Teknologi Tani
Pertama di Indonesia! Ahli IPB Berhasil Rakit 4 Varietas Cabai Habanero Lokal
Majalahtani.com – Ahli pemuliaan tanaman IPB University, Muhamad Syukur, berhasil merakit empat varietas cabai habanero lokal pertama di Indonesia, yaitu Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB.
Jenis cabai super pedas ini menjadi varietas habanero pertama yang resmi terdaftar di Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).
“Pada dasarnya cabai habanero di Indonesia itu belum ada. Baru ada Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan yang terdaftar. Jadi, yang mendapat perlindungan varietas pertama kali untuk jenis habanero adalah rakitan kami dari IPB University,” ujar Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University sekaligus tokoh di balik pemuliaan cabai habanero lokal ini.
Perakitan dan pengembangan varietas cabai super pedas Tabia Sala 1, Tabia Sala 2, Tabia Sala Kuning, dan Tabia Sala Oranye merupakan kerja sama IPB University dan Pemerintah Daerah (Pemda) Bali. Gubernur Bali, Dr Wayan Koster menyambut baik dan sangat mendukung perakitan dan pengembangan varietas ini, untuk petani Bali khususnya dan petani Indonesia umumnya.
Syukur mengatakan, salah satu daya tarik utama dari inovasi ini adalah tingkat kepedasannya luar biasa yang diukur menggunakan skala scoville heat units (SHU), bisa lima kali lipat lebih pedas dari rawit biasa. Masing-masing varietas memiliki karakteristik warna dan tingkat kepedasan yang berbeda.
“Tabia Sala 1 IPB berwarna merah dengan tingkat kepedasan ekstrem mencapai 1 hingga 1,3 juta SHU. Margi 2 IPB memiliki warna peach dengan tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU. Tabia Sala Oranye IPB yang berwarna oranye dengan tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU. Tabia Sala Kuning IPB yang berwarna kuning juga memiliki tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU,” beber Syukur.
Selain menang di tingkat kepedasan, keunggulan utama habanero rakitan IPB University ini terletak pada daya adaptasinya. Cabai habanero impor umumnya memiliki daya adaptasi yang rendah di iklim tropis, sementara varietas IPB University ini dirancang khusus agar tangguh dan tahan hama/penyakit keriting kuning.
Benih keempat varietas tersebut telah didiseminasikan oleh Benih Dramaga, sehingga sudah bisa diakses secara massal oleh para petani di Indonesia. Syukur berharap varietas cabai baru ini dapat berkembang di petani maupun industri. Ia melihat varietas ini memiliki potensi serapan pasar domestik maupun global.
“Di dalam negeri kebutuhan akan cabai dengan kepedasan tinggi sangat besar karena dapat mengurangi jumlah cabai yang digunakan. Ada perusahaan pengolahan di Bogor yang berminat untuk mengembangkan cabai bubuk dari varietas habanero IPB University. Selain itu, potensi besar juga untuk ekspor ke Korea sebagai bahan untuk membuat hot pack yang digunakan saat musim dingin,” jelas dia.
Syukur mengungkapkan bahwa timnya telah memulai proses perakitan varietas ini sejak tahun 2020. Ia mengungkapkan, selama 6 tahun perjalanan riset, tim peneliti menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
“Pertama tentu dana yang berkelanjutan. Kedua, lahan terbatas dan memerlukan rumah kaca. Ketiga, sumber daya manusia pendukung, mulai asisten pemulia, asisten lapangan hingga pegawai lapangan. Keempat, fasilitas pendukung seperti alat untuk analisis kepedasan yang mahal,” kata pakar pemuliaan tanaman IPB University yang telah melahirkan lebih dari 30 varietas cabai unggul ini.
