Data Pangan
Mendag Klaim DMO 35 Persen Efektif Turunkan Harga Minyakita
Majalahtani.com – Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyampaikan kewajiban distribusi domestic market obligation (DMO) minyak goreng rakyat sebesar minimal 35 persen melalui Perum Bulog dan/atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pangan terbukti efektif menjaga harga minyak goreng di pasar. Minyak goreng yang disalurkan, salah satunya dalam bentuk Minyakita.
Per 10 April 2026, rata-rata harga nasional Minyakita tercatat sebesar Rp15.961 per liter, turun 5,45 persen dibandingkan 24 Desember 2025 yang mencapai Rp16.881 per liter sebelum kebijakan berlaku.
Dampak positif tersebut semakin menunjukkan penerapan kebijakan kewajiban pendistribusian DMO melalui Perum Bulog dan BUMN Pangan menjadi instrumen penting untuk memastikan ketersediaan pasokan lebih merata menjangkau pasar rakyat.
Dia mengatakan, hingga 10 April 2026, realisasi distribusi bahkan mencapai sekitar 49,45 persen. Realisasi ini telah melampaui ketentuan minimum sebesar 35 persen yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat. Permendag tersebut ditetapkan pada 9 Desember 2025.
“Kebijakan DMO minimal 35 persen melalui BUMN Pangan terbukti efektif menjaga ketersediaan pasokan dan menjaga stabilitas harga MINYAKITA di pasar. Bahkan realisasinya yang sudah melebihi 49 persen menunjukkan mekanisme distribusi berjalan dengan baik,” ujar pria yang akrab disapa Busan, Jumat (17/4/2026).
Busan menjelaskan, ketentuan 35 persen merupakan batas minimal yang harus dipenuhi pelaku usaha. Artinya, realisasi DMO, yang bergantung pada volume ekspor produk turunan kelapa sawit, dapat melampaui batas minimal seperti yang terjadi sekarang. Pemerintah tetap bersinergi untuk membuka ruang bagi peningkatan distribusi DMO sepanjang didukung kesiapan pasokan.
“Ketentuan DMO sebesar 35 persen melalui BUMN merupakan batas minimal yang harus dipenuhi pelaku usaha. Peningkatan realisasi penyaluran di atas ketentuan tersebut pada prinsipnya dimungkinkan sepanjang didukung kesiapan pasokan,” katanya.
Pemerintah memperkuat kebijakan DMO dan Domestic Price Obligation (DPO) sebagai respons atas gejolak harga dan pasokan minyak goreng dalam beberapa tahun terakhir. Melalui skema ini, produsen dan/atau eksportir bersama-sama memenuhi kebutuhan minyak goreng dalam negeri dan memastikan distribusi terkontrol dan tepat sasaran.
Sejak 2022 sampai sekarang penyaluran DMO menggunakan merek Minyakita yang merupakan merek terdaftar milik pemerintah dan bisa digunakan oleh pelaku usaha. Sekali lagi, Minyakita bukan merupakan minyak goreng bersubsidi, melainkan kontribusi pelaku usaha yang melaksanakan ekspor.
Busan menegaskan, Minyakita bukan merupakan indikator tunggal terhadap harga dan pasokan minyak goreng. Selain itu, ketersediaan MINYAKITA juga tergantung pada DMO.
“Saat ini tidak terjadi kelangkaan minyak goreng di pasar. Ketersediaan pasokan minyak goreng aman karena masih ada minyak goreng premium dan minyak goreng second brand sebagai opsi. Selain itu, ketersediaan pasokan MINYAKITA tergantung pada DMO. Kalau ekspornya tidak banyak, makanya pasokan DMO juga tidak banyak,” urai Mendag Busan.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal S. Shofwan menyampaikan, penguatan jalur distribusi melalui BUMN, khususnya Perum Bulog dan BUMN Pangan, menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan pasokan di pasar.
“Penyaluran melalui BUMN kami optimalkan untuk memastikan Minyakita sampai langsung ke pedagang pasar rakyat,” jelas Iqbal.
Menurut Iqbal, secara umum kondisi stok di tingkat pengecer dan pasar pantauan dalam kondisi aman dan harga relatif terkendali. Bahkan, sebanyak 15 provinsi telah mencatatkan harga sesuai HET Rp15.700 per liter.
Namun demikian, pemerintah masih mencermati adanya disparitas harga di sejumlah wilayah, khususnya di Indonesia Timur dengan harga lebih dari 10 persen di atas HET. Informasi lebih lanjut terkait perkembangan harga minyak goreng dan komoditas lainnya dapat diakses melalui https://sp2kp.kemendag.go.id/.
“Untuk menjaga keseimbangan pasokan di pasar, Kemendag mendorong pelaku usaha memaksimalkan produksi dan distribusi minyak goreng second brand sebagai alternatif tambahan bagi masyarakat,” imbuh Iqbal.
Data Pangan
Pemerintah Jamin Stok Kedelai Aman Hingga Akhir April 2026
Majalahtani.com – Pemerintah memastikan ketersediaan kedelai secara nasional masih mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri,terutama bagi kebutuhan produksi perajin tahu dan tempe. Pasokan kedelai, baik dari impor maupun produksi dalam negeri, diproyeksikan sampai akhir April mendatang masih berada di level yang aman.
Sekretaris Utama (Sestama) Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, menuturkan ketercukupan ketersediaan kedelai tersebut senantiasa dipantau dan dijaga pemerintah. Apalagi lebih dari 90 persen kebutuhan kedelai nasional berasal dari kebutuhan perajin tahu dan tempe.
“Kaitan dengan ketersediaan stok bahwa saat ini sampai dengan akhir April, stok kedelai kita masih 322 ribu ton. Artinya ini masih cukup. Kemudian kami juga hampir setiap hari berkomunikasi dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (GAKOPTINDO). Harga kedelai di perajin masih normal,” terang Sarwo di Jakarta pada Jumat (17/4/2026).
Adapun ketersediaan kedelai secara nasional yang diproyeksikan berada di 322,5 ribu ton sampai akhir April tersebut masih memadai untuk menopang kebutuhan kedelai bulanan yang berada di kisaran antara 220 ribu sampai 230 ribu ton. Kalkulasi ini berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Kedelai Tahun 2026 yang selalu mengalami pembaruan data setiap bulannya.
Terkait harga kedelai, Sestama Sarwo meminta para importir kedelai untuk menaati plafon harga yang telah ditentukan pemerintah. Harga Acuan Penjualan (HAP) kedelai di tingkat importir maksimal di Rp 11.500 per kilogram (kg) dan di tingkat konsumen atau perajin tahu dan tempe tidak boleh melebihi Rp 12.000 per kg.
“Misalnya harga kedelai lebih Rp 12.000, kita sisir ke hulu, apabila kedapatan ada importir menjual lebih Rp 11.500 maka otomatis importir tersebut untuk impor berikutnya akan diberhentikan dan izinnya akan dicabut. Jadi semua pelaku usaha harus tunduk kepada pemerintah dengan mengacu kepada harga acuan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah,” tegas Sarwo.
Dalam pantauan Bapanas, rerata harga kedelai asal impor secara nasional di tingkat perajin tahu dan tempe masih berada dibawah ambang batas HAP. Rerata harga kedelai impor dalam seminggu terakhir berada di rentang Rp 11.266 sampai Rp 11.320 per kg atau 5,6 sampai 6,1 persen dibawah HAP tingkat perajin tahu dan tempe yang Rp 12.000 per kg.
Lebih lanjut, pemerintah terus berupaya menggenjot peningkatan produksi kedelai asal dalam negeri. Menurut Sarwo, Kementerian Pertanian telah menjalankan berbagai program untuk pengembangan produksi kedelai. Tentunya jika produksi dalam negeri mulai berkembang, impor kedelai pun dapat dikurangi pemerintah secara otomatis.
“Tentu Bapak Menteri Pertanian dalam tahun ini ada program pengembangan kedelai. Mudah-mudahan nanti secara bertahap kedelai dalam negeri, produksinya meningkat, otomatis akan menurunkan impor,” ujar Sarwo.
Di samping itu, pemerintah bersama Perum Bulog juga tengah mempersiapkan pendanaan untuk penguatan Cadangan Kedelai Pemerintah (CKP). Sesuai Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 391 Tahun 2025 ditetapkan CKP minimal pengadaan sampai angka 70 ribu ton untuk tahun 2026 ini.
Baca Juga: Bapanas Pastikan Harga Kedelai Impor Masih Sesuai Acuan Pemerintah
Dalam berbagai kesempatan, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian telah memberikan wanti-wanti agar pelaku usaha sektor kedelai, utamanya importir, untuk saling menjaga harga. Sanksinya jelas, izin impor dapat dicabut pemerintah seketika.
“Janganlah naik, naiklah sedikit tapi jangan naik banyak banget. Aku minta kedelai, jangan naik banyak. Kalau kedelai, kalau mau naikkan semena-mena, yang impor kedelai, aku pastikan aku cabut izinnya,” tegas Amran.
“Kami sudah minta kepada importir jangan naikkan harga semena-mena. Sudah ada kesepakatan. Kalau ada yang menaikkan harga secara tidak wajar, menzalimi masyarakat yang membutuhkan kedelai, izinnya akan saya cabut dan tidak saya berikan untuk tahun depan,” tambah dia.
Dalam hal ini, pemerintah meminta para importir kedelai untuk mengedepankan empati kepada masyarakat dengan turut menjaga stabilitas harga pangan. Terlebih kedelai menjadi bahan baku tempe dan tahu yang banyak diminati masyarakat Indonesia.
Data Pangan
Amran Klaim Indonesia Sudah Capai Swasembada Plus
Majalahtani.com – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada plus karena keberhasilannya tidak lagi melakukan impor beras. Capaian ini bahkan diraih dalam waktu singkat.
“Kalau ada swasembada plus, ya ini, di tahun ini. Ini dicapai hanya dalam waktu 1 tahun dari rencana Bapak Presiden 4 tahun,” kata Amran dalam keterangan di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Amran menyampaikan swasembada pangan yang diraih Indonesia berkat kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Secara garis besar, swasembada yang sempurna tercapai tatkala kebutuhan konsumsi masyarakat dapat dipenuhi dari hasil petani dan peternak dalam negeri.
Kini Indonesia meraih swasembada tidak hanya pada komoditas beras saja. Meski begitu beras menjadi tolak ukur dikarenakan beras merupakan porsi terbesar dalam konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia.
“Presiden kita hebat. Capaian hari ini pangan aman, beras yang mendominasi. Itu karena lebih dari 50 persen persentase beras setiap hari kita makan. Tambah telur, daging ayam, jagung pakan, bawang merah, cabai juga sudah swasembada, minyak goreng kita suplai dunia,” ujarnya.
Adapun dominasi konsumsi beras masyarakat tersebut selaras dari skor Pola Pangan Harapan (PPH) Indonesia tahun 2025 yang rutin dihitung Bapanas. Skor PPH tahun 2025 menunjukkan konsumsi padi-padian masyarakat Indonesia berada lebih dari 50 persen.
Selanjutnya terdiri dari 12,7 persen yang merupakan konsumsi pangan hewani dan 12,4 persen minyak dan lemak. Sayur dan buah 6,8 persen, gula 4 persen, dan selebihnya kacang-kacangan, umbi-umbian, buah/biji berminyak, dan lain sebagainya.
Mengacu dari itu, Amran optimistis Indonesia mampu menghadapi fenomena fenomena El Nino. Apalagi kebijakan Presiden Prabowo yang menaruh perhatian besar terhadap penguatan sektor pangan nasional.
“Krisis pangan dunia karena ada El Nino, kita bisa hadapi. Indonesia alhamdulillah, negara lain waswas. Itu berkat kebijakan Bapak Presiden. Ingat, kita sudah swasembada protein dan karbohidrat. Protein Indonesia sudah cukup, bisa ekspor. Kemudian karbohidrat juga swasembada,” urai Amran.
Bahkan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog meningkat signifikan mencapai 4,8 juta ton hingga pertengahan April 2026.
“Alhamdulillah, stok Bulog 4,8 juta ton. Maksimal 1 minggu lagi bisa mencapai 5 juta ton. Ini adalah capaian yang tertinggi dan tidak pernah terjadi,” tambah Amran.
Bapanas mencatat total stok beras yang dikelola Bulog per 16 April telah mencapai 4,8 juta ton yang terdiri dari CBP 4,78 juta ton dan komersial 19,9 ribu ton. Sementara realisasi pengadaan setara beras dari produksi dalam negeri telah mencapai 2,04 juta ton.
Capaian positif lainnya dapat dilihat pada torehan Nilai Tukar Petani (NTP) Tanpa Perikanan secara nasional yang sejak Juli 2024 terjaga diatas 120. Indeks NTP Tanpa Perikanan yang tertinggi dalam 7 tahun terakhir tercapai di Desember 2025 dan Februari 2026 yang sama-sama berada di 126,11.
Sementara swasembada karbohidrat dan protein ada pada komoditas beras, telur ayam ras, dan daging ayam serta jagung pakan. Keempat komoditas tersebut merupakan sumber karbohidrat dan protein serta pendukung produksi sumber protein hewani.
Pencapaian swasembada karbohidrat dan protein tersebut tertuang dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025. Untuk beras sepanjang tahun 2025 tidak ada impor karena produksi setahun mencapai 34,69 juta ton telah dapat memenuhi kebutuhan konsumsi tahunan sebesar 31,16 juta ton.
