Teknologi Tani
BRIN Kembangkan Teknologi Bawang Merah Adaptif untuk Pertanian Pesisir
Majalahtani.com – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arlyna Budi Pustika, memperkenalkan teknologi true shallot seed (TSS) atau benih botani bawang merah. Teknologi ini dinilai memiliki prospek besar dalam mendukung sistem produksi bawang merah yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan.
“Selain mengurangi risiko penyebaran penyakit melalui bahan tanam, TSS juga mempermudah distribusi benih dan membuka peluang pengembangan sistem produksi berbasis benih botani,” kata Arlyna, dalam workshop yang digelar di Kota Batu, Jawa Timur, dikutip Jumat (19/6/2026).
Workshop ini berfokus pada pengembangan sistem produksi bawang merah, cabai, dan padi yang lebih produktif, efisien, dan adaptif terhadap perubahan iklim, serta berkelanjutan dalam jangka panjang.
Sementara itu, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura BRIN, Rini Murtiningsih, menjelaskan serangan trips, ulat grayak, lalat bawang, dan berbagai penyakit tanaman masih menjadi tantangan utama bagi petani bawang merah.
“Pendekatan Pengelolaan Hama Terpadu terus dikembangkan melalui kombinasi budi daya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan agroekosistem secara rutin, dan peningkatan kapasitas petani sebagai pelaku utama pengendalian,” jelas Rini.
Berbagai inovasi teknologi telah diuji untuk mendukung implementasi pendekatan tersebut. Di antaranya penggunaan feromon exi, nano-biopestisida, teknologi budi daya terlindungi melalui netting house, serta sistem irigasi tetes.
Hasil penelitian menunjukkan kombinasi netting house dan irigasi tetes mampu menekan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sekaligus menjaga produktivitas bawang merah pada kisaran 12–14 ton per hektare.
Tidak hanya itu, teknologi irigasi tetes terbukti meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk serta mampu mengurangi kebutuhan pupuk hingga sekitar 30 persen dibandingkan sistem budi daya konvensional.
Adopsi teknologi netting house oleh petani di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, bahkan menunjukkan manfaat ekonomi yang nyata karena mampu menekan biaya penggunaan pestisida antara 30 hingga 70 persen.
Workshop ini merupakan bagian dari kerja sama penelitian yang didukung Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), dengan melibatkan BRIN, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), serta Universitas Gadjah Mada (UGM).
Manajer ACIAR Indonesia, Teddy Kristedi, mengungkapkan kerja sama penelitian pertanian antara Indonesia dan Australia telah berlangsung sejak 1982.
“Indonesia merupakan mitra strategis dalam pengembangan inovasi pertanian di kawasan Indo-Pasifik. Melalui penelitian, pengembangan kapasitas, dan pertukaran pengetahuan, kami ingin memperkuat kemampuan institusi sekaligus menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara luas,” ungkap Teddy.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi, menggarisbawahi cabai dan bawang merah memiliki posisi strategis dalam sistem pangan nasional karena berpengaruh langsung terhadap ketersediaan pangan masyarakat dan stabilitas ekonomi.
Menurut Agung, berbagai tantangan masih membayangi pengembangan komoditas tersebut, mulai dari perubahan iklim, meningkatnya serangan OPT, tingginya biaya produksi, kehilangan hasil pascapanen, hingga belum optimalnya efisiensi rantai distribusi.
“Untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan pendekatan berbasis inovasi melalui pemanfaatan varietas unggul, teknologi budi daya modern, penguatan kelembagaan petani, dan pengembangan sistem produksi berbasis kawasan,” jelasnya.
Lensa Agraria
Bapanas Dorong Transfer Teknologi dan Contract Farming Sayuran Berstandar di Batam
Majalahtani.com – Kedekatan geografis Batam dengan negara tetangga seperti Singapura membuka peluang strategis bagi pengembangan pasar pangan segar Indonesia. Namun, peluang tersebut perlu didukung dengan penerapan standar keamanan pangan yang kuat dan konsisten sejak proses budidaya hingga produk sampai ke tangan konsumen.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andriko Noto Susanto, mendorong penguatan standar keamanan pangan sebagai pondasi dalam meningkatkan daya saing pangan segar Indonesia, termasuk produk hortikultura yang memiliki peluang untuk menjangkau pasar internasional.
“Peluang pasar global harus kita jawab dengan standar keamanan pangan yang kuat. Kalau pangan kita aman dan diproduksi dengan baik, produk Indonesia sangat mampu bersaing di pasar internasional,” ujar Andriko saat mengunjungi unit produksi sayuran Batamindo Green Farm di Kota Batam, Kepulauan Riau.
Dalam kunjungan tersebut, Andriko meninjau secara langsung proses produksi berbagai komoditas sayuran, mulai dari penerapan praktik budidaya hingga penanganan produk di fasilitas rumah pengemasan (packing house). Berdasarkan hasil peninjauan, proses produksi sayuran di PT Batamindo Green Farm telah menerapkan prinsip Good Agricultural Practices (GAP), sementara proses penanganan di packing house telah menerapkan standar keamanan pangan yang baik.
“Hari ini kami menyaksikan bagaimana sayur-sayuran yang diproduksi di Batam Indo ini memenuhi kaidah-kaidah keamanan pangan yang baik. Di tingkat budidaya dilakukan dengan Good Agricultural Practices. Kemudian di packing house-nya sudah menerapkan SPPB-PSAT,” ujar Andriko.
Menurut Andriko, penerapan keamanan pangan yang baik menunjukkan bahwa standar keamanan dan pengembangan pasar dapat berjalan beriringan. Produk yang diproduksi secara baik memiliki peluang untuk menjangkau konsumen dengan tuntutan mutu yang semakin tinggi, termasuk segmen pasar premium.
“Ini melayani konsumen-konsumen kelas premium. Kami berterima kasih karena sudah menerapkan Good Agricultural Practices, good handling, good retailing, manufacturing, dan lain-lain,” kata Andriko.
“Nanti kami juga mengharapkan dilengkapi dengan sertifikat Prima. Sertifikasi ini perlu kita kuatkan, sekaligus ke depan kami mendorong contract farming dengan petani sekitar agar praktik baik yang sudah diterapkan dapat ditransfer dan semakin banyak petani menghasilkan pangan segar yang aman dan bermutu,” tambah Andriko.
Ia berharap penerapan praktik keamanan pangan yang baik dapat menjadi contoh bagi pelaku usaha pangan segar asal tumbuhan lainnya. Menurutnya, semakin banyak pelaku usaha yang menerapkan standar keamanan pangan sejak budidaya hingga penanganan pascapanen, semakin kuat pula pondasi pangan segar Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan menjangkau pasar yang lebih luas.
“Mudah-mudahan nanti seluruh pelaku usaha pangan segar asal tumbuhan menerapkan seperti apa yang dilakukan oleh Batamindo Green Farm,” tegas Andriko.
Bagi Bapanas, penerapan keamanan pangan sejak hulu merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem pangan segar yang aman, bermutu, dan berdaya saing. Melalui pembinaan, pengawasan, serta penguatan standar dan sertifikasi, produk pangan segar Indonesia diharapkan semakin mampu memenuhi tuntutan konsumen dan memperluas akses ke pasar domestik maupun global.
Teknologi Tani
Limbah Ampas Kopi Gayo Kini Bisa Jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan
Majalahtani.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi kemasan pangan ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah ampas kopi Gayo sebagai bahan baku. Riset ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan pada plastik konvensional yang masih mendominasi industri pangan.
Postdoctoral Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Haya Fathana, menjelaskan hingga saat ini plastik berbasis bahan bakar fosil masih menjadi pilihan utama sebagai material kemasan pangan. Namun, penggunaan plastik konvensional menimbulkan persoalan lingkungan karena berasal dari sumber daya yang tidak terbarukan dan membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam.
“Oleh sebab itu, diperlukan material alternatif yang ramah lingkungan dan berkinerja baik,” kata dia dikutip Selasa (21/7/2026)
Menurutnya, kitosan sebagai biopolimer berpotensi digunakan karena bersifat biodegradable, biokompatibel dan mampu membentuk film, meski masih memiliki keterbatasan pada sifat mekanik dan ketahanan air yang relatif rendah sehingga perlu dimodifikasi untuk meningkatkan karakteristiknya.
Dalam penelitiannya, Haya memanfaatkan ampas kopi Gayo yang kaya kaya kandungan selulosa, hemiselulosa, lignin, dan polifenol, untuk meningkatkan kekuatan mekanik, stabilitas termal, sifat hidrofobik, dan aktivitas antioksidan material komposit. Penelitian ini juga menambahkan nanopartikel ZnO guna meningkatkan sifat antimikroba, perlindungan UV, serta kinerja mekanik film.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa film komposit yang dikembangkan berhasil terbentuk secara utuh dan fleksibel. Penambahan ampas kopi Gayo menghasilkan perubahan warna kecokelatan sebagai indikasi keberadaan partikel lignoselulosa. Sedangkan penambahan ZnO tetap menghasilkan film yang homogen tanpa retakan, sehingga layak untuk karakterisasi lebih lanjut.
Dirinya menerangkan, karakterisasi material memperlihatkan adanya interaksi antarmolekul antara kitosan, komponen lignoselulosa dari ampas kopi, dan nanopartikel ZnO. Kombinasi tersebut mampu meningkatkan kekuatan mekanik, memperbaiki sifat hidrofobik, mengurangi permeabilitas uap air. Di samping itu juga meningkatkan kemampuan film dalam menghalangi radiasi ultraviolet dibandingkan dengan film kitosan murni.
“Selain memiliki sifat fisik yang lebih baik, film komposit tersebut juga menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Kombinasi limbah ampas kopi Gayo dan ZnO menghasilkan efektivitas penghambatan mikroba yang paling tinggi, sehingga berpotensi mendukung pengembangan kemasan pangan aktif (active packaging),” paparnya.
Haya menyatakan, pemanfaatan ampas kopi Gayo memberi nilai tambah limbah sekaligus mendukung ekonomi sirkular melalui kemasan pangan berkelanjutan.
“Penelitian ini juga membuka peluang pemanfaatan biomaterial lokal dengan sifat mekanik, penghalang, perlindungan UV, dan antibakteri yang lebih baik. Hal ini untuk mendukung inovasi kemasan pangan masa depan,” pungkas Haya.
Maritim
BRIN Terapkan Teknologi IoT untuk Budidaya Udang Vaname
Majalahtani.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Pancasakti Tegal mengembangkan solusi terpadu yang menggabungkan rehabilitasi ekosistem mangrove dengan teknologi digital berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung budidaya perikanan yang lebih berkelanjutan.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN, Alin Fithor, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut diterapkan pada kawasan pesisir Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang mengalami kerusakan akibat abrasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rehabilitasi mangrove yang dipadukan dengan sistem pemantauan kualitas air berbasis IoT mampu meningkatkan ketahanan tambak sekaligus menjaga produktivitas budidaya.
“Keberadaan mangrove dapat memperbaiki kualitas habitat sehingga produktivitas perikanan berlangsung lebih berkelanjutan. Namun, menjaga mangrove saja belum cukup karena tambak di wilayah pesisir masih menghadapi perubahan kualitas air akibat pasang surut, intrusi air laut, dan perubahan cuaca yang sulit diprediksi,” ujar Alin dikutip Kamis (16/7/2026).
Untuk mengatasi tantangan tersebut, kata Alin, tim peneliti mengembangkan sistem pemantauan kualitas air yang memanfaatkan sensor berbasis IoT, teknologi LoRa, dan Arduino Weather Station.
Sensor tersebut mengukur parameter penting seperti suhu dan tingkat keasaman (pH) air, kemudian mengirimkan data secara real time kepada pengguna sehingga petambak dapat segera mengambil langkah penanganan apabila terjadi perubahan kualitas air.
Berdasarkan hasil pengujian, sistem mampu memantau kualitas air secara akurat dengan kisaran pH 7,96-8,31 dan suhu 29,25-29,87°C, yang masih berada dalam kondisi ideal untuk pertumbuhan udang vaname.
Menurut Alin, pemanfaatan teknologi IoT tidak hanya meningkatkan efisiensi budidaya, tetapi juga berfungsi sebagai sistem peringatan dini terhadap perubahan lingkungan di kawasan pesisir yang rentan abrasi.
Pemantauan yang dilakukan secara berkelanjutan membantu mengurangi risiko kematian udang akibat perubahan kualitas air sekaligus meningkatkan produktivitas tambak.
Ia menambahkan bahwa penanganan abrasi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik. Pemulihan ekosistem mangrove perlu berjalan beriringan dengan penerapan teknologi yang mendukung kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
“Pendekatan ini menunjukkan bagaimana riset mampu menghadirkan solusi yang saling melengkapi. Rehabilitasi mangrove menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, sementara teknologi IoT memastikan aktivitas budidaya tetap produktif melalui pengelolaan kualitas air yang lebih presisi,” jelasnya.
Temuan tersebut membuka peluang penerapan model serupa di berbagai wilayah pesisir Indonesia yang menghadapi tantangan abrasi dan dampak perubahan iklim.
Melalui sinergi inovasi ekologis dan teknologi digital, BRIN bersama mitra menunjukkan bahwa kawasan pesisir yang terdampak abrasi dapat dipulihkan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
-
Analisis Pasar4 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria6 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria6 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Lensa Agraria5 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Inspirasi Tani6 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Lensa Agraria5 bulan agoKejar Target Swasembada Beras, Mentan Amran Perkuat Sinergi Internal Kementan
-
Inspirasi Tani4 minggu agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Data Pangan3 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
