Agripreneurship
Jejak Ade Daulay Membangun Ekosistem Pangan Riau
Majalahtani.com — Bagi Ade Daulay, pertanian bukan sekadar pilihan profesi. Perjalanan panjangnya di sektor pangan berawal dari bangku kuliah hingga membawanya pada posisi sebagai Direktur PT Riau Pangan Bertuah, sebuah badan usaha yang turut mengambil peran dalam penguatan ketahanan pangan dan pengendalian inflasi di Riau.
Kecintaan Ade terhadap pertanian tumbuh sejak menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian, Universitas Riau, pada bidang Agro Teknologi Pertanian. Semasa mahasiswa, ia tidak hanya berkutat dengan aktivitas akademik, tetapi juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan.
Pada 2011-2013, Ade dipercaya menjadi Ketua Senat Pertanian seluruh Indonesia. Jabatan tersebut membuatnya harus berkeliling ke berbagai daerah untuk melihat langsung kondisi pertanian di Indonesia.
Salah satu kegiatan yang berkesan adalah bakti tani di Yogyakarta yang turut dihadiri Menteri Pertanian saat itu, Suswono. Dari perjalanan tersebut, perspektif Ade terhadap dunia pertanian semakin terbentuk.
Sebagai aktivis mahasiswa, ia kerap menyuarakan pentingnya anak muda tidak hanya berorientasi menjadi pegawai, tetapi berani membangun usaha sendiri.
“Selama menjabat (Ketua Senat) dulu meggaungkan jangan pernah berharap menjadi pegawai kita harus jadi wirausaha di sektor pertanian, sehingga setelah selesai wisuda kemakan omongan sendiri jadi dilema untuk menjadi pegawai ASN dan karyawan swasta,” jelasnya kepada Majalah Tani.
Ucapan yang dahulu ia sampaikan kepada mahasiswa lain akhirnya menjadi pilihan hidupnya sendiri. Setelah menyelesaikan kuliah, Ade memilih meninggalkan jalur menjadi aparatur sipil negara maupun karyawan swasta dan mulai merintis usaha pertanian.
Langkah pertamanya sederhana. Ia memulai budidaya sayuran di lahan sekitar 1.000 meter persegi. Dari sana, luas lahan perlahan berkembang menjadi 2.000 meter persegi, kemudian meningkat menjadi 1 hektare hingga 2 hektare.
Namun, keputusan menjadi petani muda pada 2013-2014 bukan tanpa tantangan. Ketika istilah petani milenial belum menjadi tren seperti sekarang, pilihan tersebut justru dipandang sebelah mata.
Bahkan, orang tua Ade sempat mempertanyakan keputusannya setelah menyelesaikan pendidikan tinggi tetapi justru memilih menjadi petani.
Ade kemudian meminta waktu selama tiga tahun untuk membuktikan bahwa pertanian dapat menjadi jalan hidup sekaligus bisnis yang menjanjikan.
Membentuk Gerakan Petani Muda
Dari pengalaman membangun usaha sendiri, Ade kemudian ikut membentuk Petani Muda Riau (Pemuri). Organisasi tersebut menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk terjun dan membangun usaha di sektor pertanian.
Gerakan tersebut perlahan mendapat perhatian pemerintah daerah. Sekelompok anak muda yang memilih menjadi petani mulai membuat berbagai kegiatan pertanian di daerah dan memperkenalkan wajah baru petani kepada masyarakat.
Prestasi pun mengikuti. Dalam lomba wirausaha muda syariah yang digelar Bank Indonesia, Ade berhasil meraih juara pertama tingkat Provinsi Riau.
Tidak berhenti di sana, pada 2019 ia mengikuti kegiatan penggerak wirausaha muda di Kementerian Pemuda dan Olahraga dan meraih juara ketiga tingkat nasional.
Berbagai aktivitas tersebut juga membuka ruang dialog mengenai ketahanan pangan. Salah satunya melalui kegiatan yang dihadiri Wali Kota dan membahas bagaimana daerah perkotaan menghadapi persoalan pangan.
Pengalaman sebagai pelaku usaha pertanian kemudian membawa Ade melihat persoalan dari sisi yang lebih luas.
Pada 2018, kondisi petani dihadapkan pada kenaikan biaya produksi sementara harga jual hasil pertanian tidak selalu menguntungkan. Bahkan, sejumlah petani mengalami kerugian.
Kondisi itu mendorong Ade bersama rekan-rekannya mengadu kepada Wali Kota Pekanbaru pada Desember 2018.
Dari sana, persoalan tersebut tidak lagi dilihat semata-mata sebagai persoalan produksi. Ada mata rantai yang lebih besar, mulai dari pasokan, permintaan hingga tata niaga. “Kesimpulannya adalah suply dan demand serta tata niaganya,” imbuh dia.
Ade kemudian mengusulkan pembentukan tim yang secara khusus memperkuat pangan di Kota Pekanbaru. Usulan tersebut mendapat respons dan ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Tim Penguatan Pangan Pekanbaru.
Dalam perjalanan tersebut, Ade mendapatkan pendampingan dari sejumlah tokoh dan pemangku kebijakan, termasuk Gubernur Riau, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta sejumlah mentor dan tokoh di bidang pertanian dan kebijakan pembangunan. Ia juga tercatat sebagai Duta Young Ambassador Kementerian Pertanian angkatan pertama.
Mengubah Cara Pekanbaru Mengelola Pangan
Bagi Ade, tantangan utama Pekanbaru adalah karakter wilayahnya sebagai kota yang bukan daerah produksi pangan utama.
Karena itu, strategi penguatan pangan tidak bisa hanya mengandalkan produksi lokal. Pekanbaru harus membangun jejaring dengan daerah-daerah surplus.
Konsep itu kemudian diterapkan ketika tiga BUMD digabung menjadi satu badan usaha bernama PT Sarana Pangan Madani. Perusahaan tersebut diarahkan membantu pemerintah, terutama dalam pengendalian inflasi pangan.
Hasilnya mulai terlihat. Dalam tahun pertama, Pekanbaru meraih peringkat ketiga. Tahun berikutnya naik menjadi juara pertama dan kembali mempertahankan posisi tersebut pada tahun ketiga. Strateginya adalah membangun konektivitas antara daerah produksi dan pusat konsumsi.
“Yang dilakukan adalah kita paham betul Pekanbaru bukan tempat produksi, melainkan kerja sama dengandaerah penghasil seperti Sumbar, Jawa, dan Aceh mereka yang daerah surplus suply produk ke Pekanbaru, nah untuk sisi demand membuat unit usaha Rumah Pangan Madani (RPM) membuka kios di beberapa titik di distribusikan ke RPM dengan harga yang terjangkau, serta melakukan operasi pasar murah,” jelas dia.
Dari sisi produksi, komoditas yang menjadi salah satu perhatian adalah cabai. Komoditas tersebut memiliki pengaruh terhadap pergerakan inflasi sehingga penguatan produksi cabai menjadi salah satu langkah yang dilakukan.
Perjalanan penguatan pangan kemudian berlanjut. Memasuki 2024, pemerintah mulai menyiapkan pembentukan BUMD pangan yang kemudian beroperasi pada 2025 dengan nama PT Riau Pangan Bertuah.
Di perusahaan inilah Ade melanjutkan kiprahnya dalam membangun sistem pangan yang tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga memiliki fungsi pengendalian harga dan menjaga akses masyarakat terhadap pangan.

TOPAN hingga TOPLINK
Salah satu inovasi yang dikembangkan PT Riau Pangan Bertuah adalah Toko Pengendalian Pangan atau TOPAN.
Konsepnya menyerupai swalayan, dengan berbagai kebutuhan pangan tersedia dalam satu tempat. Gerai pertama dibuka pada 2025 dan kemudian menjadi salah satu lokasi studi banding bagi daerah lain di Sumatera.
“Untuk TOPAN sekelas swalayan di 2025 baru 1 gerai, isinya persis kayak sama Alfamart dan Indomart, dari yang besar ini akan suply akan membuka lagi kios Pangan Topan,” jelas dia.
Selain gerai fisik, PT Riau Pangan Bertuah juga mengembangkan TOPLINK atau Toko Pengendalian Inflasi Pangan Keliling.
Dengan dua unit armada, TOPLINK bergerak setiap hari membawa bahan pangan dengan harga yang dikendalikan. Model ini membuat intervensi harga tidak hanya terpusat di satu lokasi, tetapi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
“Ada juga program TOPLINK Toko Pengendalian Inflasi Pangan Keliling dengan ada 2 unit armada setiap hari yang dijual sama supaya harga terkendali. Respon masyarakat sangat positif karna mendapatkan harga yang murah, kita ada penyimbang harga 15.500 per liter, disamping itu suply juga dapur MBG kebutuhannya dan kolaborasi koperasi desa merah putih,” jelas dia.
Selain melayani masyarakat, rantai pasok tersebut juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di bawah 10 dapur SPPG, PT Riau Pangan Bertuah turut mengupayakan distribusi kebutuhan pangan.
Jaringan usaha kemudian diperluas melalui kemitraan dengan warung. Sebanyak 193 toko menjadi mitra distribusi.
Upaya tersebut ikut berkontribusi terhadap kinerja pengendalian inflasi daerah. Pada 2025, TPID Pekanbaru meraih peringkat ketiga tingkat Provinsi Riau.
Membawa Anak Muda Kembali ke Pertanian
Di tengah kesibukannya mengurusi rantai pasok pangan, Ade tidak meninggalkan perhatian terhadap generasi muda pertanian.
Ia merupakan salah satu kader petani milenial binaan Kementerian Pertanian sekaligus Ketua Petani Milenial Provinsi Riau.
Menurutnya, regenerasi petani tidak cukup hanya dengan mengajak anak muda bercocok tanam. Mereka perlu dibekali keterampilan bisnis, pengalaman industri dan akses pendidikan.
Salah satu inovasinya dilakukan melalui Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya. Anak-anak muda dari SMK pertanian difasilitasi untuk menjalani magang di perusahaan. Setelah lulus, mereka juga direkomendasikan melanjutkan pendidikan di Universitas Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Kementerian Pertanian.
Program tersebut juga membuka peluang pengalaman internasional. Salah satu siswa bahkan berhasil lolos mengikuti program magang di Taiwan.
Bagi Ade, keterlibatan anak muda menjadi penting karena masa depan ketahanan pangan juga ditentukan oleh regenerasi pelaku usaha pertanian.
Mengantisipasi Ancaman El Nino
Tantangan berikutnya yang mulai diantisipasi adalah perubahan iklim, khususnya ancaman El Nino yang dapat berdampak pada produksi pangan.
Menurut Ade, penurunan produksi akibat gangguan cuaca berpotensi mendorong kenaikan harga. Karena itu, langkah antisipasi harus dilakukan sebelum dampaknya terasa di pasar.
“El Nino Ini menjadi momok bagi kita semua, mitra pangan adalah Bank Indonesia satu bulan lalu dibawa Bank Indonesia untuk meninjau produksi di Sumatera Barat, dan memberikan warning El Nino karana akan berdampak produksi menurun, harga meningkat, jadi kitaudah antisipasi dini, bawang merah udah ada gangguan, dan menyampaikan ke BI mana yang punya program seperti sumur bor,” ungkap dia.
Kolaborasi dengan Bank Indonesia dan berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian dari upaya membangun sistem pangan yang lebih tangguh.
Ade melihat ketahanan pangan bukan pekerjaan satu lembaga. Daerah harus membangun kerja sama dengan sentra produksi, dunia usaha, pemerintah, lembaga keuangan hingga kelompok masyarakat.
Memperluas Jejaring Pangan
Ke depan, PT Riau Pangan Bertuah tidak hanya ingin memperkuat jaringan di Kota Pekanbaru. Pengembangan TOPAN diarahkan untuk menjangkau sejumlah daerah lain.
Targetnya mencakup Kabupaten Kampar dan Tembilahan, sekaligus memperluas jaringan distribusi pangan agar pengendalian harga tidak berhenti di pusat kota.
“Goals Riau Pangan Bertuah masih ada di kota Pekanbaru, parameter inflasi Pekanbaru, Kampar, Dumai tahun ini harus membuka TOPAN di Kabupatan Kampar, selain itu ada di Tembilahan. Ke depan akan beberapa TOPAN,” jelas dia.
Di balik seluruh perjalanan tersebut, Ade tetap melihat pertanian dari sudut pandang yang sama seperti ketika ia pertama kali memilih menjadi petani setelah lulus kuliah.
Baginya, pertanian bukan sektor yang bisa ditinggalkan ketika berbicara tentang masa depan ekonomi. Pertanian berkaitan langsung dengan kebutuhan paling mendasar manusia. “Satu kata tentang Pertanian Pertanian itu adalah Kehidupan.”
Kalimat tersebut menjadi semacam benang merah perjalanan Ade Daulay: dari seorang mahasiswa pertanian, petani muda yang sempat diragukan, penggerak petani milenial, hingga menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan.
Dan untuk menggambarkan prinsip yang terus dibawanya dalam membangun sektor tersebut, Ade memiliki satu kalimat sederhana: “Berbuat tidak sempurna lebih baik daripada diam dalam kesempurnaan.”
Agripreneurship
Musim Mas Latih 2.239 Petani Sawit di Aceh demi Produktivitas dan Tekan Deforestasi
Majalahtani.com, Jakarta — Musim Mas Group menuntaskan program pertanian berkelanjutan selama lima tahun di Subulussalam, Aceh, yang berhasil menjangkau 2.239 petani sawit swadaya di 48 desa. Bekerja sama dengan AAK, perusahaan global asal Swedia yang bergerak di bidang minyak dan lemak nabati, program ini melampaui target awal 1.000 petani dan berfokus pada peningkatan kapasitas petani serta upaya menekan risiko deforestasi.
Direktur Komunikasi dan Keberlanjutan Musim Mas Olivier Tichit mengatakan, kolaborasi di sepanjang rantai pasok diperlukan untuk menjawab tantangan keberlanjutan yang dihadapi petani di lapangan. Menurutnya, pendampingan ini menghubungkan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani dengan penerapan praktik perkebunan yang bertanggung jawab.
“Program Petani Swadaya kami membuktikan bahwa pendekatan kolaboratif mampu menjawab kebutuhan di lapangan dengan menyatukan berbagai pihak di sepanjang rantai pasok untuk menciptakan manfaat yang lebih besar. Kami bangga dapat menjalin kemitraan ini, karena manfaatnya dirasakan langsung oleh petani swadaya dan pemerintah daerah,” jelas Olivier dalam pernyataan tertulis, dikutip Majalahtani.com, Selasa (27/10/2026).
Oliver mengemukakan, program di Subulussalam menyasar petani yang mengelola kebun di luar area konsesi perusahaan. Adapun pelatihan mencakup praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP), pengelolaan kebun, literasi keuangan, serta prinsip tanpa deforestasi, tanpa gambut, dan tanpa eksploitasi (no deforestation, no peat, and no exploitation/NDPE).
Untuk memperluas jangkauan pendampingan, Musim Mas menggunakan pendekatan train-the-trainer dengan melatih Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pemerintah. Selama lima tahun, sebanyak 117 penyuluh mengikuti pelatihan dan kemudian menjangkau petani di 48 desa dengan dukungan asisten lapangan perusahaan.
Oliver menyebut, materi tambahan bagi penyuluh meliputi keterampilan mengajar orang dewasa, komunikasi di depan umum, kesehatan tanah, pembuatan kompos rumah tangga, serta persiapan menghadapi standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Petani juga mendapat pembekalan mengenai pencatatan keuangan dan penggunaan sarana produksi secara bertanggung jawab.
“Berdasarkan survei dengan metode pengambilan sampel Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebanyak 82 persen petani swadaya yang disurvei telah menerapkan GAP di kebun mereka. Program ini juga menjangkau lebih dari 200 perempuan melalui pelatihan kesehatan, gizi, dan literasi keuangan,” ucap Oliver.
Emisi Turun 11 Persen
Di luar program pendampingan petani, Musim Mas melaporkan penurunan emisi gas rumah kaca dalam kegiatan usahanya. Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, total emisi perusahaan turun sekitar 11 persen, dari 40,40 juta ton setara karbon dioksida (CO₂e) pada 2024 menjadi 35,94 juta ton CO₂e pada 2025.
Sustainable Multi-Oils Manager AAK Sengbee Ng mengungkapkan, Musim Mas juga telah memperoleh validasi Science Based Targets initiative (SBTi) atas target emisi nol bersih pada 2050. Ia mengklaim, kebijakan NDPE telah diterapkan sejak 2015 sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab.
Dalam program pemberdayaan petani secara lebih luas, Sengbee mencatat lebih dari 48.500 petani swadaya di enam provinsi telah mengikuti pelatihan pertanian berkelanjutan. Sepanjang 2025, sebanyak 4.644 petani swadaya yang didampingi perusahaan memperoleh sertifikasi RSPO, sedangkan 3.294 petani memperoleh sertifikasi ISPO.
Menurutnya, dukungan terhadap mata pencaharian petani merupakan bagian dari upaya membangun rantai pasok yang lebih tangguh.
“Inisiatif ini mencerminkan komitmen kami untuk bekerja sama di seluruh rantai pasok, guna mendukung petani dan mendorong praktik pengadaan yang bertanggung jawab. Dengan berinvestasi pada mata pencaharian petani swadaya, kami ikut membangun rantai pasok yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” tutup Sengbee.
Agripreneurship
AGRINEX Expo 2026 Perkuat Panggung Agribisnis Lewat Kolaborasi Sektor Pangan
Majalahtani.com, Jakarta — AGRINEX Expo 2026 yang telah sukses dilaksanakan pada 23–25 Oktober lalu ini menjadi ajang penguatan agribisnis, melalui rencana kolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada penyelenggaraan tahun depan. Menurut Ketua Penyelenggara AGRINEX Expo 2026 Rifda Ammarina, rencana kerja bareng ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat membuka pameran di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.
“Untuk tahun depan, AGRINEX akan berkolaborasi antara kami, Kadin Indonesia, dan Kemenko Pangan,” kata Rifda kepada awak media di sela-sela AGRINEX Expo 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Senin (26/10/2026).
Rifda ingin, kolaborasi ini dapat memperkuat penyelenggaraan AGRINEX Expo pada tahun depan, sekaligus memperluas ruang pembahasan dan pengembangan agribisnis di Indonesia. Sebagaimana diketahui, AGRINEX Expo 2026 yang mengusung tema Indonesia Feed the World ini telah menyajikan berbagai diskusi dan kegiatan menarik untuk mengangkat isu agribisnis dan potensi sektor pangan Indonesia. Ia mengklaim, tema besar tersebut tetap tersampaikan, meskipun jumlah peserta tahun ini turun sekitar 40 persen dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
“Kalau secara keseluruhan, tema besar ini tersampaikan,” ucapnya.
Menurut Rifda, penurunan jumlah peserta antara lain dipengaruhi padatnya agenda pameran dan eksibisi sepanjang Oktober 2026. Sejumlah kegiatan yang berlangsung pada periode tersebut mendapat dukungan pembiayaan dari institusi pemerintah maupun lembaga terkait.
Ia menyebutkan, beberapa institusi yang menggelar atau mendukung pameran pada Oktober ini antara lain Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Danantara, dan Bank Indonesia.
Berbeda dengan kegiatan yang memperoleh dukungan pendanaan institusional, AGRINEX Expo 2026 diselenggarakan secara mandiri. Peserta harus membayar biaya keikutsertaan, sehingga penyelenggara menghadapi tantangan untuk bersaing di tengah padatnya agenda eksibisi.
“Industri MICE (meetings, incentives, conventions, and exhibitions) yang skala menengah seperti kami mengalami kesulitan yang luar biasa,” keluh Rifda.
Sebelumnya, Rifda mengemukakan AGRINEX Expo 2026 telah menghadirkan pelatihan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui kolaborasi dengan Kadin Indonesia pada 24 Oktober 2026. Pelatihan ini ditujukan bagi peserta pameran dan pengunjung, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pangan dan pertanian, untuk mengenal pemanfaatan AI dalam pengembangan bisnis.
Program itu merupakan tindak lanjut dari pelatihan serupa yang sebelumnya digelar di Kadin Indonesia. Menurut Rifda, tingginya minat peserta membuat penyelenggara ingin memperluas kesempatan belajar bagi pelaku usaha melalui AGRINEX Expo.
“Yang sangat menarik, karena bulan lalu kita bikin di Kadin itu overcapacity jadinya. Banyak banget orang ingin ikut, tapi kita batasi karena tempat yang terbatas,” pungkasnya.
Agripreneurship
Sandiaga Uno Ungkap Cara Tarik Anak Muda ke Pertanian Lewat AI dan Hilirisasi
Majalahtani.com, Jakarta — Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pesawat nirawak alias drone, dan hilirisasi diyakini dapat membuka peluang ekonomi baru di sektor pertanian sekaligus menarik minat generasi muda. Founder Yayasan Inotek Sandiaga Uno menekankan, regenerasi petani membutuhkan peningkatan kesejahteraan dan nilai tambah hasil pertanian, bukan sekadar mengandalkan penjualan komoditas mentah.
Sandi menilai, sektor pertanian harus menawarkan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan agar profesi petani tetap diminati generasi muda. Menurutnya, penggunaan teknologi modern perlu berjalan beriringan dengan penguatan peran petani lokal dan pemanfaatan kearifan setempat.
“Kalau ditanya petani, itu yang terpikir petani yang sejahtera, petani yang punya perekonomian yang lebih kuat. Dan, itu bisa menjadi inspirasi agar generasi muda masih tetap mau untuk terjun ke sektor pertanian,” kata Sandiaga saat menghadiri AGRINEX Expo 2026 di JCC Senayan, Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Senin (26/10/2026).
Sandi memaparkan, inovasi menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah cara sektor pertanian menghasilkan nilai ekonomi. Petani, imbuhnya, perlu didorong memanfaatkan teknologi yang membuat kegiatan produksi lebih efisien dan presisi, termasuk AI dan drone.
“Pertama, inovasinya. Jadi inovasi apa? Karena Pak Prabowo ingin membawa nutrisi dan sektor pangan menjadi andalan. Jadi inovasi kita apa? Jangan kita masih tetap itu lagi, itu lagi. Harus ada inovasi menggunakan teknologi AI mungkin, drone mungkin,” ujarnya.
Namun, pengembangan teknologi tidak cukup jika manfaat ekonominya hanya dinikmati pelaku usaha di hilir. Sandi menekankan pentingnya melibatkan petani lokal dalam pengembangan produk pertanian, agar peningkatan nilai tambah turut mendongkrak pendapatannya.
Ia mencontohkan pengembangan pertanian di Kampung Agrinex, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Penerapan teknologi pertanian modern di desa itu telah dipadukan dengan kearifan lokal dan disesuaikan dengan karakteristik wilayah.
“Kita harus melibatkan para petani lokal dan penggunaan teknologi terkini, penggunaan aspek-aspek pertanian modern. Mungkin kita bisa menginjeksi AI atau juga bisa menggunakan sistem drone, dan penggabungan dengan kearifan lokal atau local wisdom,” jelas mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini.

Foto: Dok. Majalahtani.com
Hilirisasi dan Akses Pasar
Selain inovasi di lahan produksi, Sandi juga menyoroti pentingnya hilirisasi untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian. Pengolahan hasil panen, lanjutnya, menjadi produk bernilai tambah dinilai dapat membuka peluang usaha dan lapangan kerja, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi petani.
Peluang lainnya datang dari konsep farm to table, yakni menghubungkan hasil pertanian secara langsung dengan konsumen, termasuk restoran. Model ini memungkinkan pelaku usaha kuliner memperoleh bahan baku dari pertanian lokal, sementara petani berpeluang mendapatkan akses pasar yang lebih luas.
“Kami senang bisa berkolaborasi. Ini juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja yang luas. Program Desa Emas, misalnya, mengangkat produk-produk lokal from farm to table yang sekarang menjadi daya tarik utamanya. Di Indonesia ini punya keunggulan, restoran-restorannya bisa mengakses bahan-bahan tanahnya langsung dari farm, sampai di mejanya dengan kreasi yang terbaik,” tutur Sandiaga.
Ia menambahkan, pengembangan usaha pertanian dan produk lokal juga memerlukan dukungan pembiayaan, pelatihan, serta pemasaran agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk ekspor. Dus, kepastian pasar dan kemitraan dengan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem agribisnis yang menguntungkan petani.
Di sisi lain, Sandi mengingatkan bahwa transformasi pertanian perlu mempertimbangkan tantangan perubahan iklim dan keberlanjutan lingkungan. Rehabilitasi lahan terdegradasi serta pengembangan ekonomi hijau menjadi bagian dari upaya adaptasi agar sektor pertanian dapat terus produktif.
Sandi pun merangkum pengembangan pertanian ke depan dalam tiga aspek, yakni inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. Ia menegaskan bahwa ketiganya perlu berjalan beriringan melalui kerja sama pemerintah, dunia usaha, petani, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Pertanian yang berkelanjutan, pertanian yang penuh dengan kolaborasi, termasuk dengan pemerintah dan dunia usaha, ini bisa memberikan kontribusi peningkatan kesejahteraan sektor pertanian Indonesia,” pungkasnya.
-
Analisis Pasar7 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria9 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria9 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Data Pangan6 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
-
Inspirasi Tani4 bulan agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Teknologi Tani4 bulan agoMengenal PM-AAS: Strategi Mentan Amran Lipat Gandakan Populasi Tanaman dan Hasil Panen
-
Agripreneurship2 bulan agoAchmad Dahlan: Dari Pemuda Desa Lumajang, Menatap Dunia Lewat Rempah
-
Lensa Agraria8 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