Sementara untuk daging ayam ras dan telur ayam ras juga swasembada. Sepanjang 2025 tidak ada importasi karena produksi dalam negeri masih melampaui kebutuhan konsumsi nasional.
Produksi daging ayam ras 4,29 juta ton dengan konsumsi setahun 4,12 juta ton. Untuk produksi telur ayam ras 6,54 juta ton dengan konsumsi setahun 6,47 juta ton.
Kondisi tanpa impor juga ada di jagung pakan. Setelah tahun 2024 sempat ada impor jagung pakan, sepanjang 2025 dipastikan tidak ada impor lagi. Produksi jagung pakan kadar air 14 persen sepanjang 2025 berada di 16,16 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 15,23 juta ton.
Data Pangan
Harga Pangan 17 April: Bawang Merah & Gula Premium Naik, Cabai Turun Tajam
Majalahtani.com – Rata-rata harga pangan nasional pada Jumat, 17 April 2026 menunjukkan pergerakan beragam. Sejumlah komoditas strategis mengalami kenaikan harga, terutama bawang merah, gula pasir premium, dan telur ayam ras, sementara kelompok cabai justru mencatat penurunan cukup dalam.
Berdasarkan data panel harga Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pukul 09:30 WIB, di pasar tradisional seluruh provinsi bawang merah ukuran sedang menjadi komoditas dengan kenaikan signifikan.
Harga tercatat mencapai Rp50.400 per kilogram atau naik 6,44 persen dibanding hari sebelumnya. Bawang putih ukuran sedang juga mengalami kenaikan 2,36 persen menjadi Rp41.150 per kilogram.
Pada kelompok beras, pergerakan harga relatif stabil dengan kecenderungan naik tipis. Beras kualitas bawah I berada di level Rp14.900 per kilogram naik 2,76 persen, sedangkan beras kualitas bawah II mencapai Rp14.750 per kilogram atau meningkat 1,37 persen.
Beras medium I justru turun tipis 0,62 persen menjadi Rp15.950 per kilogram, sementara beras medium II naik 0,94 persen menjadi Rp16.050 per kilogram.
Adapun beras kualitas premium menunjukkan stabilitas harga, dengan beras super I turun 1,16 persen menjadi Rp17.100 per kilogram dan beras super II naik tipis 0,59 persen ke level Rp16.950 per kilogram.
Berbeda dengan komoditas lainnya, kelompok cabai mengalami koreksi harga cukup tajam. Cabai merah besar turun 5,33 persen menjadi Rp43.550 per kilogram. Penurunan paling dalam terjadi pada cabai merah keriting yang merosot 9,76 persen ke Rp41.150 per kilogram.
Cabai rawit hijau turun 2,71 persen menjadi Rp38.600 per kilogram, sedangkan cabai rawit merah masih bertahan di level tinggi meski turun 17,27 persen menjadi Rp68.750 per kilogram.
Sementara harga daging ayam ras segar turun 10,24 persen menjadi Rp37.250 per kilogram. Sementara itu, daging sapi kualitas I turun tipis 1,9 persen ke Rp144.850 per kilogram, dan daging sapi kualitas II naik ringan 0,5 persen menjadi Rp140.650 per kilogram.
Di sisi lain, telur ayam ras justru mengalami kenaikan 3,23 persen menjadi Rp33.600 per kilogram.
Kemudian untuk gula pasir kualitas premium mencatat lonjakan harga 8,93 persen menjadi Rp21.950 per kilogram. Sedangkan gula pasir lokal relatif stabil di Rp19.100 per kilogram.
Untuk minyak goreng, harga minyak goreng curah turun 3,23 persen menjadi Rp19.450 per kilogram. Minyak goreng kemasan bermerek I berada di Rp23.250 per kilogram dan terpantau stabil, sementara kemasan bermerek II naik tipis 0,22 persen menjadi Rp22.400 per kilogram.
-
Lensa Agraria2 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Inspirasi Tani2 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Lensa Agraria1 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Lensa Agraria1 bulan agoKejar Target Swasembada Beras, Mentan Amran Perkuat Sinergi Internal Kementan
-
Lensa Agraria1 bulan agoSurvei BI: Keyakinan Konsumen Februari 2026 Masih Kuat, IKK Capai 125,2
-
Lensa Agraria2 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Agripreneurship2 bulan agoAdaptasi Petani Lereng Merapi terhadap Perubahan Siklus Hujan
-
Uncategorized2 bulan agoPotensi Blue Economy: Menjadikan Indonesia Raja Rumput Laut Dunia
