Inspirasi Tani
Hadi Nainggolan Bicara Swasembada Pangan, MBG hingga Masa Depan KDMP
Majalahtani.com – Di tengah euforia Indonesia mencapai swasembada pangan, M Hadi Nainggolan justru mengingatkan satu hal. Bahwasanya tantangan terbesar, bukan hanya mencapai swasembada, tetapi bagaimana cara pemerintah bisa mempertahankan posisi tersebut.
Founder Zona Pangan sekaligus Ketua BPP HIPMI Bidang Pertanian periode 2022-2026 itu melihat capaian Indonesia membangun cadangan beras sebagai momentum penting. Namun, menurut dia, capaian tersebut harus diikuti strategi jangka panjang agar ketahanan pangan nasional tidak mudah terganggu ketika berhadapan dengan perubahan iklim, terutama El Nino.
Hadi mengaku menyaksikan langsung momentum deklarasi swasembada beras pada 7 Januari 2026 di Karawang. Saat itu, cadangan beras nasional telah berada di kisaran 4 juta ton. Baginya, angka tersebut merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Tetapi angka 4 juta ton belum seharusnya menjadi titik akhir.
“Yang perlu kita tingkatkan adalah menjaga keberlanjutan bahwa bagaimana Indonesia ini swasembada pangannya berlanjut, konsisten dan tentunya kita berharap ada peningkatan eksponensial,” ucap dia kepada Majalah Tani.
Hadi bahkan mendorong agar Indonesia memiliki buffer stock pangan di atas 10 juta ton. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah negara yang memiliki kemampuan menyimpan cadangan pangan dalam jangka jauh lebih panjang.
“Kalau kita berkaca di internasional, yang paling besar ini adalah Amerika. Mereka mampu bertahan untuk buffer stok pangannya itu untuk tiga tahun, China dua tahun,” imbuh dia.
Menurut dia, cadangan pangan bukan sekadar angka di gudang. Stok tersebut menjadi instrumen penting untuk menjaga pasar ketika produksi terganggu oleh faktor yang tidak bisa dikendalikan manusia. Salah satunya adalah El Nino.
El Nino dan Ujian bagi Petani
Hadi baru saja melihat dampak El Nino secara langsung ketika mengunjungi perkebunan singkong di Lampung. Tanaman yang ditemuinya masih berukuran kecil karena sudah cukup lama tidak mendapatkan curah hujan. Petani, kata dia, hanya bisa menunggu hujan agar tanaman kembali tumbuh optimal.
Persoalan itu membuat petani menjadi kelompok yang paling rentan ketika cuaca ekstrem terjadi. Ketika air tidak tersedia, produktivitas turun dan risiko gagal panen meningkat.
Dampaknya kemudian menjalar ke sektor lain. Produsen benih, pupuk, hingga sarana produksi pertanian ikut terkena imbas karena petani cenderung menunda pembelian ketika kondisi lahan tidak memungkinkan untuk ditanami.
“Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana manajemen stok yang ada. Karena kalau stok kita mumpuni dengan ada El Nino, maka stok inilah yang akan menjadi penyeimbang pasar. Artinya kan kita juga tidak ada kelangkaan pangan, sehingga stabilitas harga juga di level konsumen adalah masyarakat,” beber dia.
Dalam kondisi produksi terganggu, cadangan pangan berfungsi sebagai penyeimbang pasar. Dengan demikian, kelangkaan dapat dicegah dan harga pangan di tingkat konsumen tetap terkendali.
Karena itu, ia menilai program pompanisasi dan pipanisasi harus terus diperkuat. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk memastikan lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air ketika curah hujan rendah.
“Sekiranya itu harus tetap berjalan dan bisa dikontrol sehingga ketika di suasana yang El Nino air kurang ini kan bisa dilakukan ngambil air dari sungai terdekat atau dari sumber-sumber air yang bisa didatangkan untuk bisa mengairi lahan-lahan,” sebut dia.

Lima Jalan Menuju Cadangan Pangan 10 Juta Ton
Sebagai pelaku usaha pertanian, Hadi melihat setidaknya ada lima strategi yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat cadangan pangan nasional. Pertama adalah intensifikasi melalui peningkatan indeks pertanaman.
Menurut dia, masih terdapat jutaan hektare lahan pertanian yang mengandalkan hujan dan hanya bisa ditanami satu kali dalam setahun. Dengan dukungan irigasi dan sumber air, lahan tersebut dapat didorong menjadi dua kali tanam dalam setahun. Bahkan lahan yang saat ini sudah mampu ditanami dua kali dapat didorong menjadi tiga kali.
“Artinya dengan luas tanam produktif yang existing hari ini saja itu sebenarnya kalau kita pacu bisa menaikkan produktivitas 20 sampai dengan 60 persen,” ucap dia.
Hal kedua adalah meningkatkan produktivitas per hektare. Hadi menilai produktivitas padi yang berada di kisaran 5,6 ton per hektare masih dapat ditingkatkan. Jika produktivitas tersebut dapat naik sekitar satu ton per hektare, tambahan produksi nasional yang dihasilkan akan sangat signifikan tanpa harus membuka lahan baru.
“Kalau ini bisa kita naikkan satu angka saja menjadi 6,6, bayangkan berapa ton beras yang bisa kita dapatkan,” ujar dia.
Solusi ketiga adalah memperluas irigasi pertanian. Karena Bagi Hadi, air harus menjadi bagian dari program strategis nasional. Ketergantungan terhadap hujan membuat produktivitas pertanian mudah terganggu ketika musim kemarau datang.
“Lahan pertanian kita khususnya pandi yang sudah terairi oleh irigasi intensif kan nggak sampaikan 40%,” imbuh hadi.
Keempat adalah memperkuat manajemen stok dan teknologi pascapanen. Hadi menyambut perubahan peran Bulog menjadi lembaga yang lebih berorientasi pada pelayanan publik. Menurut dia, kapasitas penyimpanan harus dibarengi teknologi yang mampu menjaga kualitas beras dalam jangka panjang.
“Artinya kita ingin berharap mendorong bulog benar-benar bisa mengaplikasikan teknologi untuk pangan, khususnya pasca panen.” ungkap dia
Solusi terakhir adalah dukungan regulasi yang konsisten. Ia menilai kebijakan pemerintah terkait harga gabah dan jagung memberikan kepastian bagi petani. Harga pembelian yang terjaga membuat petani memiliki kepastian usaha dan mengurangi risiko anjloknya harga ketika panen raya.
“Saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan terobosan-terobosan oleh Pak Prabowo tentang menentukan harga Gabah Kering Panen (GKP), harus minimal Rp6.500,” jelas dia.

Dari Pangan ke MBG
Perhatian Hadi terhadap pangan tidak berhenti pada produksi. Sebagai Ketua Satgas Pangan dan MBG BPP HIPMI periode 2025-2026, ia juga melihat program Makan Bergizi Gratis sebagai peluang besar untuk membangun ekosistem pangan berbasis daerah. Menurut dia, kebutuhan bahan baku MBG dapat dipenuhi dalam jumlah besar dari produsen lokal.
Telur, ayam, beras, sayuran, kacang-kacangan, umbi-umbian hingga buah-buahan merupakan komoditas yang menurutnya dapat dipasok dari wilayah tempat dapur MBG beroperasi. Dengan pola tersebut, MBG tidak hanya menjadi program pemenuhan gizi, tetapi juga menciptakan pasar yang jelas bagi petani dan pelaku usaha lokal.
“Outtaker-nya sudah clear,” ujarnya.
Menurut Hadi dibutuhkan berikutnya adalah keberanian petani dan pengusaha untuk meningkatkan produksi. Peternak dapat memperbesar kapasitas kandang, sementara petani memperluas produksi sayuran, buah dan komoditas lainnya.
Hadi juga menilai mekanisme pembayaran bahan baku MBG yang dilakukan secara langsung menjadi salah satu faktor yang menarik bagi pemasok. Tantangan ke depan, lanjut dia bukan lagi sekadar bagaimana bahan baku dibayar, melainkan siapa yang berani melakukan ekspansi produksi untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.
KDMP Harus Berjiwa Pengusaha
Pandangan Hadi kemudian melebar pada pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ia menilai KDMP sebagai terobosan besar yang berpotensi mengubah ekosistem ekonomi di tingkat desa. Namun, pembangunan legalitas, fisik, toko, hingga gudang dinilai bukanlah tantangan terbesar. Titik kritisnya justru terletak pada kemampuan KDMP menjalankan bisnis secara mandiri dan memastikan barang yang dijual benar-benar terserap pasar.
Pandangan tersebut disampaikan dalam pembahasan mengenai masa depan KDMP, termasuk bagaimana koperasi tersebut dapat terhubung dengan pelaku usaha, produsen, serta rantai pasok nasional.
“KDMP sendiri menurut saya adalah terobosan yang spektakuler. Belum pernah terjadi di negara manapun, dan Indonesia yang pertama yang berani sampai menganggarkan triliunan untuk akselerasi di KDMP,” ucap dia.
Meski mengapresiasi terobosan tersebut, ia mengingatkan bahwa pembangunan KDMP tidak boleh berhenti pada aspek fisik dan administratif. Menurutnya, tantangan terbesar dunia usaha adalah memastikan produk yang ditawarkan dapat terjual. Karena itu, pengelolaan KDMP harus berorientasi pada kebutuhan konsumen dan mekanisme pasar.
“Yang paling mahal, titik kritikal dari mengelola usaha itu adalah bagaimana ya, barang kita jual itu laku. Barang ini bisa jual laku itu tentu ada 5 faktornya.”
Ia kemudian menekankan lima faktor yang harus menjadi perhatian utama KDMP, yakni kualitas produk, harga, mekanisme pembayaran, ketersediaan barang, serta branding dan kepercayaan konsumen.
Faktor pertama adalah kualitas. Produk yang dijual harus memenuhi standar yang benar-benar dibutuhkan konsumen. “Satu, bicara tentang kualitas produk. Orang tidak akan beli barang kalau speknya tidak sesuai dengan keinginannya. Tentu KDMP harus menjaga standarisasi produk, bukan maunya kita, tapi maunya konsumen,” ujar dia.
Faktor berikutnya adalah harga. Produk berkualitas tidak otomatis laku apabila harga yang ditawarkan tidak sesuai dengan kemampuan dan ekspektasi pasar. Kemudian, mekanisme pembayaran juga perlu disesuaikan dengan kondisi di setiap wilayah.
Faktor keempat berkaitan dengan kesinambungan pasokan. Permintaan yang tinggi tidak akan berarti apabila barang tidak tersedia secara konsisten. Sementara faktor kelima adalah membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen melalui branding.
“Orang ingin kenapa loyal beli misalkan merek beras tertentu atau membeli air mineral dengan merek tertentu, kenapa? Karena loyal kan sudah tahu kan kualitasnya,” sebut dia.
Karena itu, KDMP dinilai perlu membangun citra sebagai saluran distribusi produk yang berkualitas dan dipercaya masyarakat.
“Nah, KDMP harus membuat campaign, membuat kampanye, harus membangun branding bahwa barang-barang yang dijual KDMP adalah barang-barang berkualitas. Barang-barang yang disukain oleh konsumen,” imbuh dia.

Manajer KDMP Harus Bermental Pengusaha
Selain persoalan produk dan pasar, tantangan lain yang dianggap krusial adalah sumber daya manusia yang menjalankan KDMP. Pengelola koperasi dinilai harus memiliki pola pikir kewirausahaan, bukan sekadar bekerja dengan paradigma sebagai karyawan.
Ia menilai manajer dan pelaksana operasional KDMP harus dibekali kemampuan bisnis, mulai dari menjual produk, berkomunikasi dengan konsumen, menangani komplain, membaca stok, hingga menghitung keuntungan.
“Jadi sebenarnya saudara-saudara kawan-kawan kita yang hari ini diamanahin menjadi misalkan manajernya KDMP ataupun nanti menjadi pelaksana operasionalnya KDMP itu 90% doktrinnya adalah doktrin dan segalanya adalah doktrin entrepreneurship pengusaha,” jelas dia.
Pelatihan tersebut harus membuat pengelola memahami bahwa keberhasilan KDMP bukan sekadar berdirinya toko, tetapi kemampuan menghasilkan keuntungan. Tujuan akhirnya adalah memastikan KDMP tidak berubah menjadi entitas usaha yang terus bergantung pada subsidi negara.
“Biar apa? Biar program KDMP ini gak terjebak menjadi satu entitas usaha yang bertumpu disubsidi oleh negara terus ke depannya Itu akan kemungkinan terjadi gak? Sangat kemungkinan kalau itu gak diperbaiki,” jelas Hadi.
Inspirasi Tani
Mengembalikan “Napas” Tanah Kritis Lewat Pertanian Regeneratif
Majalah Tani – Selama puluhan tahun, revolusi hijau mengajarkan kita satu formula sederhana untuk menggenjot hasil panen: tebar pupuk kimia sintetis sebanyak-banyaknya, lalu amankan dengan pestisida. Hasilnya memang instan dan sempat menyelamatkan dunia dari ancaman krisis pangan. Namun, alam selalu punya cara untuk menagih “utang”.
Kini, banyak petani mulai mengeluhkan fenomena yang sama. Pupuk kimia yang ditebar rasanya tak lagi seampuh dulu. Tanah menjadi keras, bantat, dan pucat. Tanpa disadari, residu bahan kimia sintetis yang menumpuk selama puluhan tahun telah membunuh jutaan mikroorganisme penyubur tanah. Tanah kita tak sekadar lelah; tanah kita sedang kehilangan “napasnya”.
Di sinilah konsep pertanian regeneratif (regenerative agriculture) hadir bukan sekadar sebagai tren ekologis, melainkan sebagai jalan keluar yang esensial. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang berfokus pada “apa yang bisa diambil dari tanah”, pertanian regeneratif menitikberatkan pada “apa yang bisa dikembalikan ke tanah”.
Tujuan utamanya satu: mendetoksifikasi lahan dan membangun kembali ekosistem mikrobioma tanah yang hancur.
Mengapa Tanah “Mati”?
Pupuk kimia sintetis, khususnya nitrogen (Urea) dan fosfat, ibarat suplemen instan bagi tanaman. Tanaman memang bisa langsung menyerapnya untuk tumbuh subur, tetapi sisa residu asam dari pupuk ini akan tertinggal di dalam tanah.
Seiring waktu, penumpukan residu ini menurunkan tingkat pH (tanah menjadi sangat masam). Dalam kondisi masam yang ekstrem, cacing tanah menyingkir, bakteri pengurai mati, dan jamur baik tak bisa berkembang biak. Akibatnya, siklus hara alami terputus. Unsur hara makro dan mikro yang sebenarnya masih ada di dalam tanah menjadi “terkunci” dan tak bisa lagi diisap oleh akar tanaman.
Langkah Detoksifikasi
Bagi lahan yang sudah telanjur kritis, pemulihan tidak bisa dilakukan dalam semalam. Namun, beberapa teknik regeneratif berikut terbukti efektif untuk mengembalikan unsur hara tanah secara bertahap dan permanen:
1. Reintroduksi Mikrobioma dengan Pupuk Organik Cair (POC) dan Kompos Langkah pertama untuk memulihkan lahan kritis adalah mengembalikan para “pekerja” tanah, yaitu mikroorganisme. Aplikasi kompos yang matang atau penyemprotan Pupuk Organik Cair (POC) yang kaya akan Effective Microorganisms (EM) berfungsi sebagai probiotik bagi tanah. Bakteri dan mikrob inilah yang kelak akan bekerja siang-malam mengurai residu kimia dan mengubah sisa bahan organik menjadi nutrisi yang siap makan bagi tanaman.
2. Pemanfaatan Mikoriza sebagai “Akar Tambahan” Cendawan mikoriza adalah salah satu sekutu terbaik petani yang sering terlupakan. Jamur ini bersimbiosis dengan akar tanaman, membentuk jaringan hifa yang memanjang jauh menembus pori-pori tanah yang tak bisa dijangkau akar biasa. Mikoriza tak hanya membantu tanaman menyerap air dan fosfat yang terkunci, tetapi juga memproduksi glomalin—sejenis zat perekat alami yang memperbaiki struktur tanah yang rusak dan bantat menjadi lebih gembur.
3. Rotasi Tanaman dan Penggunaan Cover Crops (Tanaman Penutup) Membiarkan tanah terbuka dan terpanggang matahari setelah panen adalah bencana bagi mikrob tanah. Pertanian regeneratif sangat menyarankan penggunaan cover crops, seperti tanaman leguminosa (kacang-kacangan). Selain melindungi tanah dari erosi dan menjaga kelembapan, akar leguminosa memiliki bintil yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan menyimpannya di dalam tanah—sebuah pabrik pupuk urea alami yang bekerja secara gratis.
4. Olah Tanah Minimum (Minimum Tillage) Membajak tanah terlalu dalam dan sering justru merusak rumah alami bagi mikrob dan cacing tanah, serta melepaskan karbon ke udara. Dengan menerapkan olah tanah minimum, struktur agregat tanah akan tetap utuh, sirkulasi oksigen di dalam tanah terjaga, dan kelembapan alami lahan tidak mudah menguap.
Investasi Jangka Panjang untuk Masa Depan
Beralih ke pertanian regeneratif memang membutuhkan kesabaran. Pada musim pertama atau kedua, hasil panen mungkin belum menunjukkan lonjakan yang dramatis layaknya efek magis pupuk kimia. Namun, grafik kesehatannya akan terus naik.
Pemulihan hara lewat pendekatan regeneratif adalah sebuah investasi. Ketika struktur tanah sudah kembali sehat, gembur, dan kaya akan bahan organik, petani pada akhirnya akan menikmati efisiensi biaya produksi yang signifikan karena ketergantungan pada pupuk pabrikan akan turun drastis. Lebih dari itu, kita tidak hanya mewariskan hasil panen untuk hari ini, tetapi juga mewariskan lahan yang subur untuk generasi esok.
Silakan disunting jika ada penyesuaian angle atau ingin ditambahkan kutipan dari pakar agrikultur yang pernah kamu wawancarai sebelumnya, Han. Menurutku, visual yang cocok untuk mendampingi artikel ini di majalahtani.com adalah foto perbandingan side-by-side antara tanah yang keras/retak dengan tanah gembur yang dipenuhi cacing atau akar sehat.
Inspirasi Tani
HKTI Bidik Pasar Jakarta Perluas Penjualan Hasil Tani Daerah
Majalahtani.com, Jakarta — Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) ingin memanfaatkan besarnya kebutuhan pangan ibu kota untuk mempertemukan petani daerah dengan pasar Jakarta, dan mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming) untuk memperkuat ketahanan pangan. Ketua Harian II DPN HKTI Mulyono Machmur menilai, kebutuhan pangan Jakarta yang sebagian besar dipasok dari luar daerah dapat menjadi peluang bagi petani.
Untuk itu, ia meminta HKTI DKI Jakarta dapat mengambil peran dalam menghubungkan produksi pertanian daerah dengan kebutuhan pasar di ibu kota. Menurutnya, penguatan jaringan pemasaran antardaerah dapat memperpendek rantai pasok, sekaligus membuka pasar yang lebih luas bagi petani.
“Jakarta memiliki pasar yang besar. Ini bisa menjadi ruang bagi HKTI DKI untuk membantu mempertemukan hasil produksi petani dari daerah dengan kebutuhan pasar di Jakarta,” kata Mulyono dalam Musyawarah Daerah (Musda) DPD HKTI DKI Jakarta di Jakarta, dikutip Majalahtani.com, Kamis (22/10/2026).
Beras, telur, ayam, sayuran, dan berbagai komoditas pangan lainnya menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat Jakarta yang dipasok dari luar wilayah. Mulyono bilang, HKTI DKI Jakarta dapat menjalin kerja sama dengan DPD HKTI di berbagai provinsi untuk memperluas pemasaran produk tersebut.
Mulyono memerinci, kerja sama itu dapat mencakup pemetaan komoditas unggulan daerah, kebutuhan pasar Jakarta, hingga peluang distribusi. Dengan begitu, produk pertanian daerah tidak hanya berhenti di sentra produksi, tetapi dapat masuk ke pasar dan tertata.
Ia mengungkapkan, salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan adalah pasar bunga di Jakarta. Selain memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan, komoditas tersebut dapat menjadi contoh bagaimana pasar ibu kota dapat menyerap produk pertanian dan hortikultura dari berbagai daerah.
Di sisi lain, penguatan ketahanan pangan Jakarta tidak cukup hanya mengandalkan pasokan dari luar wilayah. Mulyono menuturkan, lahan tidur dan ruang terbatas di kawasan permukiman juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pertanian perkotaan.
Upaya ini, lanjutnya, perlu mencakup pengelolaan pangan dari produksi hingga konsumsi, termasuk penanganan sampah makanan. Tingginya aktivitas konsumsi masyarakat perkotaan membuat pengurangan pangan terbuang menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam penguatan ketahanan pangan.
“Swasembada pangan di Jakarta tidak berhenti pada bagaimana menghasilkan pangan. Ada subsistem konsumsi dan subsistem sampah yang juga harus diperhatikan, termasuk persoalan sampah makanan,” terang Mulyono.
Pengembangan urban farming, karena itu, perlu disertai edukasi konsumsi pangan dan pengurangan food waste. Dengan demikian, upaya memperkuat ketahanan pangan tidak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, tetapi juga pada pemanfaatan pangan secara lebih efisien.
Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Syafrin Liputo menambahkan, terdapat sekitar 177 lokasi di wilayahnya yang dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan perkotaan. Potensi itu, menurutnya, masih dapat dioptimalkan melalui pengelolaan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di sisi lain, HKTI dapat mendukung pengembangan lokasi-lokasi tersebut melalui pendampingan kelompok tani perkotaan, mulai dari pengelolaan lahan, budidaya, pemilihan komoditas, hingga pemasaran hasil panen. Pendampingan juga dapat mempertemukan kelompok tani dengan pemerintah dan pelaku usaha untuk mengembangkan pertanian sesuai dengan kondisi Jakarta.
Nuchbatillah Prioritaskan Urban Farming dan Akses Pasar
Penguatan pertanian perkotaan dan pemasaran hasil tani daerah jadi bagian dari agenda kepengurusan baru HKTI DKI Jakarta Nuchbatillah. Anggota DPRD DKI Jakarta ini terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD HKTI DKI Jakarta periode 2026–2031 dalam Musda ini.
Nuchbatillah menegaskan, kepengurusan baru akan berfokus pada tiga agenda, yakni pengembangan urban farming, pemanfaatan lahan tidur, dan perluasan akses pasar bagi petani.
“HKTI DKI harus hadir dengan kerja yang konkret. Kita ingin lahan-lahan yang masih bisa dimanfaatkan dapat produktif, kelompok tani perkotaan mendapat pendampingan, dan hasil pertanian memiliki akses pasar,” ucap Nuchbatillah.
Ia mengatakan, pengembangan pertanian perkotaan tidak dapat dilakukan sendiri oleh organisasi. Karena itu, HKTI DKI akan membuka ruang sinergi dengan Pemprov DKI Jakarta, pemerintah kota, kelompok tani, pelaku usaha, hingga jaringan HKTI di daerah.
Menurut Nuchbatillah, posisi Jakarta sebagai pusat ekonomi sekaligus pasar dengan kebutuhan pangan yang tinggi harus dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan antara petani dan konsumen.
“Jakarta bukan hanya tempat konsumsi. Kita ingin Jakarta juga menjadi bagian dari ekosistem pertanian yang memberi nilai tambah bagi petani, baik melalui produksi perkotaan maupun melalui penyerapan produk dari daerah,” pungkasnya.
Inspirasi Tani
Dua Perempuan Indonesia Masuk Daftar 100 Women Heroes FAO, Ini Kiprahnya
Majalahtani.com, Roma — Dua perempuan Indonesia, Istiqamah dari Aceh dan Rulyantina dari Banten, masuk dalam daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development yang diluncurkan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO). Penghargaan ini merupakan bagian dari inisiatif FAO untuk memperingati Tahun Internasional Perempuan Petani 2026, sekaligus bertepatan dengan Hari Perempuan Perdesaan Internasional yang diperingati setiap 15 Oktober.
Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu mengemukakan, perempuan sangat berperan penting dalam berbagai bidang, mulai dari pertanian dan kewirausahaan hingga penelitian, pendidikan, dan kepemimpinan komunitas. Kontribusi tersebut turut menjaga keanekaragaman hayati, mendorong inovasi, serta memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi kelaparan, kemiskinan, dan perubahan iklim.
“Di berbagai desa dan kota, pegunungan dan pesisir, hutan dan ladang, Anda melakukan hal-hal luar biasa,” kata Qu saat seremoni penghargaan 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development, di kantor pusat FAO, Roma, Italia, dikutip Majalahtani.com, Jumat (16/10/2026).
Istiqamah dan Rulyantina mendapat pengakuan atas kontribusi dalam pengembangan pertanian, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi masyarakat pedesaan. Keduanya patut berbangga, sebab berhasil terpilih dari 609 nominasi yang diajukan 131 negara anggota FAO untuk masuk dalam daftar 100 perempuan yang dinilai berkontribusi bagi sistem agrifood dan pembangunan pedesaan.
Istiqamah aktif mendampingi petani kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh. Melalui koperasi yang beranggotakan 980 orang dan menaungi lebih dari 1.200 hektare kebun kopi, ia memperjuangkan kepentingan jutaan petani kopi skala kecil, yang sebagian besar di antaranya adalah perempuan.

Istiqomah aktif mendampingi petani kopi di Aceh/Foto: Dok. FAO
Istiqamah mengungkapkan, koperasi ini aktif mendorong produksi kopi berkelanjutan berbasis agroforestri, sekaligus mengedepankan konservasi serta partisipasi yang adil dan inklusif dalam rantai nilai kopi global, terutama bagi perempuan. Ia pun berkeyakinan pendekatan ini juga dapat diterapkan di wilayah lain, asalkan didukung oleh kebijakan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
“Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai pekerja pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan dalam rantai pasok kopi, sangat penting,” tuturnya.
Istiqomah berpesan, petani perempuan membutuhkan akses yang lebih luas dan setara terhadap tiga hal utama. Pertama, pelatihan dan teknologi yang sesuai. Kedua, akses terhadap pembiayaan, pasar yang inklusif, dan perlindungan sosial. Ketiga, pengakuan atas peran formal mereka dalam kelembagaan petani.
“Perempuan juga mendesak dukungan untuk menghadapi perubahan iklim melalui praktik pertanian ramah lingkungan, supaya produktivitas dan kesejahteraan kami tetap terjaga,” tegasnya.
Perempuan Indonesia lainnya yang masuk daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development adalah Rulyantina dari Banten. Ia mengembangkan usaha berbasis talas beneng dengan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah. Usaha tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang kerja dan sumber pendapatan bagi perempuan di komunitasnya, termasuk ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Rulyantina ingin perempuan di pedesaan memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, pengembangan komoditas lokal dapat menciptakan peluang usaha sekaligus mendorong kemandirian ekonomi perempuan dan mendukung keluarga mereka.
“Saya ingin membantu perempuan, terutama ibu rumah tangga di komunitas saya, memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah untuk bekerja,” ujar Rulyantina.

Rulyantina, petani dan pelaku usaha olahan talas beneng asal Banten/Foto: Dok. FAO
Rulyantina berharap, kiprahnya dapat mendorong pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi komoditas lokal dengan membuka akses bagi petani perempuan terhadap pelatihan, permodalan, teknologi, dan pasar. Ia menambahkan, pengalaman perempuan petani perlu menjadi pertimbangan dalam merancang program pertanian agar dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Akses dan peluang yang memadai, menurutnya, dapat membantu perempuan mengembangkan usaha secara lebih mandiri dan berkelanjutan.
Pengakuan terhadap Istiqamah dan Rulyantina juga menyoroti tantangan kesenjangan gender di sektor pertanian. FAO mencatat perempuan mencakup sekitar 41 persen tenaga kerja sistem agrifood dunia, tetapi masih menghadapi ketimpangan akses terhadap sumber daya dan peluang ekonomi. Perempuan juga memperoleh rata-rata 82 sen untuk setiap 1 dolar AS upah yang diterima laki-laki dalam pekerjaan bergaji di sektor pertanian.
FAO memperkirakan, penutupan kesenjangan gender dalam produktivitas lahan dan upah di sektor agrifood berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) global hingga 1 triliun dolar AS serta mengurangi jumlah penduduk yang mengalami kerawanan pangan sebanyak 45 juta orang.
-
Analisis Pasar7 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria9 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria9 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Data Pangan6 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
-
Inspirasi Tani4 bulan agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Teknologi Tani4 bulan agoMengenal PM-AAS: Strategi Mentan Amran Lipat Gandakan Populasi Tanaman dan Hasil Panen
-
Agripreneurship2 bulan agoAchmad Dahlan: Dari Pemuda Desa Lumajang, Menatap Dunia Lewat Rempah
-
Lensa Agraria8 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
