Teknologi Tani
Kota Batu Siapkan Smart Farming Giripurno Jadi Ekosistem Bisnis Pertanian
Majalahtani.com, Kota Batu — Pemerintah Kota Batu, Jawa Timur, mulai mematangkan penerapan Smart Integrated Farming (SIF) di Desa Giripurno untuk mengubah pengelolaan pertanian menjadi lebih modern dan berbasis teknologi. Konsep yang telah dituangkan dalam grand design dari Universitas Brawijaya itu akan mengintegrasikan produksi hortikultura, peternakan, perikanan, pengolahan hasil, hingga pemasaran dalam satu ekosistem.
Wali Kota Batu Nurochman mengatakan, pengembangan SIF Giripurno tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi pertanian, tetapi juga membangun ekosistem pertanian yang lebih modern dan menarik bagi generasi muda. Menurutnya, pengembangan sektor pertanian harus dilakukan secara terintegrasi agar persoalan petani tidak berhenti pada sisi produksi, tetapi juga mencakup pengolahan, pemasaran, dan pemanfaatan teknologi.
“SIF ini kita arahkan menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian Kota Batu. Setelah grand design ini selesai, kita breakdown menjadi tugas masing-masing perangkat daerah agar pelaksanaannya berjalan terintegrasi,” jelas Nurochman dalam forum diskusi terarah (Focus Group Discussion/FGD) bersama Universitas Brawijaya, di Ruang Rapat Utama (Rupatama) Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Jawa Timur, dikutip Majalahtani.com, Kamis (1/10/2026).
Dalam rancangan tersebut, teknologi Internet of Things (IoT) akan digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian, termasuk menghubungkan proses produksi dengan pengelolaan kawasan dan pemantauan kondisi pertanian. Pengembangan SIF juga diarahkan untuk menjawab persoalan kualitas dan konsistensi produk pertanian lokal. Nurrochman menilai, kedua aspek ini masih menjadi tantangan bagi produk petani untuk menembus pasar modern dan perdagangan digital.
Karena itu, penerapan SIF tidak hanya menyasar teknologi di lahan, tetapi juga mencakup penguatan proses pascapanen, pengolahan, pengendalian mutu, hingga pemasaran. Dengan pendekatan tersebut, lanjut Nurrochman, petani diharapkan tidak lagi hanya menjual hasil panen sebagai bahan mentah, tetapi dapat memperoleh nilai tambah dari pengolahan dan pemasaran yang lebih terorganisasi.
“Dengan pola tersebut, hasil pertanian tidak berhenti di tingkat produksi primer semata. Komoditas yang dihasilkan diharapkan dapat masuk ke proses pengolahan sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi sebelum dipasarkan,” tuturnya.
Target Pengembangan Dimulai 2026
Nurrochman menjelaskan, sejatinya penerapan SIF Giripurno dirancang berlangsung secara bertahap. Pada 2026, pemerintah daerah bersama pihak terkait akan berfokus pada penyiapan kelembagaan dan uji coba sistem sebagai tahap awal sebelum kawasan tersebut masuk ke tahap pengembangan fisik.
Selanjutnya, pada 2027, pengembangan akan mencakup pembangunan infrastruktur fisik serta penguatan kelembagaan lokal sebagai fondasi operasional kawasan. Setelah sistem dan kelembagaan semakin siap, pengelolaan akan diarahkan pada pengoperasian kawasan secara lebih stabil sekaligus pengembangan ekosistem bisnis pertanian.
Untuk memastikan penerapan konsep tersebut berjalan sesuai rancangan, pihaknya akan melanjutkan kolaborasi dengan Universitas Brawijaya melalui pendampingan lintas bidang. Ia berharap, kolaborasi ini dapat memperkuat penerapan teknologi sekaligus menghubungkan kegiatan produksi, pengolahan, hingga pemasaran.
Ke depan, pengembangan SIF Giripurno juga menjadi bagian dari upaya Pemkot Batu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan sektor pariwisata dan keberlanjutan pertanian. Nurochman mengatakan, perkembangan industri pariwisata perlu berjalan beriringan dengan penguatan sektor agraris, lantaran sebagian masyarakat Kota Batu masih menggantungkan mata pencahariannya pada pertanian.
“Mayoritas masyarakat Kota Batu memiliki keterkaitan erat dengan pertanian. Oleh karena itu, keberadaan petani harus tetap kita jaga. Pertanian juga harus kita siapkan menjadi pilihan masa depan yang menjanjikan bagi generasi muda,” tegas pria yang akrab disapa Cak Nur tersebut.
Di sisi lain, SIF Giripurno juga diarahkan untuk menjawab persoalan daya saing produk pertanian lokal. Sejumlah komoditas Kota Batu dinilai memiliki potensi ekonomi, tetapi masih menghadapi tantangan dalam menjaga konsistensi kualitas dan memenuhi standar pengendalian mutu (quality control).
Kondisi itu pulalah yang membuat sebagian produk lokal belum optimal menembus jaringan ritel modern maupun platform perdagangan digital. Karena itu, petani didorong mengubah pola produksi agar lebih menyesuaikan dengan kebutuhan pasar sekaligus memperbaiki standar mutu produk.
“Kita harus mulai bertani berbasis kebutuhan pasar. Pengendalian mutu (quality control) harus diperbaiki agar produk kita tidak hanya bergantung pada pasar tradisional, melainkan bisa masuk ke pasar modern dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Ia pun berharap, SIF Giripurno nantinya dapat menjadi kawasan percontohan yang model pengelolaannya dapat diterapkan oleh kelompok tani di wilayah lain apabila tahap uji coba berjalan sesuai harapan.
“Kita ingin sektor pertanian ini tampil lebih menarik bagi anak muda. Jika uji coba di kawasan ini berhasil, modelnya dapat diadopsi oleh kelompok-kelompok tani di lahan mereka masing-masing,” pungkasnya.
Teknologi Tani
Tanam Melon, Panen Listrik: Cara Desa di Sleman Menekan Ongkos Energi
Majalahtani.com, Yogyakarta — Bagi petani, listrik adalah salah satu ongkos produksi. Namun, bagaimana jika lahan yang menumbuhkan melon dan cabai juga ikut menghasilkan listriknya sendiri?
Itulah yang tengah dikembangkan tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) di Desa Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), bersama BUMDes dan kelompok wanita tani setempat. Konsepnya disebut agrivoltaic, yang kini mulai dilirik pemerintah daerah lain.
Kepala Laboratorium Energi Terbarukan UGM Ahmad Agus Setiawan menyebut, program ini memadukan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Hybrid dan konsep agrivoltaic dengan pemberdayaan masyarakat.
“Program ini dilaksanakan sebagai upaya pengembangan desa berbasis energi terbarukan,” katanya melalui keterangan resmi, dikutip Majalahtani.com, Jumat (2/10/2026).
Apa Itu Agrivoltaic?
Prinsipnya sederhana: satu lahan, dua fungsi. Panel surya dipasang di kawasan pertanian, sehingga lahan yang sama dipakai untuk bercocok tanam sekaligus membangkitkan listrik.
Ahmad yang juga menjadi ketua tim peneliti ini memaparkan, kombinasi tersebut dapat membantu mengurangi penguapan air tanah, mencegah tanaman mengalami dehidrasi, dan meningkatkan efisiensi panel surya. Salah satu daerah yang telah menerapkan teknologi ini adalah Pandowoharjo.
Sistem yang dipasang di desa ini adalah PLTS Hybrid berkapasitas 2,6 kilowatt-peak (kWp), yakni ukuran daya maksimum panel pada kondisi optimal. Ahmad berharap, sistem ini mampu membantu menekan biaya energi dan mengatasi keterbatasan akses energi yang dihadapi BUMDes Amarta dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Wastajap Bersinar.
Panel surya ini juga dipadukan dengan smart farming, yaitu pertanian yang memanfaatkan teknologi digital dan data. Menurut Pakar Agroklimatologi dan Pertanian Pintar UGM Bayu Dwi Apri Nugroho, konsep ini menghubungkan proses pertanian dari lahan hingga produk sampai ke konsumen (from land to table), sehingga setiap tahap bisa ditelusuri.
“Semua akan terkoneksi dari hulu ke hilir. From land to table, artinya dari lahan sampai ke atas meja. Ini bisa dilacak dan bisa dicek bagaimana transparansinya,” ujar Bayu.
Tim mengembangkan sistem yang memadukan sensor cuaca dan tanah, pesawat nirawak (drone) pemantau dan penyemprot, serta dashboard untuk memantau lahan secara langsung dan memperoleh rekomendasi budidaya. Tujuannya, perlakuan tanaman sesuai kebutuhan sehingga air dan pupuk lebih efisien. Di Pandowoharjo, pemantauan direncanakan memakai modul IoT bernama RiTx yang mencatat kondisi tanah dan cuaca dan bisa dipantau dari jarak jauh.
“Semua data yang diperoleh harus bisa diterjemahkan, harus bisa dibaca, sehingga sampai pada pengambilan keputusan,” imbuhnya.
Tantangan dan Solusi
Tidak semuanya berjalan sesuai rencana. Tim UGM awalnya menargetkan sistem 3,3 kWp, tetapi harga komponen panel surya di pasar global melonjak akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah dan melemahnya rupiah terhadap dolar. Akhirnya, kapasitas pun diturunkan menjadi 2,6 kWp agar pengeluaran tidak membengkak. Bagi desa dan kelompok tani yang menghitung anggaran dengan cermat, pelajarannya jelas: ukuran sistem harus mengikuti kemampuan dana.
Jenis sistem pun ikut ditimbang. Sistem off-grid, yang sepenuhnya mengandalkan baterai, dinilai kurang cocok dengan kondisi lahan dan kapasitas BUMDes Amarta. Bayu mengaku pihaknya memilih hybrid, karena baterai bisa menjadi cadangan, dan listrik jaringan baru dipakai ketika dayanya habis, sehingga biaya listrik bisa ditekan.
Di sisi lain, teknologi ini juga masih tergolong baru. Menurut Bayu, PLTS Hybrid belum banyak diadopsi, sehingga cara memakai dan merawatnya perlu perhatian khusus. Karena itu, warga, pemuda karang taruna, dan unit teknis BUMDes Amarta dilibatkan sejak perakitan. Bayu juga menegaskan pihaknya telah menyusun prosedur operasional sederhana bersama BUMDes agar program bisa terus berjalan.
Meski begitu, Bayu mengingatkan agar teknologi tidak dianggap segalanya. Menurutnya, teknologi hanyalah “salah satu variabel”. Keberhasilan smart farming tetap bergantung pada ekosistem pertaniannya.
“Teknologi itu menjadi salah satu variabel. Jangan teknologi ini dijadikan seolah-olah segala-galanya. Semua tergantung pada ekosistem pertaniannya,” ucap Bayu.
Capaian Awal Program
Di Pandowoharjo, BUMDes Amarta mengelola lahan kas desa seluas 1.376 meter persegi, sementara KWT Wastajap Bersinar mengelola 587 meter persegi, total 1.963 meter persegi. Dua greenhouse di sana aktif memproduksi melon, bersama pepaya, cabai, jagung, kacang tanah, ubi jalar, talas, dan terong. Menurut Bayu, BUMDes Amarta didominasi petani milenial dan menargetkan gelar Desa Mandiri Hijau. Tim UGM juga menggandeng mitra internasional, Solar Research Institute Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.
Model ini menarik perhatian daerah lain. Dalam kunjungan ke UGM, Kepala BAPPERIDA Kabupaten Tegal Muhammad Faried Wajdy mengklaim bakal menerapkan agrivoltaic untuk pertanian terpadu hortikultura mulai 2027, berbasis BUMDes dan kelompok tani. Rencana itu merupakan bagian dari target transformasi menuju industri hijau pada 2028.
Teknologi Tani
Bukan Sekadar Bawa Teknologi, Syngenta Indonesia Jadikan Petani Sumber Inovasi Pertanian
Majalahtani.com – Presiden Direktur PT Syngenta Indonesia, Eryanto, menegaskan bahwa masa depan sektor pertanian Indonesia harus dihadapi dengan kesiapan, inovasi, dan kolaborasi. Hal ini seiring tantangan pertanian yang semakin kompleks, mulai dari perubahan cuaca dan iklim hingga pola serangan hama yang semakin dinamis.
Menurut Eryanto, kondisi tersebut membuat petani dituntut tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menghasilkan panen yang lebih berkualitas.
“Dunia pertanian terus dinamis dengan tantangan yang lebih rumit dan lebih kompleks. Kita bisa mendengar perubahan cuaca, perubahan iklim yang kita rasakan pada saat ini, pola serangan hama juga menjadi lebih dinamis, dan petani-petani dituntut untuk menghasilkan panen yang lebih tinggi dan lebih berkualitas,” ujar Eryanto dalam kegiatan di Cikampek, Jawa Barat, Rabu (23/9/2026).
Meski menghadapi berbagai tantangan, Eryanto mengatakan masa depan pertanian tidak perlu dikhawatirkan. Menurutnya, yang lebih penting adalah mempersiapkan petani dan seluruh ekosistem pertanian agar memiliki keterampilan serta ketangguhan menghadapi perubahan.
“Lebih penting lagi saya rasa kita harus mempersiapkan, mempersiapkan kita untuk masa depan pertanian, membangun bersama keterampilan, ketangguhan kita untuk menghadapi masa depan pertanian dan ini bisa kita capai melalui kolaborasi dan inovasi,” katanya.
Eryanto menyampaikan hal tersebut saat menyoroti peran Crop Protection Development (CPD) Syngenta di Cikampek, yang menjadi salah satu fasilitas penelitian dan pengembangan teknologi pertanian Syngenta di Indonesia.
Menurutnya, teknologi yang dikembangkan Syngenta tidak serta-merta langsung diterapkan kepada petani. Teknologi terlebih dahulu diuji dan dibuktikan untuk memastikan manfaatnya sebelum diperkenalkan lebih luas kepada petani.
“Kita berada di tempat di mana teknologi diuji, teknologi dibuktikan, sebelum kita sampaikan teknologi tersebut kepada tangan petani kita,” ujar Eryanto.
Ia menjelaskan, CPD Cikampek bukan fasilitas yang baru dibangun. Fasilitas tersebut telah berdiri sejak dekade 1980-an dan menjadi bagian dari perjalanan panjang Syngenta dalam mengembangkan teknologi pertanian di Indonesia.
“Fasilitas ini sudah menjadi saksi perjalanan Syngenta, sudah menjadi saksi perjuangan Syngenta bersama petani dalam memajukan pertanian Indonesia,” katanya.
Lebih lanjut, Eryanto menegaskan bahwa CPD Cikampek bukan sekadar fasilitas penelitian. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Syngenta untuk berkolaborasi dengan pemerintah, petani, penyuluh pertanian, serta berbagai pemangku kepentingan.
Ia menilai keberhasilan fasilitas tersebut tidak terlepas dari peran tim yang terus melakukan penelitian dan mencari inovasi baru yang dapat memberikan manfaat bagi petani.
Dalam kesempatan itu, Eryanto juga memberikan apresiasi kepada tim CPD Syngenta serta Nanin, pemimpin CPD Syngenta, yang disebut telah mengabdi lebih dari 30 tahun untuk perusahaan dan kemajuan pertanian Indonesia.
“Dedikasinya yang menginspirasi tim kita untuk terus mencari terobosan, mencari breakthrough dalam inovasi bagi petani-petani Indonesia,” ujarnya.
CPD Jadi Jembatan Syngenta dengan Petani
Eryanto mengatakan keberadaan CPD Cikampek juga memiliki fungsi strategis sebagai jembatan antara Syngenta dengan petani.
Ia menyebut terdapat dua tujuan yang saling berkaitan dalam upaya pengembangan pertanian, yakni mendukung cita-cita swasembada pangan Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Ini dua tujuan yang tidak bisa dipisahkan. Semua usaha kita, semua upaya kita, kita mencari, meningkatkan kemampuan yang terus berhubungan langsung untuk meningkatkan produktivitas tanaman,” kata Eryanto.
Menurutnya, CPD juga menjadi ruang bagi petani untuk melihat dan membuktikan langsung teknologi yang dikembangkan Syngenta. Namun, hubungan tersebut tidak berlangsung satu arah.
Eryanto menekankan bahwa petani juga menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan inovasi Syngenta. Ketika petani datang dan menyampaikan persoalan terkait serangan hama maupun penyakit tanaman, informasi tersebut menjadi masukan bagi Syngenta dalam mencari solusi.
“Ketika petani menyampaikan tantangannya, serangan penyakit dan hama, petani menyampaikan kebutuhan mereka untuk solusi baru, kami mendengarkan,” ujarnya.
Ia mencontohkan keberadaan Komunitas Petani Maju 10 Ton yang turut terlibat dalam berbagai kegiatan Syngenta, termasuk saat peluncuran Buku Pintar Padi.
Menurut Eryanto, interaksi antara perusahaan dan petani tersebut menunjukkan bahwa pengembangan inovasi pertanian membutuhkan kolaborasi antara dunia usaha dan petani.
“Jadi itu yang saya maksudkan CPD adalah jembatan, jembatan untuk Syngenta menuju petani,” katanya.
Dorong Regenerasi Petani
Selain inovasi teknologi, Eryanto menilai regenerasi menjadi tantangan penting bagi keberlanjutan sektor pertanian Indonesia.
Karena itu, Syngenta turut mendorong keterlibatan generasi muda melalui kemitraan dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) pertanian.
Menurutnya, regenerasi tidak hanya dibutuhkan dalam konteks tanaman dan praktik pertanian berkelanjutan, tetapi juga untuk memastikan terdapat generasi penerus yang memiliki minat dan kompetensi di sektor pertanian.
“Yang pentingnya juga regenerasi penerus pertanian yaitu generasi muda,” ujar Eryanto.
Ia mengajak generasi muda untuk meningkatkan minat dan semangat berkontribusi terhadap sektor pertanian Indonesia.
“Kalian akan meneruskan perjuangan kami, membawa pertanian Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi,” katanya.
Eryanto juga memberikan apresiasi kepada pemerintah dan para penyuluh pertanian yang selama ini mendampingi petani serta bekerja sama dengan Syngenta dalam memberikan pengetahuan dan praktik pertanian terbaik.
Menutup pernyataannya, Eryanto mengajak seluruh pemangku kepentingan pertanian untuk tidak sekadar menjadi penonton atas perubahan yang terjadi, tetapi turut menciptakan perubahan melalui kolaborasi dan inovasi.
“Masa depan pertanian akan kita bangun bersama dengan semangat kolaborasi, keberanian untuk berinovasi, dan keyakinan bahwa teknologi harus hadir dan harus relevan bagi petani-petani Indonesia,” pungkasnya.
Teknologi Tani
Mengenal Biological Dome, Teknologi Penangkal Hama Padi yang Dikembangkan IPB
Majalahtani.com – Fakultas Pertanian IPB University punya biological dome yang mampu menangkal serbuan hama tanaman. Biological dome atau kubah biologi merupakan teknologi pengendalian hama terpadu (PHT) biointensif padi yang dikembangkan oleh Prof Suryo Wiyono, Guru Besar Ilmu Proteksi Tanaman bersama tim.
“Teknologi PHT biointensif padi bekerja seperti kubah biologis atau biological dome, yaitu membuat tanaman, dan ekosistemnya tahan terhadap ledakan hama atau penyakit,” ujar Prof Suryo yang juga Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Rabu (9/9/2026).
Biological dome tersebut terbukti efektif menangkis serbuan hama penggerek batang di lahan sawah seluas 10 hektare di Kecamatan Ciasem, Subang—di tengah terjadinya migrasi besar hama tersebut pada akhir Agustus 2026 di ratusan hektare pertanaman di sekitar wilayah yang dipanen.
Dalam penerapannya, teknologi ini mengintegrasikan sejumlah komponen, mulai dari imunisasi benih menggunakan strain unggul plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dan cendawan endofit, penambahan bahan organik, pengurangan penggunaan pestisida (70%), sampai pengurangan penggunaan pupuk (15–30%).
“Berkat imunisasi PGPR dan endofit, tanaman jadi bisa tahan. Ekosistemnya pun tahan karena komunitas predator dan musuh alaminya juga melimpah,” ungkap Prof Suryo.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pertanian Ciasem, Mad Anwar, menilai teknologi perlu disebarluaskan karena menunjukkan hasil yang sangat baik.
H Syamsul, salah seorang petani Ciasem yang sudah tiga musim menerapkan teknologi ini menyebut, “Hasilnya konsisten lebih tahan hama dan produksi lebih tinggi. Harusnya teknologi IPB ini diterapkan dalam skala luas.”
Menurut Prof Suryo, penerapan biointensif padi di Ciasem menjadi salah satu bentuk pengembangan PHT yang menempatkan kesehatan tanaman dan keseimbangan ekosistem sebagai bagian penting dalam pengelolaan pertanian.
“Semoga teknologi dapat dikembangkan lebih luas sebagai alternatif pengendalian penggerek batang sekaligus meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi padi,” tandasnya
-
Analisis Pasar6 bulan agoParadoks Beras: Stok Melimpah, Tapi Harga Tetap Tinggi
-
Lensa Agraria8 bulan agoPrediksi Harga Komoditas Global: Dampak Iklim terhadap Kopi dan Kakao
-
Lensa Agraria8 bulan agoArah Kebijakan Pangan 2026: Membedah Efektivitas Anggaran
-
Inspirasi Tani3 bulan agoJimmy Sartika, Peracik Cerutu Lokal yang Ingin Indonesia Sejajar dengan Kuba
-
Data Pangan5 bulan agoHarga Referensi CPO dan Biji Kakao Naik per Mei 2026
-
Lensa Agraria7 bulan agoLewat “Tani On Stage”, Kementan Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
-
Inspirasi Tani8 bulan agoKisah Sukses “Petani Pulang Kampung”: Dari Korporat ke Green House
-
Teknologi Tani3 bulan agoMengenal PM-AAS: Strategi Mentan Amran Lipat Gandakan Populasi Tanaman dan Hasil Panen
