Connect with us

Agripreneurship

Lesna Purnawan: Mengubah Bakso Menjadi Mesin Ekonomi Wonogiri

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Bagi Lesna Purnawan, bakso bukan sekadar makanan. Di balik semangkuk bakso terdapat daging, cabai, bawang, sawi, seledri, jeruk, mie, bumbu, hingga berbagai bahan pendukung lainnya. Semua dibutuhkan secara rutin oleh pedagang. Dan ketika jumlah pedagangnya mencapai ratusan bahkan ribuan, kebutuhan tersebut berubah menjadi sebuah pasar yang besar.

Dari situlah Lesna mulai melihat peluang yang lebih luas: bagaimana jika pasar yang tercipta dari bisnis bakso dan mie ayam itu juga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat Wonogiri?

Pertanyaan itu menjadi salah satu gagasan yang mendorong Lesna, bersama sejumlah tokoh lainnya, membangun Perkumpulan Pengusaha Bakso Wonogiri Mendunia — organisasi yang kini menaungi sekitar 500 pedagang bakso dan mie ayam asal Wonogiri yang teregister di berbagai daerah. Kiprah mereka telah diakui secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Wonogiri, yang pada 18 Desember 2025 mengukuhkan Wonogiri sebagai Kota Bakso.

Selama ini, para pedagang bakso asal Wonogiri telah lama dikenal sebagai bagian dari kekuatan ekonomi masyarakat perantauan. Mereka tersebar di berbagai kota, membangun warung, mengembangkan usaha, bahkan membuka cabang di banyak daerah — sering kali berjalan sendiri-sendiri tanpa saling terhubung.

Menurut Lesna, langkah pertama organisasi justru bukan soal ekonomi, melainkan soal membangun kembali rasa saling kenal di antara sesama perantau.

“Nggak mungkin kita akan berkolaborasi kalau kita belum kenal. Dengan saling mengenal, maka saling menjaga — jadi nggak mungkin saya buka warung di sini, terus ada yang buka lagi tepat di depannya,” ujar Lesna kepada Majalah Tani.

Organisasi ini kini sudah memiliki struktur pengurus inti dengan sejumlah bidang kerja: kaderisasi, pelatihan dan pengembangan SDM, digitalisasi, sertifikasi kompetensi, perizinan usaha, hingga verifikasi produk halal. Keseriusan itu turut menarik perhatian lembaga negara — pekan ini organisasi dijadwalkan beraudiensi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Warisan Sejak Era 1940-an

Jejak pedagang bakso Wonogiri di perantauan, kata Lesna, ternyata jauh lebih tua dari yang banyak orang kira.

“Ternyata sejak tahun 1940-an sudah ada perantau Wonogiri yang menjual bakso,” kata Lesna. Bersama timnya, ia kini tengah menyusun sebuah buku yang menelusuri sejarah panjang pedagang bakso Wonogiri — dari mana pertama kali mereka merantau, hingga bagaimana jaringan itu terus tumbuh sampai hari ini.

Program kedua organisasi adalah meningkatkan kapasitas dan kapabilitas para pedagang, dimulai dari sisi legalitas usaha: hak kekayaan intelektual (HAKI), sertifikasi halal, NIB, hingga BPPOM.

“HAKI, alhamdulillah sudah ada 10 orang lebih yang bisa. Masing-masing warung didaftarkan sendiri-sendiri, kita bantu prosesnya. Kalau lewat konsultan itu bisa 3,5 juta sampai 5 juta, ini hanya cukup bayar Rp1.800.000, ditambah untuk organisasi Rp500.000,” jelas Lesna.

Bagi pedagang kecil yang selama ini menjalankan usaha secara informal tanpa merek atau identitas hukum yang jelas, dukungan semacam ini membuka jalan agar warung mereka diakui negara — sekaligus lebih siap menghadapi persaingan yang makin luas.

Dari Pedagang Bakso ke Pasar Bagi Petani

Cara berpikir Lesna sederhana: sebelum menentukan apa yang harus diproduksi, harus lebih dulu diketahui apa yang dibutuhkan pasar.

Jika jumlah pedagang sudah terdata, kebutuhan mereka bisa dihitung — berapa kebutuhan daging, cabai, jeruk, sawi, seledri, bawang merah, bawang putih, hingga merica. Dari pemetaan itulah Lesna melihat peluang produksi yang bisa dikembangkan langsung oleh masyarakat Wonogiri.

“Kalau sudah ketahuan kebutuhan paling besar itu apa, daripada kita beli ke luar, mending yang bisa diproduksi sendiri, diproduksi sendiri. Ekonominya jadi muter di Wonogiri,” kata Lesna.

Salah satu gagasan yang tengah ia pikirkan adalah membagikan bibit jeruk kepada ibu-ibu di kampung yang suaminya merantau berjualan bakso, untuk ditanam di pekarangan rumah.

“Kalau kita punya bibitnya, kita bagi ke ibu-ibu di kampung. Suaminya merantau jualan bakso, istrinya kita kasih bibit jeruk untuk ditanam di pekarangan. Jeruk itu cepat, satu pohon bisa panen 10 sampai 20 kilo,” ujarnya.

Lesna menegaskan, gagasan ekonomi sirkular ini masih berada pada tahap wacana dan kajian awal, belum menjadi program yang terealisasi. Ia berharap dapat menggandeng periset untuk memetakan kebutuhan riil para pedagang secara lebih terukur, sebelum mengajukan dukungan program ke pemerintah pusat — tanpa harus membebani anggaran daerah.

Di luar urusan pasar dan produksi, organisasi juga mendorong perlindungan sosial bagi pedagang bakso yang sebagian besar bekerja di sektor informal. Perkumpulan ini kini menjadi mitra resmi BPJS Ketenagakerjaan sebagai agen Perisai (Penggerak Jaminan Sosial Indonesia).

“Kita edukasi dan dorong teman-teman pedagang bakso yang pekerja informal supaya punya perlindungan jaminan sosial. Hanya bayar Rp16.000 sampai Rp38.000, mereka dapat jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian. Belum daftar tiga bulan, sudah ada yang meninggal dan klaimnya cair,” kata Lesna.

Tantangan Jarang Dibicarakan: Gengsi dan Rasa ?Minder

Di balik cerita sukses, Lesna juga melihat satu persoalan yang jarang terungkap: sebagian pedagang yang sudah berhasil justru enggan bergaul dan bergabung dalam organisasi.

“Yang sudah berhasil itu kadang malah malu bergaul, biarpun ekonominya sudah naik, sudah punya mobil. Sebaliknya, yang belum berhasil juga isin, minder ketemu orang yang sudah berhasil,” jelasnya.

Lesna juga menemukan pola menarik soal siapa yang lebih dulu terjun total ke bisnis bakso.

“Orang yang terlalu banyak pengetahuan itu malah banyak berpikir, akhirnya nggak jadi-jadi jualan. Yang penting jualan, jualan aja — rata-rata yang berhasil justru pendidikannya SMA. Yang kuliah, biasanya baru balik ke bakso setelah jalan lain mentok,” ujarnya.

Karena itu, salah satu peran organisasi yang menurutnya paling penting justru bukan soal modal atau pasar, melainkan membangun kembali rasa percaya diri dan kebersamaan di antara para pedagang lintas kelas ekonomi.

Sebuah semangkuk bakso mungkin terlihat sederhana. Namun di dalamnya terdapat rantai ekonomi yang panjang: petani yang menanam cabai dan sayuran, peternak yang memelihara sapi, produsen mie, pelaku UMKM, hingga pedagang yang menjualnya kepada konsumen.

Bagi Lesna Purnawan, rantai itu menyimpan peluang yang lebih besar — bukan sekadar membuat orang Wonogiri semakin banyak berdagang bakso di perantauan, melainkan membangun ekosistem agar keberhasilan mereka di perantauan juga bisa menghidupkan ekonomi di kampung halaman.

Gagasannya memang masih membutuhkan kajian dan pembuktian. Tetapi dari sebuah semangkuk bakso, Lesna sudah mulai melihat pertanyaan yang jauh lebih besar: bisakah bakso menjadi salah satu jalan untuk membuat ekonomi Wonogiri berputar lebih kuat di kampung sendiri?

Penulis: Hanif Anshori

Agripreneurship

Musim Mas Latih 2.239 Petani Sawit di Aceh demi Produktivitas dan Tekan Deforestasi

Ruruh Handayani

Published

on

Foto: Dok. Musim Mas

Majalahtani.com, Jakarta — Musim Mas Group menuntaskan program pertanian berkelanjutan selama lima tahun di Subulussalam, Aceh, yang berhasil menjangkau 2.239 petani sawit swadaya di 48 desa. Bekerja sama dengan AAK, perusahaan global asal Swedia yang bergerak di bidang minyak dan lemak nabati, program ini melampaui target awal 1.000 petani dan berfokus pada peningkatan kapasitas petani serta upaya menekan risiko deforestasi.

Direktur Komunikasi dan Keberlanjutan Musim Mas Olivier Tichit mengatakan, kolaborasi di sepanjang rantai pasok diperlukan untuk menjawab tantangan keberlanjutan yang dihadapi petani di lapangan. Menurutnya, pendampingan ini menghubungkan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani dengan penerapan praktik perkebunan yang bertanggung jawab.

“Program Petani Swadaya kami membuktikan bahwa pendekatan kolaboratif mampu menjawab kebutuhan di lapangan dengan menyatukan berbagai pihak di sepanjang rantai pasok untuk menciptakan manfaat yang lebih besar. Kami bangga dapat menjalin kemitraan ini, karena manfaatnya dirasakan langsung oleh petani swadaya dan pemerintah daerah,” jelas Olivier dalam pernyataan tertulis, dikutip Majalahtani.com, Selasa (27/10/2026).

Oliver mengemukakan, program di Subulussalam menyasar petani yang mengelola kebun di luar area konsesi perusahaan. Adapun pelatihan mencakup praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP), pengelolaan kebun, literasi keuangan, serta prinsip tanpa deforestasi, tanpa gambut, dan tanpa eksploitasi (no deforestation, no peat, and no exploitation/NDPE).

Untuk memperluas jangkauan pendampingan, Musim Mas menggunakan pendekatan train-the-trainer dengan melatih Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pemerintah. Selama lima tahun, sebanyak 117 penyuluh mengikuti pelatihan dan kemudian menjangkau petani di 48 desa dengan dukungan asisten lapangan perusahaan.

Oliver menyebut, materi tambahan bagi penyuluh meliputi keterampilan mengajar orang dewasa, komunikasi di depan umum, kesehatan tanah, pembuatan kompos rumah tangga, serta persiapan menghadapi standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Petani juga mendapat pembekalan mengenai pencatatan keuangan dan penggunaan sarana produksi secara bertanggung jawab.

“Berdasarkan survei dengan metode pengambilan sampel Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebanyak 82 persen petani swadaya yang disurvei telah menerapkan GAP di kebun mereka. Program ini juga menjangkau lebih dari 200 perempuan melalui pelatihan kesehatan, gizi, dan literasi keuangan,” ucap Oliver.

Emisi Turun 11 Persen

Di luar program pendampingan petani, Musim Mas melaporkan penurunan emisi gas rumah kaca dalam kegiatan usahanya. Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, total emisi perusahaan turun sekitar 11 persen, dari 40,40 juta ton setara karbon dioksida (CO₂e) pada 2024 menjadi 35,94 juta ton CO₂e pada 2025.

Sustainable Multi-Oils Manager AAK Sengbee Ng mengungkapkan, Musim Mas juga telah memperoleh validasi Science Based Targets initiative (SBTi) atas target emisi nol bersih pada 2050. Ia mengklaim, kebijakan NDPE telah diterapkan sejak 2015 sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab.

Dalam program pemberdayaan petani secara lebih luas, Sengbee mencatat lebih dari 48.500 petani swadaya di enam provinsi telah mengikuti pelatihan pertanian berkelanjutan. Sepanjang 2025, sebanyak 4.644 petani swadaya yang didampingi perusahaan memperoleh sertifikasi RSPO, sedangkan 3.294 petani memperoleh sertifikasi ISPO.

Menurutnya, dukungan terhadap mata pencaharian petani merupakan bagian dari upaya membangun rantai pasok yang lebih tangguh.

“Inisiatif ini mencerminkan komitmen kami untuk bekerja sama di seluruh rantai pasok, guna mendukung petani dan mendorong praktik pengadaan yang bertanggung jawab. Dengan berinvestasi pada mata pencaharian petani swadaya, kami ikut membangun rantai pasok yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” tutup Sengbee.

Continue Reading

Agripreneurship

AGRINEX Expo 2026 Perkuat Panggung Agribisnis Lewat Kolaborasi Sektor Pangan

Ruruh Handayani

Published

on

Foto: Dok. Dare Indonesia

Majalahtani.com, Jakarta — AGRINEX Expo 2026 yang telah sukses dilaksanakan pada 23–25 Oktober lalu ini menjadi ajang penguatan agribisnis, melalui rencana kolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada penyelenggaraan tahun depan. Menurut Ketua Penyelenggara AGRINEX Expo 2026 Rifda Ammarina, rencana kerja bareng ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat membuka pameran di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.

“Untuk tahun depan, AGRINEX akan berkolaborasi antara kami, Kadin Indonesia, dan Kemenko Pangan,” kata Rifda kepada awak media di sela-sela AGRINEX Expo 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Senin (26/10/2026).

Rifda ingin, kolaborasi ini dapat memperkuat penyelenggaraan AGRINEX Expo pada tahun depan, sekaligus memperluas ruang pembahasan dan pengembangan agribisnis di Indonesia. Sebagaimana diketahui, AGRINEX Expo 2026 yang mengusung tema Indonesia Feed the World ini telah menyajikan berbagai diskusi dan kegiatan menarik untuk mengangkat isu agribisnis dan potensi sektor pangan Indonesia. Ia mengklaim, tema besar tersebut tetap tersampaikan, meskipun jumlah peserta tahun ini turun sekitar 40 persen dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.

“Kalau secara keseluruhan, tema besar ini tersampaikan,” ucapnya.

Menurut Rifda, penurunan jumlah peserta antara lain dipengaruhi padatnya agenda pameran dan eksibisi sepanjang Oktober 2026. Sejumlah kegiatan yang berlangsung pada periode tersebut mendapat dukungan pembiayaan dari institusi pemerintah maupun lembaga terkait.

Ia menyebutkan, beberapa institusi yang menggelar atau mendukung pameran pada Oktober ini antara lain Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Danantara, dan Bank Indonesia.

Berbeda dengan kegiatan yang memperoleh dukungan pendanaan institusional, AGRINEX Expo 2026 diselenggarakan secara mandiri. Peserta harus membayar biaya keikutsertaan, sehingga penyelenggara menghadapi tantangan untuk bersaing di tengah padatnya agenda eksibisi.

“Industri MICE (meetings, incentives, conventions, and exhibitions) yang skala menengah seperti kami mengalami kesulitan yang luar biasa,” keluh Rifda.

Sebelumnya, Rifda mengemukakan AGRINEX Expo 2026 telah menghadirkan pelatihan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui kolaborasi dengan Kadin Indonesia pada 24 Oktober 2026. Pelatihan ini ditujukan bagi peserta pameran dan pengunjung, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pangan dan pertanian, untuk mengenal pemanfaatan AI dalam pengembangan bisnis.

Program itu merupakan tindak lanjut dari pelatihan serupa yang sebelumnya digelar di Kadin Indonesia. Menurut Rifda, tingginya minat peserta membuat penyelenggara ingin memperluas kesempatan belajar bagi pelaku usaha melalui AGRINEX Expo.

“Yang sangat menarik, karena bulan lalu kita bikin di Kadin itu overcapacity jadinya. Banyak banget orang ingin ikut, tapi kita batasi karena tempat yang terbatas,” pungkasnya.

Continue Reading

Agripreneurship

Sandiaga Uno Ungkap Cara Tarik Anak Muda ke Pertanian Lewat AI dan Hilirisasi

Ruruh Handayani

Published

on

Foto: Dok. Majalahtani.com

Majalahtani.com, Jakarta — Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pesawat nirawak alias drone, dan hilirisasi diyakini dapat membuka peluang ekonomi baru di sektor pertanian sekaligus menarik minat generasi muda. Founder Yayasan Inotek Sandiaga Uno menekankan, regenerasi petani membutuhkan peningkatan kesejahteraan dan nilai tambah hasil pertanian, bukan sekadar mengandalkan penjualan komoditas mentah.

Sandi menilai, sektor pertanian harus menawarkan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan agar profesi petani tetap diminati generasi muda. Menurutnya, penggunaan teknologi modern perlu berjalan beriringan dengan penguatan peran petani lokal dan pemanfaatan kearifan setempat.

“Kalau ditanya petani, itu yang terpikir petani yang sejahtera, petani yang punya perekonomian yang lebih kuat. Dan, itu bisa menjadi inspirasi agar generasi muda masih tetap mau untuk terjun ke sektor pertanian,” kata Sandiaga saat menghadiri AGRINEX Expo 2026 di JCC Senayan, Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Senin (26/10/2026).

Sandi memaparkan, inovasi menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah cara sektor pertanian menghasilkan nilai ekonomi. Petani, imbuhnya, perlu didorong memanfaatkan teknologi yang membuat kegiatan produksi lebih efisien dan presisi, termasuk AI dan drone.

“Pertama, inovasinya. Jadi inovasi apa? Karena Pak Prabowo ingin membawa nutrisi dan sektor pangan menjadi andalan. Jadi inovasi kita apa? Jangan kita masih tetap itu lagi, itu lagi. Harus ada inovasi menggunakan teknologi AI mungkin, drone mungkin,” ujarnya.

Namun, pengembangan teknologi tidak cukup jika manfaat ekonominya hanya dinikmati pelaku usaha di hilir. Sandi menekankan pentingnya melibatkan petani lokal dalam pengembangan produk pertanian, agar peningkatan nilai tambah turut mendongkrak pendapatannya.

Ia mencontohkan pengembangan pertanian di Kampung Agrinex, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Penerapan teknologi pertanian modern di desa itu telah dipadukan dengan kearifan lokal dan disesuaikan dengan karakteristik wilayah.

“Kita harus melibatkan para petani lokal dan penggunaan teknologi terkini, penggunaan aspek-aspek pertanian modern. Mungkin kita bisa menginjeksi AI atau juga bisa menggunakan sistem drone, dan penggabungan dengan kearifan lokal atau local wisdom,” jelas mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini.

Foto: Dok. Majalahtani.com

Hilirisasi dan Akses Pasar

Selain inovasi di lahan produksi, Sandi juga menyoroti pentingnya hilirisasi untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian. Pengolahan hasil panen, lanjutnya, menjadi produk bernilai tambah dinilai dapat membuka peluang usaha dan lapangan kerja, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi petani.

Peluang lainnya datang dari konsep farm to table, yakni menghubungkan hasil pertanian secara langsung dengan konsumen, termasuk restoran. Model ini memungkinkan pelaku usaha kuliner memperoleh bahan baku dari pertanian lokal, sementara petani berpeluang mendapatkan akses pasar yang lebih luas.

“Kami senang bisa berkolaborasi. Ini juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja yang luas. Program Desa Emas, misalnya, mengangkat produk-produk lokal from farm to table yang sekarang menjadi daya tarik utamanya. Di Indonesia ini punya keunggulan, restoran-restorannya bisa mengakses bahan-bahan tanahnya langsung dari farm, sampai di mejanya dengan kreasi yang terbaik,” tutur Sandiaga.

Ia menambahkan, pengembangan usaha pertanian dan produk lokal juga memerlukan dukungan pembiayaan, pelatihan, serta pemasaran agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk ekspor. Dus, kepastian pasar dan kemitraan dengan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem agribisnis yang menguntungkan petani.

Di sisi lain, Sandi mengingatkan bahwa transformasi pertanian perlu mempertimbangkan tantangan perubahan iklim dan keberlanjutan lingkungan. Rehabilitasi lahan terdegradasi serta pengembangan ekonomi hijau menjadi bagian dari upaya adaptasi agar sektor pertanian dapat terus produktif.

Sandi pun merangkum pengembangan pertanian ke depan dalam tiga aspek, yakni inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. Ia menegaskan bahwa ketiganya perlu berjalan beriringan melalui kerja sama pemerintah, dunia usaha, petani, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Pertanian yang berkelanjutan, pertanian yang penuh dengan kolaborasi, termasuk dengan pemerintah dan dunia usaha, ini bisa memberikan kontribusi peningkatan kesejahteraan sektor pertanian Indonesia,” pungkasnya.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved