Connect with us

Inspirasi Tani

IPB Kembangkan Kasea Seaweed, Nasi Rumput Laut Ampuh Atasi Diabetes

Published

on

Kasea Seaweed, produk pangan berbasis rumput laut yang dikembangkan oleh IPB University. (Dok: IPB)

Majalahtani.com – Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, nasi tetap menjadi pangan pokok yang sulit tergantikan. Namun, meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mendorong hadirnya inovasi pangan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memberikan manfaat fungsional.

Salah satu terobosan tersebut adalah Kasea Seaweed, produk pangan berbasis rumput laut yang dikembangkan oleh IPB University dan berhasil menarik perhatian Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Kasea Seaweed merupakan beras analog instan berbahan dasar campuran tepung beras, jagung, dan singkong yang diperkaya dengan tepung rumput laut.

Produk ini diproses menggunakan teknologi ekstrusi, sehingga menghasilkan butiran menyerupai nasi dengan karakteristik fisik dan sensori yang dapat diterima konsumen, sekaligus memiliki nilai tambah dari sisi kesehatan.

“Fokus utama pengembangan Kasea Seaweed adalah sebagai pangan fungsional yang berpotensi membantu pengelolaan diabetes,” ungkap Guru Besar Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Sri Purwaningsih, dilansir dari ITB, Selasa (5/5/2026).

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi nasi rumput laut ini berkontribusi dalam menurunkan kadar glukosa darah puasa serta meningkatkan sensitivitas insulin secara signifikan.

Mekanisme fisiologis yang mendasari manfaat tersebut diduga terkait dengan tingginya kandungan serat pangan, yang berperan dalam memperlambat pengosongan lambung dan penyerapan glukosa di usus. Dengan demikian, lonjakan kadar gula darah setelah makan dapat dikendalikan.

Selain itu, Sri menuturkan, rumput laut sebagai bahan utama kaya akan senyawa bioaktif, seperti karotenoid, fenolik, polifenol, vitamin, dan mineral, serta memiliki aktivitas antioksidan yang kuat.

“Kombinasi komponen ini menjadikan Kasea Seaweed tidak hanya bernilai gizi tinggi, tetapi juga berpotensi memberikan efek protektif terhadap stres oksidatif, “ ungkapnya.

Dari sisi penerimaan konsumen, produk ini memperoleh respons positif. Sejumlah pengguna melaporkan rasa kenyang yang lebih lama, tekstur yang lebih lembut, serta pengalaman konsumsi yang berbeda dibandingkan nasi konvensional.

Hal ini menunjukkan bahwa inovasi pangan sehat tetap dapat memenuhi preferensi sensori masyarakat.

Setelah melalui tahap penelitian dan pengembangan, Kasea Seaweed kini memasuki fase hilirisasi sebagai produk beras analog yang sudah ada di pasar baik online maupun offline.

Langkah ini mencerminkan komitmen IPB University dalam mendorong pemanfaatan hasil riset agar lebih aplikatif dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Dengan potensi sebagai pangan fungsional, Kasea Seaweed diharapkan menjadi solusi alternatif dalam mendukung pola makan sehat, khususnya bagi individu dengan risiko atau kondisi diabetes.

Produk ini juga sesuai untuk program diet, aman dikonsumsi karena bebas gluten (gluten-free), serta cocok bagi vegan, sekaligus berkontribusi pada diversifikasi pangan nasional berbasis sumber daya lokal.

Inspirasi Tani

Kementan Siapkan Generasi Muda Jadi Ujung Tombak Pertanian Berbasis Teknologi

Published

on

Majalahtani.com – Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan), Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), terus menyiapkan generasi muda sebagai motor penggerak pertanian modern Indonesia melalui penguatan kapasitas, kepemimpinan, dan pemanfaatan teknologi guna mempercepat regenerasi petani serta mendukung ketahanan pangan nasional.

Salah satu langkah konkret tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pemilihan Young Ambassador Agriculture (YAA), Duta Polbangtan/PEPI, dan Brigade Pangan Inspiratif Tahun 2026 yang berlangsung di Ciawi pada 19–21 Mei 2026.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, mengatakan regenerasi petani harus dibarengi dengan penguatan kapasitas yang berkelanjutan agar generasi muda mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian di daerah.

“Kami ingin menciptakan generasi muda pertanian yang adaptif, profesional, dan mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian di daerah masing-masing,” ujar Arsanti.

Kegiatan YAA dan Brigade Pangan Inspiratif menjadi bagian dari strategi Kementan dalam mencetak sumber daya manusia pertanian yang profesional, berdaya saing, serta memiliki jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan.

Dalam berbagai kesempatan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan generasi muda akan menjadi ujung tombak pembangunan pertanian nasional di tengah tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim. Karena itu, Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat regenerasi petani melalui penguatan kapasitas anak muda di sektor pertanian.

Mentan Amran mengatakan pertanian modern saat ini membutuhkan sumber daya manusia unggul yang adaptif terhadap teknologi dan inovasi. Menurutnya, sektor pertanian bukan lagi identik dengan pekerjaan tradisional, tetapi telah berkembang menjadi sektor strategis yang menjanjikan secara ekonomi.

“Pertanian saat ini bukan lagi sektor tradisional. Pertanian adalah bisnis besar yang menjanjikan dan membutuhkan anak-anak muda yang kreatif, inovatif, serta menguasai teknologi. Kalau pangan kuat, bangsa juga akan kuat,” ujar Mentan Amran.

Ia menambahkan, petani muda memiliki peran penting dalam mewujudkan swasembada pangan nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Oleh sebab itu, Kementan terus membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam pengembangan pertanian modern berbasis teknologi dan kewirausahaan.

“Petani muda adalah masa depan pertanian Indonesia. Mereka harus menjadi motor penggerak pertanian modern yang produktif, efisien, dan berbasis teknologi,” katanya.

Para peserta mendapatkan berbagai pembekalan mulai dari kepemimpinan, public speaking, personal branding, hingga strategi promosi pertanian di era digital. Selain itu, peserta juga didorong menjadi duta pertanian yang mampu menyebarluaskan program strategis Kementan kepada masyarakat luas.

Melalui langkah tersebut, Kementan berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik terjun ke sektor pertanian dan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Continue Reading

Inspirasi Tani

Kisah Petani Mojorembun yang Sukses Panen Tiga Kali Setahun

Published

on

Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Pemprov Jateng. (Dok: Humas Pemprov Jateng)

Majalahtani.com – Petani Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, optimistis masih bisa menanam padi di tengah prediksi kemarau panjang, akibat El Nino Godzilla yang akan melanda Indonesia. Harapan itu diteguhkan dengan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah, yang memudahkan irigasi serta percepatan tanam.

Di areal persawahan Mojorembun, para petani tampak sibuk memanen padi menggunakan combine harvester. Di sisi lain, petani mengoperasikan transplanter dan mulai menanam benih padi. Ada pula aktivitas pengeringan gabah menggunakan bed dryer, sebelum diolah menjadi beras.

Anggota Kelompok Tani Budi Luhur, Karyono, mengatakan kini petani di Mojorembun bisa menanam padi tiga kali dalam setahun. Sebelumnya, lahan pertanian di wilayah itu hanya mampu ditanami padi satu kali.

Kelompok tani tersebut beranggotakan 80 petani, dengan luas lahan sekitar 35 hektare, yang mampu memproduksi 7–7,5 ton per hektare.

“Mampu dua kali tanam saja itu kalau curah hujan tinggi. Alhamdulillah, sejak mendapat bantuan irpom (irigasi perpompaan) dari pemerintah pusat, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali,” ungkapnya.

Karyono mengatakan, kelompoknya telah beberapa kali menerima bantuan alsintan dari pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten. Di antaranya bed dryer atau pengering gabah dari Pemprov Jateng, irigasi perpompaan dan combine harvester dari Kementerian Pertanian, serta transplanter dari Pemkab Rembang.

Selain itu, petani di wilayah tersebut juga memanfaatkan pasokan air dari Bendung Randugunting. Nantinya, akan dilakukan perpipaan untuk menyambungkan saluran air ke sawah yang jauh dari sungai.

“Alhamdulillah, belum begitu terpengaruh kemarau panjang, karena hampir satu minggu sekali masih ada hujan. Kami dari pengurus akan memanfaatkan bantuan irpom dari sungai ke lahan-lahan yang siap diolah tanahnya,” tuturnya.

Meski demikian, ia berharap ada bantuan lanjutan untuk menanggulangi intrusi air laut. Sebab, selama ini mereka telah berusaha membuat tanggul nonpermanen di sungai, namun gagal karena ambrol.

“Harapannya dibantu tanggul di sungai agar air laut tidak masuk sampai ke sini dan memengaruhi pasokan air baku petani dan warga,” imbuh Karyono.

Petani Desa Mojorembun, Rujito mengaku telah bersiap menanam padi lagi setelah sawahnya panen. Dia optimistis bantuan yang diterima mampu memperlancar usaha taninya.

“Kita tahunya akan ada kemarau panjang dari televisi. Namun, kami di sini melihat cuaca sampai saat ini masih memungkinkan, sehingga memberanikan diri memulai musim tanam ketiga (MT 3),” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, tidak menampik potensi dampak cuaca kering atau El Nino terhadap target produksi padi 10,5 juta ton pada akhir 2026. Karena itu, pihaknya menyusun sejumlah langkah strategis.

Pertama, percepatan masa tanam. Meski memasuki musim kemarau, pada beberapa daerah hujan masih turun. Hal ini membuat sejumlah petani percaya diri untuk kembali menanam padi, terlebih didukung bantuan irigasi.

“Langkah pertama percepatan masa tanam, penggunaan ‘sistem sepur’, begitu panen langsung disambung tanam setelah tanah diolah. Koordinasi dengan BBWS dan PSDA juga dilakukan untuk mengecek lokasi yang kering terlebih dahulu, penanaman varietas tahan cuaca kering, serta pengawalan terhadap hama dan perubahan iklim,” sebutnya.

Frans mengungkapkan, sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi, sejumlah bantuan diberikan kepada petani untuk menggenjot produksi dan menghadapi kemarau panjang. Di antaranya, bantuan dari APBD provinsi berupa rehabilitasi jaringan sebanyak 334 unit, dan irigasi alternatif sebanyak 75 unit. Ada pula bantuan irigasi perpompaan dari Kementerian Pertanian sebanyak 1.823 unit, serta irigasi perpipaan sebanyak 366 unit.

Di samping itu, pihaknya juga memaksimalkan pemberian benih inbrida. Dengan benih tersebut, petani dimungkinkan melakukan pembenihan mandiri. Pada 2026, jumlah benih inbrida yang dibagikan untuk luasan 47.200 hektare, meningkat dibanding 2025 yang hanya 5.300 hektare.

“Jadi bantuan dari APBN dan APBD ini, untuk mendukung kesiapan aliran air memasuki musim tanam,” pungkas Frans.

Continue Reading

Inspirasi Tani

Inovasi Mahasiswa IPB, Olah Susu Segar Fakultas Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Published

on

Majalahtani.com – Sekelompok mahasiswa peternakan IPB University mengambil peran dengan menghadirkan solusi kreatif lewat produk susu. Mereka berupaya mengubah persepsi bahwa minuman sehat tidak selalu membosankan melalui sebuah branding Susu Moonyonyo.

Chief Executive Officer (CEO) Susu Moonyonyo, Faiq Ayyasy Nafis, menjelaskan bahwa produk yang tengah dikembangkan merupakan olahan susu sapi segar yang bergizi dan harganya ramah di kantong mahasiswa.

Susu Moonyonyo menawarkan kombinasi nutrisi susu murni dengan tren rasa yang diminati pasar mahasiswa.

“Susu Moonyonyo ini merupakan inovasi suatu produk hasil olahan ternak. Kami membuat susu yang memiliki gizi dan pastinya yang dibutuhkan mahasiswa itu harganya terjangkau,” kata Faiq yang juga mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Ternak IPB University.

Meskipun harganya murah, kualitas tetap menjadi prioritas. Susu Moonyonyo menggunakan bahan baku susu segar yang diambil langsung dari kandang Fakultas Peternakan IPB University. Proses pengolahan dilakukan secara mandiri oleh tim mahasiswa menggunakan metode pasteurisasi.

“Dari susu segar itu kami pasteurisasi sendiri, diolah sendiri, dan baru diberikan inovasi berupa rasa. Saat ini, pelanggan dapat menikmati varian plain, cokelat, dan choco and cookies dalam bentuk cup dengan ukuran sekitar 200 ml. Harga varian original dibanderol Rp8.000, sedangkan yang ada rasa Rp9.000,” kata Nur Afni Damayanti, Chief Marketing Officer (CMO) Susu Moonyonyo.

Susu Moonyonyo lahir dari program kerja Divisi Ekonomi Kreatif Himpunan Mahasiswa Produksi Ternak (Himaproter) IPB University yang telah berjalan selama dua tahun. Usaha ini juga tengah diikutsertakan dalam Program Mahasiswa Wirausaha (PMW).

“Kami mengikuti PMW karena melihat benefit yang bakal didapatkan, seperti pendanaan dan pelatihan agar branding produk kami meningkat. Harapannya bukan hanya dikenal di tingkat Fakultas Peternakan saja, tapi juga di tingkat IPB University,” tutur Nur Afni.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved