Connect with us

Inspirasi Tani

Muhammad Imam Rahmatullah: Menjembatani Teknologi, Desa dan Masa Depan Pangan

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Bagi Muhammad Imam Rahmatullah, teknologi bukan sekadar tentang aplikasi yang canggih atau kecerdasan buatan. Teknologi harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Berangkat dari keyakinan itulah, ia membangun Pangan Desa, sebuah platform procurement yang menghubungkan petani dengan pasar institusional secara lebih efisien dan berkeadilan.

Imam sapaan akrabnya, tumbuh dengan ketertarikan besar terhadap dunia teknologi. Ketika banyak anak seusianya masih mencari minat, Imam sudah menemukan passion-nya di bidang komputer dan digital. Ketertarikan tersebut mengantarkannya menempuh pendidikan di Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indo Global Mandiri Palembang.

“Jadi memang suka teknologi dari dulu sampai sekarang,” kata Imam bercerita di ujung telepon kepada Majalah Tani, Selasa (21/7/2026).

Baginya, dunia teknologi bukan hanya pilihan karier, melainkan jalan hidup. Latar belakang sebagai seorang techpreneur membuat Imam terbiasa melihat setiap persoalan sebagai peluang untuk menghadirkan solusi berbasis teknologi. Semangat itu terus ia bawa hingga akhirnya melahirkan sebuah gagasan yang kini dikenal sebagai Pangan Desa.

Ide Pangan Desa lahir dari keresahan yang ia lihat dari dua sisi sekaligus, yakni hulu dan hilir rantai pasok pangan Indonesia. Dari sisi hulu, Imam melihat bagaimana para petani di berbagai daerah masih sangat bergantung kepada tengkulak. Keterbatasan akses pasar membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan selain menjual hasil panen dengan harga yang sering kali tidak sebanding dengan kerja keras yang telah mereka lakukan selama berbulan-bulan.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang makanan dan minuman, hotel, restoran, maupun pelaku usaha lainnya justru mengalami kesulitan memperoleh bahan baku pangan secara langsung dari sumbernya. Rantai distribusi pangan di Indonesia masih sangat panjang. Hasil panen berpindah dari petani ke tengkulak, kemudian ke distributor, subdistributor, pasar, hingga akhirnya sampai kepada pengguna akhir. Banyaknya lapisan tersebut membuat harga menjadi kurang efisien, sementara petani tetap memperoleh bagian yang paling kecil.

Menurut Imam, di era digital seperti sekarang kondisi tersebut seharusnya tidak lagi menjadi hambatan. Teknologi seharusnya mampu mempertemukan petani dengan pembeli secara lebih cepat dan transparan. Dari pemikiran itulah Pangan Desa dibangun sebagai platform procurement berbasis Business to Business (B2B) yang berfokus menghubungkan desa sebagai produsen pangan dengan perusahaan yang membutuhkan pasokan dalam jumlah besar.

“Itulah latar belakang  kenapa kami membangun Pangan Desa ini. Jadi pangan desa itu adalah sebuah platform procurement untuk pangan yang memang berfokusnya itu di B2B,” jelas dia.

Tidak hanya melayani kebutuhan dalam negeri, Imam juga melihat besarnya potensi komoditas Indonesia untuk menembus pasar ekspor. Produk seperti kopi, rempah-rempah, buah-buahan, hingga berbagai hasil pertanian lainnya memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional. Tantangannya bukan pada kualitas, melainkan pada bagaimana membuka akses pasar yang lebih luas bagi para petani.

Tantangan Digitalisasi Desa dan Membangun Kepercayaan Petani

Namun, untuk mewujudkan akses pasar yang lebih terbuka tersebut, Pangan Desa harus melewati berbagai tantangan. Salah satu tantangan terbesar datang dari sisi hulu, yakni proses digitalisasi di tingkat desa. Imam menyadari bahwa tidak semua petani siap beradaptasi dengan teknologi. Karena itu, Pangan Desa tidak bekerja langsung kepada petani secara individu, melainkan menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sebagai mitra utama di setiap desa.

Melalui pendekatan tersebut, proses koordinasi menjadi lebih efektif sekaligus memperkuat kelembagaan desa. Namun, pekerjaan mereka tidak berhenti pada penyediaan akses pasar saja. Tim Pangan Desa juga memberikan pendampingan terkait literasi digital, literasi keuangan, hingga quality control agar produk yang dihasilkan memenuhi standar kebutuhan industri.

“Karenaproduk desa ini kan kadang mereka taunya cuma gimana caranya tanem, panen ya kan. Tapi (mereka) enggak tau nih sebenernya produk-produk yang memang dibutuhkan di pasar tuh seperti apa,” jelas pria berusia 32 tahun tersebut.

Menurut Imam, desa tidak hanya membutuhkan pembeli, tetapi juga membutuhkan pendamping agar mampu berkembang secara berkelanjutan. Oleh karena itu, Pangan Desa hadir bukan sekadar sebagai platform digital, melainkan sebagai mitra yang membantu desa naik kelas.

Di sisi hilir, tantangan yang dihadapi berbeda. Perusahaan tentu mengutamakan kualitas dan kontinuitas pasokan. Mereka membutuhkan kepastian bahwa produk yang diterima memiliki standar yang konsisten. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pangan Desa membangun sistem standar operasional dan quality control sehingga hasil pertanian dari desa mampu memenuhi kebutuhan pasar institusional.

Model bisnis yang diterapkan pun dirancang agar menguntungkan kedua belah pihak. Karena berfokus pada transaksi B2B, Pangan Desa menyediakan berbagai mekanisme pembayaran seperti pembayaran langsung, timbang bayar, maupun sistem termin pembayaran atau tempo yang umum digunakan oleh hotel dan restoran.

Meski demikian, Imam tetap mengutamakan kesejahteraan petani. Ketika pembeli menggunakan sistem pembayaran bertempo, petani tetap menerima pembayaran secara penuh saat produk diserahkan. Untuk mengatasi perbedaan waktu pembayaran tersebut, Pangan Desa memanfaatkan skema invoicing financing melalui pihak ketiga sehingga arus kas petani tetap terjaga.

“Tapi dari sisi petaninya itu tetep dibayar full dari awal. Jadi nanti kita akan ada yang namanya invoicing financing yang nantinya Pangan Desa akan mencari pihak ketiga untuk membayarkan dulu ke petaninya, sehingga petani tidak merasa terbebani,” imbuh Imam.

Fokus Membangun Eksistem

Menariknya, meskipun dibangun oleh seorang berlatar belakang teknologi, Imam justru memilih untuk tidak terburu-buru mengembangkan aplikasi secara penuh. Ia percaya bahwa teknologi sebaiknya mengikuti kebutuhan ekosistem, bukan sebaliknya.

“Jadi memang untuk sekarang itu kita masih fokus untuk membuat ekosistemnya dulu, ekosistem bisnisnya dulu dari hulu ke hilir kita bangun dulu,” jelas dia.

Saat ini fokus utama Pangan Desa adalah membangun jaringan petani, mitra desa, serta memperoleh kontrak pembelian jangka panjang dari berbagai institusi. Baginya, membangun ekosistem yang sehat jauh lebih penting daripada sekadar menghadirkan aplikasi dengan fitur lengkap.

Pendekatan tersebut terinspirasi dari perjalanan awal Gojek yang memulai operasionalnya tanpa aplikasi canggih. Setelah ekosistem terbentuk dan kebutuhan semakin besar, barulah teknologi dikembangkan secara bertahap.

“Nanti di tahun kedua barulah pelan-pelan kita akan mengaplikasikan di platform tersebut. Karena kan bedanya kami itu mungkin secara pada umumnya memang fokusnya di teknologi buat platform, menu yang bagus buat tampilan yang menarik buat fitur-fitur yang langsung lengkap seperti itu,” jelas dia.

Dari Platform Digital Menuju Pusat Data Pangan Nasional

Meski demikian, Imam  memiliki visi yang jauh lebih besar. Ia ingin Pangan Desa menjadi pusat data pangan nasional berbasis desa. Berbeda dengan marketplace yang berbasis stok barang, platform ini akan menggunakan sistem berbasis panen. Informasi yang tersedia bukan hanya jenis komoditas, tetapi juga lokasi produksi, jumlah hasil panen, serta jadwal panen setiap desa di Indonesia.

“Karena sekarang ini kan belum ada tuh database ataupun pusat data yang secara real time terkait pangan. Misalkan di Jawa Barat pangan apa aja sih yang ada? Kapan sih mereka panen? Jadi di platform itu akan menjadi pusat data terkait pangan yang ada di Indonesia,” jelas dia.

Dengan adanya data tersebut, Indonesia akan memiliki gambaran kondisi pangan secara real time. Informasi ini tidak hanya bermanfaat bagi pelaku usaha, tetapi juga dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan pemerintah terkait distribusi maupun impor pangan.

Lebih jauh lagi, Imam membayangkan integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) ke dalam platform tersebut. AI nantinya tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis data, tetapi juga menjadi AI Agent yang secara otomatis mencari calon pembeli berdasarkan data produksi yang tersedia, menawarkan produk, mengirimkan proposal kerja sama, hingga melakukan negosiasi awal secara otomatis.

Konsep tersebut diharapkan mampu mempercepat proses bisnis sekaligus memperluas akses pasar bagi desa-desa di seluruh Indonesia.

Meski baru berjalan sekitar tiga bulan, Pangan Desa telah menjalin kemitraan dengan lebih dari 20 desa yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Dampak awal yang mulai dirasakan adalah terbukanya akses pasar bagi petani dan adanya kepastian pembeli melalui kontrak jangka panjang.

Dengan kontrak tersebut, petani tidak lagi khawatir hasil panennya tidak terserap pasar. Mereka juga memperoleh harga yang lebih baik dibandingkan menjual kepada tengkulak. Di sisi lain, perusahaan memperoleh kepastian pasokan dengan harga yang lebih stabil sehingga mampu menjaga efisiensi operasional.

Bagi Imam, mimpi terbesar Pangan Desa bukan sekadar menjadi startup sukses. Ia ingin membangun sistem distribusi pangan yang lebih adil, memperpendek rantai pasok, dan menjadikan desa sebagai subjek utama pembangunan ekonomi.

Ia berharap suatu hari nanti tidak ada lagi petani yang membuang hasil panennya karena tidak memiliki pembeli, tidak ada lagi komoditas berkualitas yang terabaikan, serta tidak ada lagi kebijakan pangan yang diambil tanpa mempertimbangkan kondisi nyata di desa.

Inspirasi Tani

Mengembalikan “Napas” Tanah Kritis Lewat Pertanian Regeneratif

Published

on

Majalah Tani – Selama puluhan tahun, revolusi hijau mengajarkan kita satu formula sederhana untuk menggenjot hasil panen: tebar pupuk kimia sintetis sebanyak-banyaknya, lalu amankan dengan pestisida. Hasilnya memang instan dan sempat menyelamatkan dunia dari ancaman krisis pangan. Namun, alam selalu punya cara untuk menagih “utang”.

Kini, banyak petani mulai mengeluhkan fenomena yang sama. Pupuk kimia yang ditebar rasanya tak lagi seampuh dulu. Tanah menjadi keras, bantat, dan pucat. Tanpa disadari, residu bahan kimia sintetis yang menumpuk selama puluhan tahun telah membunuh jutaan mikroorganisme penyubur tanah. Tanah kita tak sekadar lelah; tanah kita sedang kehilangan “napasnya”.

Di sinilah konsep pertanian regeneratif (regenerative agriculture) hadir bukan sekadar sebagai tren ekologis, melainkan sebagai jalan keluar yang esensial. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang berfokus pada “apa yang bisa diambil dari tanah”, pertanian regeneratif menitikberatkan pada “apa yang bisa dikembalikan ke tanah”.

Tujuan utamanya satu: mendetoksifikasi lahan dan membangun kembali ekosistem mikrobioma tanah yang hancur.

Mengapa Tanah “Mati”?

Pupuk kimia sintetis, khususnya nitrogen (Urea) dan fosfat, ibarat suplemen instan bagi tanaman. Tanaman memang bisa langsung menyerapnya untuk tumbuh subur, tetapi sisa residu asam dari pupuk ini akan tertinggal di dalam tanah.

Seiring waktu, penumpukan residu ini menurunkan tingkat pH (tanah menjadi sangat masam). Dalam kondisi masam yang ekstrem, cacing tanah menyingkir, bakteri pengurai mati, dan jamur baik tak bisa berkembang biak. Akibatnya, siklus hara alami terputus. Unsur hara makro dan mikro yang sebenarnya masih ada di dalam tanah menjadi “terkunci” dan tak bisa lagi diisap oleh akar tanaman.

Langkah Detoksifikasi

Bagi lahan yang sudah telanjur kritis, pemulihan tidak bisa dilakukan dalam semalam. Namun, beberapa teknik regeneratif berikut terbukti efektif untuk mengembalikan unsur hara tanah secara bertahap dan permanen:

1. Reintroduksi Mikrobioma dengan Pupuk Organik Cair (POC) dan Kompos Langkah pertama untuk memulihkan lahan kritis adalah mengembalikan para “pekerja” tanah, yaitu mikroorganisme. Aplikasi kompos yang matang atau penyemprotan Pupuk Organik Cair (POC) yang kaya akan Effective Microorganisms (EM) berfungsi sebagai probiotik bagi tanah. Bakteri dan mikrob inilah yang kelak akan bekerja siang-malam mengurai residu kimia dan mengubah sisa bahan organik menjadi nutrisi yang siap makan bagi tanaman.

2. Pemanfaatan Mikoriza sebagai “Akar Tambahan” Cendawan mikoriza adalah salah satu sekutu terbaik petani yang sering terlupakan. Jamur ini bersimbiosis dengan akar tanaman, membentuk jaringan hifa yang memanjang jauh menembus pori-pori tanah yang tak bisa dijangkau akar biasa. Mikoriza tak hanya membantu tanaman menyerap air dan fosfat yang terkunci, tetapi juga memproduksi glomalin—sejenis zat perekat alami yang memperbaiki struktur tanah yang rusak dan bantat menjadi lebih gembur.

3. Rotasi Tanaman dan Penggunaan Cover Crops (Tanaman Penutup) Membiarkan tanah terbuka dan terpanggang matahari setelah panen adalah bencana bagi mikrob tanah. Pertanian regeneratif sangat menyarankan penggunaan cover crops, seperti tanaman leguminosa (kacang-kacangan). Selain melindungi tanah dari erosi dan menjaga kelembapan, akar leguminosa memiliki bintil yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan menyimpannya di dalam tanah—sebuah pabrik pupuk urea alami yang bekerja secara gratis.

4. Olah Tanah Minimum (Minimum Tillage) Membajak tanah terlalu dalam dan sering justru merusak rumah alami bagi mikrob dan cacing tanah, serta melepaskan karbon ke udara. Dengan menerapkan olah tanah minimum, struktur agregat tanah akan tetap utuh, sirkulasi oksigen di dalam tanah terjaga, dan kelembapan alami lahan tidak mudah menguap.

Investasi Jangka Panjang untuk Masa Depan

Beralih ke pertanian regeneratif memang membutuhkan kesabaran. Pada musim pertama atau kedua, hasil panen mungkin belum menunjukkan lonjakan yang dramatis layaknya efek magis pupuk kimia. Namun, grafik kesehatannya akan terus naik.

Pemulihan hara lewat pendekatan regeneratif adalah sebuah investasi. Ketika struktur tanah sudah kembali sehat, gembur, dan kaya akan bahan organik, petani pada akhirnya akan menikmati efisiensi biaya produksi yang signifikan karena ketergantungan pada pupuk pabrikan akan turun drastis. Lebih dari itu, kita tidak hanya mewariskan hasil panen untuk hari ini, tetapi juga mewariskan lahan yang subur untuk generasi esok.

Silakan disunting jika ada penyesuaian angle atau ingin ditambahkan kutipan dari pakar agrikultur yang pernah kamu wawancarai sebelumnya, Han. Menurutku, visual yang cocok untuk mendampingi artikel ini di majalahtani.com adalah foto perbandingan side-by-side antara tanah yang keras/retak dengan tanah gembur yang dipenuhi cacing atau akar sehat.

Continue Reading

Inspirasi Tani

HKTI Bidik Pasar Jakarta Perluas Penjualan Hasil Tani Daerah

Ruruh Handayani

Published

on

Foto: Dok. HKTI

Majalahtani.com, Jakarta —  Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) ingin memanfaatkan besarnya kebutuhan pangan ibu kota untuk mempertemukan petani daerah dengan pasar Jakarta, dan mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming) untuk memperkuat ketahanan pangan. Ketua Harian II DPN HKTI Mulyono Machmur menilai, kebutuhan pangan Jakarta yang sebagian besar dipasok dari luar daerah dapat menjadi peluang bagi petani.

Untuk itu, ia meminta HKTI DKI Jakarta dapat mengambil peran dalam menghubungkan produksi pertanian daerah dengan kebutuhan pasar di ibu kota. Menurutnya, penguatan jaringan pemasaran antardaerah dapat memperpendek rantai pasok, sekaligus membuka pasar yang lebih luas bagi petani.

“Jakarta memiliki pasar yang besar. Ini bisa menjadi ruang bagi HKTI DKI untuk membantu mempertemukan hasil produksi petani dari daerah dengan kebutuhan pasar di Jakarta,” kata Mulyono dalam Musyawarah Daerah (Musda) DPD HKTI DKI Jakarta di Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Kamis (22/10/2026).

Beras, telur, ayam, sayuran, dan berbagai komoditas pangan lainnya menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat Jakarta yang dipasok dari luar wilayah. Mulyono bilang, HKTI DKI Jakarta dapat menjalin kerja sama dengan DPD HKTI di berbagai provinsi untuk memperluas pemasaran produk tersebut.

Mulyono memerinci, kerja sama itu dapat mencakup pemetaan komoditas unggulan daerah, kebutuhan pasar Jakarta, hingga peluang distribusi. Dengan begitu, produk pertanian daerah tidak hanya berhenti di sentra produksi, tetapi dapat masuk ke pasar dan tertata.

Ia mengungkapkan, salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan adalah pasar bunga di Jakarta. Selain memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan, komoditas tersebut dapat menjadi contoh bagaimana pasar ibu kota dapat menyerap produk pertanian dan hortikultura dari berbagai daerah.

Di sisi lain, penguatan ketahanan pangan Jakarta tidak cukup hanya mengandalkan pasokan dari luar wilayah. Mulyono menuturkan, lahan tidur dan ruang terbatas di kawasan permukiman juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pertanian perkotaan.

Upaya ini, lanjutnya, perlu mencakup pengelolaan pangan dari produksi hingga konsumsi, termasuk penanganan sampah makanan. Tingginya aktivitas konsumsi masyarakat perkotaan membuat pengurangan pangan terbuang menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam penguatan ketahanan pangan.

“Swasembada pangan di Jakarta tidak berhenti pada bagaimana menghasilkan pangan. Ada subsistem konsumsi dan subsistem sampah yang juga harus diperhatikan, termasuk persoalan sampah makanan,” terang Mulyono.

Pengembangan urban farming,  karena itu, perlu disertai edukasi konsumsi pangan dan pengurangan food waste. Dengan demikian, upaya memperkuat ketahanan pangan tidak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, tetapi juga pada pemanfaatan pangan secara lebih efisien.

Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Syafrin Liputo menambahkan, terdapat sekitar 177 lokasi di wilayahnya yang dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan perkotaan. Potensi itu, menurutnya, masih dapat dioptimalkan melalui pengelolaan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Di sisi lain, HKTI dapat mendukung pengembangan lokasi-lokasi tersebut melalui pendampingan kelompok tani perkotaan, mulai dari pengelolaan lahan, budidaya, pemilihan komoditas, hingga pemasaran hasil panen. Pendampingan juga dapat mempertemukan kelompok tani dengan pemerintah dan pelaku usaha untuk mengembangkan pertanian sesuai dengan kondisi Jakarta.

Nuchbatillah Prioritaskan Urban Farming dan Akses Pasar

Penguatan pertanian perkotaan dan pemasaran hasil tani daerah jadi bagian dari agenda kepengurusan baru HKTI DKI Jakarta Nuchbatillah. Anggota DPRD DKI Jakarta ini terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD HKTI DKI Jakarta periode 2026–2031 dalam Musda ini.

Nuchbatillah menegaskan, kepengurusan baru akan berfokus pada tiga agenda, yakni pengembangan urban farming, pemanfaatan lahan tidur, dan perluasan akses pasar bagi petani.

“HKTI DKI harus hadir dengan kerja yang konkret. Kita ingin lahan-lahan yang masih bisa dimanfaatkan dapat produktif, kelompok tani perkotaan mendapat pendampingan, dan hasil pertanian memiliki akses pasar,” ucap Nuchbatillah.

Ia mengatakan, pengembangan pertanian perkotaan tidak dapat dilakukan sendiri oleh organisasi. Karena itu, HKTI DKI akan membuka ruang sinergi dengan Pemprov DKI Jakarta, pemerintah kota, kelompok tani, pelaku usaha, hingga jaringan HKTI di daerah.

Menurut Nuchbatillah, posisi Jakarta sebagai pusat ekonomi sekaligus pasar dengan kebutuhan pangan yang tinggi harus dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan antara petani dan konsumen.

“Jakarta bukan hanya tempat konsumsi. Kita ingin Jakarta juga menjadi bagian dari ekosistem pertanian yang memberi nilai tambah bagi petani, baik melalui produksi perkotaan maupun melalui penyerapan produk dari daerah,” pungkasnya.

Continue Reading

Inspirasi Tani

Dua Perempuan Indonesia Masuk Daftar 100 Women Heroes FAO, Ini Kiprahnya

Ruruh Handayani

Published

on

100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development/Foto: Dok. FAO

Majalahtani.com, Roma — Dua perempuan Indonesia, Istiqamah dari Aceh dan Rulyantina dari Banten, masuk dalam daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development yang diluncurkan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO). Penghargaan ini merupakan bagian dari inisiatif FAO untuk memperingati Tahun Internasional Perempuan Petani 2026, sekaligus bertepatan dengan Hari Perempuan Perdesaan Internasional yang diperingati setiap 15 Oktober.

Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu mengemukakan, perempuan sangat berperan penting dalam berbagai bidang, mulai dari pertanian dan kewirausahaan hingga penelitian, pendidikan, dan kepemimpinan komunitas. Kontribusi tersebut turut menjaga keanekaragaman hayati, mendorong inovasi, serta memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi kelaparan, kemiskinan, dan perubahan iklim.

“Di berbagai desa dan kota, pegunungan dan pesisir, hutan dan ladang, Anda melakukan hal-hal luar biasa,” kata Qu saat seremoni penghargaan 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development,  di kantor pusat FAO, Roma, Italia, dikutip Majalahtani.com, Jumat (16/10/2026).

Istiqamah dan Rulyantina mendapat pengakuan atas kontribusi dalam pengembangan pertanian, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi masyarakat pedesaan. Keduanya patut berbangga, sebab berhasil terpilih dari 609 nominasi yang diajukan 131 negara anggota FAO untuk masuk dalam daftar 100 perempuan yang dinilai berkontribusi bagi sistem agrifood dan pembangunan pedesaan.

Istiqamah aktif mendampingi petani kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh. Melalui koperasi yang beranggotakan 980 orang dan menaungi lebih dari 1.200 hektare kebun kopi, ia memperjuangkan kepentingan jutaan petani kopi skala kecil, yang sebagian besar di antaranya adalah perempuan.

Istiqomah aktif mendampingi petani kopi di Aceh/Foto: Dok. FAO

Istiqamah mengungkapkan, koperasi ini aktif mendorong produksi kopi berkelanjutan berbasis agroforestri, sekaligus mengedepankan konservasi serta partisipasi yang adil dan inklusif dalam rantai nilai kopi global, terutama bagi perempuan. Ia pun berkeyakinan pendekatan ini juga dapat diterapkan di wilayah lain, asalkan didukung oleh kebijakan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.

“Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai pekerja pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan dalam rantai pasok kopi, sangat penting,” tuturnya.

Istiqomah berpesan, petani perempuan membutuhkan akses yang lebih luas dan setara terhadap tiga hal utama. Pertama, pelatihan dan teknologi yang sesuai. Kedua, akses terhadap pembiayaan, pasar yang inklusif, dan perlindungan sosial. Ketiga, pengakuan atas peran formal mereka dalam kelembagaan petani.

“Perempuan juga mendesak dukungan untuk menghadapi perubahan iklim melalui praktik pertanian ramah lingkungan, supaya produktivitas dan kesejahteraan kami tetap terjaga,” tegasnya.

Perempuan Indonesia lainnya yang masuk daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development adalah Rulyantina dari Banten. Ia mengembangkan usaha berbasis talas beneng dengan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah. Usaha tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang kerja dan sumber pendapatan bagi perempuan di komunitasnya, termasuk ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Rulyantina ingin perempuan di pedesaan memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, pengembangan komoditas lokal dapat menciptakan peluang usaha sekaligus mendorong kemandirian ekonomi perempuan dan mendukung keluarga mereka.

“Saya ingin membantu perempuan, terutama ibu rumah tangga di komunitas saya, memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah untuk bekerja,” ujar Rulyantina.

Rulyantina, petani dan pelaku usaha olahan talas beneng asal Banten/Foto: Dok. FAO

Rulyantina berharap, kiprahnya dapat mendorong pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi komoditas lokal dengan membuka akses bagi petani perempuan terhadap pelatihan, permodalan, teknologi, dan pasar. Ia menambahkan, pengalaman perempuan petani perlu menjadi pertimbangan dalam merancang program pertanian agar dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Akses dan peluang yang memadai, menurutnya, dapat membantu perempuan mengembangkan usaha secara lebih mandiri dan berkelanjutan.

Pengakuan terhadap Istiqamah dan Rulyantina juga menyoroti tantangan kesenjangan gender di sektor pertanian. FAO mencatat perempuan mencakup sekitar 41 persen tenaga kerja sistem agrifood dunia, tetapi masih menghadapi ketimpangan akses terhadap sumber daya dan peluang ekonomi. Perempuan juga memperoleh rata-rata 82 sen untuk setiap 1 dolar AS upah yang diterima laki-laki dalam pekerjaan bergaji di sektor pertanian.

FAO memperkirakan, penutupan kesenjangan gender dalam produktivitas lahan dan upah di sektor agrifood berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) global hingga 1 triliun dolar AS serta mengurangi jumlah penduduk yang mengalami kerawanan pangan sebanyak 45 juta orang.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved