Connect with us

Lensa Agraria

Pengamat IPB Minta Klaim Beras Fortifikasi Harus Dibuktikan Secara Ilmiah

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Pengamat kebijakan dan ekonomi pertanian dari IPB University, Prima Gandhi, menegaskan bahwa produk beras fortifikasi tidak boleh hanya mengandalkan klaim kandungan gizi pada kemasan. Setiap klaim mengenai vitamin, mineral, atau zat gizi tertentu harus dapat dibuktikan melalui kandungan produk yang sesuai dan pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pernyataan tersebut disampaikan Prima untuk mendukung langkah Badan Pangan Nasional (Bapanas) dalam menelusuri dugaan ketidaksesuaian antara klaim fortifikasi pada kemasan beras dan kandungan vitamin atau zat gizi yang terdapat di dalam produk.

Menurut Prima, persoalan tersebut penting mendapat perhatian karena beras fortifikasi bukan sekadar produk pangan dengan nilai tambah komersial, tetapi juga dapat menjadi bagian dari instrumen intervensi gizi masyarakat.

“Prinsip utamanya sederhana. Produk beras khusus yang dipasarkan kepada masyarakat harus benar-benar sesuai dengan informasi yang dicantumkan pada labelnya. Konsumen membayar nilai tambah karena mengharapkan manfaat gizi tertentu. Karena itu, apabila suatu produk mencantumkan kandungan vitamin dan mineral, maka kandungan tersebut harus dapat dibuktikan secara ilmiah dan konsisten,” ujar Prima, dikutip Selasa (8/9/2026).

Prima menjelaskan bahwa beras fortifikasi merupakan salah satu instrumen intervensi gizi yang digunakan di berbagai negara untuk membantu mengatasi kekurangan zat gizi mikro, seperti zat besi, asam folat, zinc, vitamin A, dan vitamin B.

Secara konseptual, fortifikasi pangan merupakan kebijakan kesehatan masyarakat yang menambahkan zat gizi esensial ke dalam bahan pangan yang dikonsumsi luas, terutama ketika pola konsumsi masyarakat belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan mikronutrien dari sumber pangan alami.

Karena itu, menurut Prima, kebenaran klaim pada produk fortifikasi menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dari efektivitas kebijakan pangan dan gizi.

Dalam teori ekonomi informasi, produk pangan fortifikasi termasuk kategori credence goods, yaitu produk yang kualitas atau manfaatnya tidak mudah diverifikasi konsumen, bahkan setelah dikonsumsi. Konsumen dapat melihat kemasan dan harga, tetapi tidak dapat secara mandiri memastikan apakah vitamin, mineral, atau zat gizi yang dijanjikan benar-benar terkandung dalam jumlah yang sesuai.

“Di sinilah peran negara menjadi sangat penting dan Bapanas sudah menjalankannya. Ada asimetri informasi antara produsen dan konsumen. Masyarakat tidak mungkin membawa produk ke laboratorium untuk memeriksa kandungan vitamin dalam beras yang dibelinya. Karena itu, pengawasan pemerintah, pengujian laboratorium yang independen, ketepatan pelabelan, dan keterlacakan rantai pasok adalah instrumen perlindungan konsumen yang sangat mendasar,” jelas Prima.

Ia menilai dugaan pemasaran beras fortifikasi tanpa kandungan vitamin yang sesuai dengan klaim kemasan merupakan persoalan serius karena berpotensi menimbulkan kerugian pada beberapa tingkat.

Pertama, konsumen berpotensi membayar harga premium tanpa memperoleh manfaat gizi yang dijanjikan. Kedua, kelompok masyarakat yang menjadi sasaran intervensi gizi dapat kehilangan peluang memperoleh tambahan asupan zat gizi mikro. Ketiga, pelaku usaha yang memproduksi beras fortifikasi secara benar dapat dirugikan karena harus bersaing dengan produk yang menjual klaim serupa tanpa memenuhi standar yang semestinya.

“Jika dugaan tersebut terbukti melalui proses pemeriksaan yang objektif, transparan, dan sesuai ketentuan hukum, maka harus ada penegakan hukum yang proporsional. Tujuannya bukan semata-mata menghukum, melainkan membangun efek jera, memulihkan kepercayaan publik, dan memastikan bahwa kompetisi usaha berlangsung secara adil,” kata Prima.

Menurut Prima, persoalan utama dalam beras fortifikasi bukan sekadar ada atau tidaknya tulisan “fortifikasi” pada kemasan, tetapi apakah produk tersebut benar-benar memenuhi kandungan dan standar yang menjadi dasar klaim tersebut.

Ia menekankan bahwa pengawasan pangan fortifikasi tidak boleh berhenti pada pemeriksaan produk akhir di pasar. Sistem pengawasan perlu dibangun secara menyeluruh, mulai dari pengadaan bahan baku fortifikan, proses pencampuran atau blending, standar teknologi produksi, pengujian kandungan zat gizi, pengemasan, pencantuman label, distribusi, hingga pengawasan produk yang telah beredar.

“Produk fortifikasi memerlukan sistem jaminan mutu yang lebih ketat dibandingkan beras reguler. Bukan hanya karena produknya memiliki harga dan nilai tambah, tetapi juga karena ia membawa klaim kesehatan dan gizi. Oleh sebab itu, proses pengawasan harus berbasis risiko, berbasis bukti laboratorium, dan dapat ditelusuri dari hulu ke hilir,” ujarnya.

Prima menilai langkah Bapanas untuk mengungkap dugaan ketidaksesuaian produk perlu dipandang sebagai momentum memperbaiki tata kelola beras khusus secara lebih sistematis. Penguatan pengawasan tersebut perlu dilakukan melalui koordinasi antarlembaga, antara lain Bapanas, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Kesehatan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, pemerintah daerah, laboratorium terakreditasi, serta aparat penegak hukum sesuai kewenangannya.

“Saya mendukung langkah Kepala Bapanas untuk memastikan bahwa pasar beras khusus berjalan dengan benar. Namun, yang lebih penting adalah membangun sistem yang membuat pelanggaran semakin sulit dilakukan dan semakin mudah dideteksi. Kita membutuhkan tata kelola yang kuat, bukan hanya respons terhadap kasus,” tegasnya.

Prima menjelaskan bahwa sejumlah negara telah menggunakan fortifikasi beras sebagai bagian dari kebijakan gizi, terutama di negara-negara yang menjadikan beras sebagai pangan pokok. Namun, praktik internasional menunjukkan bahwa keberhasilan fortifikasi tidak hanya ditentukan oleh penambahan zat gizi, melainkan juga oleh standar mutu, regulasi, pengawasan, dan komunikasi publik yang kredibel.

Di Amerika Serikat, fortifikasi pangan telah lama menjadi bagian dari strategi kesehatan masyarakat, terutama pada produk serealia dan tepung. Regulasi pangan menempatkan akurasi label sebagai elemen penting karena informasi kandungan gizi menjadi dasar keputusan konsumen. Produk yang mengklaim memiliki kandungan zat gizi tertentu harus memenuhi ketentuan standar komposisi, pelabelan, dan pengawasan keamanan pangan.

Sementara itu, di sejumlah negara Asia dengan tingkat konsumsi beras tinggi, seperti Jepang, Korea Selatan, Filipina, dan beberapa wilayah di India, pengembangan beras fortifikasi dilakukan melalui kombinasi kebijakan gizi, inovasi teknologi pangan, pengadaan publik, serta pengujian mutu secara berkala. Dalam berbagai program tersebut, penentuan standar kandungan zat gizi, stabilitas vitamin selama penyimpanan dan proses memasak, serta mekanisme verifikasi laboratorium menjadi faktor kunci.

Pengalaman internasional tersebut menunjukkan bahwa beras fortifikasi tidak cukup diperlakukan sebagai komoditas biasa. Produk ini memiliki karakter ganda: sebagai pangan pokok sekaligus kendaraan intervensi gizi. Karena itu, tata kelolanya harus menjamin tiga aspek utama: keamanan pangan, kesesuaian mutu, dan kebenaran informasi kepada konsumen.

“Indonesia perlu belajar dari praktik internasional bahwa keberhasilan fortifikasi pangan bergantung pada integritas seluruh sistem. Standar harus jelas, produsen harus memiliki kepastian, pengawasan harus konsisten, dan konsumen harus menerima informasi yang benar. Dengan begitu, beras fortifikasi dapat menjadi instrumen perbaikan gizi yang efektif, bukan hanya produk premium di pasar,” ujar Prima yang meyelesaikan pendidikan doktoralnya di Tokyo University of Agriculture Jepang.

Sebelumnya, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman mengungkap dugaan praktik penjualan beras berlabel fortifikasi yang diduga tidak mengandung vitamin sebagaimana informasi yang tercantum pada kemasan. Menurut informasi yang disampaikan Bapanas, dugaan praktik tersebut berpotensi menghasilkan keuntungan yang besar bagi pelaku, termasuk mencapai sekitar Rp22 juta dari satu truk berisi 10 ton beras.

Prima berharap proses pemeriksaan atas dugaan tersebut dapat dilakukan secara profesional, terbuka, berbasis pembuktian laboratorium, dan menjunjung asas praduga tak bersalah. Ia juga mendorong agar hasil penanganan perkara menjadi dasar evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme sertifikasi, pengujian, pelabelan, dan pengawasan beras fortifikasi di Indonesia.

“Jika kita ingin memperbaiki gizi masyarakat melalui pangan, maka integritas produk harus menjadi syarat utamanya. Perlindungan konsumen, kepastian bagi pelaku usaha yang patuh, dan efektivitas kebijakan gizi harus berjalan bersama,” pungkas Prima.

Lensa Agraria

UU Pengaturan Reforma Agraria Lahirkan LPRA, Pemerintah Tata Ulang Penyelesaian Konflik Tanah

Ruruh Handayani

Published

on

Foto: Dok. Kementerian ATR

Majalahtani.com, Jakarta — Pengesahan Undang-Undang Pengaturan Reforma Agraria membawa perubahan besar dalam tata kelola pertanahan nasional. Salah satu perubahan penting dalam regulasi ini adalah lahirnya Lembaga Penyelenggara Reforma Agraria (LPRA) yang akan berada langsung di bawah Presiden Republik Indonesia.

Lembaga baru ini dirancang untuk menangani agenda reforma agraria secara lebih terintegrasi dan terkoordinasi. Tak hanya itu, LPRA diproyeksikan menjadi penggerak utama penyelesaian konflik yang selama ini telah menjadi salah satu persoalan dalam agraria dalam pembangunan ekonomi mulai dari sektor pertanian, perkebunan, kawasan industri, hingga proyek strategis nasional (PSN).

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid mengungkapkan, kehadiran LPRA akan mengubah pola penanganan konflik agraria yang selama ini banyak ditangani oleh pihaknya. Nantinya, Kementerian ATR/BPN dan LPRA akan memiliki pembagian peran sesuai karakter persoalan yang dihadapi.

“Nanti (Kementerian ATR/BPN) menyiapkan bahan-bahan yang mentah, sama proses administrasinya. Kemudian, dilimpahkan ke sana (LPRA). Nanti, konsepnya seperti apa akan kita simulasi,” kata Nusron di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Kamis (1/10/2026).

Nusron menegaskan, tidak semua persoalan pertanahan akan dialihkan ke lembaga baru ini. Kementerian ATR/BPN kemungkinan bakal tetap menangani persoalan yang berkaitan tentang administrasi pertanahan dan sengketa yang melibatkan individu dengan individu, sementara konflik dan dimensi yang lebih luas berpotensi jadi ranah LPRA.

“Tidak seluruhnya, tergantung mediasinya apa. Kan, ada dua, konflik dan sengketa,” imbuhnya.

Lebih spesifik, ia menjelaskan bahwa konflik yang melibatkan masyarakat dengan korporasi, badan usaha milik negara (BUMN), maupun aset negara akan menjadi salah satu jenis persoalan yang dapat ditangani melalui mekanisme LPRA.

“Kalau menyangkut komunal, seperti rakyat dengan korporasi, rakyat dengan BUMN, rakyat dengan BMN, mungkin nanti di dalam badan tersebut mediasinya,” ucap Nusron.

Sebelumnya, RUU Pengaturan Reforma Agraria telah disetujui pemerintah bersama DPR RI dalam Rapat Paripurna ke-6 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027 di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Selasa (22/9/2026). Pembahasan regulasi itu telah melalui sejumlah tahapan, termasuk pembahasan 596 Daftar Inventarisasi Masalah (DIM), pembentukan panitia kerja, serta proses perumusan dan sinkronisasi sebelum disepakati pada pembahasan tingkat akhir.

Di kesempatan berbeda, Direktur Jenderal Penataan Agraria Kementerian ATR/BPN Embun Sari mengemukakan, pembentukan regulasi baru ini ditujukan untuk mengurai kebuntuan hukum dalam penyelesaian konflik agraria. Pemerintah melihat, masih terdapat persoalan struktural yang membutuhkan pendekatan kelembagaan yang lebih kuat.

Menurutnya, reforma agraria selama ini menjadi salah satu program strategis pemerintah dalam penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah. Selain itu, pemerintah juga menempatkan penyelesaian konflik agraria sebagai salah satu agenda penting untuk menciptakan kepastian hukum sekaligus pemerataan akses masyarakat terhadap tanah.

“Jadi (UU) ini mencoba mengurai kebuntuan kegiatan Reforma Agraria, terutama konflik masyarakat di atas apakah itu kawasan hutan yang belum dilepaskan atau di atas aset BMN/BMD, aset BUMN/BUMD di mana masyarakat berkonflik dengan aset-aset tersebut. Dan, tentu saja karena banyak undang-undang sektoral lainnya yang mengatur terkait aset ini yang tidak bisa kita terobos,” jelas Embun di Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Kamis (1/10/2026).

Ia pun menekankan pentingnya pembentukan LPRA lantaran penyelesaian konflik agraria tidak hanya berorientasi pada aspek administrasi pertanahan, tetapi juga persoalan lintas sektor yang melibatkan masyarakat, perusahaan, serta aset negara. Kewenangan itu berada pada kementerian/lembaga (K/L) lain, seperti kawasan hutan, sumber daya perairan, serta aset negara dan badan usaha milik negara maupun daerah.

Kondisi ini, katanya, membuat penyelesaian konflik tidak dapat dilakukan oleh satu kementerian saja.

“Jadi, dibutuhkan memang lembaga yang bisa masuk di semua K/L yang tadi saya sebutkan. Tapi, tidak menghapus peran BPN sendiri, karena kita memang lembaga yang mengatur urusan pemerintah di bidang pertanahan dan tata ruang,” jelas Embun.

Embun bilang, mekanisme seperti ini juga memberikan kepastian bagi K/L terkait untuk menindaklanjuti keputusan penyelesaian konflik yang telah ditetapkan.

“Dengan adanya keputusan yang mengikat, K/L dapat melakukan tindakan yang diperlukan sesuai kewenangannya, termasuk tindakan korektif terhadap pencatatan atau pengelolaan aset, sehingga persoalan yang selama ini terkendala oleh batas kewenangan dan aturan sektoral memiliki landasan hukum untuk diselesaikan,” ujarnya.

Continue Reading

Kabar Desa

Pastikan Mutu Sesuai HET, Satgas Pangan Awasi Rantai Pasok Beras di Jawa Tengah

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Sebanyak 1.453 laporan hasil pemantauan harga dan mutu beras telah dihimpun Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Harga dan Mutu Beras di Jawa Tengah hingga 29 September 2026. Pemantauan dilakukan di seluruh kabupaten/kota, mulai dari pedagang atau pengecer hingga produsen, untuk memastikan beras yang beredar sesuai dengan kelas mutu dan harga yang ditetapkan pemerintah.

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andriko Noto Susanto mengatakan pengawasan tersebut dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara harga dan mutu beras yang beredar di masyarakat. Menurutnya, beras yang dijual sebagai premium maupun medium harus memenuhi standar mutu sesuai dengan harga yang ditetapkan.

“Jadi, pemerintah ingin memastikan bahwa yang dijual premium itu adalah Rp 14.900, benar mutunya premium. Yang dijual medium, harganya Rp 13.500, itu benar mutunya medium. Nah, ini yang kita awasi,” ujar Andriko dalam Rakor Pengawasan Harga Beras, di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (29/9/2026).

Andriko menegaskan, pengawasan tersebut juga diperlukan untuk mencegah praktik usaha yang merugikan konsumen dan mengganggu stabilitas pangan.

“Karena itu, kita ingin beras ini betul-betul dapat kita kendalikan dengan baik karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Pelaku usaha tidak boleh memanfaatkan beras ini sebagai komoditas liberal misalnya untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya sehingga akan merugikan konsumen kita dan mengganggu stabilitas nasional kita. Ini harus menjadi spirit kita bersama,” tegasnya.

Pengawasan Satgas Pengawasan Harga dan Mutu Beras di Jawa Tengah yang berlangsung sejak 7 September hingga 29 September 2026 telah menghasilkan 1.453 laporan dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.135 laporan berasal dari pedagang/pengecer, 140 laporan dari ritel modern, 115 laporan dari grosir/toko besar, 44 laporan dari distributor, dan 19 laporan dari produsen.

Pemantauan dilakukan secara berlapis, mulai dari pedagang dan ritel yang berhadapan langsung dengan konsumen hingga distributor dan produsen di tingkat hulu.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah AKBP Anita Indah Setyaningrum mengatakan pengawasan di lapangan membutuhkan kerja bersama antarinstansi, terutama melalui komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi.

“Ini menjadi perangkat kita bersama. Karena itu, komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi menjadi petunjuk kita di lapangan, sehingga apa yang menjadi atensi pimpinan, termasuk Bapak Presiden, dapat kita laksanakan bersama,” ujar Anita.

Penguatan pengawasan juga disiapkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui penerbitan Surat Keputusan Gubernur untuk memperkuat posisi Satgas dalam melakukan pengawasan harga dan mutu beras.

“Kami mendukung penuh adanya pemantauan harga dan mutu beras di Jawa Tengah oleh Satgas Pangan. Saat ini kami sedang menyiapkan Surat Keputusan dari Gubernur untuk menguatkan posisi Satgas dalam melakukan pengawasan harga dan mutu beras di Jawa Tengah,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah Widi Hartanto.

Pada 2026, pemerintah melalui Bapanas mengalokasikan anggaran sebesar Rp 4,56 triliun untuk mendukung pelaksanaan program SPHP beras dengan alokasi 828 ribu ton. Penyaluran SPHP untuk periode Maret–September 2026 tersebut telah dituntaskan oleh Perum BULOG per 24 September 2026.

Untuk melanjutkan intervensi stabilisasi harga, Bapanas kini mempercepat proses tambahan penugasan SPHP beras dengan asumsi alokasi hingga 74,18 ribu ton. Tambahan penugasan tersebut akan menggunakan sisa anggaran yang masih tersedia di Bapanas, dengan penerbitan penugasan kepada Perum BULOG ditargetkan dapat dilakukan pada awal Oktober 2026.

Wakil Pemimpin Wilayah Perum BULOG Jawa Tengah Gandi Prarista memastikan kesiapan BULOG untuk kembali menyalurkan SPHP apabila penugasan tambahan telah diterbitkan pemerintah. Untuk wilayah kerja Jawa Tengah yang mencakup 25 kabupaten/kota, BULOG memiliki stok sekitar 350 ribu ton. Sementara itu, realisasi penyaluran SPHP pada periode Maret–September telah mencapai hampir 88,9 ribu ton, atau 115 persen dari target awal 77,1 ribu ton

“Jadi intinya kami siap kalau misalkan penugasan sudah ada, teman-teman kami di seluruh wilayah 25 kabupaten kota di, mungkin malah untuk seluruh Indonesia, kalau misalkan penugasan sudah ada, aplikasi sudah dibuka, kami siap mengelontorkan SPHP seperti biasa-biasanya,” ujar Gandi.

Continue Reading

Kabar Desa

Hadapi Kemarau, Kementan Percepat Pembangunan Infrastruktur Air Pertanian TA 2026

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Kementerian Pertanian mempercepat pembangunan dan pelaksanaan infrastruktur air pertanian melalui irigasi perpompaan (IRPOM), irigasi perpipaan (IRPIP), dan bangunan konservasi Tahun Anggaran 2026. Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian selama musim kemarau sekaligus mendorong peningkatan indeks pertanaman (IP).

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa ketersediaan air merupakan faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian. Karena itu, penguatan infrastruktur air perlu dipercepat agar lahan pertanian tetap dapat ditanami dan produktivitas terus meningkat.

“Air adalah faktor penentu produksi. Karena itu, pompanisasi menjadi solusi cepat untuk memastikan sawah tetap mendapat pasokan air sehingga petani bisa terus tanam dan meningkatkan indeks pertanaman,” ujar Mentan Amran.

Sejalan dengan arahan tersebut, Kementerian Pertanian mempercepat pelaksanaan kegiatan IRPOM, IRPIP, dan bangunan konservasi TA 2026. Direktur Konservasi dan Pengembangan Sumber Air Pertanian (KPSAP) Kementerian Pertanian, Asmarhansyah, mengatakan percepatan diperlukan agar infrastruktur yang dibangun dapat segera dimanfaatkan petani, terutama untuk menjaga keberlanjutan pertanaman dan mengantisipasi dampak kekeringan.

“Kementerian Pertanian terus mempercepat pelaksanaan kegiatan mitigasi kekeringan melalui pembangunan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, dan bangunan konservasi. Percepatan ini diperlukan untuk menghadapi dampak perubahan iklim dan fenomena El Nino, sekaligus memastikan kebutuhan air bagi pertanaman tetap terpenuhi,” ujar Asmarhansyah dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Kegiatan IRPIP, IRPOM, dan Bangunan Konservasi TA 2026 di Denpasar, Bali, Rabu (24/9).

Menurut Asmarhansyah, pembangunan infrastruktur air pertanian harus memberikan manfaat nyata bagi petani. Karena itu, penyelesaian pekerjaan perlu dikejar agar intervensi dapat dimanfaatkan pada saat kebutuhan air pertanian meningkat.

“Pak Menteri menginginkan intervensi infrastruktur air ini selesai di musim kemarau, karena manfaatnya harus dapat dirasakan langsung oleh petani. Dengan demikian, kita dapat menyelamatkan pertanaman sekaligus meningkatkan indeks pertanaman (IP),” ujarnya.

Percepatan tersebut juga dibarengi dengan penguatan verifikasi dan validasi di lapangan untuk memastikan setiap intervensi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan wilayah. Koordinator Kelompok Substansi Pengembangan Sumber Air Pertanian, Emir Kartajasa, mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari selesainya pekerjaan fisik, tetapi dari manfaat yang dihasilkan setelah infrastruktur dimanfaatkan.

“Poin penting dari kegiatan apa pun itu adalah menghasilkan output dan outcome. Dalam rapat ini, kami juga ingin bahwa apa yang menjadi verifikasi dan validasi kita di lapangan itu betul-betul bermanfaat. Sumber airnya ada, luas lahannya juga ada,” kata Emir dalam rangkaian rapat koordinasi di Palembang, Sumatera Selatan.

Emir menegaskan, ketersediaan sumber air, luas lahan, serta kesiapan penerima manfaat harus dipastikan sebelum pelaksanaan kegiatan. Verifikasi dan validasi tersebut menjadi bagian penting agar pembangunan infrastruktur air pertanian tepat sasaran dan mampu memberikan manfaat sesuai tujuan program.

“Pembangunan infrastruktur air pertanian tidak berhenti pada penyelesaian pekerjaan fisik. Yang paling penting adalah bagaimana infrastruktur tersebut dapat memberikan manfaat dan mendukung peningkatan indeks pertanaman, produksi, dan produktivitas pertanian,” kata Emir.

Selain kesiapan teknis di lapangan, percepatan pelaksanaan juga dilakukan melalui penyelesaian berbagai persyaratan administrasi dan pemberkasan program. Koordinasi dilakukan untuk memastikan kesiapan dokumen, lokasi kegiatan, penerima manfaat, hingga pelaksanaan pekerjaan fisik.

Kementerian Pertanian mendorong pengawalan bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dinas pertanian, penyuluh, BPLIP, serta pihak terkait lainnya. Pengawalan dilakukan sejak verifikasi sumber air dan luas lahan, kesiapan penerima manfaat, pemberkasan, hingga pelaksanaan fisik kegiatan.

Melalui percepatan dan pengawalan tersebut, Kementerian Pertanian memastikan pembangunan infrastruktur air pertanian TA 2026 tidak berhenti pada penyelesaian pekerjaan, tetapi berorientasi pada manfaat bagi petani. Ketersediaan air diharapkan mampu menjaga pertanaman tetap berjalan selama musim kemarau sekaligus membuka peluang peningkatan indeks pertanaman, produksi, dan produktivitas pertanian.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved