Kabar Desa
Amran Minta Bulog Tambah Gudang di Papua Selatan
Majalahtani.com — Pemerintah menggeber pembangunan pada wilayah Papua, terutama untuk menjadikan sebagai lumbung pangan. Keberhasilan pemberdayaan petani lokal di Merauke Papua Selatan menjadi salah satu bukti keseriusan pemerintah yang tampak dari perkembangan positif produksi beras dari tahun ke tahun.
Capaian produksi beras di Papua Selatan pada tahun 2025, dalam kalkulasi Badan Pangan Nasional (Bapanas) bahkan telah melampaui kebutuhan konsumsi rumah tangga selama setahun. Angka produksi beras setahun Papua Selatan sepanjang 2025 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) di 207 ribu ton, sementara kebutuhan konsumsi rumah tangga (tidak termasuk non rumah tangga) selama setahun diperkirakan 34,06 ribu ton.
Tentunya surplus produksi beras terhadap konsumsi tersebut dapat memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog dan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD). Hal ini pula yang mendasari usulan pemerintah daerah agar Bulog membangun infrastruktur pascapanen dan segera disetujui oleh Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian (Mentan).
“Jadi Pak Bupati, insya Allah dibangun ini tahun. Gudangnya kita siapkan. Itu nanti kalau petani disini produksi, langsung dibeli, dibeli menguntungkan, tidak boleh dibawah Rp 6.500. Itu perintah Bapak Presiden,” ujar Amran saat menghadiri tanam padi di Desa Waninggap Kai, Merauke, Papua Selatan dikutip di Jakarta pada Selasa (7/7/2026).
Adapun indeks harga yang diterima petani tanaman pangan di Papua Selatan dalam data BPS konsisten terus bergerak secara positif sejak tahun 2024 sampai 2026. Di awal 2024 tepatnya di Januari, indeks tersebut masih berada di 111,42. Sampai Desember 2024 makin naik menjadi 113,83.
Progres indeks harga yang diterima petani tanaman pangan di Papua Selatan semakin melejit dengan mencatatkan 114,72 pada Desember 2025. Terbaru pada Juni 2026 juga semakin positif di angka 115,33. Artinya sejak Januari 2024 sampai Juni 2026 telah mengalami kenaikan sebanyak 3,91 poin indeks.
Idem pula terhadap indeks Nilai Tukar Petani (NTP) di Papua Selatan yang turut mengalami eskalasi sejak awal tahun 2024. Di Januari 2024 masih berada 101,37 dan berkembang 8,78 poin indeks menjadi 110,15 di Juni 2026. Capaian-capaian tersebut menandakan adanya surplus yang membuat stok beras melimpah, namun harga di tingkat petani lokal masih dapat terjaga dengan baik.
“Nah ini sangat membanggakan kita semua. Pemerintah atas perintah Bapak Presiden dan juga kita akan bangun atas permintaan pemda, insya Allah kita bangun ini. Itu tadi penyampaiannya bahwa 3 ribu ton, mungkin bisa 5 ribu ton. Jadi besar, lengkap satu paket,” terang Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.
Untuk diketahui, Perum Bulog memiliki 15 komplek pergudangan di seluruh Papua. Adapun pembangunan 100 infrastruktur pascapanen yang baru juga akan menyasar ke Papua. Ini juga merupakan implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2026.
Dalam beleid tersebut, pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk melaksanakan penyediaan infrastruktur pascapanen. Klasifikasi infrastruktur pascapanen ditetapkan ada 2 jenis. Jenis yang pertama merupakan kelolaan Perum Bulog sepenuhnya dan jenis kedua dikelola pemerintah daerah dengan sistem operasional dan pengawasan Perum Bulog berdasarkan perjanjian kerja sama atau perikatan kontraktual.
Pemerintah pun telah menetapkan dana sebesar Rp 5 triliun untuk percepatan pelaksanaan penyediaan infrastruktur pascapanen. Ini merupakan dana investasi pemerintah non permanen yang diperuntukkan kepada Perum Bulog.
Adapun total stok beras yang dikelola Bulog hingga Juli ini masih berada lebih dari 5 juta ton secara nasional. Indonesia sendiri diprediksi dalam Food and Agriculture Organization (FAO) Outlook edisi Juni 2026 mampu mencapai stok beras di akhir 2026/2027 hingga 7,8 juta ton.
Patut diketahui, prediksi FAO di edisi Juni tahun lalu terbukti mendekati capaian Indonesia saat ini yang telah mencatatkan stok lebih dari 5 juta ton. Hal ini karena pada FAO Outlook Juni tahun 2025, stok beras Indonesia untuk 2025/2026 diestimasikan oleh FAO dapat mencapai 5,8 juta ton.
Dalam proyeksi FAO terbaru, Indonesia memperoleh urutan terbesar keempat dalam hal stok beras untuk 2026/2027. Angka proyeksi Indonesia yang 7,8 juta ton tersebut bahkan lebih besar dibandingkan Bangladesh dengan 7,6 juta ton. Padahal Bangladesh merupakan produsen beras ketiga besar dunia.
Sementara negara pertama dengan stok berasnya yang terbesar adalah Tiongkok dengan 105,1 juta ton. Di urutan kedua adalah India dengan 53,2 juta ton dan disusul oleh Thailand dengan 9,3 juta ton. Akan tetapi dari 4 besar tersebut hanya Tiongkok dan Indonesia yang diproyeksikan mengalami tren peningkatan stok dalam rentang 2025/2026 ke 2026/2026.
Kabar Desa
Duka untuk Pahlawan Pangan Papua Pegunungan
Majalahtani.com – Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga petugas dalam insiden penembakan yang menimpa rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Kampung Muliama, Papua Pegunungan, Rabu (9/9/2026) sore.
Berdasarkan informasi kepolisian, para korban tengah dalam perjalanan menyalurkan bantuan ternak kepada masyarakat setempat ketika rombongan mereka diadang dan ditembaki oleh pelaku kriminal bersenjata.
“Atas nama Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, dan pribadi, saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Mereka adalah pahlawan pangan yang gugur dalam tugas mulia, membawa bantuan ternak untuk saudara-saudara kita di pedalaman Papua. Mereka semestinya aman selama menjalankan tugas kemanusiaan itu,” ujar Amran.
Amran menegaskan bahwa petugas yang menjalankan program bantuan ternak dan ketahanan pangan di wilayah Papua bukan pihak yang membawa ancaman bagi siapa pun, sehingga harus mendapat jaminan keamanan penuh dari aparat.
Ia meminta Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz dan jajaran TNI-Polri mengusut tuntas pelaku penembakan serta memastikan keselamatan petugas lapangan yang bertugas di Papua.
“Program bantuan pangan dan ternak untuk masyarakat Papua tidak boleh berhenti karena ancaman kekerasan. Negara harus hadir lebih kuat, melindungi setiap pahlawan pangan yang bertaruh nyawa demi menjamin kecukupan pangan rakyat Papua,” tegasnya.
Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional menyatakan akan memastikan keberlanjutan program bantuan ternak dan pangan di wilayah Papua Pegunungan berjalan tanpa terhambat, sekaligus memberikan dukungan penuh kepada keluarga korban.
“Kami sangat berduka mendengar kabar ini. Semoga aparat keamanan dapat segera mengungkap kasus ini dan memastikan tidak terulang kembali. Kita ingin pembangunan pertanian di Papua kuat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” kata Amran.
Kabar Desa
Tagihan Rp8 Miliar Mangkrak, Pengusaha Muda Lumajang Pertanyakan Nasib Proyek ke Pemkab
Majalahtani.com – Pengusaha muda asal Lumajang, Achmad Dahlan, mengaku geram dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang terkait sengketa pembayaran pekerjaan yang disebut telah dijalankan sejak 2018.
Padahal, kata Achmad, pekerjaan tersebut sudah berjalan selama bertahun-tahun, tetapi pembayaran belum juga diselesaikan. Jika dihitung bersama denda, nilai yang ia klaim mencapai sekitar Rp8 miliar.
Ia bahkan membandingkan persoalan yang dialaminya dengan kasus pengusaha Jusuf Hamka yang pernah ramai terkait sengketa pembayaran proyek pemerintah.
“Sampai saat ini ribut dengan Bupati Lumajang, dana dipake negara selama 8 tahun tapi belum dibayarkan dan disuruh bayar denda,” kata Achmad kepada Majalah Tani dikutip, Selasa (8/9/2026).
Ia menjelaskan, SPK pertama disebut mulai dijalankan pada 2018 dengan menggunakan anggaran yang telah tersedia sebelumnya. Namun, dalam perjalanan pelaksanaannya, persoalan administrasi dan pembayaran kemudian muncul.
Menurut dia, persoalan berlanjut hingga SPK ketiga yang disebutnya ditolak. Padahal, ia mengaku bukan meminta pekerjaan tersebut, melainkan mendapat penunjukan untuk melaksanakannya.
“SPK ketiga ditolak, bukan pengemis tapi ditunjuk ujungnya tidak dibayarkan,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut merugikan dirinya sebagai pelaku usaha karena pekerjaan telah dijalankan, sementara kewajiban pembayaran belum memperoleh kepastian.
“Kalau total (kerugian) Rp8 miliar termasuk denda,” jelas dia.
Dalam proses memperjuangkan penyelesaian persoalan tersebut, ia juga mengungkapkan adanya kendala dalam pendampingan hukum.
Ia mengklaim pengacaranya memilih mundur setelah mendapat tekanan atau teror yang menurutnya berkaitan dengan institusi Brimob.
“Lawyer saya mundur karena diteror Brimob,” ujarnya.
Kabar Desa
Bapanas Turunkan Satgas Pengawasan Beras, Incar Pelanggar HET dari Produsen hingga Ritel
Majalahtani.com — Pemerintah mulai menggerakkan Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Harga dan Mutu Beras. Kolaborasi multipihak yang digagas Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini melibatkan Satgas Pangan Polri, baik pusat maupun daerah, beserta pemerintah daerah dan Perum Bulog.
Kepala Biro Perencanaan, Kerja Sama, dan Humas Bapanas, Rinna Syawal, mengatakan fokus pengawasan ini terhadap kondisi perberasan. Bapanas mengharapkan Satgas Pengawasan Harga dan Mutu Beras untuk Jawa Tengah (Jateng) dapat saling bersinergi memastikan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras terimplementasi dengan benar.
“Ini adalah tim bersama, kolaborasi bersama Dirkrimsus Polda Jateng bersama dinas-dinas yang membidangi pangan, perdagangan, perizinan, dan pertanian beserta Bulog. Jadi nanti kita tidak hanya di pasar, tapi juga ke produsen dan juga distributor serta ke ritel modern. Untuk tugas kali ini kita fokus kepada komoditas beras,” urai Rinna pada rapat koordinasi bersama Polda Jateng di Semarang, Jateng pada Rabu (2/9/2026).
Bapanas menegaskan sasaran pengawasan meliputi produsen sampai tingkat eceran di pasar tradisional dan ritel modern. Adapun beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga turut dipastikan ketersediaan dan harga jualnya di pasaran.
“Jadi 3 komponen yang akan kita lakukan adalah monitoring beras premium, beras medium, dan beras SPHP. Jateng itu di Zona 1 itu, jadi beras premiumnya di Rp 14.900 per kilo. Kemudian beras mediumnya di Rp 13.500 per kilo dan SPHP di Rp 12.500 per kilo,” kata Rinna lagi.
Terpisah, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memastikan fluktuasi beras tidak diakibatkan stok beras yang menurun. Stok beras nasional memadai, termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebagai bantalan program intervensi.
“Kemarin salah satu kami cek, bukan karena stok, kan beras banyak. Jangan lupa juga tertinggi kesejahteraan petani sepanjang sejarah NTP (Nilai Tukar Petani),” ujar Kepala Bapanas Amran di Subang, Jawa Barat (2/9/2026).
Adapun sebagaimana rilis terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), NTP secara umum sampai Agustus 2026 telah mencapai 129,19 dan menjadi yang tertinggi sejak BPS menggunakan tahun dasar 2018. Idem pula pada perkembangan indeks NTP Tanpa Perikanan yang sampai Agustus 2026 juga pecah rekor tertinggi di level 129,98.
Di satu sisi, kesejahteraan petani padi terus meningkat dengan indeks harga yang diterima petani mencapai level tertinggi dalam 8 tahun terakhir. Indeks harga yang diterima petani padi sampai Agustus 2026 semakin meningkat hingga mencapai 153,77. Pencapaian tersebut mencerminkan harga gabah yang semakin menguntungkan bagi petani.
Di sisi lain, inflasi beras masih tetap terkendali. Perkembangan inflasi beras sampai Agustus tahun 2026 mengalami penstabilan, baik secara tahunan maupun bulanan. Adapun inflasi khusus beras secara tahunan berada di 2,77 persen setelah bulan sebelumnya di 3,10 persen.
Level ini telah membaik jika dibandingkan pada inflasi beras Agustus tahun 2025. Kala itu tingkat inflasi beras sempat menjadi titik puncak inflasi beras saat itu hingga sampai angka 4,24 persen.
Sementara, level inflasi beras secara bulanan sampai Agustus tahun 2026 ikut menurun dengan berada di 0,42 persen setelah bulan lalu di 0,49 persen. Perlu diketahui, inflasi beras secara bulanan selama tahun 2026 ini masih sangat stabil karena belum pernah melampaui angka 1 persen.
“Yang kita cekik ujungnya, mafianya, tidak boleh (ada pelanggaran). (Tapi) itu petani, biarkan dia kaya. Intinya turunkan harga, bergerak semua, harus pantau harga-harga. (Harga beras) tidak boleh di atas HET. Langsung perintahkan, cek pasar,” ujar Amran.
Amran telah mengintruksikan jajarannya untuk fokus memeriksa kondisi harga beras di 13 provinsi sampai Desember mendatang. Ia meminta adanya penindakan mulai dari pemberian peringatan sampai penutupan usaha bagi yang terbukti tidak mengindahkan peringatan dan masih melakukan pelanggaran HET.
-
Analisis Pasar5 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria7 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria7 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Inspirasi Tani2 bulan agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Lensa Agraria6 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Inspirasi Tani7 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Data Pangan4 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
-
Inspirasi Tani2 bulan agoMuhammad Imam Rahmatullah: Menjembatani Teknologi, Desa dan Masa Depan Pangan
