebagai bagian dari target nasional.
Selain itu, RPJMN 2025–2029 juga menekankan pentingnya integrasi pertumbuhan ekonomi dengan ketahanan pangan, energi, dan air, serta transisi menuju ekonomi hijau dan Net Zero Emission dengan target penurunan emisi hingga 30,11 persen pada 2029.
Untuk mempercepat implementasi NEK, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 110 Tahun 2025 tentang penyelenggaraan instrumen ekonomi karbon lintas sektor, termasuk sektor pertanian yang mencakup subsektor persawahan, peternakan, dan perkebunan.
Kementan sendiri sejak 2019 telah menjalankan berbagai program penurunan emisi, antara lain pengembangan biogas, peningkatan cadangan karbon tanah melalui pupuk organik, penumbuhan desa organik, penggunaan varietas padi rendah emisi, perbaikan kualitas pakan ternak, pemupukan berimbang, pengelolaan lahan gambut, serta sekuestrasi karbon pada tanaman hortikultura dan perkebunan.
“Upaya tersebut berhasil mencatatkan rata-rata penurunan emisi sebesar 71,13 juta ton CO2 ekuivalen pada periode 2019–2024,” kata Sudaryono yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini.
Namun demikian, implementasi perdagangan karbon di sektor pertanian masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti kompleksitas penghitungan emisi lintas sektor, keterbatasan data, fragmentasi lahan petani, kepastian hak atas karbon, fluktuasi harga karbon, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, serta risiko produksi akibat perubahan iklim dan serangan organisme pengganggu tanaman.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah tengah menyelesaikan regulasi turunan berupa Peraturan Menteri Koordinator Bidang Pangan terkait struktur dan tata kerja Komite Pengarah NEK, serta Peraturan Menteri Pertanian tentang penyelenggaraan instrumen ekonomi karbon di sektor pertanian.
Selain itu, Kementan juga tengah menyusun berbagai peta jalan strategis, antara lain Net Zero Emission (NZE) sektor pertanian, Enhanced NDC (ENDC), Second NDC (SNDC), serta peta jalan implementasi NEK sektor pertanian.
Dalam implementasinya, Kementan akan memperkuat sistem Measurement, Reporting, and Verification (MRV) berbasis data real-time, mengembangkan praktik pertanian rendah emisi, meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh dalam literasi karbon, serta mendorong skema insentif ekonomi seperti carbon pricing dan result-based payment.
“Keberhasilan implementasi NEK membutuhkan sinergi lintas sektor, penguatan kelembagaan, serta dukungan kebijakan yang konsisten. Oleh karena itu, kami mengharapkan dukungan dari Komisi IV DPR RI agar kebijakan ini dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi petani dan pembangunan nasional,” tutur Sudaryono.
Kementan optimistis, melalui implementasi NEK yang terarah, sektor pertanian tidak hanya mampu menjaga produksi dan ketahanan pangan nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing Indonesia sebagai pemain utama dalam pasar karbon global.
Data Pangan
Wamentan Sebut Stok Beras di Masyarakat Melimpah
Majalahtani.com – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, menegaskan bahwa ketahanan pangan nasional tidak hanya ditopang oleh stok pemerintah, tetapi juga oleh ketersediaan beras di masyarakat serta potensi produksi yang masih akan berlangsung hingga akhir tahun.
“Beras yang beredar di masyarakat diperkirakan mencapai hampir 12 juta ton, serta potensi panen dalam waktu dekat sekitar 12 juta ton. Secara total, kekuatan stok beras nasional mencapai sekitar 28 juta ton setara dengan ketahanan pangan hingga 11 bulan ke depan,” ujarnya dikutip Senin (20/4/2026).
Selain memastikan ketersediaan stok, pemerintah juga terus memperkuat peran Bulog dalam menjaga keseimbangan harga, baik di tingkat petani maupun konsumen.
Sejalan dengan itu, pemerintah juga mengoptimalkan instrumen serapan gabah sebagai langkah menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus memperkuat cadangan nasional.
“Kami optimistis target serapan gabah setara beras pada tahun 2026 sebesar 4 juta ton dapat tercapai seiring meningkatnya produksi padi nasional. Target ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 3 juta ton,” Tuturnya.
Sudaryono yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu menegaskan, bahwa Bulog memiliki peran strategis sebagai penyangga harga dalam sistem pangan nasional.
“Penjamin harga itu Bulog. Ketika harga jatuh, negara hadir melalui Bulog dengan membeli gabah dari petani dengan harga yang baik sehingga kesejahteraan petani terjamin,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Bulog menyerap sekitar 10 hingga 15 persen dari total produksi beras nasional. Dengan produksi sekitar 34,5 juta ton, cadangan yang dikelola Bulog berada di kisaran 3,6 hingga 3,7 juta ton sebagai buffer stock.
Menurutnya, intervensi tersebut penting terutama saat panen raya, ketika suplai melimpah dan berpotensi menekan harga di tingkat petani.
Sebaliknya, pada saat produksi menurun dan harga cenderung meningkat, cadangan beras akan dikeluarkan ke pasar untuk menjaga harga tetap stabil dan terjangkau.
“Jadi harga di tingkat petani dijaga melalui HPP, dan di tingkat konsumen dijaga melalui HET agar keduanya tidak dirugikan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Sudaryono menambahkan bahwa penguatan peran Bulog juga didukung melalui kebijakan pemerintah, termasuk Instruksi Presiden terkait percepatan serapan gabah nasional.
Ia menyebut, target serapan sebesar 3 juta ton pada tahun 2025 didukung alokasi anggaran sekitar Rp16,5 triliun.
“Untuk mengelola pangan negara, dibutuhkan aturan yang kuat dan dukungan anggaran yang memadai. Karena itu, peran Bulog terus diperkuat,” pungkasnya.
Ekonomi dan Bisnis
RI Kebanjiran Cuan dari Ekspor Ayam dan Telur
Majalahtani.com – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat lonjakan kinerja ekspor komoditas unggas pada 2026. Hingga Maret 2026 Indonesia mengekspor 545 ton produk unggas senilai Rp18,2 miliar ke negara tujuan seperti Singapura, Jepang, dan Timor Leste.
Ekspor tersebut didominasi telur konsumsi sebanyak 517 ton (±8,13 juta butir), sementara sisanya berupa daging ayam dan produk olahan bernilai tambah.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa capaian ini merupakan buah dari keberhasilan swasembada protein hewani.
“Sekarang ini kita sudah swasembada telur, ayam, beras, dan seterusnya. Nah ini kita dorong ekspor ke negara-negara lain”, ujarnya dikutip Senin, (20/4/2026).
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kinerja ekspor unggas menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Pada 2024 ekspor unggas tercatat sekitar ±300 ton dengan nilai sekitar Rp10–11 miliar. Tahun 2025 meningkat menjadi ±400 ton dengan nilai Rp13–15 miliar. Sementara itu, 2026 (Maret) mencapai 545 ton dengan nilai Rp18,2 miliar.
Tak hanya dari sisi volume, transformasi juga terlihat pada struktur ekspor yang mulai bergeser ke produk olahan seperti nugget dan karaage. Hal ini mendorong peningkatan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing industri perunggasan nasional.
Kinerja ekspor ini ditopang produksi nasional yang kuat. Indonesia saat ini mencatat Produksi daging ayam ras 4,29 juta ton dengan konsumsi setahun 4,12 juta ton. Untuk produksi telur ayam ras 6,54 juta ton dengan konsumsi setahun 6,47 juta ton.
“Dengan kondisi surplus memungkinkan ekspansi pasar tanpa mengganggu kebutuhan dalam negeri,” ujar dia.
Kementan juga terus memperkuat sistem kesehatan hewan, biosekuriti, dan sertifikasi veteriner guna memastikan seluruh produk memenuhi standar internasional. Diplomasi perdagangan dan pembukaan akses pasar baru juga terus dilakukan untuk memperluas jangkauan ekspor.
Ke depan, Kementan menargetkan ekspor ayam dan telur terus meningkat, baik dari sisi volume maupun nilai, melalui hilirisasi produk dan penguatan industri pengolahan. Langkah ini sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat peternak dan memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global.
Dengan tren pertumbuhan yang konsisten, Indonesia kini tidak hanya swasembada, tetapi mulai menegaskan diri sebagai eksportir unggas yang diperhitungkan di pasar dunia.
Lensa Agraria
Indonesia Siap Mitigasi Dampak El Nino 2026
Majalahtani.com – Indonesia diklaim berada dalam posisi sangat siap menghadapi kemungkinan terjadinya fenomena El Nino. Meskipun tidak ada El Nino juga, pemerintah memastikan akan terus menjalankan program penguatan ketahanan pangan nasional.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut menyampaikan bahwa meskipun El Nino sifatnya masih prediksi, pemerintah telah bersiap, terutama pada ketersediaan pangan secara nasional.
“Saya sudah membahas beberapa kali tentang El Nino. Awalnya katanya April sudah mulai, tapi kan memang ini kita masih alami hujan. Artinya ada ketidakstabilan cuaca. Tentu pemerintah sudah mengambil langkah-langkah,” kata Ketut dikutip Minggu (19/4/2026).
Dari sisi ketersediaan pangan, kondisi pangan nasional menunjukkan capaian yang progresif. Sejumlah pangan pokok strategis dipastikan telah surplus dan swasembada, sehingga tidak membutuhkan importasi.
“Tentu kami punya proyeksi yang dapat dipertanggungjawabkan dengan data dari BPS. Carry over stock beras dari tahun lalu sangat bagus, 12,4 juta ton. Jagung juga. Minyak goreng kita surplus. Daging ayam kita produksinya surplus. Kemudian yang lain juga, telur juga surplus,” urai Ketut.
Menurutnya ada atau tidak ada El Nino, program pangan harus dikembangkan dan itu memang berdasarkan kepentingan pertanian. “Ada atau tidak ada El Nino, programnya harus berjalan terus. Karena apa? Tujuan kita adalah swasembada,” tambah dia.
Sebagai implikasi positif dari swasembada pangan, stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) Indonesia pun semakin kuat. Dengan stok CPP yang lebih kuat ini, tentu persiapan musim paceklik akibat El Nino dapat lebih kokoh.
“Kemudian sekarang ini kita punya stok cadangan beras di Bulog 4,8 juta ton. Terbaik sepanjang masa. Artinya dengan kekuatan cadangan pangan, kita bisa mengendalikan harga. Kita harus meyakinkan stok CPP kita sangat bagus,” sebut Ketut.
Dalam catatan Bapanas, stok CPP sebelum puncak El Nino 2023, tepatnya di awal September 2023 antara lain beras 1,52 juta ton, jagung masih nihil, daging ayam ras 15,94 ton, dan minyak goreng 3,74 kiloliter. CPP tersebut merupakan stok yang dikelola oleh Perum Bulog dan ID FOOD.
Sementara stok CPP hari ini sebagai persiapan kemungkinan kembali terjadinya El Nino telah ditingkatkan secara eksponensial. Per 17 April 2026, stok CPP dalam bentuk beras meningkat 217 persen dibandingkan sebelum puncak El Nino 2023. Stok CPP beras hari ini berada di angka 4,83 juta ton.
Selanjutnya, stok CPP jagung pun saat ini ada 196 ribu ton. Ini melesat sejak September 2023 yang kala itu masih nol. Untuk stok CPP daging ayam meningkat 69,4 persen dibandingkan September 2023 karena per hari ini stoknya ada 27 ton.
Untuk stok CPP minyak goreng di Perum Bulog dan ID FOOD saat ini yang paling menorehkan lonjakan drastis hingga 2.226,8 persen jika dibandingkan stok CPP sebelum puncak El Nino 2023 lalu. Per 17 April, total stok CPP minyak goreng tercatat ada 87 ribu kiloliter.
Lebih lanjut, Ketut menekankan bahwa program penguatan sektor pangan berjalan secara konsisten dan berkelanjutan, tidak bergantung pada kondisi cuaca tertentu. Fokus utama tetap pada penguatan kemandirian pangan nasional.
Sejalan dengan itu, Kementerian Pertanian terus mengakselerasi berbagai langkah strategis, mulai dari peningkatan luas tambah tanam, distribusi benih unggul, penguatan jaringan irigasi, hingga pemenuhan kebutuhan pupuk.
Terpisah, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman sekaligus Menteri Pertanian menyampaikan bahwa Indonesia berada pada posisi yang kuat dalam menghadapi dinamika global. Ini turut pula didukung oleh perhatian besar Presiden Prabowo Subianto terhadap sektor pangan.
“Kita siap menghadapi dinamika global. Alhamdulillah, Indonesia dalam posisi yang kuat. Kebutuhan protein telah terpenuhi, bahkan berpotensi ekspor. Karbohidrat juga sudah swasembada,” ujar Amran.
Dengan berbagai capaian tersebut, pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat langkah menuju kemandirian pangan Indonesia.
-
Lensa Agraria2 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Inspirasi Tani2 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Lensa Agraria1 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Lensa Agraria1 bulan agoKejar Target Swasembada Beras, Mentan Amran Perkuat Sinergi Internal Kementan
-
Lensa Agraria1 bulan agoSurvei BI: Keyakinan Konsumen Februari 2026 Masih Kuat, IKK Capai 125,2
-
Lensa Agraria2 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Agripreneurship2 bulan agoAdaptasi Petani Lereng Merapi terhadap Perubahan Siklus Hujan
-
Uncategorized2 bulan agoPotensi Blue Economy: Menjadikan Indonesia Raja Rumput Laut Dunia