Teknologi Tani
Mengenal Biological Dome, Teknologi Penangkal Hama Padi yang Dikembangkan IPB
Majalahtani.com – Fakultas Pertanian IPB University punya biological dome yang mampu menangkal serbuan hama tanaman. Biological dome atau kubah biologi merupakan teknologi pengendalian hama terpadu (PHT) biointensif padi yang dikembangkan oleh Prof Suryo Wiyono, Guru Besar Ilmu Proteksi Tanaman bersama tim.
“Teknologi PHT biointensif padi bekerja seperti kubah biologis atau biological dome, yaitu membuat tanaman, dan ekosistemnya tahan terhadap ledakan hama atau penyakit,” ujar Prof Suryo yang juga Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Rabu (9/9/2026).
Biological dome tersebut terbukti efektif menangkis serbuan hama penggerek batang di lahan sawah seluas 10 hektare di Kecamatan Ciasem, Subang—di tengah terjadinya migrasi besar hama tersebut pada akhir Agustus 2026 di ratusan hektare pertanaman di sekitar wilayah yang dipanen.
Dalam penerapannya, teknologi ini mengintegrasikan sejumlah komponen, mulai dari imunisasi benih menggunakan strain unggul plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dan cendawan endofit, penambahan bahan organik, pengurangan penggunaan pestisida (70%), sampai pengurangan penggunaan pupuk (15–30%).
“Berkat imunisasi PGPR dan endofit, tanaman jadi bisa tahan. Ekosistemnya pun tahan karena komunitas predator dan musuh alaminya juga melimpah,” ungkap Prof Suryo.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pertanian Ciasem, Mad Anwar, menilai teknologi perlu disebarluaskan karena menunjukkan hasil yang sangat baik.
H Syamsul, salah seorang petani Ciasem yang sudah tiga musim menerapkan teknologi ini menyebut, “Hasilnya konsisten lebih tahan hama dan produksi lebih tinggi. Harusnya teknologi IPB ini diterapkan dalam skala luas.”
Menurut Prof Suryo, penerapan biointensif padi di Ciasem menjadi salah satu bentuk pengembangan PHT yang menempatkan kesehatan tanaman dan keseimbangan ekosistem sebagai bagian penting dalam pengelolaan pertanian.
“Semoga teknologi dapat dikembangkan lebih luas sebagai alternatif pengendalian penggerek batang sekaligus meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi padi,” tandasnya
Teknologi Tani
IPB University Kembangkan Sorgum Bionusa, Varietas Unggul untuk Pangan dan Pakan
Majalahtani.com – IPB University mengembangkan sorgum Bionusa sebagai varietas unggul yang berpotensi mendukung diversifikasi pangan sekaligus penyediaan pakan. Varietas ini memiliki potensi hasil biji hingga 5,79 ton per hektare serta biomassa hijauan mencapai 45,5 ton per hektare.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Desta Wirnas, menjelaskan bahwa sorgum Bionusa dikembangkan dengan menggabungkan karakter unggul dua varietas nasional: Numbu dan Samurai 2.
Varietas Numbu dikenal banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, baik dalam bentuk biji maupun tepung, sedangkan Samurai 2 memiliki karakter yang sesuai untuk kebutuhan pakan.
“Dengan menyilangkan Numbu dan Samurai 2, karakter yang sesuai untuk pangan dan pakan diharapkan dapat digabungkan dalam satu varietas,” ujar Prof Desta.
Selain memiliki fungsi ganda, sorgum Bionusa juga dikembangkan untuk memperoleh potensi hasil yang tinggi. Berdasarkan hasil pengembangannya, varietas ini memiliki potensi hasil biji mencapai 5,79 ton per hektare, biomassa hijauan 45,5 ton per hektare pada tanaman utama, serta kadar nira sebesar 14,17 persen.
Adaptif di Berbagai Lahan
Keunggulan tersebut membuat sorgum Bionusa berpotensi dikembangkan pada berbagai kondisi lahan. Menurut Prof Desta, sorgum merupakan tanaman yang memiliki daya adaptasi luas sehingga dapat dibudidayakan pada lahan kering atau tegalan, baik pada lahan subur maupun lahan marjinal.
Karakter adaptif tersebut menjadi salah satu peluang penting bagi pengembangan sorgum di Indonesia. Terlebih, pemanfaatan lahan kering dapat menjadi alternatif dalam memperluas basis produksi pangan dan pakan tanpa terlalu bergantung pada lahan sawah.
Prof Desta menilai Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu produsen sorgum utama di kawasan Asia. “Seharusnya Indonesia bisa menjadi produsen dan eksportir sorgum karena teknologi budi daya sudah tersedia, varietas sudah banyak dengan berbagai keunggulan, serta ketersediaan lahan yang cukup, terutama lahan kering,” jelasnya.
Dengan dukungan teknologi budi daya, varietas unggul, dan pemanfaatan lahan kering, sorgum Bionusa menjadi salah satu inovasi yang dapat memperkuat pengembangan sorgum sebagai komoditas pangan dan pakan strategis di Indonesia.
Teknologi Tani
Atasi Hama Thrips Cabai, Syngenta Indonesia Kenalkan Teknologi Inovatif SIMODIS
Majalahtani.com – Syngenta Indonesia resmi meluncurkan SIMODIS, insektisida berbasis teknologi PLINAZOLIN, untuk membantu petani mengendalikan serangan thrips pada tanaman cabai. Peluncuran SIMODIS untuk tanaman cabai ini menjadi yang pertama di Indonesia dan dihadiri oleh 285 petani dari Jember dan Banyuwangi.
Peluncuran tersebut menjadi bagian dari komitmen Syngenta Indonesia dalam menghadirkan inovasi perlindungan tanaman untuk membantu petani menghadapi berbagai tantangan budidaya. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura penting dengan permintaan pasar yang tinggi dan nilai ekonomi yang signifikan. Namun, produktivitas dan kualitas panen cabai menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi cuaca hingga serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), termasuk thrips.
Tantangan tersebut semakin relevan ketika kondisi lingkungan mendukung perkembangan populasi hama. Fenomena El Niño, misalnya, dapat menyebabkan musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang sehingga berpotensi meningkatkan tekanan hama pada tanaman.
Jember dipilih sebagai lokasi peluncuran karena merupakan salah satu sentra produksi cabai di Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi cabai di Kabupaten Jember mencapai 176.234 kuintal sepanjang 2024.
Dukungan teknologi perlindungan tanaman yang tepat, termasuk pengendalian thrips, menjadi salah satu faktor penting untuk membantu menjaga produktivitas sekaligus kualitas hasil panen.
Keunggulan SIMODIS untuk Budidaya Cabai
Pengendalian thrips yang efektif dapat membantu tanaman cabai tumbuh lebih sehat, terutama pada bagian pucuk, daun, bunga, hingga buah. Dengan tekanan serangan thrips yang lebih terkendali, tanaman berpotensi memiliki pucuk yang lebih sehat, daun yang lebih minim keriput atau menggulung, serta bunga yang lebih cerah dan tidak mudah rontok.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membantu mengurangi risiko buah cabai bengkok dan menjaga kualitas hasil panen.
National Sales Head Syngenta Indonesia, Fauzi Tubat, mengatakan petani hortikultura menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi produktivitas.
“Petani hortikultura, termasuk cabai, menghadapi tiga tantangan utama, yaitu kekeringan, harga komoditas yang tidak menentu, serta hama dan penyakit yang memengaruhi produksi. Dua hal pertama berada di luar kendali kita, namun untuk hama dan penyakit, kita dapat mengupayakannya melalui penggunaan produk perlindungan tanaman yang tepat,” ujar Fauzi dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
Menurut dia, SIMODIS hadir untuk membantu menjawab tantangan tersebut melalui tiga keunggulan utama, yakni Jago (jago lawan thrips), Unggul (pucuk merekah, daun sehat), serta Sempurna (bunga dan buah mulus).
Inovasi yang Digunakan Secara Bertanggung Jawab
Untuk memperoleh hasil yang optimal sekaligus menjaga keberlanjutan efektivitas pengendalian hama, Syngenta Indonesia mengingatkan pentingnya penggunaan SIMODIS® sesuai rekomendasi teknis dan petunjuk pada label.
Product Manager Syngenta Indonesia Tracy Tey Hui Xiang mengatakan, penggunaan produk perlindungan tanaman secara tepat dan bertanggung jawab penting untuk menjaga efektivitas pengendalian hama dalam jangka panjang.
“SIMODIS merupakan teknologi terobosan yang harus digunakan secara bertanggung jawab. Petani perlu mengikuti petunjuk penggunaan pada label dan menerapkan rotasi mode of action atau cara kerja bahan aktif untuk membantu memperlambat terbentuknya resistensi dan menjaga efektivitas pengendalian thrips dalam jangka panjang,” ujar Tracy.
Untuk tanaman cabai, SIMODIS direkomendasikan diaplikasikan pada 28, 35, dan 42 hari setelah tanam (HST), dengan dosis 600 ml/ha atau konsentrasi 1,2 ml/L.
“Untuk membantu memastikan cakupan semprotan yang merata, volume semprot yang disarankan adalah 500 L/ha, setara dengan sekitar 30 tangki berkapasitas 16 liter per hektare,” tambah Tracy.
Hadirkan Aktivasi Kreatif
Untuk menambah semarak peluncuran, Syngenta Indonesia juga menghadirkan kompetisi Si ‘Modis’ Fashion Show. Peserta diajak merancang busana dengan inspirasi dari bunga dan tanaman cabai yang sehat.
Aktivasi kreatif tersebut menjadi simbol vitalitas tanaman cabai sekaligus menyampaikan pesan bahwa perlindungan tanaman yang tepat berperan penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman, pembungaan, hingga pembentukan buah secara optimal.
Salah satu petani cabai yang hadir, Arif Saifur Rohman, turut membagikan pengalamannya menggunakan SIMODIS untuk membantu mengendalikan serangan thrips pada tanaman cabainya.
“Saya mengandalkan SIMODIS untuk mengendalikan serangan thrips. Hasilnya, tanaman cabai saya terjaga mulai dari pucuk, daun, hingga bunga. Panen meningkat dan kualitas buah lebih baik. Buah yang bengkok juga lebih sedikit, sehingga nilai jualnya menjadi lebih tinggi,” ungkap Arif.
Pengalaman tersebut turut diperkuat oleh Jayan, petani cabai asal Cianjur, yang berbagi pengalaman melalui sesi live connection dalam rangkaian acara peluncuran.
Grand Launching SIMODIS di Jember menjadi pembuka rangkaian peluncuran yang akan digelar di lima lokasi di Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut ditujukan untuk memperluas edukasi mengenai pengendalian thrips sekaligus memberikan kesempatan kepada lebih banyak petani untuk mengenal dan mencoba teknologi perlindungan tanaman secara langsung.
Sejalan dengan visi Petani MAJU, Syngenta Indonesia terus mendorong percepatan adopsi inovasi dan teknologi pertanian untuk membantu petani meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Melalui inovasi seperti SIMODIS, Syngenta Indonesia berkomitmen untuk terus menjadi mitra bagi petani dalam menghadapi berbagai tantangan budidaya serta mendorong pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, dan memberikan nilai lebih bagi petani.
-
Analisis Pasar5 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria7 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria7 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Inspirasi Tani2 bulan agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Lensa Agraria6 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Inspirasi Tani7 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Data Pangan4 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
-
Inspirasi Tani2 bulan agoMuhammad Imam Rahmatullah: Menjembatani Teknologi, Desa dan Masa Depan Pangan
