Connect with us

Teknologi Tani

Memetakan Masa Depan Pangan RI Lewat Mata Satelit dan Kecerdasan Artifisial

Redaksi Majalah Tani

Published

on

Majalahtani.com – Ketahanan pangan tidak lagi hanya bergantung pada luas lahan dan hasil panen. Di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, alih fungsi lahan pertanian, dan meningkatnya kebutuhan pangan, pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan pangan nasional.

Salah satu teknologi yang berperan strategis adalah penginderaan jauh (remote sensing), yang memungkinkan pemantauan kondisi lahan, deteksi perubahan tutupan lahan, serta prediksi produksi pangan secara lebih akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan pertanian yang tepat sasaran.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Geoinformatika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dede Dirgahayu, menjelaskan bahwa penginderaan jauh telah berkembang menjadi salah satu instrumen utama dalam menghasilkan informasi spasial yang mendukung pengambilan keputusan di sektor pangan.

“BRIN mengembangkan metode klasifikasi berbasis citra satelit yang memungkinkan identifikasi jenis tanaman secara lebih presisi,” ungkap Dede dalam webinar BRIGHTS (BRIN talks about Geoinformatics Hot Topics) seri ketiga tahun 2026 yang diselenggarakan BRIN dengan mengangkat tema “Dari Citra Satelit ke Lumbung Pangan: Peran Geoinformatika dalam Kebijakan Kedaulatan Pangan Nasional,” ujarnya dalam keterangannya, dikutip Jumat (3/7/2026).

Menurut Dede, perkembangan teknologi satelit dalam beberapa tahun terakhir berlangsung sangat pesat. Peningkatan resolusi spasial memungkinkan objek di permukaan bumi diamati dengan lebih rinci, sementara peningkatan resolusi temporal membuat satelit mampu merekam kondisi wilayah dengan frekuensi yang semakin tinggi.

Di sisi lain, bertambahnya kemampuan spektral memungkinkan identifikasi karakteristik tanaman dilakukan secara lebih akurat berdasarkan respons spektralnya.

Kemajuan tersebut memungkinkan pemantauan kondisi pertanian dilakukan secara hampir real-time. Berbagai informasi, mulai dari jenis tanaman, luas areal tanam, kondisi pertumbuhan, hingga indikasi gangguan akibat kekeringan, banjir, maupun serangan organisme pengganggu tanaman dapat diketahui lebih cepat dibandingkan metode survei konvensional.

Perkembangan teknologi ini semakin diperkuat dengan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI). Menurut Dede, AI mampu mempercepat proses analisis jutaan data citra satelit yang sebelumnya membutuhkan waktu lama apabila dilakukan secara manual.

“Dengan dukungan AI, proses pengolahan data menjadi lebih cepat dan akurat sehingga sangat membantu dalam pemetaan komoditas pangan strategis,” ia menjelaskan.

Selain menghasilkan informasi yang lebih cepat, kualitas data juga menjadi perhatian utama. Dede mengatakan bahwa citra satelit harus melalui berbagai proses koreksi geometrik dan radiometrik agar memiliki standar yang sama sehingga dapat dimanfaatkan oleh berbagai instansi.

“Data satelit yang telah melalui proses koreksi dapat digunakan bersama oleh berbagai sektor. Standardisasi sangat penting agar hasil analisis dapat diterapkan secara konsisten di berbagai wilayah tanpa menghasilkan perbedaan yang signifikan. Standardisasi tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun satu data geospasial nasional yang dapat dimanfaatkan lintas sektor, mulai dari pertanian, kehutanan, tata ruang, lingkungan hidup, hingga mitigasi bencana.” ujar Dede.

Lebih lanjut, Dede menekankan bahwa sistem penginderaan jauh harus terus dijalankan secara berkelanjutan. Hal ini disebabkan, data spasial yang dihasilkan merupakan sumber informasi utama untuk memantau dinamika wilayah Indonesia yang sangat luas dan terus mengalami perubahan.

Dalam perspektif ketahanan pangan, Dede menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar utama yang saling berkaitan, yaitu ketersediaan pangan, aksesibilitas pangan, dan pemanfaatan pangan. Ketiga pilar tersebut dapat dianalisis secara komprehensif menggunakan data geospasial.

“Informasi mengenai luas lahan pertanian, pola tanam, produksi komoditas, jaringan distribusi, hingga kondisi wilayah rawan pangan dapat dipetakan secara detail hingga tingkat kabupaten bahkan desa. Dengan demikian, pemerintah memiliki dasar yang lebih kuat dalam merumuskan kebijakan, menetapkan prioritas pembangunan, maupun mengantisipasi potensi krisis pangan di suatu wilayah,” ujar Dede.

Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) menjadi pelengkap penting dalam proses tersebut. SIG mampu mengintegrasikan berbagai data spasial dan nonspasial menjadi informasi yang mudah dipahami melalui peta digital, dashboard analitik, maupun sistem pendukung keputusan.

Melalui SIG, pemerintah dapat melakukan analisis kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas, mengidentifikasi daerah yang membutuhkan intervensi, mengevaluasi efektivitas program pertanian, hingga memonitor perkembangan produksi secara berkelanjutan.

“Integrasi teknologi penginderaan jauh, SIG, AI, dan Big Data merupakan fondasi menuju sistem pertanian presisi (precision agriculture) yang berbasis data. Pendekatan ini memungkinkan setiap keputusan didasarkan pada informasi ilmiah yang akurat sehingga pengelolaan sumber daya menjadi lebih efisien dan produktivitas pertanian dapat terus ditingkatkan,” kata Dede.

Meski demikian, Ia mengatakan bahwa penerapan teknologi geoinformatika di Indonesia masih menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki karakteristik geografis yang jauh lebih kompleks dibandingkan negara-negara kontinental seperti Tiongkok, Thailand, maupun Amerika Serikat.

Luas wilayah, banyaknya pulau, kondisi topografi yang beragam, serta dominasi wilayah perairan menuntut sistem pemantauan yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan didukung infrastruktur data yang kuat.

Oleh karena itu, pengembangan teknologi penginderaan jauh tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi antara lembaga riset, kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta masyarakat dalam membangun ekosistem geoinformatika nasional yang terintegrasi.

“Dengan dukungan data spasial yang akurat, mutakhir, dan mudah diakses, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk membangun sistem pangan yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim. Kondisi tersebut juga menjadi landasan penting untuk mewujudkan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan nasional,” pungkas dia.

Teknologi Tani

Bayer Luncurkan FARMRISE untuk Bantu Petani Hadapi Hama hingga Perubahan Cuaca

Ruruh Handayani

Published

on

Foto: Dok. Bayer Indonesia

Majalahtani.com, Jakarta — Bayer Indonesia meluncurkan FARMRISE, platform digital yang membantu petani mengakses informasi budidaya dan cuaca serta mempelajari cara menangani berbagai persoalan pertanian. Bayer juga merencanakan pengembangan fitur berbasis kecerdasan buatan (AI), untuk memperluas akses petani terhadap informasi dan pendampingan dalam menghadapi perubahan iklim, serangan hama dan penyakit tanaman, serta tantangan meningkatkan produktivitas.

Customer Experience Direct to Farmer Manager Bayer Crop Science Indonesia dan Malaysia Auzan Baiquni mengatakan, pemanfaatan teknologi digital membuka peluang bagi petani untuk memperoleh informasi dan menentukan langkah usaha tani secara lebih cepat.

“Petani Indonesia semakin terbuka terhadap pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam kegiatan usaha pertaniannya,” ujar Auzan dalam keterangan tertulis, dikutip Majalahtani.com, Selasa (27/10/2026).

Menurut Auzan, keterbukaan petani terhadap teknologi perlu diimbangi dengan informasi yang tepercaya dan sesuai kebutuhan di lapangan. Ia meyakini, platform ini bisa membantu petani dalam memperluas aksesnya terhadap pengetahuan dan pendampingan, agar dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam mengelola usaha tani.

Auzan menjelaskan, petani dapat memanfaatkan FARMRISE untuk mempelajari teknik budidaya melalui fitur Belajar Tani dan memperoleh informasi cuaca. Platform ini, imbuhnya, juga dilengkapi fitur anti-counterfeit untuk memeriksa keaslian produk Bayer sebelum digunakan.

Ia menambahkan, platform ini ke depan bakal menghadirkan AI Crop Doctor, untuk membantu petani mengidentifikasi masalah tanaman dan mendapatkan rekomendasi penanganan. Saat ini, fitur tersebut masih dalam tahap pengembangan.

Auzan menuturkan, pemanfaatan teknologi digital untuk pertanian juga telah menyasar kelompok petani muda. Data Sensus Pertanian 2023 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, lebih dari 6,18 juta petani berusia 19–39 tahun di Indonesia, atau sekitar 21,93 persen dari total petani nasional.

Selain melalui FARMRISE, Bayer menjalankan pendampingan petani melalui program SOBAT Bayer dan Better Life Farming. Auzan menilai, kemajuan pertanian tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi, tetapi juga pada kemampuan petani mengakses dan menerapkan pengetahuan dalam kegiatan sehari-hari.

“Kami meyakini bahwa kemajuan pertanian tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemampuan petani untuk mengakses dan memanfaatkan pengetahuan secara mudah, cepat dan terpercaya dalam mengambil keputusan sehari-hari,” tutup Auzan.

Continue Reading

Inspirasi Tani

Mengembalikan “Napas” Tanah Kritis Lewat Pertanian Regeneratif

Published

on

Majalah Tani – Selama puluhan tahun, revolusi hijau mengajarkan kita satu formula sederhana untuk menggenjot hasil panen: tebar pupuk kimia sintetis sebanyak-banyaknya, lalu amankan dengan pestisida. Hasilnya memang instan dan sempat menyelamatkan dunia dari ancaman krisis pangan. Namun, alam selalu punya cara untuk menagih “utang”.

Kini, banyak petani mulai mengeluhkan fenomena yang sama. Pupuk kimia yang ditebar rasanya tak lagi seampuh dulu. Tanah menjadi keras, bantat, dan pucat. Tanpa disadari, residu bahan kimia sintetis yang menumpuk selama puluhan tahun telah membunuh jutaan mikroorganisme penyubur tanah. Tanah kita tak sekadar lelah; tanah kita sedang kehilangan “napasnya”.

Di sinilah konsep pertanian regeneratif (regenerative agriculture) hadir bukan sekadar sebagai tren ekologis, melainkan sebagai jalan keluar yang esensial. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang berfokus pada “apa yang bisa diambil dari tanah”, pertanian regeneratif menitikberatkan pada “apa yang bisa dikembalikan ke tanah”.

Tujuan utamanya satu: mendetoksifikasi lahan dan membangun kembali ekosistem mikrobioma tanah yang hancur.

Mengapa Tanah “Mati”?

Pupuk kimia sintetis, khususnya nitrogen (Urea) dan fosfat, ibarat suplemen instan bagi tanaman. Tanaman memang bisa langsung menyerapnya untuk tumbuh subur, tetapi sisa residu asam dari pupuk ini akan tertinggal di dalam tanah.

Seiring waktu, penumpukan residu ini menurunkan tingkat pH (tanah menjadi sangat masam). Dalam kondisi masam yang ekstrem, cacing tanah menyingkir, bakteri pengurai mati, dan jamur baik tak bisa berkembang biak. Akibatnya, siklus hara alami terputus. Unsur hara makro dan mikro yang sebenarnya masih ada di dalam tanah menjadi “terkunci” dan tak bisa lagi diisap oleh akar tanaman.

Langkah Detoksifikasi

Bagi lahan yang sudah telanjur kritis, pemulihan tidak bisa dilakukan dalam semalam. Namun, beberapa teknik regeneratif berikut terbukti efektif untuk mengembalikan unsur hara tanah secara bertahap dan permanen:

1. Reintroduksi Mikrobioma dengan Pupuk Organik Cair (POC) dan Kompos Langkah pertama untuk memulihkan lahan kritis adalah mengembalikan para “pekerja” tanah, yaitu mikroorganisme. Aplikasi kompos yang matang atau penyemprotan Pupuk Organik Cair (POC) yang kaya akan Effective Microorganisms (EM) berfungsi sebagai probiotik bagi tanah. Bakteri dan mikrob inilah yang kelak akan bekerja siang-malam mengurai residu kimia dan mengubah sisa bahan organik menjadi nutrisi yang siap makan bagi tanaman.

2. Pemanfaatan Mikoriza sebagai “Akar Tambahan” Cendawan mikoriza adalah salah satu sekutu terbaik petani yang sering terlupakan. Jamur ini bersimbiosis dengan akar tanaman, membentuk jaringan hifa yang memanjang jauh menembus pori-pori tanah yang tak bisa dijangkau akar biasa. Mikoriza tak hanya membantu tanaman menyerap air dan fosfat yang terkunci, tetapi juga memproduksi glomalin—sejenis zat perekat alami yang memperbaiki struktur tanah yang rusak dan bantat menjadi lebih gembur.

3. Rotasi Tanaman dan Penggunaan Cover Crops (Tanaman Penutup) Membiarkan tanah terbuka dan terpanggang matahari setelah panen adalah bencana bagi mikrob tanah. Pertanian regeneratif sangat menyarankan penggunaan cover crops, seperti tanaman leguminosa (kacang-kacangan). Selain melindungi tanah dari erosi dan menjaga kelembapan, akar leguminosa memiliki bintil yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan menyimpannya di dalam tanah—sebuah pabrik pupuk urea alami yang bekerja secara gratis.

4. Olah Tanah Minimum (Minimum Tillage) Membajak tanah terlalu dalam dan sering justru merusak rumah alami bagi mikrob dan cacing tanah, serta melepaskan karbon ke udara. Dengan menerapkan olah tanah minimum, struktur agregat tanah akan tetap utuh, sirkulasi oksigen di dalam tanah terjaga, dan kelembapan alami lahan tidak mudah menguap.

Investasi Jangka Panjang untuk Masa Depan

Beralih ke pertanian regeneratif memang membutuhkan kesabaran. Pada musim pertama atau kedua, hasil panen mungkin belum menunjukkan lonjakan yang dramatis layaknya efek magis pupuk kimia. Namun, grafik kesehatannya akan terus naik.

Pemulihan hara lewat pendekatan regeneratif adalah sebuah investasi. Ketika struktur tanah sudah kembali sehat, gembur, dan kaya akan bahan organik, petani pada akhirnya akan menikmati efisiensi biaya produksi yang signifikan karena ketergantungan pada pupuk pabrikan akan turun drastis. Lebih dari itu, kita tidak hanya mewariskan hasil panen untuk hari ini, tetapi juga mewariskan lahan yang subur untuk generasi esok.

Silakan disunting jika ada penyesuaian angle atau ingin ditambahkan kutipan dari pakar agrikultur yang pernah kamu wawancarai sebelumnya, Han. Menurutku, visual yang cocok untuk mendampingi artikel ini di majalahtani.com adalah foto perbandingan side-by-side antara tanah yang keras/retak dengan tanah gembur yang dipenuhi cacing atau akar sehat.

Continue Reading

Teknologi Tani

Tanam Melon, Panen Listrik: Cara Desa di Sleman Menekan Ongkos Energi

Ruruh Handayani

Published

on

Foto: Dok. UGM

Majalahtani.com, Yogyakarta — Bagi petani, listrik adalah salah satu ongkos produksi. Namun, bagaimana jika lahan yang menumbuhkan melon dan cabai juga ikut menghasilkan listriknya sendiri?

Itulah yang tengah dikembangkan tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) di Desa Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), bersama BUMDes dan kelompok wanita tani setempat. Konsepnya disebut agrivoltaic, yang kini mulai dilirik pemerintah daerah lain.

Kepala Laboratorium Energi Terbarukan UGM Ahmad Agus Setiawan menyebut, program ini memadukan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Hybrid dan konsep agrivoltaic dengan pemberdayaan masyarakat.

“Program ini dilaksanakan sebagai upaya pengembangan desa berbasis energi terbarukan,” katanya melalui keterangan resmi, dikutip Majalahtani.com, Jumat (2/10/2026).

Apa Itu Agrivoltaic?

Prinsipnya sederhana: satu lahan, dua fungsi. Panel surya dipasang di kawasan pertanian, sehingga lahan yang sama dipakai untuk bercocok tanam sekaligus membangkitkan listrik.

Ahmad yang juga menjadi ketua tim peneliti ini memaparkan, kombinasi tersebut dapat membantu mengurangi penguapan air tanah, mencegah tanaman mengalami dehidrasi, dan meningkatkan efisiensi panel surya. Salah satu daerah yang telah menerapkan teknologi ini adalah Pandowoharjo.

Sistem yang dipasang di desa ini adalah PLTS Hybrid berkapasitas 2,6 kilowatt-peak (kWp), yakni ukuran daya maksimum panel pada kondisi optimal. Ahmad berharap, sistem ini mampu membantu menekan biaya energi dan mengatasi keterbatasan akses energi yang dihadapi BUMDes Amarta dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Wastajap Bersinar.

Panel surya ini juga dipadukan dengan smart farming, yaitu pertanian yang memanfaatkan teknologi digital dan data. Menurut Pakar Agroklimatologi dan Pertanian Pintar UGM Bayu Dwi Apri Nugroho, konsep ini menghubungkan proses pertanian dari lahan hingga produk sampai ke konsumen (from land to table), sehingga setiap tahap bisa ditelusuri.

“Semua akan terkoneksi dari hulu ke hilir. From land to table, artinya dari lahan sampai ke atas meja. Ini bisa dilacak dan bisa dicek bagaimana transparansinya,” ujar Bayu.

Tim mengembangkan sistem yang memadukan sensor cuaca dan tanah, pesawat nirawak (drone) pemantau dan penyemprot, serta dashboard untuk memantau lahan secara langsung dan memperoleh rekomendasi budidaya. Tujuannya, perlakuan tanaman sesuai kebutuhan sehingga air dan pupuk lebih efisien. Di Pandowoharjo, pemantauan direncanakan memakai modul IoT bernama RiTx yang mencatat kondisi tanah dan cuaca dan bisa dipantau dari jarak jauh.

“Semua data yang diperoleh harus bisa diterjemahkan, harus bisa dibaca, sehingga sampai pada pengambilan keputusan,” imbuhnya.

Tantangan dan Solusi

Tidak semuanya berjalan sesuai rencana. Tim UGM awalnya menargetkan sistem 3,3 kWp, tetapi harga komponen panel surya di pasar global melonjak akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah dan melemahnya rupiah terhadap dolar. Akhirnya, kapasitas pun diturunkan menjadi 2,6 kWp agar pengeluaran tidak membengkak. Bagi desa dan kelompok tani yang menghitung anggaran dengan cermat, pelajarannya jelas: ukuran sistem harus mengikuti kemampuan dana.

Jenis sistem pun ikut ditimbang. Sistem off-grid, yang sepenuhnya mengandalkan baterai, dinilai kurang cocok dengan kondisi lahan dan kapasitas BUMDes Amarta. Bayu mengaku pihaknya memilih hybrid, karena baterai bisa menjadi cadangan, dan listrik jaringan baru dipakai ketika dayanya habis, sehingga biaya listrik bisa ditekan.

Di sisi lain, teknologi ini juga masih tergolong baru. Menurut Bayu, PLTS Hybrid belum banyak diadopsi, sehingga cara memakai dan merawatnya perlu perhatian khusus. Karena itu, warga, pemuda karang taruna, dan unit teknis BUMDes Amarta dilibatkan sejak perakitan. Bayu juga menegaskan pihaknya telah menyusun prosedur operasional sederhana bersama BUMDes agar program bisa terus berjalan.

Meski begitu, Bayu mengingatkan agar teknologi tidak dianggap segalanya. Menurutnya, teknologi hanyalah “salah satu variabel”. Keberhasilan smart farming tetap bergantung pada ekosistem pertaniannya.

“Teknologi itu menjadi salah satu variabel. Jangan teknologi ini dijadikan seolah-olah segala-galanya. Semua tergantung pada ekosistem pertaniannya,” ucap Bayu.

Capaian Awal Program

Di Pandowoharjo, BUMDes Amarta mengelola lahan kas desa seluas 1.376 meter persegi, sementara KWT Wastajap Bersinar mengelola 587 meter persegi, total 1.963 meter persegi. Dua greenhouse di sana aktif memproduksi melon, bersama pepaya, cabai, jagung, kacang tanah, ubi jalar, talas, dan terong. Menurut Bayu, BUMDes Amarta didominasi petani milenial dan menargetkan gelar Desa Mandiri Hijau. Tim UGM juga menggandeng mitra internasional, Solar Research Institute Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.

Model ini menarik perhatian daerah lain. Dalam kunjungan ke UGM, Kepala BAPPERIDA Kabupaten Tegal Muhammad Faried Wajdy mengklaim bakal menerapkan agrivoltaic untuk pertanian terpadu hortikultura mulai 2027, berbasis BUMDes dan kelompok tani. Rencana itu merupakan bagian dari target transformasi menuju industri hijau pada 2028.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Majalah Tani. | All Right Reserved